Tampilkan postingan dengan label Skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Februari 19, 2011

Perencanaan Pembangunan Islamic Center

Ini contoh tugas perencanaan Islamic Center. SIlahkan klik Judul

Senin, Januari 18, 2010

KORELASI PEMAHAMAN MATERI KITAB TAISIRUL-KHOLAQ DENGAN AKHLAK SANTRI DI MADRASAH DINIYAH DARUL-HIKMAH KRIAN SIDOARJO"

Manusia diciptakan oleh Allah SWT di dunia untuk menyembah kepadaNya, dan menjadikannya khalifah di muka bumi ini. Kemuliaan tersebut ditandai oleh pemberianNya kepada manusia yang berupa akal, suatu rahmat Allah SWT yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya, sebagai potensi yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk memperoleh pengetahuan dan perbaikan yang kemudian dijadikan bekal dalam mengemban tugas berat yang telah dibebankan kepadanya guna merawat, menjaga dan mengatur kehidupan di muka bumi ini yang nanti pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan kembali kepada Allah SWT. Abu 'Athiyah, seorang pujangga abad ke-16 H mengatakan, bawa selain akal, Allah SWT juga telah melengkapi manusia dengan adab....

klik Judul

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAP(DEVELOPMENTALLY APPROPRIATE PRACTICE) TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI

Masalah penelitian. Banyak kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengajaran pendidikan agama islam, diantaranya adalah (a) faktor guru yang masih banyak menggunakan cara lama (tradisional) dalam proses pembelajarannya. Dalam penerapannya dilapangan masih banyak mengabaikan prinsip pengajaran pendidikan agama islam yang memperhatikan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak, atau dengan istilah lain mengabaikan prinsip yang mengacu kepada asas Developmentally Approapriate Practice (DAP). Guru terpaku kepada bidang kognitif sehingga tugas yang diberikan kepada anak jauh melebihi kemampuannya; (b) ketidak sinambungan isi kurikulum, tujuan, metode dan evaluasi. Akibatnya terjadi penurunan kualitas pengajaran pendidikan agama islam Hal ini terlihat dari jumlah waktu aktif belajar atau berlatih.Rendahnya pemanfaatan waktu belajar juga merupakan indikator rendahnya efektivitas pengajaran pendidikan agama islam; (c) dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran tidak dicantumkan secara ekplisit tentang sekuens tugas gerak yang memodifikasi substansi pengajaran, isi materi, fasilitas, alat sarana dan prasarana pembelajaran. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV diSekolah Dasar Negeri Sumber Wetan II Probolinggo.
Metode dalam penelitian ini menggunakan metode obsevasi, wawancara, dokumentasi dan Angket dengan sampel yang melibatkan 40 responden. Kemudian dengan Mean dan rumus korelasi product moment.
Adapun pengaruh strategi pembelajaran DAP (developmentally appropriate practice) dapat dikatakan mempunyai pengaruh positif. Hal ini terbukti dari yang diperoleh dengan menggunakan product moment dengan rata-rata 0,566. Bila dikonsultasikan dengan table signifikan 5% dan 1% maka dapat di lihat bahwa nilai “r” hasil penelititn lebih besar dari nilai “r” yang terdapat table product moment dan apabila dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai “r” tingkat pengaruh startegi pembelajaran (developmentally appropriate practice) terhadap keberhasilan pembelajaran pendididikan agama islam terbukti cukup atau sedang. Sebab nilai 0,566 hasil penelitian berada diantara perhitungan 0,40 – 0,70 yang berarti kategori sedang atau cukup.


selanjutnya Klik Judul

Senin, Desember 14, 2009

Pengaruh Upaya Preventif Guru Agama Terhadap Sikap Siswa dalam Menghadapi Maraknya Penyebaran Ajaran Islam Sempalan pada Siswa di SMA Raden Rahmat Bal

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berjalan sangat pesat berakibat masuknya budaya-budaya asing melalui berbagai media elektronika maupun cetak telah menimbulkan pergeseran-pergeseran nilai budaya maupun nilai-nilai fundamental yang berasal dari ajaran agama.
Kemajuan dalam berbagai bidang ini menuntut bangsa Indonesia untuk mengimbangi perubahan dengan cara mengadakan seleksi dan saringan terhadap budaya asing yang masuk yang sekiranya dapat memberikan dampak negative dalam mengubah tatanan dan budaya bangsa Indonesia. Semakin cepatnya perubahan-perubahan yang terjadi, dalam era globalisasi ini menuntut peranan agama secara aktif sebagai alternative dan filter terhadap masalah tersebut.
Untuk membentuk generasi bangsa yang berkualitas itu diperlukan suatu proses yang dapat menunjang kearah pembentukan sumber daya manusia Indonesia yang utuh dalam pengertian manusia Indonesia yang memiliki indentitas kejuangan yang kuat, yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan yang diyakininya. Salah satu proses pembentukan sumber daya manusia itu adalah melalui pendidikan agama.
Pada dasarnya proses pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dari Sistem Pendidikan Nasional yang telah digariskan. Sistem Pendidikan Nasional kita mengharapkan bahwa setiap jenjang pendidikan yang ada di Indonesia di dasari dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan sistem pendidikan inilah tujuan pendidikan nasional dapat dicapai.Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.1
Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami dan menghayati serta mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan atau latihan.2
Dalam kurikulum tingkat SMA mata pelajaran PAI terdiri dari aqidah, fiqih, Alqur’an Hadist dan Sejarah Kebudayaan Islam. Dalam pembahasan ini PAI yang diutamakan adalah pendidikan aqidah (tauhid). Karena aqidah merupakan aspek yang sangat fundamental dalam kehudupan seseorang, Aspek inilah yang dapat melandasi keimanan seorang muslim sehingga dapat menjawab tantangan keragaman keyakinan beragama yang ada didunia.

“Masyarakat dan Madrasah (Studi tentang Pandangan Masyarakat terhadap Madrasah di Desa Durung Bedug Candi Sidoarjo).”

Secara filosofis dalam kehidupan negara dan masyarakat, peningkatan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan penjabaran dari sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal demikian selaras dengan semangat Mukaddimah UUD 1945 yang secara tersirat mengandung makna bahwa berdirinya Republik Indonesia dilandasi oleh semangat Ketuhanan Yang Maha Esa mengiringi keinginan luhur bangsa untuk mencapai kemerdekaan.
Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Bab II tentang Dasar, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional Pasal 3 menyatakan bahwa :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.”

Manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai karsa sila pertama Pancasila terbentuk melalui proses kehidupan dan terutama melalui proses pendidikan, khususnya kehidupan beragama dan pendidikan agama. Bangsa Indonesia telah berketetapan bahwa melalui proses pendidikan itulah setiap warga negara Indonesia dibina dan ditingkatkan keimanan dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian meningkatkan keimanan dan ketakwaan, sebagai salah satu unsur tujuan pendidikan nasional, mempunyai makna yang dalam bagi pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Pemupukan iman dan taqwa melalui pendidikan Islam tidak hanya dapat menumbuhkan kesuburan bagi tumbuhnya kesadaran beragama secara individual saja, tetapi juga secara sosial. Dengan demikian, kekuatan iman dan akhlak menjadi motivator yang menggerakkan seluruh sendi kehidupan masyarakat dalam menilai dan melaksanakan pembangunan pada berbagai bidang kehidupan serta menyertakan iman dalam menyelami ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Lebih lanjut H. A. Malik Fajar menyatakan telaah filsafat sebagai berikut :
“Masyarakat yang maju dan modern ialah masyarakat yang di dalamnya ditentukan suatu tingkat pendidikan yang maju, modern dan merata baik dalam bentuk kelembagaan maupun jumlah dan tingkat yang terdidik dan pendidikan yang maju dan modern pula. Sebaliknya, masyarakat yang kurang memperhatikan pembinaan pendidikan akan tetap terbelakang, tidak hanya dari segi intelektual tetapi juga dari segi sosial kultural. Begitu pula jika penyelenggaraan dan sistem pendidikan di dalam masyarakat bersifat pasif dan konservatif, masyarakat yang dihasilkannya akan kurang produktif dan kreatif.”

Memperhatikan telaah filsafat pendidikan tersebut serta tujuan dari pendidikan nasional di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk mewujudkan tujuan pendidikan maka diperlukan komprehensifitas dari berbagai wahana pendidikan harus mampu mentransformasikan nilai-nilai dan pengetahuan kepada subjek didik secara totalitas pada segala aspek kemanusiaan. Salah satu model lembaga pendidikan yang mempunyai peluang besar untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut adalah madrasah. Pengakuan ini secara kultural sungguh tepat mengingat bangunan peradaban suatu bangsa bisa sangat kuat ketika bertumpu pada akar dan kesinambungan budaya. Pandangan keseharian, baik dari aspek budaya maupun pandangan ilmiah membenarkan kenyataan bahwa madrasah merupakan bagian dari tradisi pendidikan yang hidup di Indonesia.
Selanjutnya kehadiran madrasah dituntut peran gandanya, yang tidak hanya sebagai pusat pendidikan saja, tetapi juga merupakan pusat informasi dan pusat pengembangan diri.

Klik Judul........

Pendidikan Seks Untuk Remaja Dalam Perspektif Para Kyai di Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan

Negara Indonesia terletak di bagian timur belahan dunia yang nota benenya dikenal memiliki kultur budaya yang tinggi dan sama sekali berbeda dengan dunia barat. Budaya timur dikenal menjunjung tinggi keluhuran budi, adat istiadat, nilai-nilai religius, mengedepankan sopan santun, tata krama dan sejenisnya, hingga pada hal-hal yang bersifat pengetahuan pun ukurannya adalah sopan santun. Peletakan dasar yang tidak proporsional terkadang dapat memasung kreatifitas dan berkembangnya pengertian terhadap suatu hal.
Sama halnya ketika kita membicarakan masalah seks, image yang muncul di masyarakat kita adalah masalah itu tabu dan tidak usah dibicarakan karena kotor dan jorok. Apalagi yang bertanya adalah anak-anak maka yang didapat bukanlah jawaban yang benar akan tetapi malah sebuah larangan atau bahkan kemarahan orang tua. Pemahaman seperti ini masih menjadi tradisi sebagian besar orang tua dalam masyarakat kita.
Betapapun banyak orang beranggapan bahwa masalah seks amatlah tabu untuk dibicarakan, namun kenyataan sehari-hari tidak lepas dari kebutuhan seks. Seks adalah kebutuhan asasi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kebutuhan seksual pada diri manusia merupakan kebutuhan dasar. Dalam agama islam, dorongan seks juga tidak dipandang kotor dan maksiat...
Klik Judul........

Implementasi Kurikulum Pendidikan pada anak Autisme di Yayasan Cakra Autisme Terapi Surabaya

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlaq mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang – undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia.
Pendidikan merupakan sarana strategi untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Oleh karenanya kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kemajuan pendidikannya. Pernyataan tersebut juga diyakini oleh bangsa ini. Namun pada kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia belum menunjukkan keberhasilan yang diharapkan. Pendidikan masih belum berhasil menciptakan sumber daya manusia yang andal apalagi menciptakan kualitas bangsa. Krisis multi dimensi yang berkepanjangan ini, diyakini banyak kalangan, akibat gagalnya sistem pendidikan di Indonesia.
Pendidikan di mengerti secara luas dan umum sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan diri ke arah tercapainya pribadi yang dewasa-susila.4 kata “ pendidikan “ mengandung sekurang-kurangnya empat pengertian, yaitu bentuk kegiatan, proses, buah atau produk yang dihasilkan oleh proses tersebut, serta sebagai Ilmu.5
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional merumuskan hakekat pendidikan sebagai usaha orang tua bagi anak-anak dengan maksud menyokong kemajuan kehidupannya, dalam arti memperbaiki tumbuhnya kekuatan rohani dan jasmani yang ada pada anak-anak. Pendidikan juga dimaksudkan untuk menuntun segala kekuatan yang ada agar masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.6 Pendidikan bertujuan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup lahir dan batin, baik sebagai anggota masyarakat sosial.
Masa depan bangsa terletak dalam tangan generasi muda. Mutu bangsa di kemudian hari bergantung pada pendidikan yang di kecap oleh anak-anak sekarang, terutama melalui pendidikan formal yang diterima disekolah. Apa yang dicapai disekolah, ditentukan oleh kurikulum sekolah itu. Jadi barang siapa yang menguasai kurikulum memegang nasib bangsa dan negara. Maka dapat dipahami bahwa kurikulum sebagai alat yang begitu vital bagi perkembangan bangsa dipegang oleh pemerintah suatu bangsa.
Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan.7
Setiap orang diciptakan unik, tak ada duanya. Mungkin ada dua, tiga atau empat orang yang mirip. Namun dalam segala abad, baik pada masa lampau maupun pada masa mendatang, tak pernah dan tak akan ada orang yang persis sama. Keunikan itu ditentukan oleh berbagai faktor seperti keturunan yang datang dari orang tua dan nenek moyang, lingkungan fisik......
Selanjutnya KLIK JUDUL

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*