Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 24, 2011

Pudarnya Aura Guru

Guru Mengajar Tanpa Tuah Tanpa Wibawa

Merasa jadi sasaran kritik dan kecaman para sufi, pada Sabtu sore sekumpulan kepala sekolah SMA,SMK, MA, SMP, dan MTs dipimpin Dindang Lobha mendatangi pesantren sewaktu para sufi sedang berbincang di teras musholla. Para kepala sekolah yang semula akan memprotes Guru Sufi dan para sufi yang suka mengkritik sekolah mereka, tiba-tiba kebingungan sewaktu berhadapan dengan Guru Sufi. Alih-alih akan protes, Dindang Lobha bersama teman-temannya justru menyampaikan keluh-kesah kepada Guru Sufi tentang bagaimana sulitnya mendidik anak-anak jaman sekarang yang cenderung egois, hedonis, pragmatis, individualis, malas, suka membolos, tidak patuh, bahkan berani menentang guru. “Beda dengan zaman dulu, Mbah Kyai, murid-murid sekarang ini sulit diatur dan menolak patuh pada guru. Kalau guru mendidik dengan keras, katanya melakukan kekerasan lalu dihujat rame-rame,” kata Dindang Lobha.

“Zaman memang sudah berubah, segala sesuatu juga berubah,” sahut Guru Sufi.

“Itulah sulitnya menjadi guru di zaman ini, Mbah Kyai,” kata Dindang Lobha.

“Tapi dalam tradisi belajar-mengajar, ada hal-hal yang tidak berubah tetapi hanya menyesuaikan dengan keadaan,” sahut Guru Sufi mulai memancing bahasan.

“Maksudnya tidak berubah tapi hanya menyesuaikan dengan keadaan itu bagaimana, Mbah Kyai,” sahut Bawi Grangsang, kepala SMA SBI ingin penjelasan.

“Ya itu yang menyangkut nilai-nilai keguruan yang pelaksanaannya menyangkut citra mulia sosok guru sebagai pendidik, sebagaimana tidak berubahnya orang melakukan sholat yang di zaman apa pun seperti itu syarat-syarat dan rukunnya serta amaliahnya,” kata Guru Sufi.

“Dalam kaitan dengan guru, bagaimana Mbah Kyai?” tanya Bawi Grangsang.

Guru Sufi tidak menjawab. Setelah diam sejurus, ia mengumandangkan tembang dhandanggula yang dicuplik dari Serat Wulang Reh, sebagai berikut:

“Lamun angguguru kaki/ amiliha manungsa kang nyata/ ingkang becik martabate/ sarta kang wruh ing ukum/ kang ngibadah lan kang wirangi/ sukur oleh wong tapa/ ingkang wus amungkul/ tan mikir pawehing liyan/ iku pantes sira guronana kaki/ sartane kawruhana//”

(Jika engkau mencari guru, pilihlah manusia sejati, yang baik martabatnya, yang tahu hukum, yang menjalankan ibadah dan teguh menjalankan pantangan (wara’), syukur jika mendapat seorang pertapa, yang tidak terikat duniawi, tidak memikirkan pemberian orang, itulah yang pantas engkau jadikan guru, hendaknya ini engkau ketahui).

“Menurut Kangjeng Susuhunan Paku Buwono IV yang menulis Serat Wulang Reh, ciri-ciri guru yang luhur dan mulia itu meliputi: manusia sejati, yang ditandai ciri (1) bermartabat baik; (2) memahami hukum; (3) menjalankan ibadah; (4) teguh menjalankan pantangan; akan lebih baik jika ketemu guru berwatak pertapa, yang dicirikan watak (5) tidak terikat duniawi jiwa dan pikirannya; (6) tidak memikirkan pemberian orang lain. Enam kriteria yang ditetapkan sebagai watak guru itulah yang diusahakan untuk tidak berubah pada zaman apa pun, karena itu bersangkut-paut dengan citra keberadaan seorang guru dalam makna yang utuh. Jika keenam ciri guru itu dilanggar, maka hilanglah ruh guru dari jiwa seseorang meski dia berkedudukan formal sebagai guru.”

“Tapi Mbah Kyai,” sahut Bawi Grangsang memprotes,”Kalau kriteria guru yang ditetapkan orang-orang zaman kuno itu harus dipakai sekarang, mana mungkin bisa dijalankan. Karena menjadi guru akan bermakna menjadi orang miskin yang sengsara dan serba kekurangan.”

“Sampeyan pernah dengar lagu Omar Bakri?” tanya Guru Sufi memancing.

“Pernah Mbah Kyai, tapi itu lagu zaman kuno. Itu citra mengerikan dari sosok guru.”

“Pernah dengar sebutan pahlawan tanpa tanda jasa?” tanya Guru Sufi.

“Ee pernah, Mbah Kyai.”

“Bagaimana kalau citra Omar Bakri itu dihilangkan dari citra guru dan juga sebutan pahlawan tanpa tanda jasa juga dicabut dari citra guru? Setujukah citra Omar Bakri diganti menjadi citra Gayus Tambunan dan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa diubah menjadi debt-collector pengeksploitasi jasa?” tanya Guru Sufi.

Bawi Grangsang, Dindang Lobha dan teman-temannya terdiam. Sejurus suasana hening. Sesaat kemudian An’am Thoma’, kepala sekolah MTs menyahuti,”Sistemnya sudah membentuk aturan yang profesional, Mbah Kyai. Sulit rasanya untuk diputar balik ke ideal guru masa lampau.”

“Benar Mbah Kyai,” sahut Bawi Grangsang menukas,”Sekarang ini sekolah-sekolah sudah berlomba menjadi SBI – Sekolah Bertaraf Internasional, yang dikelola secara profesional sesuai kemajuan zaman.”

“Bertaraf Internasional? Profesional?” sahut Guru Sufi dengan suara ditekan tinggi,”Itu semua slogan kosong tak bermakna, program menipu masyarakat untuk memperkaya diri. Setahuku, belum ada sekolah bertaraf internasional di negeri ini.”

“Lho bagaimana sampeyan bisa menyatakan SBI sebagai program menipu masyarakat? Bagaimana sampeyan bisa menyatakan di negeri kita belum ada SBI? Bukankah faktanya banyak SBI?” sergah Bawi Grangsang marah.

“Pak Bawi Grangsang, Anda kepala SMA Internasional yang marah disebut menjalankan program menipu masyarakat. Sekarang saya mau tanya, kurikulum SMA internasional mana yang Anda terapkan dalam PBM di sekolah yang Anda pimpin? Karena setahu saya, Diknas belum memiliki kurikulum SMA internasional. Yang kedua, berapa jumlah guru di SMA internasional yang Anda pimpin yang sudah memiliki sertifikasi mengajar internasional? Karena menurut peraturan internasional, seorang sopir untuk mengemudi di luar negeri harus memiliki SIM internasional apalagi guru yang mendidik manusia, tentu wajib punya sertifikasi mengajar internasional, dan tentu saja proses belajar-mengajar disampaikan dengan bahasa internasional,” kata Guru Sufi memberondong.

Bawi Grangsang diam. Ia sadar bahwa guru-guru di sekolahnya tidak ada satu pun yang memiliki sertifikasi mengajar internasional. Bahkan kurikulum yang digunakan pun bukan kurikulum internasional. Itu sebabnya, ia memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan Guru Sufi.

An’am Thoma’ yang tersinggung dengan ucapan Guru Sufi berusaha membalas dengan menanyakan soal kemungkinan tidak diikutinya kriteria guru ideal menurut Serat Wulang Reh,”Maaf, Mbah Kyai. Kalau enam kriteria ideal guru yang ada di dalam Serat Wulang Reh itu tidak dijalankan, memangnya ada resiko tidak baik bagi guru?”

“Namanya juga kriteria baku guru, pasti ada resiko-resikonya,” kata Guru Sufi.

“Apa kira-kira resikonya?” tanya An’am Thoma’ dengan nada mengejek,”Kami selama ini tidak pernah mengikuti keenam kriteria yang Mbah Kyai tembangkan tadi.”

“Benar Mbah Kyai,” sahut Bawi Grangsang dan teman-temannya.

“Lha apa kalian tidak sadar dengan yang dikeluhkan saudara Dindang Lobha di awal pembicaraan tadi?” tanya Guru Sufi dengan suara merendah.

“Pembicaraan yang mana, Mbah Kyai,” tanya Dindang Lobha heran.

“Saudara tadi kan mengeluhkan murid-murid yang menurut saudara egois, hedonis, pragmatis, individualistis, malas, suka membolos, tidak patuh, dan bahkan melawan guru? Tidakkah saudara sadar bahwa apa yang saudara keluhkan itu bukan kesalahan murid-murid, tapi sebaliknya itu adalah kesalahan saudara sebagai guru yang sudah tidak memiliki ruh guru, yaitu ruh Ilahi yang mengajarkan kepada manusia lewat qalam pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui manusia?” kata Guru Sufi dengan nada tanya.

“Lha kok kami para guru disalahkan?” sahut An’am Thoma’ tidak terima,”Bagaimana Mbah Kyai bisa menilai kami yang salah, padahal semua orang tahu itu semua akibat murid-murid yang bandel, liar, nakal, tidak patuh, dan berani melawan guru.”

“Jika murid-murid saudara melawan, itu bukan karena mereka bandel, liar, nakal, tidak patuh, dan berani melawan guru. Ketahuilah, bahwa ucapan-ucapan saudara dalam menyampaikan pengetahuan tidak memiliki tuah. Saudara tidak punya wibawa guru. Ibarat ampas kelapa, kata-kata saudara sudah tidak ada saripati santannya lagi. Sekedar ampas. Hampa. Kosong tanpa makna.Saudara hanya seorang pengajar, bukan guru. Sebab ciri utama seorang guru sejati sosoknya diliputi wibawa dan kata-katanya memiliki tuah, sehingga dia dimintai pe-tuah oleh murid-murid maupun orang tua murid. Dan harap diketahui, hilangnya tuah dari seorang guru adalah dikarenakan guru-guru telah melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai keguruan yang suci.”

“Asal saudara-saudara tahu, bahwa istilah guru dipungut dari nama Syiwa Mahaguru. Itu sebabnya, di masa lampau seseorang yang menjadi guru wajib suci dari nafsu duniawi karena ia menjadi representasi Syiwa dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. Siswa-siswa yang menuntut ilmu dari guru, karenanya harus didiksha (disucikan) lebih dulu. Dari kata didiksha, lahirlah kata didik yang menjadi akar kata pendidikan. Jadi dari latar sejarah, istilah guru, siswa dan pendidikan memiliki makna ruhani. Nah, kalau makna ruhani itu saudara langgar dan saudara injak-injak dalam rangka memenuhi nafsu rendah duniawi, maka jangan disalahkan jika ruh guru akan tercabut dari sosok saudara, dan tidak cukup itu, Syiwa selaku Sang Perusak akan menghancurkan siapa pun di antara guru-guru yang merusak kesucian-Nya.”

“Tapi kami ini muslim, Mbah Kyai,” sahut An’am Thoma’ dengan suara mulai merendah, “Kami tidak ada hubungan dengan Syiwa.”

“Kalau pandanganmu seperti itu, maka jangan lagi kalian pakai sebutan guru karena itu nama Syiwa. Pakai saja istilah teacher, pengajar, tutor, atau ustadz. Jangan juga dipakai istilah siswa, karena itu berkaitan dengan istilah kuno bersifat spiritual tapi pakai istilah student, pupil, tilmid. Begitu juga istilah pendidikan, gantilah dengan istilah lain seperti edukasi, instruksi, training, dll. Gantilah semua istilah spiritual itu dengan istilah pagan yang lebih sesuai menurut saudara,” kata Guru Sufi menjelaskan.

Para kepala sekolah terdiam. Mereka mencari-cari argumen untuk mendebat semua yang dikemukakan Guru Sufi. Tetapi sebelum perbincangan dilanjutkan, tiba-tiba HP Dindang Lobha berbunyi. Buru-buru ia angkat dan dengarkan call dari seorang guru. Beberapa jenak, wajah Dindang Lobha terlihat pucat. Lalu sambil memasukkan HP ke saku celananya, ia berpamitan buru-buru untuk balik ke sekolah.

“Ada apa kok kelihatannya gawat?” sahut Guru Sufi menebak,”Ada guru les dikeroyok siswa ya, karena suka nempelengi siswa kalau omongannya tidak digubris?”

“Lha, kok Mbah Kyai tahu?” sergah Dindang Lobha heran.

“Saya tahu karena saya masih seorang guru,”sahut Guru Sufi tegar.

Oleh : Agus Sunyoto

Jumat, Februari 11, 2011

CATATAN HARI SELASA “STUDI BANDING KE ANAK SALEH :

Pagi buta aku laju sepeda motor menuju Brangkal. Meski agak terkantuk-kantuk karena semalaman ngaji di Jombang, aku menstater sepeda dengan kecepatan 80 Km-90 km. Aku khawatir akulah mahasiswa yang akan terlembat ditunggui teman-temanku. Sampai di Brangkal, aku langsung mencari Mushola untuk melaksanakan sholat Subuh, yang kebetulan Musholanya dekat rumah temanku. Selesai Sholat aku langsung diajak oleh teman-temanku masuk mobil, menuju Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang. Tepat pukul 05.00, kami tiba di UNIPDU. Di sana sudah berkumpul Mahasiswa-Mahasiswa S2 kelas A. Dari cerita mereka, ada salah satu teman dari Krian, berangkat dari rumah pukul 02.00 dan sejak subuh sudah menunggu di Depan UNIPDU. Subhanallah. Semangat sekali.
Sambil menunggu Bis yang kebetulan belum datang, kami berbincang-bincang dan guyon-guyon bersama, suasana keakraban sangat terasa. Beberapa menit kemudian bisnya telah datang. Kami langsung menyerbu Bis dari KPRI DEPAG JOMBANG tersebut. Bis melaju. Saya kira akan meniti Jalan Pujon, ternyata Bis melaju menuju Mojokerto. Ahhhh, Aku kesal, kenapa tidak menunggu di Mojokerto saja!!!!!......tapi sudahlah semua sudah terlanjur….
Ditengah perjalanan, antara Lawang dan Malang, Ibu-Ibu sudah berteriak minta sarapan. Mereka khawatir mah-nya kambuh. Aku segera memandang ke sebalah kiri jalan, mencari warung yang enak untuk peristirahatan. Ah tidak menemukan warung yang pas….Maklum bukan ahli Kuliner. Hingga aku memutuskan untuk berhenti di Masjid Sabilillah saja. Saya pikir, kalau di Masjid Sabilillah nanti teman-temanku bisa berganti baju dan mencari sarapan sendiri-sendiri sesuai selera masing-masing. Pukul 08.30 rombongan tiba di Masjid Sabilillah, aku segera menuju tempat wudhu, tetapi teman-temanku yang kelaparan, langsung mencari warung disekitar Masjid. Aku sempatkan untuk melaksanakah sholat dhuha, setelah itu mencari makan. Aku lihat lihat teman-temanku berpencar. Tepat dugaanku, mereka mencari seleranya masing-masing. Ada yang beli Soto, pentol, ngopi, bakso……..aku sendiri. Pecel. Eh dasar lidah pecel. Tetapi aku merasakan pecel malang lebih uenak……
Tidak terasa, waktu termakan satu jam. Rombongan langsung menuju TK anak Saleh. Di Anak saleh, rombongan langsung disambut oleh Dr. Imron Arifin, dosen kami yang kebetulan juga merupakan ketua Yayasan Anak Saleh. Dari penjelasannya, Anak saleh telah menunggu sejak pukul 07.30. Pihak anak saleh sebenarnya hendak menyatukan dari Studi Banding TK Lawang dan TK Al Azhar Surabaya, tetapi dasar mahasiswa UNIPDU, yang penting sarapan dulu…..LOGIKA TANPA LOGISTIK NDAK JALAN……ya begitulah……musuh mahasiswa tua tua….ndak on time ndak apa-apa yang penting perut ndak brontak…. Wk wk wk wk…..
Dari penjelasan panjang lebar dan observasi langsung ke Play Group, TK, SD Anak Saleh……yang membuat aku tertarik adalah kisah dari Pak Imron tentang asal muasal berdirinya ANAK SALEH. Ternyata ide berdirinya berasal dari orang Kristen yang kebetulan adalah dosen S 3 nya pak Imron, yang bercerita diberi biaya besar dari gereja, ciputra, korea, dan Amerika Serikat, untuk menyusun Play Group dalam rangka misi Kristenisasi. Pak Imron pun gelisah, kemudian ia ceritakan kepada Prof. Sonhaji, yang kebetulan guru sekaligus salah satu Pengurus ormas Islam terbesar di Malang. Dari penjelasannya, Pak Sonhaji merekomendasikan untuk mendirikan play group serupa dengan syarat jangan ada kata-kata Islamnya, yang umum. Maka pada saat itu lahir Anak Saleh. Kebetulan TK Anak saleh ini dekat dengan perumahan yang dosen dosen UNIBRAW menetap disitu. Dan anak-anak Dosen Unibraw banyak disekolahkan disitu. Yang kemudian menjadikan isu besar di jagat Malang, bahwa TK anak Saleh itu TKnya Dosen Unibraw. Padahal tidak. tetapi isu itu menjadi keuntungan sendiri bagi anak saleh. Ahkhirnya banyak orang dari pejabat sampai orang orang kaya berduyun duyun menyekolahkan anaknya ke Anak saleh. Hingga sekarang. Prestasi prestasi telah di raih. Yang ingin kucatat, Anak saleh menjadi juara UKS Nasional dan menjadi percontohan Nasional pula. Mengenai manajemennya itu aku laporkan kalau tanggal 19, tepat saat disuruh presentasi di depan Pak Imron…. Wk wk wk…PR……

Kamis, Desember 09, 2010

Manajemen Inovasi Pembelajaran

A.Latar Belakang

Setiap otak manusia itu unik. Keunikan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetika dan lingkungan. Otak memiliki ukuran dan berat yang bervariasi di antara semua manusia. Otak juga berkembang dengan caranya sendiri. Setiap hari otak mengalami perkembangan. Perkembangan ini dipengaruhi oleh stimulus yang diberikan pada otak. Stimulus dalam bentuk apapun akan diproses oleh otak. Proses ini dilakukan oleh sel-sel otak yang aktif melakaukan komunikasi. Semakin baru dan menantang stimulus yang biberikan maka semakin otok dalam mengaktivasi jalan barunya. Namun, jika stimulus itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak berarti bagi otak maka informasi itu akan menjadi prioritas rendah dan akan mudah hilang. Jika otak merasakan sesuatu yang penting maka otak akan menyimpan informasi iti dalam memori jangka panjang (long term memory) dan memori itu semakin berpotensi. Pada setiap tahap perkembangan, beberapa gen mengalami perkembangan yang dipengaruhi oleh lingkungan. Gen itu tidak membentuk pola pembelajaran, namun merepresentasikan kesempatan yang diperkaya. Seseorang yag dilahirkan dari gen seorang yang jenius tidak menjamin orang itu menjadi jenius. Jika lingkungan sekitar diperkaya maka orang itu akan jenius, tetapi jika lingkungan tidak diperkaya maka akan menjadi yang biasa saja. Jika seorang anak yang dilahirkan dari gen seorang yang biasa tetapi lingkungan sekitar diperkaya maka anak itu bisa menjadi anak yang jenius.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka pembelajaran ikut serta mempengaruhi perkembangan otak anak. Pembelajaran itu sendiri merupakan bagian yang sangat dominan dalam mewujudkan kualitas proses. Pembelajaran sangat tergantung dari kemampuan guru dalam mengemas dan melaksanakan proses pembelajaran. Pembelajaran yang dilaksanakan dengan baik dan tepat akan memberikan kontribusi sangat dominan bagi anak, sebaliknya pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara yang tidak baik akan menyebabkan potensi anak sulit dikembangkan. Oleh karena itu, diperlukan manajemen pengelolaan dalam melakukan inovasi pembelajaran. Apa itu manajemen inovasi pembelajaran? Dan bagaimanakah aplikasi dari manajemen pengelolaan inovasi pembelajaran?
B.Pengertian Manajemen Inovasi Pembelajaran

Manajemen diartikan oleh Newman dan Terry sebagai fungsi yang berhubungan memperoleh hasil tertentu melalui orang lain. Namun definisi tersebut belum sempurna, ada ilmuwan lain yang menegaskan lebih lengkap dengan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengontrolan untuk mencapai tujuan. ( AM. Manulang: 2006).
Sedangkan Inovasi pembelajaran jika dilihat dari Kata “innovation” diartikan sebagai pembaharuan maupun penemuan. Namun, kata penemuan juga digunakan untuk menterjemahkan kata Invention dan Discovery. Ketiga kata ini sebenarnya memiliki arti yang berbeda. Discoveri adalah penemuan sesuatu yang sebenarnya benda atau hal yang ditemukan sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Invensi adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru yang berupa hasil kreasi manusia. Benda atau hal yang ditemukan benar-benar belum ada sebelumnya. Sedangkan inovasi diartikan sebagai suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati oleh seseorang atau sekelompok orang dan sesuatu itu merupakan hal yang baru, baik hasil invensi maupun discoveri (John M. Echols dan Syadzili : 2001)
Sedang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi batasan, inovasi sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Dari pengertian ini nampak bahwa inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru, baik berupa alat, gagasan maupun metode. Dengan berpijak pada pengertian tersebut, maka inovasi pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Hasbullah (2001) berpendapat bahwa ‘baru’ dalam inovasi itu merupakan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa inovasi pembelajaran adalah suatu hal yang baru dan dengan sengaja diadakan untuk meningkatkan kemampuan demi tercapai suatu tujuan pembelajaran. Inovasi pembelajaran diadakan untuk membantu guru dan siswa dalam menata dan mengorganisasi pembelajaran menuju tercapainya tujuan belajar. Karenanya dapat dirangkai bahwa ada tujuan yang menjadi akhir dari sebuah proses mengelola pembelajaran agar mencapai tujuan. Dalam kaitannya dengan pendidikan, ada tujuan-tujuan mendasar dari proses pendidikan. Oleh karenanya jika disandingkan antara manajemen dan inovasi pembelajaran sangatlah erat kaitannya. Pendidikan dalam hal ini adalah inovasi pembelajaran memiliki tujuan, sedangkan manajemen mengelola agar mencapai tujuan. Manajemen inovasi pembelajaran sangatlah perlu diterapkan dalam proses pembelajaran karena tanpa manajemen yang tertata baik pasti akan sangat sulit untuk mencapai tujuan.
Manajemen pembelajaran menurut Bafadal dalam (Arifin: 2009) segala usaha pengaturan proses belajar mengajar dalam rangka terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Manajemen pembelajaran pada dasarnya merupakan pengaturan semua kegiatan pembelajaran, baik yang dikategorikan berdasarkan kurikulum inti maupun penunjang berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Departemen Pendidikan Nasional atau lembaga tertentu.
C.Manajemen Pembelajaran
Manajemen pembelajaran bertujuan untuk menciptakan proses belajar mengajar yang mudah direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakn dan dikendalikan dengan baik (Bafadal dalam Imron Arifin : 2009). Dengan proses belajar mengajar yang demikian itu pelaksanaan pendidikan dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
1.Perencanaan Pembelajaran
Menurut Bafadal dalam (Imron Arifin : 2009) perencanaan didefinisikan sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan semua aktivitas yang akan dilakukan pada masa mendatang dalam rangka mencapai tujuan. Sedangkan menurut Suwardi dalam (Imron Arifin : 2009) perencanaan dapat didefinisikan suatu proses dan cara berpikir tentang proyeksi hal-hal yang akan dilakukan sehingga tujuan dapat tercapai. Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen yang harus dilakukan oleh orang-orang yang mengetahui semua unsure organisasi. Keberhasilan perencanaan sangat menentukan kegiatan manajemen selanjutnya secara keseluruhan. Oleh karena itu, perencanaan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Perencanaan yang baik, termasuk perencanaan pada lembaga pendidikan, harus memenuhi beberapa persyaratan (Burhanuddin, 2002) yaitu, (1) terarah pada pencapaian tujuan tertentu, (2) berdasarkan data yang akurat, (3) dilakukan oleh orang-orang yang kompeten, (4) melibatkan seluruh komponen sekolah/lembaga, (5) jelas, rinci dan konkret, (6) akomodadtif terhadap perubahan dan keadaan mendesak, serta (7) berorientasi pada masalah objektif. Sedangkan menurut Bafadal (2006) perencanaan yang baik adalah (1) dibuat oleh orang-orang yang berpengalaman dalam organisasi, (2) dibuat oleh orang-orang yang memahami perencanaan, (3) disertai dengan rincian yang teliti, (4) tidak terlepas dari pemikiran pelaksanaan, (5) terdapat tempat pengambilan resiko, (6) sederhana, luwes dan praktis, (7) didasarkan pada keadaan nyata masa kini dan masa depan, (8) dibuat bersama, dan, (9) direkomendasikan oleh penguasa tinggi.
Adapun kegiatan dalam perencanaan pembelajaran yaitu: (1) analisis materi pelajaran, (2) penyususnan kalender pendidikan, (3) penyusunan program tahunan dengan memerhatikan kalender pendidikan dan hasil analisis semester berdasarkan program tahunan yang telah disusun, (4) penyusunan program satuan pembelajaran, (5) penyusunan program satuan pembelajaran, (6) penyusunan rencana pembelajaran, (7) penyusunan rencana bimbingan dan penyuluhan (Bafadal dalam Imron Arifin : 2009).
Perencanaan pembelajaran merupakan langkah penting untuk mencapai keberhasilan pembelajaran. Oleh sebab itu, perencanaan pembelajaran memiliki empat manfaat yaitu: (1) perencanaan pembelajaran dapat dijadikan alat untuk menemukan dan memecahkan masalah, (2) perencanaan pembelajaran dapat mengarahkan proses pembelajaran, (3) perencanaan pembelajaran dijadikan dasar dalam memanfaatkan sumber daya secara efektif, dan (4) perencanaan pembelajaran dapat dijadikan alat untuk meramal hasil yang akan dating (Suwardi dalam Imron Arifin : 2009).

2.Pengorganisasian pembelajaran
Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja kedalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuaannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka keefektifan pencapaian tujuan (Fatah dalam Imron Arifin : 2009) pengorganisasian merupakan proses pengelompokan semua tugas, tanggung jawab, wewenang, dan komponen dalam proses kerjasama sehingga tercipta suatu system yang baik dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
Pengorganisasian dilakukan berdasarkan tujuan dan program kerja sebagaimana dihasilkan dalam perencanaan.
Pengorganisasian suatu program dapat dilakukan melalui prosedur sebagai berikut; (1) mengidentifikasi pekerjaan atau tugas yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan, (2) mengelompokan tugas serta fungsi yang sama, (3) memberikan nama tertentu bagi setiap kelompok pekerjaan atau tugas dengan nama yang kurang lebih menggambarkan fungsinya masing-masing, dan (4) menentukan orang-orang yang akan ditunjuk menyelesaikan setiap kelompok kerja atau tugas. Apabila ada kelompok kerja atau tugas tertentu harus dikerjakan oleh lebih dari satu orang, salah satu diantara mereka perlu ditunjuk sebagai penanggungjawabnya, (5) mendistribusikan fasilitas atau peralatan yang diperlukan untuk menyelesaikan peekerjaan, (6) menetapkan aturan kerja, dan (7) menetapkan hubungan kerja (Siagian dalam Imron Arifin : 2009).
Adapun kegiatan dalam pengorganisasian pembelajaran yaitu; (1) pembagian tugas mengajar dan tugas lain, (2) penyuusunanjadwal pelajaran, (3) penyusunan jadwal kegiatan perbaikan, (4) penyusunan jadwal kegiatan pengayaan, (5) penyusunan jadwal kegiatan bimbingan dan penyuluhan (Bafadal dalam Imron Arifin : 2009).
3.Pelaksanaan Pembelajaran
Menurut Mantja (2006) pelaksanaan merupakan usaga agar semua anggota kelompok suka melaksanakan pencapaian tujuan dengan sadar dan berpedoman pada perencanaan dan usaha pengorganisasiannya. Selain itu pelaksanaan sebagai keseluruhan proses mempengaruhi, mendorong, mengajak, maupun menuntun orang lain dalam proses kerja agar berpikir, bersikap, bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Sarwono dalam Imron Arifin : 2009).
Kegiatan dalam pelaksanaan pembelajran sebagai berikut: (1) pengaturan pelaksanaan kegiatan pembukaan tahun ajaran baru, (2) pelaksanaan kegiatan pembelajaran, (3) pelaksanaan kegiatan bimbingan dan penyuluhan, (4) supervise pelaksanaan pembelajaran, dan (5) supervisi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan (Bafadal Imron Arifin : 2009).
Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan suasana yang edukatif agar anak didik dapat melaksanakan tugas belajar dengan penuh antusias, dan mengoptimalkan kemampuan belajarnya dengan baik. Peran guru sangat penting dalam menggerakkan dan memotivasi anak didik melakukan aktivitas belajar, guru tidak hanya berusaha menarik perhatian anak didik, tetapi juga harus meningkatkan aktivitas anak didik melalui pendekatan dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
4.Pengawasan Pembelajaran
Pengawasan merupakan suatu proses penentuan apakah yang seharusnya diselesaikan dalam pelaksanaan, penilaian pelaksanaan dan bila perlu melakukan tindakan korektif agar pelaksanaannya tetap sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Pengawasan dilakukan didasarkan pada prosedur yaitu 1) standar performa, 2) mengukur performa actual, 3) membandingkan performa dengan performa yang telah ditetapkan 4) melaksanakan perbaikan performa bila performa tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (bafadal dalam Imron Arifin : 2009)
D.Konsep belajar dan pembelajaran
Belajar merupakan aktivitas yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia melakukan aktivitas belajar sepanjang hidupnya. Rangkaian proses belajar dilakukan dengan mengikuti pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Proses belajar dilakukan agar mendapatkan perubahan dalam diri pelakunya, baik pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan. Perubahan itu sebagai akibat dari proses pengalaman yang alami maupun yang sengaja dirancang. Belajar itu tidak hanya dilakukan oleh pelajar, tapi dilakukan oleh setiap manusia agar dapat memecahkan masalah yang dialaimi dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ciri-ciri belajar adalah perubahan perilaku yang merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungan, serta perilaku tersebut bersifat permanen.
Proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari proses dan hasil belajar. Pembelajaran mengacu pada segala kegiatan yang dirancang untuk mendukun proses belajar yang ditandai dengan adanya perubahan perilaku individu yang sesuai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran ini harus dengan sengaja diorganisasikan dengan baik agar dapat menumbuhkan proses belajar yang baik dan mencapai hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, jenis-jenis proses belajar dan hasil belajar menjadi pusat perhatian dari metode pembelajaran.(http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/19/inovasi-pembelajaran/)
Menurut Gagne (1975), setidaknya ada empat fungsi yang harus dilakukan guru kaitannya sebagai motivator. Pertama, arousal function atau membangkitkan dorongan siswa untuk belajar. Kedua, expectancy funtion yaitu menjelaskan secara konkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran. Ketiga, incentive function maksudnya guru memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai siswa dalam rangka merangsang pencapaian prestasi berikutnya dan keempat, disciplinary function bahwa guru membantu keteraturan tingkah laku siswa.
Keempat fungsi tersebut, selayaknya diperankan dengan tepat oleh guru dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga diharapkan motivasi belajar siswa semakin lama akan semakin meningkat dan tinggi.
E.Contoh Inovasi Pembelajaran
Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pembelajaran.
Ditengarai bahwa dunia anak (baca : TK dan SD) merupakan dunia bermain, tetapi acapkali guru melupakan hal ini. Semestinya setiap guru dalam setiap proses pembelajarannya menciptakan suasana yang menyenangkan (fun), menggairahkan (horee), dinamis (mobile), penuh semangat (ekpresif) dan penuh tantangan (chalenge).
Oleh karena itu berbagai inovasi dapat dicoba untuk dikembannngkan walaupun amat sederhana. Beberapa bentuk inovasi yang sempat penulis cobakan, diantaranya:
1)Pembuatan yel-yel
Yel-yel ini biasanya dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, guru mengajak siswa untuk bersama-sama mengucapkan beberapa yel yang telah diajarkan kepada mereka. Tujuannya : 1. menumbuhkan semangat belajar siswa.2. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.3. Mewujudkan hubungan yang akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Berbagai variasi yel dapat diciptakan oleh guru, dengan mengubah lagu tertentu yang sudah dihapal siswa serta menggunakan kepalan tangan, suara yang bersemangat, mimik muka serta kekompakan siswa dalam pengucapannya. Penulis membagi pembuatan yel ini dalam dua bagian, yaitu yel-yel kelas, yang memberi semangat untuk pengkondisian kelas sehingga siswa siap belajar (apersepsi dan motivasi), dan yel-yel mata pelajaran yaitu memberi semangat untuk mengikuti pelajaran tertentu.
Di bawah ini, contoh-contoh yel yang telah dibuat dan dilakukan ketika akan dimulai proses pembelajaran.
Contoh Yel-yel kelas
KELASKU….KELASKU….KELASKU
YANG TERBAIKK… OK ! ALLOHU AKBAR !
AKU ANAK SHOLEH !!!!!!! ……………..
DEDEED….DEDEED…..DEDEED……….ALLOHU AKBAR !



Contoh yel-yel mata pelajaran
Pelajaran PAI
PAI go..go…go
PAI win..win…win
PAI fight…fight…fight
PAI Yes
Pai Yes
PAI Allahu Akbar
Semua yel-yel selalu diakhiri dengan lafadz takbir, sambil mengepalkan tangan kanan ke atas. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan nilai kepada siswa bahwa semua yang ada di dunia ini adalah kecil, yang maha besar dan maha agung hanyalah Allah.
2)Pemberian Penghargaan
Berdasarkan pangalaman di lapangan, anak kelas bawah (baca : SD) amat senang apabila usaha belajarnya dihargai dan mendapat pengakuan dari guru, walaupun amat sederhana. Oleh karena itu, para guru nampaknya jangan terlalu pelit untuk menberikan penghargaan, selama dilakukan dengan memperhatikan waktu dan cara yang tepat. Penghargaan itu sendiri dapat dimaknai sebagai alat pengajaran dalam rangka pengkondisian siswa menjadi senang belajar.
Tujuannya:
• Mendorong siswa agar lebih giat belajar.
• Memberi apresiasi atas usaha mereka.
• Menumbuhkan persaingan yang sehat antar siswa untuk meningkatkan prestasi
Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan sesuai kesempatan yang ada. Penulis membaginya dalam beberapa macam, yakni dalam bentuk ucapan, tulisan, barang/benda dan penghargaan khusus. Seyogyanya penghargaan ini dapat menjadi kebanggaan siswa akan eksistensi dirinya, yang nantinya meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi diri.
• Penghargaan berupa ucapan.
Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan direncanakan terlebih daluhu atau bersifat spontan saja. Yang terpenting bahwa setiap siswa yang menunjukkan suatu usaha, maka layak dihargai. Pemberian pujian bagi siswa yang berpatisipasi aktif dalam proses pembelajaran, seperti kata-kata YESS ! (sambil mengancungkan jempol tangan), Excelent (dua jari membentuk huruf V), Thankyou Very Much (kedua tangan diacungkan ke atas) dll.
• Penghargaan berupa tulisan.
Hal ini dapat dilakukan setiap hari, ketika siswa mengerjakan tugas atau PR. Penghargaan ini diberikan dengan cara guru menuliskan di buku catatan atau tugas siswa, berupa kata pujian, terutama bagi siswa yang berhasil mendapat nilai bagus (80-100). Kalimat pujian tersebut diantaranya “ selamat, you are the best student “ , “ Alhamdulillah, kamu anak pintar “ , “ pacu terus prestasimu “ ,
• Penghargaan berupa barang/benda
Berbagai benda sebenarnya dapat dijadikan alat penghargaan, baik benda yang sudah ada maupun yang telah dimodifikasi/disiapkan. Penulis misalnya memberikan penghargaan berupa : Bintang, terbuat dari kertas karton/asturo berukuran kecil bagi siswa yang mendapat nilai tinggi (80-100) baik latihan soal, tugas maupun PR.
Kalung medali pelajaran, terbuat dari gabus yang menyerupai sebuah medali dengan menggunakan tali warna. Medali dibuat khusus untuk setiap mata pelajaran, dan diberikan kepada siswa setiap selesai ulangan harian. Siswa yang mendapat nilai tertinggi dalam ulangan harian berhak menerima medali.
Sewaktu-waktu tidak ada salahnya apabila guru memberikan penghargaan berupa uang jajan, walaupun dengan nilai nominal yang relatif kecil. Bagi siswa terkadang bukan besar kecilnya uang tetapi kebanggaan mendapatkannya dari guru yang dicintainya.
• Penghargaan khusus
Penghargaan ini sifatnya spontan dan insidental, di mana siswa yang berhasil menjawab dengan tepat pertanyaan dari guru dimungkinkan untuk istirahat atau pulang terlebih dahulu.
3) Pemberian sanksi
Dalam sebuah proses pembelajaran perlu ada semacam aturan main (rule of the game). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, termasuk perlu adanya sanksi yang disepakati bersama antara guru dengan siswa. Tetapi diupayakan dalam pemberian saknsi ini betul-betul bersifat pedagogis (mendidik).
Tujuannya :
• Terwujudnya kelas yang tertib, namun diupayakan tetap menyenangkan.
• Penanaman disiplin kepada anak.
• Mendidik siswa untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan.
4) Kotak Soal
Dibuat dari bekas wadah susu atau makanan lain, yang berbentuk segi empat, kemudian dibungkus kertas kado, dengan warna yang menarik ditempel di dinding kelas sejumlah mata pelajaran, sehingga setiap mapel memiliki kotak soal tersendiri.
Tujuannya :
• mendorong siswa agar senang mempelajari soal sesuai keinginannya setiap saat.
• Memberi kesempatan memanfaatkan waktu luang untuk mempelajari soal-soal.
Soal ini dibuat dengan berbagai bentuk, seperti soal cerita, kuis, siapa aku, tanya jawab, dll. Di tulis di kertas asturo atau kertas lain dengan bentuk yang menarik.
5)Pokjar (Kelompok Belajar)
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap kelompok dipilih satu ketua yang mampu memimpin dan membantu anggotanya.
Tujuannya :
• Matih kerjasama antara siswa
• Menanamkan jiwa kepemimpinan dan saling membantu
• Terjadi pertukaran pengetahuan dan memungkinkan siswa yang sudah paham mengajari teman lainnya .
Dalam pelajaran tertentu, guru memberikan masalah kemudian siswa mendiskusikanya dalam kelompok. Adapun tempat pengerjaannya diserahkan sepenuhnya pada mereka, asal waktunya ditetapkan dengan jelas. Mereka boleh mengerjakan di kelas (in-door) atau diluar kelas (out-door) seperti perpustakaan, halaman sekolah, aula atau mushola.
Bagi kelompok yang berhasil meraih nilai tertinggi dan paling cepat, akan diberi penghargaan berupa bintang kelompok, yang nantinya ditempel di dinding dengan menggunakan gabus berukuran 100 cm x 75 cm. Gabus tersebut diberi tulisan “ Alhamdulillah, Mamah….. Mamah……….. inilah bintang kelompokku………”.
6)Perpustakaan Kelas
Penanaman kebiasaan membaca harus selalu ditumbuhkan. Kehadiran perpustakaan kelas merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan. Berbagai buku yang bersifat ringan dan dapat menggugah kreativitas siswa bisa dijadikan referensi. Majalah Bobo, Annida, Anak Sholeh, buku cerita, kisah sahabat dan petualangan hewan merupakan pilihan bagi mereka.
Tujuannya :
• Menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, karena membaca adalah kunci pengetahuan.
• Memanfaatkan waktu luang secara baik.
Adapun sumber bukunya dapat diperoleh dari sumbangan siswa sendiri yakni membawa buku bacaan bekas dari rumah, membeli atau sumbangan.
7)Mading Kelas
Kehadiran majalah dinding (mading) kelas menjadi satu terobosan yang cukup baik. Diantara siswa ada yang dipilih menjadi pengurus mading. Mereka ada yang bertugas sebagai pimpinan redaksi, reporter, ilustrasi atau pencari berita.
Tujuannya :
• Menampung hasil karya siswa berupa gambar, cerita/karangan, puisi, atau pengalaman pribadi.
• Membiasakan siswa untuk menulis, segala ide, impian dan harapan dapat ditumpahkan dalam karya tulis.
• Menumbuhkan semangat belajar dan membaca.
Biasanya siswa akan senang, apabila karyanya dilihat oleh teman-temannya. Hasil karya yang ditempel bisa saja sengaja dibuat oleh siswa di rumah atau hasil tugas mata pelajaran tertentu.
8)Setting Kelas
Untuk sekolah yang full day school kemungkinan besar siswa akan merasa jenuh dan capek berada terus di sekolah atau kelas. Oleh karena itu bagaimana menciptakan ruangan dan suasana kelas yang meminimalisir kejenuhan mereka.
Setting kelas dapat dilakukan oleh guru dengan cara penataan ruangan, pemasangan gambar, tulisan yang memotivasi, warna-warni yang menyolok, hiasan yang menggugah poster dll. Contohnya poster dapat ditempel di dinding kelas. Bunyi poster misalnya, “ BELAJAR ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN “, “ MEMBACA MENJADI KEBUTUHANKU “, AKU INGIN MENJADI ANAK PINTAR DAN SHOLEH “, “ BELAJAR ITU IBADAH, BERPRESTASI ITU INDAH.”
Setiap minggu sekali, siswa diperbolehkan untuk berpindah tempat duduknya, sesuai keinginan mereka. Papan tulis, setiap semester sekali dapat dirubah posisinya, sesuai kesepakatan dengan siswa.
9)Mencatat dengan Peta Pikiran
Hasil temuan mutakhir menunjukan bahwa otak manusia memiliki kehebatan yang luar biasa, ada otak kiri dan otak kanan. Untuk mengembangkan kemampuan otak kanan yang penuh dengan imajinasi, siswa diajarkan cara menulis dengan menggunakan peta pikiran.
Tujuannya :
• Mempermudah mengingat/menghapal materi pelajaran.
• Menulis sambil menggambar disertai warna akan lebih menarik dan tidak jenuh.
• Mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitas anak.
Guru harus menyusun terlebih dahulu materinya yang sesuai. Siswa diberi kebebasan untuk mewarnai, menggambar dan membuatnya sendiri.


10)Penggunaan alat peraga
Alat peraga boleh dikatakan sebagai salah satu pendukung kesuksesan pembelajaran, karena dengan media ini biasanya pembelajaran menjadi lebih menarik. Berbagai media dapat dibuat guru walaupun sederhana.
Tujuannya :
• Memperjelas materi yang disampaikan, karena siswa melihat secara langsung.
• Menarik siswa sehingga penbelajaran lebih hidup dan dinamis.
• Sebagai sarana untuk menambah pemahaman siswa tentang materi mata pelajaran, terutama media yang berupa permainan.
Media yang dapat dibuat misalnya kartu permainan perkalian. pembagian dan pengurangan. Angka gabus berwarna (matematika), fuzel IPA, PP IPA, kartu permainan IPA (IPA), PP IPS, mata angin, gambar, denah (IPS), kartu berpasangan, papan sinonim/antonim (B. Indonesia). Prinsip utama dari pembuatan alat peraga adalah dengan media maka pembelajaran lebih bermakna dan menggairahkan.
11) Pembelajaran sambil bermain
Kegiatan ini amat tergantung pada gurunya. Pembelajaran tidak harus selalu serius, siswa duduk manis semua di meja, mendengarkan ceramah guru dengan tidak boleh melirik kiri dan kanan. Sebenarnya dimungkinkan pembelajaran dengan mengadopsi berbagai permainan yang sering dilihat oleh anak-anak di TV seperti kuis siapa aku, tebaklah, siapa berani dll.
Selain itu guru bisa mengembangkan metode ini berdasarkan pengalaman di lapangan. Contohnya dalam pelajaran B. Indonesia, mengadakan permainan tebak kata, di mana setiap siswa menyiapkan kata yang telah dipahami artinya, kemudian dia mengemukakan huruf awal sambil menyebutkan ciri-cirinya. Permainan peribahasa, dengan cara melanjutkan peribahasa yang telah diucapkan siswa lain, apabila ada yang salah maka, dia maju ke depan untuk bernyanyi (nasyid).
Begitu banyak bentuk permainan yang dapat dilakukan oleh guru, dan kesemuanya bertujuan untuk lebih menarik siswa dalam pembelajaran.
PENUTUP
Kesimpulan
Manajemen Pembelajaran adalah segala usaha pengaturan proses belajar mengajar dalam rangka terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Adapun tujuan dari Manajemen pembelajaran adalah menciptakan proses belajar mengajar yang mudah direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan dan dikendalikan dengan baik.
Sedangkan Inovasi pembelajaran sendiri merupakan sesuatu yang penting dan mesti dimiliki atau dilakukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran akan lebih hidup dan bermakna. Berbagai inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa agar lebih giat dan senang belajar.
Seperti yang telah dipaparkan, pada hakekatnya sifat inovasi itu amat relatif, dalam arti inovasi yang kita lakukan sebenarnya barangkali sudah tidak asing bagi orang lain. Tetapi sebagai seorang guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak, maka tidaklah salah apabila terus-menerus melakkukan inovasi dalam pembelajaran.
Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali dan mencari berbagai terobosan, pendekatan, metode dan sistem pembelajaran merupakan salah satu penunjang akan munculnya berbagai inovasi-inovasi baru yang segar dan mencerahkan.
Penulis memandang, tanpa dibarengi kemauan dari guru untuk selalu berinovasi dalam pembelajarannya, maka dimungkinkan pembelajaran akan dirasa menjenuhkan oleh siswa. Di samping itu, guru tidak akan terkembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Inovasi akhirnya menjadi sesuatu yang harus dicoba untuk dilakukan, sesederhana apapun.



Daftar Pustaka
Imron Arifin, Kepemimpinan Kepala Paud Dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Sentra Studi Kasus Paud/Kb Unggulan Nasional Anak Saleh Malang, Yogyakarta: Aditya Media, 2009
(http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/19/inovasi-pembelajaran/)
http://www.scribd.com/doc/4994224/pengertian-manajemen
http://www.elvinmiradi.com/topik/definisi+manajemen+inovasi+pendidikan.html
http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/19/inovasi-pembelajaran/

Kamis, Desember 02, 2010

Bimbingan Konseling Dalam Pandangan Islam

Dalam menjalani kehidupan ini manusia akan banyak menemui ujian dan cobaan.Dalam menerima ujian Allah, ada manusia yang tidak mampu menghadapinya, namun ada juga yang bersabar dalam menghadapi ujian atau musibah dari Allah. Orang mukmin adalah orang yang mampu bersabar terhadap musibah yang diberikan oleh Allah kepada hambanya. Sedangkan orang yang kurang imannya, kebanyakan mereka berkeluh kesah terhadap apa saja yang membebani dalam kehidupannya. Karenanya, orang yang kurang mampu menghadapi kemelut kehidupan, memerlukan bimbingan, agar mereka bisa kembali ke jalan Allah yang lurus. Dalam konteks pendidikan, siswa yang memiliki banyak problem kehidupan memerlukan bimbingan serta solusi agar ia dapat keluar dari kemelut persoalan hidupnya. Institusi yang menangani persoalan siswa biasanya lebih dikenal dengan istilah BK (Bimbingan Konseling). Namun dalam prakteknya, BK masih banyak menangani persoalan siswa lebih mengarah ke formalitas belaka. BK kebanyakan terjebak pada penertiban-penertiban aturan daripada menangani persoalan psikis siswa. Karenanya diperlukan format BK yang lebih mengarah kepenanganan secara holistik. Lalu, bagaimanakah Islam memandang hal demikian? Apakah ada dasar serta rujukan yang bisa menjadi penguat di dalam pembentukan atau cara pandang tentang BK? Dan bagaimanakah konsepnya?

selanjutnya klik judul...........

Selasa, November 30, 2010

Kembali ke Khitah Guru


Perubahan kebijakan pemerintah pasca lahirnya Undang-Undang sisdiknas 20/2003 serta Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen patut untuk diapresiasi oleh semua pihak. Karena bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, perhatian pemerintah terhadap guru sangat besar. Sejumlah kebijakan, seperti halnya sertifikasi, menghantarkan guru untuk berbondong-bondong meningkatkan keprofesionalan dirinya sehingga bisa diakui dan mendapatkan tunjangan yang mampu menyejahterahkan kehidupannya. Sejumlah kompetensi yang ditarget pemerintah untuk guru, misalnya kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi social, diusahakan oleh guru untuk memenuhinya baik melalui portofolio maupun diklat.
Namun usaha memajukan pendidikan itu bukannya tanpa kritik. Baik itu pada decision maker itu sendiri maupun guru sebagai penikmat kebijakan. Masih banyak ditemui guru yang mengadukan tentang kebijakan di daerah yang mengedepankan like and dislike tentang guru yang berhak mengajukan sertifikasi dan tidak. Ada anggapan bahwa di daerah-daerah tertentu, yang lebih diutamakan adalah ada unsur kekerabatan atau ada unsur kedekatan dengan atasan. Sehingga sertifikasi sebagai indicator perhatian pemerintah atas guru, masih belum merata.
Pihak guru sendiri, masih banyak, dalam usahanya mendapatkan sertifikasi, melakukan penipuan-penipuan. Piagam-piagam hasil diklat maupun workshop diduga hasil dari pembelian kepada oknum-oknum yang memanfaat situasi guru yang ingin instan tanpa bersusah-susah duduk mendengarkan nara sumber. Hasil PTK yang seharusnya dijadikan ukuran keprofesionalan guru dalam wilayah akademisi, ternyata banyak hasil dari copy paste atau hasil pembelian kepada orang-orang yang memiliki keahlian menulis walaupun tidak pernah mengajar. Begitupun dengan aktivitas social yang juga merupakan salah satu prasyarat keprofesionalan, banyak disana-sini terjadi kepalsuan kepengurusan organisasi-organisasi social. Kenapa itu semua terjadi?
Guru : Profesi ataukah Pengabdian?
Memang dilemma menjawab guru itu sebuah profesi ataukah bentuk pengabdian. Ketika UU Sisdiknas 20/2003 dikeluarkan maka secara resmi guru itu dinamakan tenaga pendidik. Konsekwensi dari tenaga pendidik adalah keprofesionalan. Keprofesionalan itu diukur dari kemampuan guru dalam administrasi dan proses pembelajaran. Karenanya tidak heran jika kemudian ada sebagian guru yang beranggapan bahwa ketika mereka sudah selesai tugasnya mengajar, maka sudah selesai pula tugasnya.
Namun sebenarnya lebih dari itu makna guru, jika dikembalikan kepada makna dasar dari guru itu sendiri yaitu “A guru is a person who is regarded as having great knowledge, wisdom and authority in a certain area, and uses it to guide others”. Jadi guru adalah seseorang yang dihormati karena pengetahuannya, kebijaksanaannya, kemampuannya memberikan pencerahan, kewibawaan dan kewenangannya. Bahkan tidak jarang kata guru itu dimaknai sebagai seorang yang mengajarkan hal-hal yang linuweh, adikodrati, spiritual.
Adapun perannya, sebagaimana konsep Ki Hajar Dewantara adalah Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodo, menjadi teladan, berada didepan, dan diperhatikan orang banyak. Istilah modernnya seorang guru menjadi INOVATOR. Guru menjadi contoh teladan baik dalam tutur kata (baca: pengetahuannya) maupun segala gerak-gerik (baca : perilakunya), disekolah maupun dirumah. Ing madyo mangun karso, guru menjadi kawan seiring dalam berkarya. Istilah modernnya DINAMISATOR. Tut wuri handayani. Menjadi pendukung dalam berkarya. Memberi semangat saat tak berdaya. Tapi posisinya berada di belakang. Istilah modernnya MOTIVATOR.
Dari pengertian dan perannya guru, ia bukan hanya sebagai seorang pengajar, namun lebih dari itu ia adalah pendidik, baik mendidik pengetahuan maupun perilaku. Oleh karenanya seorang guru hendaknya memiliki perilaku yang baik disamping berpengetahuan luas. Agar dalam proses pendidikan itu bisa berjalan dengan baik. Transformasi ilmu dan transformasi perilaku.
Kembali ke Khitah
Peringatan hari guru dan HUT PGRI yang ke 65 ini, hendaknya menjadikan muhasabah, khususnya bagi guru, agar terus melakukan pembenahan-pembenahan. Tidak hanya sekedar memperoleh sertifikat keprofesionalan yang mengedepankan, pada ujung-ujungnya adalah materi, namun juga harus terus meningkatkan sisi ketauladanan dalam kepribadiannya. Karena ketauladanan itu sendirilah merupakan khitah sebagai seorang pendidik. Dengan keteladananlah proses pendidikan yang akan mencetak generasi yang bermoral dan berkarakter akan terbentuk. Bukankah inti dari pendidikan itu adalah perubahan perilaku? Kebanyakan siswa itu melihat guru sebagai tauladan yang utama. Namun jika guru itu memberi ketaladan buruk, maka perubahan perilaku buruk pulalah yang akan ditiru oleh siswa. Sehingga tidak mengherankan ada sebuah peribahasa “ Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Termasuk seperti inikah guru yang kita inginkan?

Nama Penulis : Muhammad Isno el-Kayyis

Kamis, November 25, 2010

Mengidamkan Guru Profesional (Refleksi HUT Guru dan PGRI ke 65)

Keinginan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan mengeluarkan UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 kemudian diperkuat dengan UU No 14 tahun 2005, Peraturan Pemerintah 19 tahun 2005, Peraturan Pemerintah No 74 tahun 2008 serta beberapa Peraturan Menteri, perlu diapresiasi oleh semua pihak. Karena dalam kebijakan tersebut pemerintah memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan, bagaimanapun guru memiliki peran yang kuat. Karenanya tuntutan untuk meningkatkan kualitas guru sangatlah logis. Guru, dalam Undang-undang guru dan dosen tahun 2005 harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Jika ditelaah lebih mendalam ketercapain kompetensi tersebut sangatlah sulit. Karena guru disamping mengajar harus memiliki kompetensi lain seperti keaktifan di lembaga kemasyarakatan, karya ilmiah, seminar, dan lain sebagainya. Padahal selama ini menjadi seorang guru dikesankan hanyalah mengajar saja. Tetapi dengan amanah Undang-undang tersebut, guru idealnya harus menjadi guru yang serba bisa atau profesional minimal mencapai empat kompetensi tersebut.
Untuk diakui sebagai tenaga pendidik yang profesional maka seorang guru harus mendapatkan sertifikat pendidik. Untuk mendapatkannya, guru bisa menempuh dua jalur. Jalur pertama dengan portofolio dan jalur kedua dengan pendidikan profesi. Kebanyakan guru banyak yang menempuh melalui jalur portofolio. Jika dalam portofolio tidak lolos maka guru baru akan menempuh pendidikan profesi. Seorang guru ketika menempuh jalur portofolio harus mengumpulkan bukti-bukti keterlibatannya dalam forum-forum ilmiah, karya tulis, pendidikan dan pelatihan, sosial dan lain sebagainya. Bukti keterlibatan ini harus dibuktikan dengan surat tugas, surat keterangan atau piagam-piagam yang pernah didapat. Jika dalam pengumpulannya kurang memenuhi standar nilai maka seorang guru wajib mengikuti pendidikan profesi.
Dalam kenyataannya, masih banyak guru, demi mendapatkan sertifikat pendidikan dengan iming-iming gaji dua kali lipat, banyak melakukan penipuan-penipuan. Terbukti dari berbagai kasus, banyak sertifikat-sertifikat palsu, SK palsu, karya tulis plagiat, dan lain sebagainya. Namun anehnya, hingga sekarang masih belum ada tindakan yang nyata terhadap itu semua. Padahal jika dilihat tuntutan pemerintah melalui undang-undangnya, guru diharapkan benar-benar menjadi tenaga pendidik yang profesional. Bukan profesional menipu atau profesional plagiat atau profesional mengumpulkan kertas-kertas belaka. Bagaimana bisa dipertanggungjawabkan kalau seorang guru lolos protofolio tetapi tidak mampu membuat RPP yang benar, atau silabus yang benar, atau menerapkan strategi pembelajaran yang benar, atau membuat lembar kerja yang benar?
Tidak semua guru berasal dari fakultas keguruan. Seperti halnya di IAIN Sunan Ampel yang penulis pernah studi disana. Banyak teman-teman penulis yang berasal dari fakultas Adab, fakultas syariah, fakultas Ushuluddin, fakultas Dakwah menjadi seorang guru. Padahal mereka tidak memahami keilmuan guru. Hanya karena tidak ada pilihan pekerjaan sajalah mereka menjadi guru atau karena mereka mengikuti program akta IV sehingga mereka bisa diterima mengajar di sekolah negeri bahkan menjadi pegawai negeri mengajar pendidikan agama Islam. Namun demikian, bagaimanapun, mereka masih tetap belum akrab dengan administrasi mengajar.
Karenanya menurut penulis, untuk mendapatkan guru yang profesional tidak cukup dengan hanya portofolio. Tetapi perlu dengan pendidikan profesi. Karena dalam pendidikan profesi banyak ilmu yang akan diperoleh. Inspirasi-inspirasi keilmuan akan banyak ditemukan. Terutama revolusi-revolusi mengajar disamping administrasi mengajar yang benar. Pengalaman penulis mengikuti diklat, banyak ilmu yang diperoleh. Dalam pembelajaran, kita diperkenalkan dengan strategi-strategi pembelajaran yang tidak kita dapatkan dari pengawas pendidikan di daerah. Begitupun dengan RPP yang benar, Silabus yang benar, Evaluasi yang benar, dan lain sebagainya. Banyak peserta ketika penulis tanya, mereka banyak mendapatkan pencerahan yang luar biasa. Padahal mereka mengaku sudah pernah mengajar selama 28 tahun.
Profesional dan tidak profesional kalau diukur secara normatif memang sangat sederhana. Yang terpenting, kalau jalur portofolio, memenuhi kriteria yang ditentukan dengan memberikan bukti-bukti meskipun terkadang itu belum tentu benarnya. Yang terpenting sudah memenuhi nilai dan lulus. Jika dia tidak lulus, yang terpenting ikut pendidikan profesi pasti lulus dan akan dianggap menjadi guru profesional. Namun secara subtantif, tidak bisa semudah itu. Guru yang telah ikut pendidikan profesi kemudian mengetahui administrasi dan berbagai disiplin keilmuan mengajar, apakah menjamin ketika dia kembali ke lembaganya menerapkan dengan sebenarnya? Apakah menjamin orang yang memiliki RPP sangat bagus itu telah diterapkan dalam pembelajarannya? Apakah menjamin orang yang memiliki pengetahuan luas atau mereka yang bergelar deretan, mampu menjadi guru profesional yang disenangi siswa, dan siswa mudah menangkap apa yang dia ajarkan?
Ada banyak kriteria ideal tentang guru dikatakan professional, dalam hal ini kiterianya tanpa ada tuntutan formalitas. Sebagaimana uraian Lou Anne Johnson, setidaknya ada 3 tipe guru dikatakan guru professional. Pertama, guru super, kedua, guru excellent dan guru good. Guru super adalah guru yang membutuhkan energi yang sangat tinggi. Ia tiba disekolah lebih awal dan pulang paling akhir. Mereka menghadiri seminar, melanjutkan pendidikan, menjadi sukarelawan bagi kegiatan muridnya, dan memberikan dirinya bagi murid-muridnya yang membutuhkan bantuan ekstra di dalam maupun diluar kelas. Guru excellent adalah guru yang memiliki kesamaan dengan tipe guru super. Namun ia tetap membatasi jumlah waktu dan energi yang mereka baktikan untuk mengajar. Mereka peduli kepada muridnya namun tidak sampai mengorbankan kebutuhan keluargannya sendiri. Sedangkan tipe guru good adalah mengerjakan tugas-tugas sebagai guru dengan baik namun mereka memahami batasan mereka sendiri. Mereka membuat batasan yang sangat jelas antara profesionalitas dan waktu pribadi. Mereka memperlakukan murid dengan rasa hormat dan mereka melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa semua murid mempelajari materi yang disyaratkan untuk tingkat pendidikan selanjutnya, tetapi mereka tidak merasa berkewajiban untuk menyelamatkan murid-muridnya satu persatu. Mereka juga tidak menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan murid atas keluhan-keluhan mereka diluar jam pelajaran. Mereka mengunci rapat-rapat pintu bagi murid diluar dinas tugas pekerjaannya sebagai guru.
Dari ketiga tipe ini, berapakah prosentase guru super di Indonesia? Berapa yang termasuk tipe guru excellent? Dan berapa yang termasuk guru good? Kita yakin menjadi guru bukan hanya sebuah profesi yang menghasilkan sesuatu, tetapi pekerjaan itu adalah sangat penting bagi pilihan hidup menjadi guru. Namun sudahkan kita menganggapnya penting, Bila dikaitkan dengan banyaknya tren tuntutan materi atas pekerjaan guru? Gurulah yang bisa menjawabnya. Selamat hari guru. Semoga tetap jaya dalam pengabdian.

Sabtu, November 20, 2010

Belajar Sebagai Rekonstruksi Sosial

Cerdas, berprestasi, berakhlak Mulia, Santun, Berbudi Luhur, peduli dan lain-lainnya adalah nilai yang sering didamba oleh insane pendidikan. Hal ini bisa kita lihat dari Visi Misi yang mereka usung, atau slogan-slogan yang biasanya ditulis ditembok-tembok sekolah. Pendambaan nilai yang agung itu adalah sesuatu nilai yang ingin diperjuangkan dan dikejar oleh segenap warga sekolah untuk membentuk karakter siswa atau bahkan culture dari sekolah itu sendiri. Namun, dalam implementasinya, dalam kurikulum yang dikembangkan guru, dan dalam interaksi antar satu dengan yang lain, bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan? Jawabnya: SULIT!. lalu bagaimanakah untuk menggapainya? salah satu metodenya adalah pembelajaran sebagai rekonstruksi sosial, bagaimanakah teorinya?


klik judul

Rabu, Oktober 20, 2010

Pembelajaran PAI berbasis ICT

Pendidikan merupakan suatu upaya mewariskan nilai yang akan menjadi penolong dan penuntun dalam menjalani kehidupan, sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia yang bisa dilakukan sejak masih dalam kandungan (Khaeruddin, 2007: 3). Ia juga merupakan suatu proses dari sesuatu yang tidak tahu menjadi tahu, atau yang mulanya tidak mengerti menjadi mengerti, atau lagi yang mulanya pasif menjadi aktif. (Sri Alfiyanti: 2008: 22). Untuk mewariskan nilai atau proses menjadi tahu, seorang guru haruslah memiliki cara-cara yang tepat dalam menyampaikan pengetahuan atau pengertian. Hal inilah yang disebut dengan metode. Metode merupakan jembatan yang menghubungkan pendidikan dengan anak didik menuju kepada tujuan pendidikan Agama Islam yaitu terbentuknya kepribadian muslim (Sri Alfiyanti: 2008: 23).
Penggunaan metode sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu pembelajaran. Sebaik-baik kurikulum, namun tanpa ditunjang dengan metode yang tepat, maka akan tidak berarti apa-apa dalam suatu proses pendidikan tersebut. Metode diibaratkan sebagai syarat untuk memperoleh pengetahuan, pengertian dan aktivitas dalam proses pendidikan (Sri Alfiyanti: 2008: 23). Seorang guru bisa dikatakan profesional jika ia bisa menggunakan metode dengan baik. Karena cara penggunaan metode, adalah menentukan suatu guru berhasil mencapai standar kompetensi yang diamanatkan.
Kelemahan Pembelajaran PAI
Keprofesionalan guru dalam menggunakan metode menjadi prasyarat seorang pendidik dapat meningkatkan mutu pendidikan. Ditengah-tengah tantangan zaman yang semakin global, guru agama Islam harus mencari inovasi-inovasi baru terkait dengan pembelajarannya. Sementara ditengah masyarakat sendiri, masih banyak kritik-kritik yang ditujukan pada pelaksanaan pembelajaran agama Islam. Hal ini sebagaimana diakui oleh Dirjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama (2002) yang mengemukakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam sekarang ini masih : 1) Islam diajarkan lebih pada hafalan (padahal Islam penuh dengan nilai nilai yang harus dipraktekkan), 2) pendidikan agama Islam lebih ditekankan pada hubungan formalitas antara hamba dan Tuhannya, 3) penalaran dan argumentasi berpikir untuk masalah masalah keagamaan kurang mendapat perhatian, 4) penghayatan nilai-nilai agama kurang mendapat perhatian, 5) menatap lingkungan untuk kemudian memasukkan nilai Islam sangat kurang mendapat perhatian (orientasi pada kenyataan kehidupan sehari-hari kurang), 6) metode pembelajaran agama, khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam kurang mendapatkan penggarapan, 7) ukuran keberhasilan pendidikan agama juga masih formalitas (termasuk verbalistik), 8) pendidikan agama belum mampu menjadi landasan kemajuan dan kesuksesan untuk mata pelajaran lain, 9) pendidikan agama belum dijadikan fondasi pendidikan karakter peserta didik dalam perilaku keseharian. Hal senada disampaikan oleh LPTK Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya (2009: 2) terkait dengan kualitas akademik pendidikan di Indonesia : 1) banyak siswa mampu menyajikan tingkat hapalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimannya, tetapi pada kenyataannya mereka tidak memahaminya, 2) sebagaian besar dari siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan, 3) siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan yaitu dengan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah.
Berkaitan dengan kritik-kritik tersebut, pendidikan Agama perlu melakukan pembenahan-pembenahan yang inovatif, khususnya dalam memberikan metode-metode yang mampu melibatkan keaktifan siswa. Karenanya, guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secaraa seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya.
Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitor yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif, sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar karena siswalah subyek utama dalam belajar.
Memanfaatkan ICT
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini sangatlah cepat. Ia bisa dimanfaatkan untuk hal yang positif sekaligus juga hal negatif. Berbagai inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, termasuk dalam dunia pendidikan. Ia bisa menjadi media yang sangat tepat dalam menyalurkan pesan dalam mendorong terciptanya belajar mengajar siswa (LPTK Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2009: 338). Termasuk dalam hal ini pesan-pesan yang disampaikan dalam pembelajaran PAI. Sudah banyak software-software Islami yang diciptakan oleh pakar yang bisa dimanfaatkan dalam menunjang media pembelajaran. Seperti halnya power point, flash, courseleb, ulead, al-Quran digital, Dhuha Ebook, dan lain sebagainya.
Oleh karenanya, pemanfaatan ICT, dapat sangat mudah untuk diakses dan dimanfaatkan demi mempermudah pembelajaran. Dengan berbagai penggabungan software dan informasi yang didapat dari berbagai fasilitas ICT, maka pembelajaran PAI akan lebih mudah dicerna dan dipahami.
Power Point, misalnya,sebagai salah satu software yang beberapa tahun banyak diakrabi oleh beberapa orang dalam mempermudah presentasi adalah sangat cocok untuk pembelajaran PAI. Ia bisa menerima al-Quran digital, software Islami, lagu, Flash dan sekaligus juga bisa menerima film-film yang akan mempermudah pembelajaran PAI. Karena itu, guru bias memilih software power point, sebagai pendekatan dalam pembelajaran PAI.
Jika guru mampu menguasai Flash, maka ia juga akan bisa mempermudah dalam pembelajaran. Program ini bisa menyimpan data banyak dalam pembelajaran PAI. Guru, bisa-bisa, tidak perlu repot-repot dengan pembelajaran manual menerangkan memakai buku. Guru tinggal membawa laptop dan menyiapkan LCD, dan tinggal mengklik tombol-tombol yang sesuai. Jika ingin lebih mendalam, guru bisa mengklik URL, yang bisa menyambungkan dengan alamat-alamat dalam web-web internet. Guru juga bisa menugaskan siswa dalam dunia maya, misalnya mengirim tugas lewat Facebook, yang pasti diakrabi oleh siswa. Dengan demikian PAI pun, bisa mengikuti perkembangan teknologi yang digandrungi siswa.
Dengan demikian pemanfaatan ICT, bisa membawa dampak positif bagi pembelajaran PAI. Ia bisa mempermudah pembelajaran, sekaligus bisa menampilkan suatu pembelajaran yang tidak membosankan dengan hanya bertumpu pada ceramah saja. Guru juga tidak dipandang Katrok, ketinggalan zaman. Namun guru agama, bisa memelopori ICT yang bermoral dan bermartabat. Semoga!!!

Rabu, Juni 09, 2010

Menyongsong Pendidikan Berbasis Karakter

Kebijakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk menerapkan pendidikan berbasis karakter patut di dukung oleh semua pihak. Karena kebijakan tersebut sangatlah urgen diterapkan dalam mengatasi krisis moral yang melanda bangsa Indonesia. Sudah terlalu banyak kita menyaksikan bagaimana siswa-siswa yang duduk dibangku sekolah, melakukan tindakan-tindakan yang mengarah ke karakter menyimpang. Tawuran antar pelajar, sex bebas, tindak kriminal, penipuan, pencurian, dan lain sebagainya, seakan telah menyatu menjadi karakter yang melekat dalam kepribadian. Lalu siapakah yang perlu dipersalahkan? Apakah memang sekolah mengajarkan tindak kriminal? Jika tidak, kenapa karakter anak didiknya menyimpang?
Kemajuan yang diperoleh oleh bangsa ini, tidak diiringi dengan kemantapan kepribadian. Ukuran-ukuran keberhasilan dan kebahagiaan diukur dari material an sich. Sehingga nilai-nilai spiritual dihiraukan, padahal nilai-nilai spiritual tersebutlah yang berfungsi dalam mengendalikan dan memelihara akhlak manusia. Anehnya pola dan tujuan dalam pendidikan kita mengarah ke sana. Ukuran keberhasilan dalam pendidikan diukur dari nilai-nilai material yang berupa angka-angka. Seakan pendidikan kita ini hanya berfungsi untuk mencetak angka-angka. Sehingga nilai kejujuran, keadilan, kerjasama dan lain sebagainya tidak menjadi budaya atau karakter yang melekat. Siswa-siswa diajarkan dan dirangsang hanya mengejar prestasi dengan mengabaikan nilai-nilai tersebut. Sehingga tidak aneh siswa hanya akan menguasai untuk menjadi ahli MAFIA (Matematika, Fisika dan Kimia) saja.
Menerapkan Pendidikan Berbasis Karakter
Bagaimanakah menerapkan pendidikan berbasis karakter dalam ranah kurikulum pendidikan kita? Pertanyaan inilah yang menjadi PR bagi kita semua untuk menjawabnya. Karena persoalan menerapkan atau menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang sering kita bahasakan karakter bangsa itu sangatlah sulit. Di era Suharto, penerapan nilai-nilai Pancasila dengan menggunakan indoktrinasi ternyata, kalau boleh dibilang, telah gagal dalam membentuk bangsa kita. Tidak tanggung-tanggung pula, tokoh penemu SQ, Daniel Goleman dalam bukunya Working with Emotional Intelegence, mengakui bahwa dalam menerapkan dan menginternalkan nilai-nilai spiritual itu sangat sulit. Terbukti dari pertanyaan besarnya “Lalu bagaimanakah membentuknya?”
Menarik sekali apa yang diungkap oleh Ary Ginanjar dalam bukunya “ESQ Power”, bahwa banyak perusahan-perusahan besar dunia juga berusaha membentuk karakter karyawan-karyawannya dengan mengikutkan pada training-training. Namun terbukti juga gagal membentuk karakter karyawannya. Menurut Ary, itu disebabkan tidak adanya internalisasi yang melekat yang terus menerus dilakukan. Ary mencontohkan, di Jepang ada perusahaan yang dalam membentuk karakter karyawannya, dengan mengulang-ngulang 7 prinsip perusahannya sebelum mereka bekerja. Ke tujuh prinsip tersebut sederhananya, berbakti dan memberi, jujur dan terpercaya, adil, kerjasama atau bersatu, berjuang atau bersikap teguh, ramah atau penyayang, bersyukur dan berterimakasih. Dan terbukti perusahaan tersebut, mampu menginternalisasikan nilai-nilai. Di Jepang, membentuk karakter tidak dengan menuliskan nilai-nilai itu besar-besar pada dinding-dinding sebagaimana lembaga-lembaga kita melakukannya, namun mereka secara konsinten menerapkan Repetitive Magic Power setiap hari.
Lalu bagaimanakah dengan pendidikan kita? Sebenarnya sudah banyak hal yang dilakukan lembaga pendidikan kita untuk usaha membentuk karakter siswa. Muatan-muatan materi dalam PKN yang berlandaskan budi pekerti serta pelajaran Agama yang berbasiskan Akhlak Mulia telah menjadi alternatif dalam mengukur dan meningkatkan karakter siswa. Tetapi dalam realitasnya belum menampakkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan karakter siswa. Begitupun dengan berbagai kebijakan-kebijakan, misalnya menuliskan kalimat-kalimat hikmah di dinding-dinding, melaksanakan istighosah, dan lain sebagainya. Lalu dimanakah pendidikan berbasis karakter ditempatkan?
Adalah menarik apa yang ditulis oleh Kenneth T Henson tentang kurikulum. Dia memahami kurikulum secara holistik. Dia bagi kurikulum menjadi dua, pertama the written curriculum, dan the hidden curriculum. The written curriculum adalah kurikulum sebagaimana yang telah ditulis secara nasional. Sedangkan the hidden curriculum, adalah kurikulum yang tidak tertulis. Glatthorn membagi the hidden curriculum terdiri dari tiga hal : variabel organisasi, variabel sistem sosial dan variabel budaya. Ketiga variabel tersebut adalah kurikulum yang tidak tertulis yang akan menentukan karakter suatu sekolah. Bisa jadi kurikulum sama namun karakter yang dihasilkan suatu sekolah dengan sekolah lain berbeda. Itulah kekuatan the hidden curriculum. Karenanya sekolah harusnya menguatkan the hidden curriculum disamping the written curriculum. Di sinilah sekolah bermain untuk membentuk karakter orang-orang di dalamnya, termasuk siswa diantaranya. Jika lingkungan sekolah mendukung dalam pembentukan karakter tentu dengan sendirinya siswa yang berada di sana akan terbentuk karakternya. Namun jawaban ini hanya penulis batasi di ranah sekolah saja.
Yang menjadi persoalan, pengambil kebijakan dan komponen-komponennya belum istikomah dalam menerapkan kultur di sekolah. Misalnya saja, di suatu sekolah menerapkan kedisiplinan, namun anehnya guru atau pengambil kebijakan seringkali melanggarnya. Sehingga siswa di dalamnya mengalami ke frustasian karena adanya standar ganda. Di sinilah kultur atau kepribadian siswa tidak akan terbentuk. Bukankah sesuatu yang dinamakan karakter itu adalah suatu gerakan yang simultan? Sebagaimana Al-Ghazali menegaskan karakter (baca: Akhlak) adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan degan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Jadi jika karakter atau perbuatan yang berubah-rubah dari suatu kebijakan atau perilaku guru atau komponen dalam suatu sistem, maka tidak akan bisa membentuk karakter anak didik. Guru perlu istikomah dalam menerapkan karakter dalam dirinya dan mencontohkannya dalam kehidupan bersama siswanya. Tentu seluruh komponen di dalamnya. Sehingga siswa atau komponen pendidikan memiliki contoh yang akan membentuk kebiasaan dan kebiasaan yang terus menerus itulah yang dinamakan karakter.
Memelihara Karakter dalam Pendidikan
Menurut J.B Watson bahwa dorongan tercipta dari luar bukannya dari dalam. Artinya karakter itu terbentuk dari stimulus dari lingkungan yang melingkupinya. Jika siswa berada dalam lingkungan yang baik maka dia akan menjadi baik. Jika siswa ada di lingkungan buruk maka dia akan berubah menjadi buruk. Karenanya dalam membentuk siswa diperlukan penyediaan-penyediaan lingkungan yang baik agar stimulus atau pembentukan karakter itu akan bisa dilakukan. Namun teori ini mendapatkan bantahan dari para pakar-pakar psikologi. Karena tidak selamanya karakter itu terbentuk dari lingkungan. Ada orang yang ada dilingkungan miskin belum tentu dia akan menjadi miskin. Terbukti banyak tokoh-tokoh besar lahir dalam lingkungan miskin.
Ary Ginanjar justru mengatakan, bahwa pengaruh yang besar itu bukannya ada di luar namun ada dari dalam. Sebagaimana penemuan V.S Ramachandran, Michael Persinger, dan Wolf Singer yang mengatakan bahwa aktualisasi manusia itu karena ada dorongan yang sudah built in dari dalam manusia. Sesuatu yang built in ini, kalau dalam konsep teologi Islam dinamakan dengan percikan asmaul husna dalam qolbu setiap hamba. Seseorang mendamba kasih sayang, kebijaksanaan, kejujuran, kerjasama, keadilan dan lain sebagainya, hakekatnya adalah bentuk dari kerinduan hamba akan sifat-sifat Allah. Ketika orang berada dalam sifat-sifat tersebut maka dia akan memperoleh kebahagiaan. Karena ia senantiasa berada dekat dengan Allah. Orang yang menjauhi sifat-sifat tersebut maka hidupnya justru akan tidak bahagia. Ukurannya di sini, semakin orang mempraktekkan sifat-sifat luhur yang dalam asmaul husna tersebut dia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Lebih hakiki dari nilai-nilai material.
Dalam ranah pendidikan, perlu adanya bentuk kongkret menerapkan karakter-karakter asmaul husna. Tentu dengan menentukan indikator perilaku-perilaku yang disesuaikan dengan visi misi sekolah. Misalnya saja dari sifat Allah Al Qudus (Maha suci) maka bentuk kongkret dalam perbuatan sekolah adalah menjaga kebersihan kelas, kamar mandi, lapangan dan seluruh lingkungan sekolah dan lain sebagainya. Sehingga disini ada muatan spiritual seseorang dalam berbuat. Tiap komponen akan merasa bahwa perbuatan yang mereka lakukan bernuansa ibadah. Dan ibadah yang dilakukan itu berpahala.
Harapan baru
Sebagai pelaku pendidikan, tentu penulis sangat menunggu kebijakan yang lebih memiliki dampak yang signifikan dalam mendidik siswa. Pendidikan dengan berbasiskan karakter harus dilakukan dengan baik dari dalam maupun dari luar, sebagaimana ungkapan Watson maupun Ary Ginanjar. Tentu perlu adanya keseriusan bersama-sama. Jangan hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah atau guru-guru yang selama ini dianggap sebagai penjaga moral saja, namun perlu dukungan semua pihak. Dan terlebih lagi tujuan yang mulia ini jangan hanya dijadikan sebagai proyek dengan memperbanyak seminar, workshop, diklat, tetapi tanpa aplikasi nyata. Karena ini sebenarnya lebih besar dari proyek-proyek tersebut. Ini adalah proyek dunia dan akherat dan yang akan menentukan arah kepribadian bangsa kita ke depan. Sehingga torehan dan perbuatan yang kita lakukan akan menjadi amal jariyah yang amaliah kita akan dikirimi pahala yang mengalir terus menerus, karena apa yang kita lakukan menjadi pedoman bagi seluruh generasi kita. Sampai kelak mereka meninggalkan dunia ini. Amin. Semoga?



.

Senin, Januari 18, 2010

Rememory Fakultas Tarbiyah

Pada hari jumat, tepatnya tanggal 15 Januari 2010, saya pergi ke Surabaya, tepatnya ke IAIN Sunan Ampel. Saya sedang berkepentingan untuk legalisir ijazah. Persediaan foto copy ijazah yang terlegalisir di dokumen file saya sudah habis. Padahal sebentar lagi saya disuruh untuk mengurus kenaikan pangkat dari III/a ke III/b. Ya begitulah!!!!Birokrasi!!!!! PNS????? Setiap mau ada apa saja selalu yang diminta SK, Ijazah. Padahal sudah puluhan ijazah dan SK aku kumpulkan ke TU dan Diknas, tetapi tetap saja selalu disuruh mengumpulkan, apa memang disana itu tidak ada data, atau mungkin langsung dibuang atau dibuat bungkus kacang????/ he....he......(mungkin perlu reformasi dari peradaban mengumpulkan secara manual ke peradaban on line). Menghadapi situasi demikian, saya sudah berjaga-jaga dan menyiapkan diri. Saya mengkopy ijazah saya 60 lembar. Ijazah yang ada tulisan SPd.I nya 20 lembar, yang akta IV 20 lembar, dan yang transkrip nilai 20 lembar. Biar nanti tidak cepat habis-habis.
Tepat pukul 08.00 WIB, saya sudah sampai di IAIN. Saya langsung


klik judul

Senin, Januari 04, 2010

Barokah Sertifikasi

Sertifikasi menjadi perbincangan hangat di lingkungan guru-guru pasca dikeluarkannya Undang-undang dosen dan guru yang merekomendasikan kesejahteraan bagi para guru. Ada sebagian yang menyambut begitu gembira, ada sebagian pula yang acuh tak acuh tapi juga berharap, dan ada juga yang biasa-biasa saja. Saya tidak tahu, apakah saya masuk pada bagian pertama, kedua atau ketiga. Yang jelas, saya menerapkan tepo seliro dengan para pini sepuh yang telah berjuang terlebih dahulu, bahwa saya masih muda, baru mengajar, kurang berpengalaman, bau kencur, pengabdiannya kurang banyak dan lain sebagainya. Akhirnya saya santai, dan menganggap bahwa saya tidak mungkin mendapatkan sertifikasi. Paling-paling 2014 urutannya.
Namun betapa kagetnya, tatkala surat pemberitahuan dari DEPAG kota Mojokerto ditujukan kepada saya. Saya diharapkan hadir dalam persiapan sertifikasi. Dari pertemuan dengan MAPENDA, dapat saya simpulkan bahwa saya diikutkan sertifikasi bersama 15 orang sebagai peserta susulan 2009. Saya merasa......


selanjutnya Klik Judul........

Guru Profesional

Keinginan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan mengeluarkan UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 kemudian diperkuat dengan UU No 14 tahun 2005, Peraturan Pemerintah 19 tahun 2005, Peraturan Pemerintah No 74 tahun 2008 serta beberapa Peraturan Menteri, perlu diapresiasi oleh semua pihak. Karena dalam kebijakan tersebut pemerintah memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan, bagaimanapun guru memiliki peran yang kuat. Karenanya tuntutan untuk meningkatkan kualitas guru sangatlah logis. Guru, dalam Undang-undang guru dan dosen tahun 2005 harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Jika ditelaah lebih mendalam ketercapain kompetensi tersebut sangatlah sulit. Karena guru disamping mengajar harus memiliki kompetensi lain seperti keaktifan di lembaga kemasyarakatan, karya ilmiah, seminar, dan lain sebagainya. Padahal selama ini menjadi seorang guru dikesankan hanyalah mengajar saja. Tetapi dengan amanah Undang-undang tersebut, guru idealnya harus menjadi guru yang serba bisa atau profesional minimal mencapai empat kompetensi tersebut. lalu bagaimana menjadi guru profesional????..........selanjutnya.......


klik Judul

Jumat, Juli 31, 2009

Guru Bayaran


Engkau Patriot Pahlawan Bangsa
Membangun Insan Cendekia

Perubahan pada syair terakhir lagu “ Hymne Guru “, yang semula “ Tanpa Tanda Jasa “ menjadi “ Membangun Insan Cendekia “, ini tidak begitu menarik perhatian saya pada awalnya. Biasa saja. Hanya sekedar perubahan kecil yang dilakukan untuk suatu kebijakan tertentu. Tapi kemudian saya tercenung. Kenapa harus diubah segala? Bukankah ini lagu nasional? Aneh.
Menurut saya pribadi, lagu Hymne Guru yang berbunyi “Engkau Patriot Pahlawan Bangsa, Tanpa Tanda Jasa “ seharusnya memang begitulah seorang guru. Guru yang ikhlas mau mendidik murid-muridnya. Guru yang tidak mengharap imbalan apa-apa untuk melakukan transformasi ilmu kepada siapa saja yang membutuhkan. Guru yang bisa ngemong. Guru yang bisa nggendong. Guru yang bisa dadi bocah angon mengembalakan kebodohan menuju ladang kepandaian. Guru yang bisa menjadi tangga, yang menghantarkan murid-muridnya untuk menuju tangga yang lebih tinggi atau maqom yang lebih tinggi. Maka wajar jika guru dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa, karena apa saja yang digunakan untuk membalas kebaikannya dalam menebarkan benih ilmu tidak bisa dihargai hanya dengan tumpukan uang.
Namun, dalam pandangan saya sebagai seorang siswa, saya banyak menemukan ketidak konsistenan peran guru sekarang ini. Ketidakkonsistenan itu saya lihat dari pengabdian mereka yang tidak memperlihatkan diri mereka sebagai seorang pahlawan tanpa jasa. Mereka mengajar karena memang mereka dibayar. Jika tidak dibayar mereka tidak mau mengajar. Jika gajinya sedikit mereka akan berunjuk rasa, Nah!!!!!!.
Ada saya temui, seorang guru nyambi bisnis. Saking sukses bisnisnya sampai-sampai dia lupa kewajiban dirinya, mengajar siswa-siswinya. Siswa yang ditinggalkan, tentu bosan dengan suasana jam kosong terus menerus. Akhirnya siswanya membuat onar. Namun karena membuat onar akhirnya mereka yang dihukum. Kesalahan-kesalahan ditumpahkan kepada siswanya. Tidak pernah mereka menumpahkan kemarahan kepada dirinya yang tidak mengajar atau menjadikan jam kosong?
Lebih parah, ada guru yang dengan tega memeras para siswanya untuk memuaskan nafsu duniawi mereka. Dengan cara memberlakukan sistem suap-suapan khususnya pada awal tahun ajaran baru. Siswa yang tidak memiliki kualifikasi danem tinggi bisa masuk melalui jalur tikus. Tentunya dengan membayar sejumlah fulus yang sesuai dengan kesepakatan. Dengan kata lain, Asal ada banyak uang, nilai dan otak menjadi pertimbangan ulang. Lalu, bagaimana nasib siswa yang kurang pintar dan kurang beruang? Ada sebuah novel berjudul “ Orang Miskin Dilarang Sekolah” mungkin judul itu menggambarkan kondisi pendidikan itu sekarang. Orang miskin dilarang pintar. Orang miskin dilarang cerdas. Kalau begitu sama saja dengan sistem hukum rimba dong? Memang. Tapi kalimatnya diubah. Bukan lagi yang kuat yang berkuasa, tapi berubah menjadi yang kaya yang berkuasa. Orang-orang yang aneh. Menyamakan diri sendiri dengan binatang.
Terbesit pula sebuah pertanyaan dalam otak saya. Jika proses awal menuntut ilmu sudah nggak bener, bagaimana hasilnya? Apakah ilmu yang mereka peroleh benar-benar murni? Ke realita saja. Dimulai dari guru yang tak lagi menjaga kesucian dalam mengamalkan ilmu, sistem yang tak lagi bersih dalam mencari calon-calon penerima ilmu, dan siswa sendiri yang mau mengotori diri dengan menghitamkan proses pencarian ilmu, apakah ilmunya masih bersih? Hanya hati dan pikiran yang terbuka saja yang dapt menjawabnya.
Sadar atau tidak, dampak dari pengotoran tersebut sangat besar. Ilmu yang mereka dapat tak lagi barokah. Lha, bagaimana mau barokah? Wong prosesnya saja kotor. Akhirnya, siswa-siswa pun belajar dengan cara kotor pula. Nyontek dan ngerpek menjadi jalan pintas untuk mendapat nilai baik. Dan terkadang cara seperti ini dihalalkan oleh sistem sekolah. Karena dari awal sudah diajari korup kecil, begitu ditempatkan dimasyarakat ia akan melebarkan sayapnya menjadi korup besar. Proses kotor, ilmu kotor, dan hasil yang kotor pula.
Dari sini aku menjadi mengerti kenapa lagu itu berubah menjadi guru membangun insan cendekia, tidak menjadi pahlawan tanpa jasa. karena guru memang telah berubah dengan fungsinya. Guru berfungsi membangun. karena membangun maka butuh dana. karena dimanapun sesuatu usaha membangun itu perlu dana. kalau dananya besar maka diperlukan proyek besar. karenanya tidak heran ada proyek buku, proyek bangunan sekolahan, proyek pengadaan barang, proyek Bos, Proyek Bom, dll. Ya begitulah!!!!! aku menjadi berpikir-pikir untuk menjadi guru kelak. Kata gurunya Pak Isno, Janganlah menjadi pegawai negeri jadilah pegawainya Alloh. Mungkin saya akan mengikuti ke sana.
Ya, tetapi kalau memang Alloh menaqdirkan saya menjadi guru. sedikit asa untuk memperbaikinya akan kugunakan seluruh hidupku untuk memperbaikinya. kita harus bangkit dari keterpurukan bangsa ini.Kita jaga diri kita dari kotoran-kotoran yang saya sebutkan tadi. Yang paling utama, kita bersihkan ilmu kita. Kemudian kita amalkan agar nantinya menjadi berkah. Barokallah….

Ditulis oleh :
Rochmatul (Anggota Genk SKI)

Kamis, Juli 16, 2009

Rintihan Sekolah Bertarif Internasional



Menjamurnya sekolah bertaraf Internasional di beberapa sekolah-sekolah SMA membawa dampak terhadap laju perkembangan dunia pendidikan dewasa ini. Di satu sisi, sekolah tersebut memiliki bargaining position (daya tawar) terhadap pangsa pasar dalam hal ini masyarakat, namun disisi lain membawa sebuah problem kontroversi terhadap kaulitas ke-Internasionalan-nya.

Keunggulan dan Kelemahan RSBI
Sekolah Bertaraf Internasional, harus diakui, pertama, menjadi dambaan setiap sekolah. Karena RSBI menjanjikan penggelontoran dana yang sangat begitu besar dari pemerintah. Seperti halnya SMA Khodijah Surabaya sebagaimana laporan harian Surya (14 Juli), mendapatkan dana bantuan dari pemerintah pusat Rp. 500 juta setelah tahun sebelumnya digelontor Rp. 300 juta. Dari dindik provinsi diberi bantuan sarana senilai Rp. 150 juta. RSBI juga memiliki kewenangan untuk mematok biaya tinggi kepada orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Menurut Surya, di SMAN 2 Pare Kediri yang menerapkan RSBI, sampai mematok orang tua untuk membayar 4 juta untuk kebutuhan fisik sekolah. Di beberapa Sekolah SMA Mojokerto yang menerapkan RSBI, dipatok menurut kemampuan biaya, tentunya orang tua yang mampu menyumbangkan uang yang terbanyak. Kedua, RSBI memiliki image internasional. Karena RSBI mengharuskan sekolah mengacu kepada kurikulum Internasioanl. Yakni kurikulum dari Cambridge. Kurikulum Cambridge mengharuskan sejumlah pelajaran harus menggunakan bahasa Inggris. Pelajaran itu adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Sains (Fisika, Biologi, Kimia), Humanity (Sosiologi, PPKN), social study (sejarah), Editional Math (matematika dan terapan).
Namun RSBI tidak luput dari kelemahan dibalik keunggulannya. Pertama, karena biaya RSBI mahal, maka yang memiliki kemampuan untuk masuk ke RSBI hanyalah anak-anak yang orang tuanya berduit saja. Meskipun dalam tes masuk RSBI ada tes tertulis, namun jika lulus tes tulis tetapi tidak bisa menyumbangkan dana besar kepada sekolah, jangan diharapkan anak tersebut bakal mencicipi sekolah bertaraf Internasional tersebut. Maka jangan heran jika nanti RSBI hanya akan dihuni oleh anak-anak orang kaya tetapi keropos otaknya. Karena yang diukur bukan tes akademiknya, namun seberapa besar sumbangannya. Bukan kualitasnya yang bertaraf Internasional namun tarifnya saja yang bertarif Internasional. Kedua, karena dalam RSBI harus menggunakan standar Internasional, maka diperlukan kaulitas-kualitas guru yang mumpuni, khususnya secara akademik syarat menjadi RSBI sebagaimana standar mutu pendidikan ISO 9001:2008 sekolah harus memiliki 30% tenaga pendidiknya sudah lulusan dari strata dua (S2) dan pengajarannya pun harus menggunakan bahasa Internasional. Kenyataannya dilapangan, masih banyak guru yang belum memiliki ijazah S2, dan belum banyak yang mahir menggunakan bahasa Inggris. Lalu bagaimana bisa menjamin sekolahnya bisa bertaraf Internasional? Jika perangkatnya saja belum siap. Bagaimana bisa menjamin sekolah tersebut sudah pantas dikatakan Internasional? Bagaimana bisa menjamin sekolah tersebut mampu bersaing secara internasional? Jangan-jangan sekolahnya saja seakan-akan Internasional tetapi tetap lokal. Sekolahnya lokal tetapi tetap lokal.
Ada beberapa selintingan dikalangan guru tentang RSBI, sejumlah guru yang ada di lingkungan RSBI, sebenarnya banyak yang menolak diadakannya RSBI, karena mereka belum siap baik secara akademis maupun mental. Namun karena kepala sekolahnya bersikeras dan mengancam akan memutasi jika tidak mau dan setuju dengan penerapan RSBI, maka apa boleh buat. Guru hanya prajurit, mungkin begitu yang bisa dikatakan. Siap tidak siap harus siap. Meskipun mereka tahu bahwa mereka tidak mampu.
Menata Sekolah Lokal rasa Internasional
Dengan menimbang keunggulan dan kelemahan RSBI, sekolah-sekolah lain diharapkan tidak latah untuk merubah menjadi RSBI jika perangkat-perangkat yang diprasyaratkan belum terpenuhi. Karena memaksakan kehendak namun tidak memiliki kemampuan maka akan menjadi blunder bagi sekolah tersebut. Dalam ukuran sederhana, jika siswa yang masuk RSBI ada yang tidak lulus dalam UNAS, maka akan dipertanyakan kualitas RSBI. Jika lulusan RSBI sama dengan lulusan kelas reguler biasa, maka perlu dipertanyakan kualitas dari RSBI itu. Karenanya diperlukan kearifan dari semua pihak untuk berpikir jernih dalam menata pendidikan supa lebih baik lagi.
Banyak sebenarnya sekolah-sekolah yang biasa namun jika dikelola secara baik akan menjadi sekolah luar biasa. Sekolah-sekolah lokal jika dikelola dengan baik maka akan menjadi sekolah lokal rasa Internasional. Bukannya cap yang kita butuhkan tetapi aksi nyata dan niat tulus untuk membesarkan kualitas pendidikan itu. Buat apa cap international tetapi rasanya tetap lokal? Bukankah lebih baik sekolah lokal rasa internasional? Dan yang lebih baik sekolah Internasional benar-benar rasa Internasional. Bukanya menolak RSBI, namun kita hendaknya menggunakan kearifan dalam mengukur diri. Mengukur kemampuan baik masyarakat yang ada disekitar maupun kemampuan akademis dari sekolah tersebut. Jika sudah terpenuhi, kenapa tidak boleh maju? Kemajuan adalah dambaan setiap manusia. Namun maju sendiri tanpa lihat kanan kiri maka akan menjadi manusia sombong ditengah ketidakmampuan. Sekolah hendaknya tetap ingat dengan fungsi dari sekolah itu sendiri. Fungsi dari sekolah adalah untuk proses pendidikan. Bukannya untuk ajang mencari bantuan. Atau untuk ajang pamer. Karena fungsiny adalah untuk proses pendidikan, maka seharunya dimaksimalkan dalam proses pendidikan itu sendiri. Sehingga benar-benar sekolah itu sesuai dengan khitahnya.

Sabtu, Maret 21, 2009

Men-CTL-kan Pendidikan Agama Islam


Pendidikan pada hakekatnya merupakan unsur vital dalam kehidupan dan merupakan kebutuhan serta tuntutan yang amat penting untuk menjamin perkembangan, kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perkembangan dan kelangsungan suatu bangsa dan negara lebih tergantung pada kualitas sumber daya manusianya bukan sumber daya alamnya. Kualitas yang dikehendaki itu lebih tergantung pula dari keberhasilan penyelenggaraan sistem pendidikannya.

Keberhasilan penyelenggaran pendidikan tidak hanya sekedar transfer of knowledge saja, tetapi lebih pada pembentukan kepribadian seseorang sehingga dapat mengenal potensi diri dan selanjutnya dapat mengembangkan potensinya sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan hidupnya.[1]

Dalam konteks pendidikan agama Islam, mempunyai kualifikasi sendiri dalam memberikan kejelasan konseptual dari makna pendidikan, pembentukan pribadi yang dimaksud adalah kepribadian muslim dan kemajuan masyarakat serta budaya yang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam, pendidikan agama Islam merupakan proses transformasi dan realisasi nilai-nilai ajaran Islam melalui pembelajaran, baik formal maupun non formal kepada masyarakat (peserta didik) untuk dihayati, dipahami serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka menyiapkan dan membimbing serta mengarahkan agar nantinya mampu melaksanakan tugas kekhalifahan di muka bumi dengan sebaik-baiknya.

Untuk membentuk kepribadian muslim atau insan kamil seperti apa yang menjadi tujuan pendidikan agama Islam tentunya membutuhkan figur yang representatif untuk dijadikan acuan dalam mencapai tujuan tersebut. Beliau adalah Rasulullah Saw. hampir setiap perbuatan yang dilakukannya selalu terjaga mutunya, sholat beliau adalah sholat yang khusu’ yang bermutu tinggi dan amal-amal yang ikhlas serta terpelihara kualitasnya. Demikian juga keberaniannya, tafakkurnya dan aneka kiprah hidup sehari-hari beliau yang seluruhnya senantiasa dijaga untuk menghasilkan kualitas tertinggi. Ya! Beliau adalah pribadi sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Alloh SWT. Menegaskan:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Alloh…(Q.S. Al-Ahzab33:21).

Dalam konteks sekolah/madrasah perbuatan itu harus dimulai dan ditunjukkan oleh seluruh komponen sekolah. Salah satunya adalah guru. Guru sebagai personal yang menduduki posisi strategis dalam rangka pengembangan sumber daya manusia dituntut untuk terus mengikuti perkembangan konsep-konsep dan wawasan baru dalam dunia pendidikan tersebut, termasuk tentang strategi pembelajaran di kelas. Selain itu keberhasilan pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar tapi juga dari prosesnya.[2] Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Mastuhu bahwa menurut paradigma baru dalam memandang ilmu yaitu bobot ilmu tidak terletak pada hasil akhir atau final product, tetapi pada proses metodologi atau cara mencarinya. Dengan kata lain inti pembelajaran baru adalah meneliti atau research, bukan lagi menerima barang jadi.[3]

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (dibaca selanjutnya PAI) yang menjadi tujuan utamanya adalah bagaimana nilai-nilai ajaran Islam yang diajarkan akan dapat tertanam dalam diri siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang dilandasi dengan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan sosial yang nantinya dapat berdampak pada terbentuknya “Insan Kamil”, bukan pemahaman bahwa proses pembelajaran PAI hanya sebagai proses “Penyampaian Pengetahuan Tentang Agama Islam” seperti yang terjadi selama ini.

Proses belajar yang terjadi di sekolah selama ini pada kenyataannya menunjukkan bahwa siswa lebih berperan sebagai obyek dan guru berperan sebagai subyek. Pusat informasi atau pusat belajar adalah guru, sehingga sering terjadi siswa akan belajar jika guru mengajar, begitu juga dalam penilaian yang masih menekankan hasil dari pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran PAI di sekolah masih sebatas sebagai proses penyampaian pengetahuan Agama Islam.[4] Ini berarti siswa hanya menerima materi-materi PAI tanpa ada usaha menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itulah sudah saatnya paradigma pendidikan yang selama ini ada untuk diubah, termasuk paradigma pembelajaran PAI, sehingga diperlukan suatu strategi pembelajaran yang dapat dijadikan jalan keluar dalam proses pembelajaran PAI yang lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI yaitu adanya internalisasi pada diri siswa tentang nilai-nilai ajaran Islam yang diajarkan secara mudah serta adanya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran secara fisik maupun mental, sehingga siswa tidak merasa jenuh dan mengembalikan semangat belajar siswa serta menjadikan belajar siswa lebih bermakna dan mampu mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa, pembelajaran yang dimaksud adalah Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL).

Pembelajaran Contextual Teaching and Learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ketika ia belajar.[5] Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut digunakan, serta berhubungan dengan bagaimana seseorang belajar, sehingga pembelajaran selain lebih bermakna juga lebih menyenangkan, siswa akan belajar lebih keras untuk mencapai tujuan pembelajaran, mereka menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru dan selanjutnya siswa akan memanfaatkan kembali pemahaman pengetahuan dan kemampuannya itu dalam berbagai konteks di luar sekolah untuk menyelesaikan permasalahan dunia nyata yang kompleks, baik secara mandiri maupun dengan berbagai kombinasi dan struktur kelompok.

Pengertian-pengertian di atas pada dasarnya sama bahwa pembelajaran kontekstual terjadi jika siswa mampu mengaitkan apa yang sedang diajarkan dengan masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan siswa. Ini berarti pula bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya, pembelajaran kontekstual ini dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna tanpa harus mengubah tatanan kurikulum yang ada, karena Pembelajaran kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran.

Dalam Pembelajaran kontekstual, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberikan informasi, guru mengolah kelas sebagai suatu team yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa sebagai anggota kelas, sesuatu yang baru tersebut adalah pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru, dengan konsep ini hasil pembelajaran dikatakan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Dalam pembelajaran kontekstual, belajar yang efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, dari “Guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”, siswa tidak hanya diberi pengetahuan-pengetahuan tapi siswa dibantu untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru berdasarkan pengalaman siswa.

Dengan pemahaman dan aplikasi demikian, kiranya ke depan pembelajaran agama Islam (PAI) mampu dalam menggapai cita-cita yang diidealkan yakni terbentuknya insan berakhlakul karimah. Namun tentunya diperlukan perjuangan dan kearifan dalam mengambil semua pembelajaran yang terbaik untuk pembelajaran agama Islam sendiri.

Penulis:


Nama : Muhammad Isno S.Pd.I



[1] Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreatifitas Anak Sekolah; Petunjuk Para Calon Guru dan Orang Tua, (Jakarta; Gramedia, 1985), 23.

[2] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989), 65.

[3] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), 40.

[4] Ibid, 3.

[5] Depdiknas, Pendekatan Kontekstual, hal. 5

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*