Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan

Kamis, Maret 05, 2009

Depresi Terselubung Anak Pelajar





Selama beberapa tahun lebih perjalanan saya sebagai guru di lembaga sekolah menengah atas (SMA), saya memiliki banyak pengalaman yang patut diperkenalkan kepada publik, terutama kasus-kasus yang menyangkut permasalahan generasi muda kita ini. Ada fenomena menarik, banyak remaja yang mengalami depressi, demikian mungkin kesimpulan yang bisa diambil secara generalnya. Hal ini didasarkan banyak siswa yang mengeluhkan tentang hidupnya yang merasa tertekan. Tertekan oleh orang tuanya yang otoriter menuntut kepatuhan anak agar mengikuti segala kemauannya. Belum lagi tuntutan kepatuhan lembaga sekolah terhadap semua atribut peraturan yang semakin tidak bisa dipahami. Bahkan teman-teman dekatnya, tak satupun memahami dirinya yang memiliki permasalahan yang harus segera dipecahkan.
Permasalahan-permasalahan dalam diri remaja akan semakin komplek ketika remaja tidak memiliki kecerdasan dalam memenej sisi-sisi emosionalnya. Banyak remaja yang meliarkan sisi emosi tersebut sehingga berakibat terhadap perilakunya. Keliaran dalam perilakunya tersebut seringkali berbenturan dengan kebakuan perilaku yang sudah mapan dalam masyarakat. Dalam bahasa psikologinya dikenal dengan istilah perilaku menyimpang. Ini akibat dari tekanan yang besar terhadap perkembangan psikisnya yang meluap-luap. Kalau diibaratkan seperti mengalirnya air dalam selang kemudian disumbat, maka yang akan terjadi adalah muncratnya air kemana-mana.
Dengan demikian kita perlu merumuskan pemecahan masalah psikis dikalangan remaja. Pemecahan selama ini masih hanya berkutat pada wilayah kekuasaan belaka belum mencapai ditingkat memahami. Padahal kalau kita menggunakan pendekatan kekuasaan maka yang akan selalu muncul adalah resistensi. Resistensi terhadap kekuasaan yang dipaksanakan. Resistensi terhadap apapun termasuk dari nilai-nilai yang luhur sendiri yang menurut khalayak bagus namun jika salah meraciknya akan berimage jelek bagi remaja.

Depresi terselubung

Mendekati kebenaran bahkan sudah menjadi kebenaran prediksi para pakar terutama futurolog (ahli masa depan) dan bukan ramalan dukun, bahwa kehidupan di abad 21 lebih didominasi oleh suasana spiritual (kerohanian), bahkan hidup di abad 21 gangguan-gangguan kehidupan lebih bersifat psikis (kejiwaan) dibanding pisik (jasmani). Maka para pakar meramalkan dalam arti ilmiah, bahwa kehidupan di abad 21 lebih dikarenakan oleh banyaknya orang terganggu mentalnya, sakit di abad 21 tidak murni sakit pisik. Kalau abad 20 profesi yang trend adalah dokter pisik, tetapi abad 21 ini dan nanti prospek yang relatif manjanjikan adalah psikiater (ahli ilmu jiwa yang didukung dengan ilmu kesehatan), ataupun rohaniawan (ahli kerohaniahan yang didukung ilmu keagamaan), sebab makin banyak saja orang yang kelihatannya sakit pisik namun setelah diteliti berpangkal pada sakit psikis yang penyebabnya adalah gangguan jiwa.
Sayang menurut dr. KMA Afandi Agus (psikiater) orang-orang sekarang ini mayoritas tidak berani menyatakan bahwa dirinya sakit. Memang kalau sakit fisik orang akan berani terang-terangan: pusing, sakit perut dll. Namun kalau sakit psikis: stress, depresi, frustasi, orang tidak mau mengaku bahkan cenderung menyembunyikan penyakit tersebut atau sebagian tidak menyadari karena memang penyakit ini tidak tampak secara inderawi. Inilah apa yang disebut penyakit berbahaya abad 21, yaitu depresi terselubung, entah disembunyikan oleh penderita atau memang tidak disadari oleh sang empunya, dan ini lebih berbahaya dibanding depresi terbuka karena akan segera konsultasi kepada yang ahli. Tetapi karena terselubung, tidak disadari, kalau sudah parah baru terasa / mengaku. Bisa jadi di antara kita banyak yang seperti itu.
Gejala-gejala yang dapat menjadi peringatan dini bagi penderita depresi terselubung adalah: tidur tidak nyenyak, makan tidak enak, nafsu makan turun, sering pusing-pusing tanpa ada sebab, dalam kondisi parah akan meninggalkan pergaulan.
Depresi terselubung bisa mengancam keimanan seseorang, bisa mengancam ketaqwaan manakala kita tidak segera mengatasi, karena depresi terselubung membuat hidup ini tidak teratur, kejiwaan amat labil, ketidak patuhan terhadap perintah agama akan dilakukan.

Pencegahan depressi

Dampak psikis pra-pasca ujian nasional (UNAS) harus dikontruk kembali psikis anak didik kita. Orang tua, guru dan para penanggungjawab pendidikan lainnya harus cancut taliwondo untuk memberi semangat dan care terhadap anak-anak mereka semua. Agar mentalitas mereka siap dan tangguh menghadapi kehidupan yang akan datang.
Setidaknya yang perlu ditanamkan dalam diri agar kita terbebas atau bisa memproteksi diri dari gangguan depressi adalah pertama, Hidup harus teratur dan kita yang mengatur, Hidup ini kalau tidak kita biasakan teratur (disiplin) akan terjadi faktor-faktor keterpaksaan, ketidak terdugaan, yang kesemua itu akan menimbulkan keterkejutan-keterkejutan kecil dalam kehidupan: "karena situasi tidak memungkinkan, maka demikian". Dengan mengatakan situasi tidak memungkinkan berarti dia telah mengizinkan tekanan untuk dirinya. "Mohon maaf saya ada acara yang lain". Hal yang sepertinya tidak terencana ini secara pelan tapi pasti akan mengundang infiltrasi faktor-faktor luar yang akan menjadi pressure ( tekanan) bagi kita yang suatu saat akan meledak. Mari kita atur diri kita jangan sampai diri kita diatur orang lain; teratur kerja, teratur makan, teratur tidur dll. Rasulullah SAW bersabda: Nahnu qaumun laa na’kul hattaa najuu’u wa idzaa akalnaa laa nasyba’ (Kami adalah umat yang tidak akan makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang). Statemen ini salah satunya bisa menyebabkan seorang ahli kesehatan Inggris masuk Islam gara-gara terpesona, alangkah sederhananya konsep kesehatan Muhammad SAW, karena resep ini adalah resep terbaik untuk menjaga kesehatan.
Kedua, Damai dengan diri sendiri, Dalam hidup ini banyak orang yang sering memusuhi diri sendiri. Indikatornya adalah tatkala kita mengalami kegagalan, kita sering mengatakan dengan kata-kata pengandaian: seandainya, jikalau dll. Itu adalah wujud dari penyesalan. Menyesal itu bagus sebagai ekspresi ambil pelajaran dari kesalahan, tetapi kalau berkepanjangan jelas konfrontatif terhadap diri sendiri. Maka menyesal berkepanjangan itu berarti tidak kompromi dengan diri sendiri. Mestinya kitalah yang paling tahu terhadap diri kita sendiri selain Allah SWT, kita tahu takaran diri kita sendiri, tahu kemampuan kita. Mestinya kita menyesuaikan dengan kemampuan kita sendiri. Manakala seseorang mempunyai kemampuan satu kemudian dia menginginkan seribu, maka dia jelas tidak damai dengan dirinya sendiri, karena tak seimbangnya kemauan dengan kemampuan. Padahal Allah SWT yang amat tahu tentang hamba-Nya menyatakan: Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa (Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya).
Ketiga, Damai dengan orang lain. Mau atau tidak, dalam hidup ini pasti kita berinteraksi dengan orang lain, pasti butuh orang lain, dan orang lain itu adalah manusia biasa yang pasti ada plus minusnya, ada positif ada negatifnya. Manakala kita menatap orang di depan kita, tolong seimbangkan persepsi bahwa dia punya kelebihan sekaligus punya kekurangan atau sebaliknya. Dengan demikian kita akan enak menghadapi siapapun. Rasulullah SAW. bersabda : Thuubaa liman saghghalahuu ‘aibuhuu ‘an uyuubinnaas …(Maknanya: sungguh bahagia hidup seseorang yang tatkala berhadapan dengan orang lain dia lebih cenderung mengoreksi dirinya sendiri tanpa sempat mengoreksi orang lain), artinya dalam menilai orang lain kita harus positive thinking/ husnudh dhann (berbaik sangka), kecuali ada indikator-indikator meyakinkan, bahwa itu berbahaya. Tetapi kalau tidak, jangan sampai serba suu’u dhann (berburuk sangka) yang itu sebenarnya tidak hanya orang yang di suu’u dhanni yang rugi, tetapi justru akan merugikan diri kita sendiri karena dengan begitu kita punya beban tatkala berhadapan dengan orang tersebut. Dengan menilai serba positif, tidak berarti seseorang boleh hilang kewaspadaannya, tanpa mempertimbangkan kemungkinan negatif.
Keempat, Tidak memaksakan diri. Alangkah banyaknya di antara kita yang sering melampaui batas maksimal kewajaran. Katakan kemampuan kerja seseorang dalam sehari adalah 8 jam, namun seringkali kita melampaui itu; kita hanya mampu berbelanja sekian tetapi kita berbelanja melebihi sekian, sehingga kita harus punya hutang. Orang yang punya perhitungan, tidak akan memaksakan diri dan akan menghitung income saya berapa, dan yang harus saya keluarkan berapa. Orang dengan karakter demikian kecil kemungkinan punya hutang, dan dengan demikian tidak akan ada tekanan terhadap dirinya.
Dengan pertimbangan 4 faktor di atas insya Allah akan terkurangi beban yang selama ini mungkin mengintervensi aktifitas kejiawaan kita semua. Semoga bermanfaat!!!!!!


Maksiat Islami?



Saya pernah ditanya oleh siswa yang kebetulan mendapat tugas menulis artikel, Pak Isno bagaimana sih batasan-batasan pacaran secara Islam itu? Mendengar pertanyaan itu saya menjadi kaget karena pertanyaan yang diajukan begitu polos tanpa ada dosa, menandakan siswa ini tidak tahu menahu tentang etika hubungan pergaulan dalam Islam. Pertanyaan itu seharusnya juga dapat diteruskan, apakah ada pacaran Islami? Apakah ada maksiat Islami? Apakah ada dosa Islami? Walah-walah semakin pintar orang semakin pintar membungkus baju atas nama Islam...ya!!!!!
Peristiwa ini menandakan masih banyak anak bingung dalam memahami pacaran. Di satu sisi ia terdidik untuk menjadikan pacaran sebagai “kebutuhan” namun disisi lain agamanya (baca: Islam) konon katanya melarang pacaran. Lalu bagaimana mensikapinya?
Sepanjang pengetahuan saya, saya belum pernah menemukan teks dalam ajaran Islam yang membolehkan pacaran. Dalam bahasa lain tidak ada kamus pacaran dalam Islam. Dan tidak ada pula istilah pacaran Islami, apalagi maksiat Islami atau dosa Islami. Namun dalam realitasnya, banyak remaja muslim, bahkan yang berjilbab dan berkopyah putih pun, menjadikan pacaran semacam “agama” baru bagi kawula muda. Mungkin karena pacaran dilakukan oleh “bangsa modern” -menurut Gus Mus pacaran merupakan budaya impor - ada di film, di TV, di Video, di novel, di internet, orang pun menganggapnya paling tidak sebagai ciri kehidupan modern. Anak muda merasa malu dan dianggap kuno jika tidak pernah pacaran (baca sebelumnya tulisan saya tentang life style). Orang tua pun merasa malu dan kuno jika tidak pernah memberi peluang, apalagi jika mencegah anaknya untuk pacaran. Padahal semuanya sudah menyaksikan sendiri dampak negatifnya di dalam kehidupan masyarakat.
Kenapa kok Islam itu melarang orang pacaran? Sebelum saya menjawab, saya ingin bertanya, apakah orang berpacaran itu bertujuan kepada pernikahan? Rata-rata jawabannya bisa jadi Ya bisa jadi Tidak!! Ya iyalah masa Iya dong!!!!
Berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan anak muda bertujuan pada pacaran itu sendiri bukan pada pernikahan. Dalam bahasa Inggris Happy Fun gitu lho!!!! Kok bisa? Banyak anak muda (baca : anak SMA) ketika dimintai untuk menikah, rata-rata menolak. Karena mereka belum siap. Belum punya pekerjaan. Belum punya gaji. De el el. Artinya mereka hanya menjadikan pacaran sebagai pelampiasan “nafsu”. Melampiaskan nafsu adalah perbuatan mungkar dan dosa tanpa ada ikatan yang mempengaruhinya menjadi halal.
Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah dalam usia pernikahan, boleh dong pacaran? Kalau sudah siap menikah, ngapain menunggu terlalu lama? Nanti dibawa kucing lho!!! Kan belum kenal pak, kita kan harus saling mengenal satu dengan yang lain lebih dahulu dan itu butuh waktu? Satu minggu, dua minggu satu bulan, apakah tidak cukup? Belum cukup pak, ini kepribadian lho pak? Siapakah kira-kira yang paling tahu seseorang, baik watak, watuk, maupun wahing-nya seseorang? Bukankah orang tuanya, kenapa kita tidak tanya saja langsung ke ortunya? Ngapain repot-repot, gitu aja kok repot.
Yang kedua, menurut saya, mungkin ini agak puitis, bahwa cinta itu adalah fitrah. Tidak ada yang lebih suci dari pada cinta itu sendiri. Cinta menjadikan orang suci. Dan kesucian itu menjadikan cinta. Cinta merupakan anugerah terbaik yang diberikan Allah kepada kita semua. Sehingga dunia begitu bermakna. Hidup tanpa cinta bagai taman tiada berbunga kata Pujangga. Karenanya jika engkau semua mengaku cinta, jagalah kesucian cinta itu. Jangan direduksi (dikotori) menjadi cinta berselera rendah, yakni cinta bernafas seksualitas an sich.....cie.....romantis (rokok makan gratis). Pegang tangan, bergandengan, ciuman, berpelukan dan aktifitas-aktifitas berbau seksual lainnya adalah salah satu indikasi program-program cinta yang berbau mengotori kesucian cinta. Janganlah kita mengambil hak yang belum menjadi hak kita. Buka kembali dech pelajaran PKN....
Ketiga, saya kira, yang membedakan orang beradab dengan tidak beradap, apalagi anda orang Timur “Islam lagi”, adalah segala sesuatunya ada etikanya lebih tepatnya akhlak. Masuk WC, makan, tidur, berdandan, berpakaian, berhubungan semuanya ada akhlak. Kalau orang jawa ada istilah “gak Ilok”, kalau orang Islam mengatakan “dosa”, ini haram, ini halal, ini boleh dan tidak boleh. Semua muaranya pada akhlak. Akhlak itu berfungsi untuk membatasi agar tingkah polah manusia itu tidak liar. Tidak sak karepe dewe. Termasuk dalam hal ini pacaran tadi. Kita perlu mengindahkan tradisi-tradisi kita agar tidak dicap sebagai generasi yang a historis.
Terlepas dari itu semua, semuanya kembali kepada anda. Artinya kita perlu merenungkan dan mengoreksi diri kita semuanya. Seberapa besar kecintaan anda kepada Tuhan? Seberapa besar takut anda kepada adzabnya Allah? Seberapa tinggi iman anda ? seberapa kuat ketaatan anda kepada keteguhan anda meyakini agama yang kita cintai? Dan berapa prosentase anda menjadi pengikut syetan atau Hizbullah? Renungkan!!!!!!! Syetan itu bermain diwilayah Imajinasi kalian....segala sesuatu perbuatan tanpa melibatkan Allah itulah syetan.....waspadalah!!!!!!!


Mengelola Kebebasan Pergaulan Remaja



Seorang siswi pernah curhat kepada saya, tentang pacarnya. Setiap kali ketemuan dengan pacarnya, ia selalu melakukan ritual berpelukan, berciuman dan lain sebagainya. Anehnya siswi ini tidak mampu untuk menolak ajakan sang pacar, walau ia tahu bahwa perbuatan itu dilarang agama. Siswi ini kerap diancam pacarnya kalau tidak mau melayani, maka ia akan diancam putus. Ancaman ini membuat siswi ini takut akan kehilangan sang pacar, akhirnya ia biarkan dirinya untuk bergaul ”bebas” dengan pacarnya. Begitulah siswi tersebut bercerita kepada saya. Saya hanya mampu memberikan nasehat nasehat agama dan sekaligus pilihan pilihan rasional dalam kehidupan ini. Tapi semuanya berpulang kepada dirinya sendiri. Apakah ia mau untuk melakukannya ataukah tidak?
Berangkat dari sini, saya berpikir bahwa ada someting wrong dalam kehidupan remaja saat ini. Banyak remaja yang salah dalam memahami etika pergaulan. Para remaja menganggap bahwa berciuman (free sex) adalah ritual yang dianggap wajar dan sah-sah saja bagi mereka yang mempunyai pacar. Sebaliknya bagi mereka yang mempunya pacar tapi tidak di ”apa-apain” dianggap katrok. Terlebih bagi mereka yang menjadikan jomblo sebagai pilihan hidupannya. Naudzubillah.
Trend baru kebebasan remaja
Cerita di atas adalah salah satu bentuk dari gambaran dunia remaja saat ini. Kebebasan pergaulan atau yang sering diistilahkan dalam term barat free sex, sudah menjadi isme tersendiri dalam masyarakat kita. Masyarakat atau khususnya bangsa Indonesia sudah terjebak dalam isme-isme yang sudah keluar dari kodratiah ia sebagai masyarakat timur. Individualisme, materialisme, liberalisme dan isme-isme lainnya telah menjadi personality menggantikan watak timur yang sopan, ramah, pemalu, rukun, peduli dan sifat-sifat ideal lainnya yang konon dulu dipegang sangat erat oleh masyarakat kita.
Kenapa bisa jadi seperti itu? Menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mudah seperti membalik kedua telapan tangan. Karena berbagai persoalan yang turut serta sebagai sebab bagai lingkaran setan yang melingkup di dalamnya. Tetapi dalam tulisan ini, saya hanya memfokuskan pada pengaruh media sebagai sebab dalam mempengaruhi mind set masyarakat khususnya remaja masa kini.
Jika kita menengok fenomena yang berkembang di masyarakat, ada banyak hal isu telah dibentuk oleh media. Salah satu bentuk isu dari bentukan media adalah pergaulan remaja. Pergaulan remaja telah dibentuk oleh media dengan kebebasannya. Sebut misalnya sinetron-sinetron seperti, cinderela, intan, olivia, buruan cium gue, cinta 2020, wajahku paling cakep, pasangan heboh, kawin muda, my heart, romantika remaja dan lain sebagainya, semuanya menggambarkan tentang kebebasan berpacaran dalam lika liku cinta dunia remaja. Parahnya, semua pelaku adalah para remaja yang duduk dibangku SMA dan SMP bahkan ada remaja SD.
Trend baru dalam dunia sinetron tersebut, akan berdampak terhadap perkembangan psikis remaja, khususnya dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Banyak remaja yang terhipnotis untuk melakukan apa yang ada dalam tontonan sinetron tersebut. Mereka menjadikan adegan berciuman, berpelukan sebagai hal lumrah dalam dunia pacaran. Naudzubillah.
Namun, kita tidak bisa hanya menyalahkan media belaka sebagai sebab dalam perubahan nilai pergaulan dikalangan remaja. Karena remaja sebagaimana pendapat Dzakiah Darajat dalam bukunya “Psikilogi Agama” adalah manusia setengah dewasa dengan permasalah yang komplek, karena mereka masih dalam masa transisi menemukan jati dirinya. Remaja mendambakan seorang idola sebagai figur yang mampu menjadi kakak, guru, sahabat, dan bapak yang mampu mengerti akan semua permasalahan yang mereka hadapi. Namun terkadang guru yang ada di sekolah atau orang tua tidak mengerti akan dirinya. Orang tua dan guru tidak bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Seringkali mereka egois dan mementingkan dunianya sendiri. Mereka sering menggunakan pendekatan pengekangan yang sebetulnya membawa psikis dendam siswa kepada orang tua atau gurunya. Akhirnya ia alihkan untuk mengidolakan artis yang telah memberikan pelajaran kebebasan yang selama ini mereka inginkan. Dengan mengidolakan para artis, semua prilaku artis akan ia tiru. Termasuk dari cara berpakaian, berbicara, berdandan dan lain sebagainya begitupun dengan gaya berpacarannya. Dan disinilah letaknya kenapa banyak remaja yang suka berperilaku aneh dalam menyalurkan aspirasi cintanya.
Pembinaan dalam bingkai nilai moral
Pergaulan bebas yang dilakukan oleh banyak remaja merupakan momok bagi kita semua. Orang tua akan merasa khawatir terhadap anaknya, begitupun dengan para guru. Siswa sendiri pun akan menjadi korban jika tetap bergaul bebas.
Dari data yang saya kumpulkan dengan teman-teman, sedikitnya ada seratus lebih adegan porno yang dilakukan oleh anak-anak SMP dan SMA dalam rekaman di HP. Itu yang memiliki HP, bagaimana yang tidak terekam? mungkin ribuan. Di Mojokerto sendiri ada seorang guru agama yang merupakan teman, menceritakan bahwa ada satu sekolah di kota Mojokerto yang siswinya mengaku sudah tidak perawan lagi sekitar 10 orang.
Dari data ini, betapa mengerikan akibat pergaulan bebas itu, mau jadi apa para generasi muda ini kedepan?
Untuk membendung arus pergaulan bebas yang memang irama dari efek globalisasi itu sendiri, maka perlu dilakukan berbagai upaya sebagai bentuk preventif dalam menumbang kenakalan remaja tersebut. Dalam tulisan saya, yang dimuat di Radar Mojokerto, saya mengungkap perlunya pendidikan integral dalam dunia pendidikan. Pendidikan integral yang saya maksudkan adalah keluarga, sekolah dan lingkungan. Khusus dalam pendidikan keluarga haruslah kuat. Karena disinilah letak pendidikan awal yang membentuk kepribadian (moral) siswa. Penelitian Sarlito, bapak psikolog Indonesia mengungkap bahwa kenakalan remaja yang paling banyak disebabkan ketidakharmonisan keluarga. Oleh karenanya basis di keluarga perlu untuk dikuatkan khususnya dengan pendidikan berbasis nilai. Begitupun dengan pendidikan di sekolah perlu berbagai upaya dalam menciptakan sekolah berbasis religius. Karena sekolah dengan basis religius akan menjadikan damai dan tentram rasa batin siswa dalam menuntut ilmu. Lingkungan yang baik pun perlu diciptakan khususnya dalam pergaulannya dengan masyarakat sekitar. Karena disini sangat rawan dalam merusak suasana yang telah terbentuk dalam sekolah dan keluarga. Maka di sini pentingnya decision maker dalam mengambil kebijakan strategis sebagai upaya pembinaan moralitas yang merupakan aset terbesar dalam eksistensi bangsa Indonesia kedepan. Para leader perlu memiliki ketegasan dalam mengambil ketegasan disejumlah tempat-tempat ataupun sarana dan prasarana sebagai sumber dari kemrosotan moral. Begitupun dengan tayangan dalam sinetron atau film-film yang tidak mendidik bangsa perlu ketegasan untuk mensensornya. Intinya ada pembenahan sistem disamping kesadaran akan moralitas dari masing-masing individu. Namun semuanya tergantung dari keinginan kita semua untuk berbenah. Apakah kita mau berubah ataukah sebaliknya. Sumonggo.




Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*