Melihat berbagai fenomena mafia kejahatan yang terjadi disetiap sudut negeri ini membuat para pemerhati pendidikan mengurutkan dada seraya bertanya, apa yang terjadi dengan negeri ini? Apa yang salah dengan negeri ini? Kenapa gampang sekali orang berbuat kejahatan tanpa merasa bersalah? Apakah mereka tidak tahu bahwa setiap kejahatan itu adalah salah? Apakah mereka juga tidak tahu bagaimana cara mengikuti jalan yang benar?
Dilihat dari latarbelakang pendidikan, para pelaku mafia kejahatan (baca: Koruptor) bukanlah orang yang tidak berpendidikan. Terbukti gelar gelar mentereng mengiringi nama dibelakangnya. Jika kita lacak, maka mereka-mereka adalah jebolan sekolah atau universitas-universitas ternama di negeri ini. Namun kenapa perilakunya tidak lebih dari orang yang tidak berpendidikan. Yang tidak tahu mana itu wilayah kejahatan dan mana itu wilayah kebaikan.
Padahal menurut Imam Ghazali, perilaku kejahatan itu muncul disebabkan karena empat factor. Salah satunya adalah seseorang yang tidak mampu mendefinisikan makna perilaku baik dan buruk. Makna kebaikan baginya telah kabur sehingga keburukanlah yang dianggap baik. Perbuatan dosa dianggap biasa. Dan kejahatan dianggap sebagai pilihan hidup.
Sungguh orang yang pada posisi ini adalah cirri cirri orang yang tidak berpendidikan. Karena ia tidak pernah memahami perilaku kebaikan dan keburukan. Orang yang tidak paham adalah orang yang tidak pernah belajar. Sedangkan orang yang berpendidikan adalah orang yang memahami, mana itu perilaku kebaikan dan mana itu perilaku kejahatan. Karena ia telah belajar akan makna kedua wilayah tersebut, dibangku bangku pendidikannya. Namun kenapa justru orang yang berpendidikan dengan gelar mentereng justru menjadi pelaku kejahatan?
Lalu apa sebenarnya perilaku kebaikan itu?
Dari sudut definisi, beberepa tokoh sudah banyak mendefinisikan tentang makna kebaikan. Namun terjadi silang pendapat diantara mereka. Perbedaan definisi bukanlah sesuatu yang pokok. Karena perbedaan itu muncul disebabkan oleh latarbelakang atau pengalaman yang berbeda yang melingkupi kehidupan mereka.
Namun dalam tulisan ini, penulis tidak berpretensi untuk menjelaskan berbagai pendapat dikalangan ilmuwan yang mendefinisikan tentang makna kebajikan. Penulis cukup mencuplik pendapat dari Imam Ghazali, yang menurut penulis sudah cukup mewakili untuk menjelaskan makna kebaikan. Menurut Imam Ghazali perilaku kebaikan adalah sifat jiwa yang sudah meresap di dalam hati yang daripadanya muncul perbuatan perbuatan dengan mudah, tanpa melalui pertimbangan proses berpikir terlebih dahulu. Dari definisi ini dapat diambil makna bahwa perilaku baik itu adalah perilaku jiwa yang sudah meresap, yang sudah menjadi kebiasaan. Yang namanya kebiasaan, ia tidaklah melalui sebuah proses rumit dalam diri kita. Tetapi ia telah menjadi. Contoh perilaku dermawan, orang yang disebut dermawan bila ia selalu memberi kepada orang yang membutuhkan dimana saja tanpa proses pertimbangan macam macam dalam pikirannya seperti untung dan ruginya. Bahkan tidak memikirkan apa manfaat dari ia memberi untuk dunia dan akheratnya.
Sebaliknya bila ada orang yang memberi, misalnya seperti pejabat atau calon-calon pemimpin disaat kampanye, yang memberi tetapi masih ada pertimbangan keuntungan secara politik, atau pencitraan, atau pengharapan dukungan pemilihan, maka itu belum dikatakan sebagai orang yang memiliki jiwa dermawan. Tetapi itu adalah perilaku dermawan yang dibuat buat.
Hal yang sama juga kita bisa mengambil dalam perilaku diri kita, bila perilaku-perilaku itu tidak istikomah, dalam bahasa jawa ajeg, kontinyu, maka itu belum meresap dalam jiwa. Ia hanya masih perilaku yang dipaksa, yang belum meresap menjadi kebiasaan sehari hari.
Lalu apa sebenarnya indicator perilaku baik itu?
Setelah kita mengetahui definisi perilaku kebaikan, maka kita perlu mencari indicator dari perilaku kebaikan itu, agar perilaku kebaikan itu menjadi terarah untuk kita lakukan.
Jika kita lacak dalam Hadis Nabi, perilaku baik itu memiliki tiga indikasi yakni Memberi kepada orang yang tidak pernah memberimu, menyambung hubungan silaturahmi yang memutus hubungan silaturahmi denganmu, dan memaafkan kepada orang yang dzolim kepadamu. Menurut Hasan Basri, perilaku baik itu meliputi tiga hal yakni belas kasih, menahan diri dari menyakiti makhluk, dan suka memberi pertolongan kepada orang lain. Menurut Imam Nawawi, Akhlak Mulia itu adalah Orang yang banyak memiliki rasa malu, tidak menyakiti orang, banyak kebaikannya, jujur, sedikit berbicara, banyak amalnya, sedikit kesalahannya, sedikit berbicara dari bicara yang berlebihan, berbakti kepada kedua orang tua, menjalin silaturahmi, tenang menghadapi kehidupan, banyak sabarnya, banyak rasa syukurnya, lemah lembut, banyak ridlonya, santun, suka menjaga diri dari perbuatan yang tidak pantas, belas kasih, tidak suka melaknat, tidak suka berkata kotor, tidak suka mengadu domba, tidak suka menggunjing, tidak suka tergesa gesa, tidak suka dendam, tidak kikir, tidak suka dengki, suka tersenyum lembut kepada setiap orang, memiliki jiwa social yang tinggi, mencintai teman karena Allah, membenci karena Allah, ridlo karena Allah, dan marah karena Allah. Sedang menurut Syekh Abdul Qodir al Jaelani terdapat 3 hal yang menjadi tanda sifat kemulyaan perilaku yakni sifat dermawan, tawadlu, dan belas kasih kepada sesama. Sedangkan menurut Syekh Junaid al Baghadadi terdapat 4 hal perilaku yang menghantar kepada kemulyaan agung, yakni sabar yang suka memaafkan, tawadlu, dermawan dan kemulyaan perilaku.
Demikian makna perilaku kebaikan yang didefinisikan dan dicontohkan oleh para ulama ulama kita. Sunggu bila kita bisa berlatih menjalankan perilaku perilaku kemulyaan yang didedahkan oleh para ulama tersebut, akan menghantarkan pada kemulyaan derajat disisi Allah. Bahkan Syekh Junadi memberi garansi, walau kita sedikit ilmu dan amal, namun bila bisa melaksanakan ke empat perilaku yang didedahkannya akan menghantarkan kepada kemulyaan agung. Tentu Syekh Junaid atau Ulama lain berani memberi garansi, karena perilaku perilaku yang telah dimaknainya, telah dilaksanakan dengan segenap jiwa, yang menghantarkan kepada kemulyaan sehingga menghantarkan mereka menjadi wali agung. Beliau beliau dalam memaknai ilmu tidak sekedar intertainment intelektual an sich, atau Intertainment Tasawuf an sich. Tetapi benar benar telah menjadi. Semoga menjadi bahan renungan dalam memaknai kebajikan.
Ditulis oleh
Muhammad Isno El Kayyis, S.Pd.I,
Minggu, Desember 18, 2011
Memaknai Akhlak Mulia
Diposting oleh Goze Isno
0
komentar
Label:
Tasawuf
Minggu, Juli 24, 2011
Dalil Diperbolehkannya Dzikir Berjamaah
Diposting oleh Goze IsnoApa makna/arti Dzikir yang selalu disebut-sebut dalam ayat al Qur’an dan hadits? Menurut pendapat para ulama yang dimaksud Dzikir ialah ‘mengingat pada Allah swt.. Makna ini mencakup segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk mengingat pada Allah swt. dan Rasul-Nya, misalnya sholat, bertasbih, bertahlil, bertakbir, majlis ilmu, memuji Allah dan Rasul-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran-Nya,sifat-sifat keindahan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan yang telah dimiliki-Nya, membaca riwayat para utusan Allah dan sebagainya. Tidak lain semuanya ini untuk lebih mendekatkan diri kita pada Allah swt sehingga kita mencintai dan dicintai Allah swt. dan Rasul-Nya.
Firman-firman Allah swt. dalam surat Al-Ahzab 41-42 agar kita banyak berdzikir sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah pada-Nya diwaktu pagi mau pun petang!”. Dalam surat Al-Baqarah :152 Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ ………..
“Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152)
اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنوُبِهِم
“…Yakni orang-orang dzikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”. (Ali Imran :191)
وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَة وَأجْرًا عَظِيْمٌا
“Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir pada Allah, baik laki-laki maupun wanita, Allah menyediakan keampunan dan pahala besar”. (Al-Ahzab :35)
الَّذِيْنَ آمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِألآ بِذِكْرِ الله تَطْمَئِنُّ الـقُلُوبُ.
“Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir pada Allah. Ingatlah dengan dzikir pada Allah itu, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram”. (Ar-Ro’d : 28)
Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Rasulallah saw. bersabda : Allah swt.berfirman :
اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْـدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكـرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي
وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا اتَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا
وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ ذِرَاعًا اتَقـَرَّبْتُ إلَيْهِ بَاعًـا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِيأتَيْتُهُ هَرْوَلَة.
Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku didepan umum, maka Aku akan mengingatnya pula didepan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekat- kan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhori Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).
Allamah Al-Jazari dalam kitabnya Miftaahul Hishnil Hashin berkata : ‘Hadits diatas ini terdapat dalil tentang bolehnya berdzikir dengan jahar/agak keras’. Imam Suyuthi juga berkata: ‘Dzikir dihadapan orang orang tentulah dzikir dengan jahar, maka hadits itulah yang menjadi dalil atas bolehnya’
Hadits qudsi dari Mu’az bin Anas secara marfu’: Allah swt.berfirman:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: لاَ يَذْكُرُنِي اَحَدٌ فِى نفْسِهِ اِلاَّ ذَكّرْتُهُ فِي مَلاٍ مِنْ مَلاَئِكَتِي وَلاَيَذْكُرُنِي فِي مَلاٍ اِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي المَلاِ الاَعْلَي
“Tidaklah seseorang berdzikir pada-Ku dalam hatinya kecuali Aku pun akan berdzikir untuknya dihadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berdzikir pada-Ku dihadapan orang-orang kecuali Akupun akan berdzikir untuknya ditempat yang tertinggi’ “. (HR. Thabrani).
At-Targib wat-Tarhib 3/202 dan Majma’uz Zawaid 10/78. Al Mundziri berkata: ‘Isnad hadits diatas ini baik/hasan. Sama seperti pengambilan dalil yang dikemukakan tadi bahwa berdzikir dihadapan orang-orang maksudnya ialah berdzikir secara jahar ’ !
Hadits dari Abu Hurairah sebagai berikut:
سَبَقَ المُفَرِّقُونَ, قاَلُوْا: وَمَا المُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيْرًاوَالذَّاكِرَاتِ (رواه المسلم)
“Telah majulah orang-orang istimewa! Tanya mereka ‘Siapakah orang-orang istimewa?’ Ujar Nabi saw. ‘Mereka ialah orang-orang yang berdzikir baik laki-laki maupun wanita’ ”. (HR. Muslim).
Hadits dari Abu Musa Al-Asy’ary ra sabda Rasulallah saw.:
‘Perumpamaan orang-orang yang dzikir pada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati!” (HR.Bukhori).
Dalam riwayat Muslim: “Perumpamaan perbedaan antara rumah yang dipergunakan dzikir kepada Allah didalamnya dengan rumah yang tidak ada dzikrullah didalamnya, bagaikan perbedaan antara hidup dengan mati”.
Hadits dari Abu Sa’id Khudri dan Abu Hurairah ra. bahwa mereka mendengar sendiri dari Nabi saw. bersabda :
لاَ يَقْـعُدُ قَوْمٌ يَذْكُـرُنَ اللهَ تَعَالَى إلاَّ حَفَّتْـهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمةُ, وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.
“Tidak satu kaum (kelompok) pun yang duduk dzikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan dikelilingi Malaikat, akan diliputi oleh rahmat, akan beroleh ketenangan, dan akan disebut-sebut oleh Allah pada siapa-siapa yang berada disisi-Nya”. (HR.Muslim, Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).
Hadits dari Mu’awiyah :
خَرَجَ رَسُولُ الله (صَ) عَلَى حَلَقَةِ مِنْ أصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا اَجْلََسَكُم ؟
قَالُوْا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإسْلاَمِِ وَمَنَّ
بِهِ عَلَيْنَا قَالَ: اللهُ مَا أجْلَسـَكُمْ إلاَّ ذَالِك ؟ قَالُوْا وَاللهُ مَا اَجْلَسَنَا
اِلاَّ ذَاكَ. قَالَ : اَمَا إنِّي لَمْ أسْتَخْلِفكُم تُهْمَةُ لـَكُمْ, وَلَكِنَّهُ أتَانِي
جِبْرِيْلُ فَأخْـبَرَنِي أنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبـَاهِي بِكُمُ المَلآئِكَةَ.
“Nabi saw. pergi mendapatkan satu lingkaran dari sahabat-sahabatnya, tanyanya; ‘Mengapa kamu duduk disini?’ Ujar mereka: ‘Maksud kami duduk disini adalah untuk dzikir pada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk dan kurnia yang telah diberikan-Nya pada kami dengan menganut agama Islam’. Sabda Nabi saw.; ‘Demi Allah tak salah sekali ! Kalian duduk hanyalah karena itu. Mereka berkata; Demi Allah kami duduk karena itu. Dan saya, saya tidaklah minta kalian bersumpah karena menaruh curiga pada kalian, tetapi sebetulnya Jibril telah datang dan menyampaikan bahwa Allah swt. telah membanggakan kalian terhadap Malaikat’ “. (HR.Muslim)
Diterima dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw. bersabda :
إذَا مَرَرْتُم بِرِيَاضِ الجَنَّة فَارْتَعُوْا, قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّة يَا رَسُولُ الله ؟
قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ فَإنَّ لِلَّهِ تَعَالَى سَيَّرَاتٍ مِنَ المَلآئِكَةَ يَطْلُبُونَ حِلَـقَ الذِّكْرِ فَإذَا أتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوبِهِمْ.
“Jika kamu lewat di taman-taman surga, hendaklah kamu ikut ber- cengkerama! Tanya mereka; ‘Apakah itu taman-taman surga ya Rasulallah’? Ujar Nabi saw.; ‘Ialah lingkaran-lingkaran dzikir karena Allah swt. mempunyai rombongan pengelana dari Malaikat yang mencari-cari lingkaran dzikir. Maka jika ketemu dengannya mereka akan duduk mengelilinginya”.
Hadits riwayat Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulallah saw.bersabda :
عَنْ أبِيْ هُرَيْرَة(ر) قَالَ: رَسُولُ الل.صَ. : إنَّ اللهَ مَلآئِكَةً يَطًوفُونَ فِي الطُُّرُقِ يَلتَمِسُونَ أهْلِ الذّكْرِ, فَإذَا وَجَدُوا قـَوْمًا
يَذْكُرُونَ اللهَ تَناَدَوْا : هَلُمُّـوْا إلَى حَاجَتِكُمْ, فَيَحُفّـُونَهُمْ بِأجْنِحَتِهِمْ إلَى السَّمَاءِ, فَإذَا تَفَرَّقُوْا عَرَجُوْا وَصَعِدُوْا اِلَى السَّمَاءِ
فَيَسْألُهُمْ رَبُّـهُم ( وَهُوَ أعْلَمُ بِهِمْ ) مِنْ اَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عَبَيْدٍ فِي الاَرْضِ يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ
وَيُهَلِّلُوْنَكَ. فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأوْنِي؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : لَوْ رَأوْنِي؟ فَيَقوُلُوْنَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوْا اَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً, وَ اَشَدَّ لَكَ
تَمْجِيْدًاوَاَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيْحًا, فَيَقُوْلُ : فَمَا يَسْألُنِى ؟ فَيَقوُلُوْنَ : يَسْألُوْنَكَ الجَنَّةَ, فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ :
كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لَوْ اَنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوْا اَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَ اَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَاَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً. فَيَقُوْلُ :
فَمِمَّا يَتَعَوَّذُوْنَ ؟ فَيَقولُوْنَ : مِنَ النَّارِ, فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُلُوْنَ :
لَوْ رَأوْهَا كاَنُوْا اَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا, فَيَقُوْلُ : اُشْهِدُكُمْ اَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ, فَيَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ :
فُلاَنٌ فَلَيْسَ مِنهُمْ, اِنَّمَا جَائَهُمْ لِحَاجَةٍ فَيَقُوْلُ : هًمْ قَوْمٌ لاَ يَشْقَى جَلِيْسُهُمْ.
“Sesungguhnya Allah memilik sekelompok Malaikat yang berkeling dijalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka saling menyeru: ‘Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan’. Lalu mereka mengelilingi orang-orang yang berdzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga kelangit. Apabila orang-orang itu telah berpisah (bubar dari majlis dzikir) maka para malaikat tersebut berpaling dan naik kelangit. Maka ber- tanyalah Allah swt. kepada mereka (padahal Dialah yang lebih mengetahui perihal mereka). Allah berfirman: ‘Darimana kalian semua’? Malaikat berkata: Kami datang dari sekelompok hamba-Mu dibumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepada-Mu.
Allah berfirman; ‘Apakah mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata: Tidak pernah! Allah berfirman; ‘Seandainya mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata; Andai mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu. Allah berfirman; ‘Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku’? Malaikat berkata; Mereka minta sorga kepada-Mu.
Allah berfirman; ‘Apa mereka pernah melihat sorga’? Malaikat berkata; Tidak pernah! Allah berfirman; ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya’? Malikat berkata; Andai mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan ber- tambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya. Allah berfirman; ‘Dari hal apa mereka minta perlindungan’? Malaikat berkata; Dari api neraka. Allah berfirman; ‘Apa mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata; Tidak pernah!
Allah berfirman: ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata; Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya. Allah berfirman; ‘Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka’. Salah satu dari malaikat berkata; Disitu ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka, dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah dia akan diampuni juga?). Allah berfirman; ‘Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa’ “. Sedangkan dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir: ‘Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka’.
Empat hadits terakhir diatas, jelas menunjukkan keutamaan kumpulan majlis dzikir, Allah swt.akan melimpahkan rahmat, ketenangan dan ridho-Nya pada para hadirin termasuk disini orang yang tidak niat untuk berdzikir serta majlis seperti itulah yang sering dicari dan dihadiri oleh para malaikat. Alangkah bahagianya bila kita selalu kumpul bersama majlis-majlis dzikir yang dihadiri oleh malaikat tersebut sehingga do’a yang dibaca ditempat majlis dzikir tersebut lebih besar harapan untuk diterima oleh Allah swt. Juga hadits-hadits tersebut menunjukkan mereka berkumpul berdzikir secara jahar, karena berdzikir secara sirran/pelahan sudah biasa dilakukan oleh perorangan !
Al-Baihaqiy meriwayatkan Hadits dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulallah saw. bersabda:
لاَنْ اَقْعُدَنَّ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى مِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْفَجْرِ ِالَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ اَحَبُّاِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا (رواه البيهاقي
“Sungguhlah aku berdzikir menyebut (mengingat) Allah swt. bersama jamaah usai sholat Shubuh hingga matahari terbit, itu lebih kusukai daripada dunia seisinya.”
Juga dari Anas bin Malik ra riwayat Abu Daud dan Al-Baihaqiy bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Sungguhlah aku duduk bersama jamaah berdzikir menyebut Allah swt. dari sholat ‘ashar hingga matahari terbenam, itu lebih kusukai daripada memerdekakan empat orang budak.’
Riwayat Al Baihaqy dari Abu Sa’id Al Khudrij ra, Rasulallah saw bersabda :
يَقُوْلُ الرَّبُّ جَلَّ وَعَلاَ يَوْمَ القِيَامَةِ سَيَعْلَمُ هَؤُلاَءِ الْجَمْعَ الْيَوْمَ مَنْ اَهْلُ الْكَرَمِ؟ فَقِيْلَ مَنْ اَهْلُ الْكَرَمِ؟ قَالَ : اَهْلُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ فِي الْمَسَاجِدِ (رواه البيهاقي
“Allah jalla wa ‘Ala pada hari kiamat kelak akan bersabda: ’Pada hari ini ahlul jam’i akan mengetahui siapa orang ahlul karam (orang yang mulia). Ada yg bertanya: Siapakah orang-orang yg mulia itu? Allah menjawab, Mereka adalah orang-orang peserta majlis-majlis dzikir di masjid-masjid ”.
Ancaman bagi orang yang menghadiri kumpulan tanpa disebut nama Allah dan Shalawat atas Nabi saw.
Hadits riwayat Turmudzi (yang menyatakan Hasan) dari Abu Hurairah, sabda Nabi saw :
مَا قَعَدَ قَوْمُ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُونَ اللهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى النَّبِيِّ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذي وقال حسن
“Tiada suatu golonganpun yang duduk menghadiri suatu majlis tapi mereka disana tidak dzikir pada Allah swt. dan tak mengucapkan shalawat atas Nabi saw., kecuali mereka akan mendapat kekecewaan di hari kiamat”.
Juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan kata-katanya yang berbunyi sebagai berikut :
وَرَوَاهُ اَحْمَدُ بِلَفْظٍ مَا جَلَسَ قَوْمُ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوْا اللهَ فِيهِ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تَرَةً
‘Tiada ampunan yang menghadiri suatu majlis tanpa adanya dzikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan mendapat tiratun artinya kesulitan… “.
Dalam buku Fathul ‘Alam tertera : Hadits tersebut diatas menjadi alasan atas wajibnya (pentingnya) berdzikir dan membaca shalawat atas Nabi saw. pada setiap majlis.
Hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda yang artinya :
قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ وَعَنْ اَبِي هُرَيْرَة (ر)
.صَ. مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فِيْهِ اِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً (رواه ابو داود
“Tiada suatu kaum yang bangun (bubaran) dari suatu majlis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah dalam majlis itu, melainkan mereka bangun dari sesuatu yang serupa dengan bangkai himar/keledai, dan akan menjadi penyesalan mereka kelak dihari kiamat ”. (HR.Abu Daud)
Hadits-hadits diatas mengenai kumpulan/lingkaran majlis dzikir, itu sudah jelas menunjukkan adanya pembacaan dzikir bersama-sama dengan secara jahar, karena berdzikir sendiri-sendiri itu akan dilakukan secara lirih (pelan). Lebih jelasnya mari kita rujuk lagi hadits-hadits yang membolehkan dzikir secara jahar. Hadits dari Abi Sa’id Al-Khudri ra. dia berkata:
اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولُ اِنَّهُ مَجْنُوْنٌ
“Sabda Rasulallah saw. ‘Perbanyaklah dzikir kepada Allah sehingga mereka (yang melihat dan mendengar) akan berkata : Sesungguhnya dia orang gila’ “ (HR..Hakim, Baihaqi dalam Syu’abul Iman , Ibnu Hibban, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnus Sunni)
Hadits dari Ibnu Abbas ra. dia berkata : Rasulallah saw. bersabda :
اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولَ المُنَافِقُوْنَ اِنَّكُمْ تُرَاؤُوْنَ
“Banyak banyaklah kalian berdzikir kepada Allah sehingga orang-orang munafik akan berkata : ’Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang riya’ (HR. Thabrani)
Imam Suyuthi dalam kitabnya Natiijatul Fikri fil jahri biz dzikri berkata : “Bentuk istidlal dengan dua hadits terakhir diatas ini adalah bahwasanya ucapan dengan ‘Dia itu gila’ dan ‘Kamu itu riya’ hanyalah dikatakan terhadap orang-orang yang berdzikir dengan jahar, bukan dengan lirih (sir).”
Hadits dari Zaid bin Aslam dari sebagian sahabat, dia berkata :
ِ اِنْطَلَقْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ(صَ) لَيْلَةً, فَمَرَّ بِرَجُلٍ فِي المَسْجِدِ يِرْفَعُ صَوْتَهُ فَقُلْتُ :
يَا رَسُوْلَ اللهِ عَسَى اَنْ يَكُوْنَ هَذَا مُرَائِيًا فَقَالَ: لاَ وَلاَكِنَّهُ اَوَّاهُ. (رواه البيهاقي)
“Aku pernah berjalan dengan Rasulallah saw. disuatu malam. Lalu beliau melewati seorang lelaki yang sedang meninggikan suaranya disebuah masjid. Akupun berkata; ‘Wahai Rasuallah, jangan-jangan orang ini sedang riya’. Beliau berkata; Tidak ! ‘Akan tetapi dia itu seorang awwah (yang banyak mengadu kepada Allah)’ ”. (HR.Baihaqi)
Lihat hadits ini Rasulallah saw. tidak melarang orang yang dimasjid yang sedang berdzikir secara jahar (agak keras). Malah beliau saw. mengatakan dia adalah seorang yang banyak mengadu pada Allah (beriba hati dan menyesali dosanya pada Allah swt.) Sifat menyesali kesalahan pada Allah swt itu adalah sifat yang paling baik !
Hadits dari Uqbah bahwasanya Rasulallah saw. pernah berkata kepada seorang lelaki yang biasa dipanggil Zul Bijaadain; “Sesungguhnya dia orang yang banyak mengadu kepada Allah. Yang demikian itu karena dia sering berdzikir kepada Allah”. (HR.Baihaqi). (Julukan seperti ini jelas menunjukkan bahwa Zul- Bijaadain sering berdzikir secara jahar).
Hadits dari Amar bin Dinar, dia berkata: “Aku dikabari oleh Abu Ma’bad bekas budak Ibnu Abbas yang paling jujur dari tuannya yakni Ibnu Abbas dimana beliau berkata:
اَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ
‘Sesungguhnya berdzikir dengan mengeraskan suara ketika orang selesai melakukan shalat fardhu pernah terjadi dimasa Rasulallah saw.’ “. (HR. Bukhori dan Muslim)
Dalam riwayat yang lain diterangkan bahwa Ibnu Abbas berkata: “Aku mengetahui selesainya shalat Rasulallah saw. dengan adanya ucapan takbir beliau (yakni ketika berdzikir)”. (HR.Bukhori Muslim)
Ibnu Hajr dalam kitabnya Khatimatul Fatawa mengatakan: “Wirid-wirid, bacaan-bacaan secara jahar, yang dibaca oleh kaum Sufi (para penghayat ilmu tasawwuf) setelah sholat menurut kebiasaan dan suluh (amalan-amalan khusus yang ditempuh kaum Sufi) sungguh mempunyai akar/dalil yang sangat kuat”.
Sedangkan hadits-hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengenai berdzikir secara jahar seusai sholat sebagai berikut:
Hadits nr. 357: Dari Ibnu Abbas, katanya: “Dahulu kami mengetahui selesainya sembahyang Rasulallah saw. dengan ucapan beliau “takbir”.
Hadits nr. 358: Dari Ibnu Abbas, katanya; “Bahwa dzikr dengan suara jahar/agak keras seusai sembahyang adalah kebiasaaan dizaman Nabi saw. Kata Ibnu Abbas, jika telah kudengar suara berdzikir, tahulah saya bahwa orang telah bubar sembahyang”.
Hadits nr. 366: Dari Abu Zubair katanya; “Adalah Abdullah bin Zubair mengucapkan pada tiap-tiap selesai sembahyang sesudah memberi salam:….” Kata Abdullah bin Zubair, Adalah Rasulallah saw. mengucap- kannya dengan suara yang lantang tiap-tiap selesai sembahyang“.
(Ketiga hadits terakhir ini dikutip dari kitab “Terjemahan hadits Shahih Muslim” jilid I, II dan III terbitan Pustaka Al Husna, I/39 Kebon Sirih Barat, Jakarta, 1980.)
Al-Imam al-Hafidz Al-Maqdisiy dalam kitabnya ‘Al-Umdah Fi Al-Ahkaam’ hal.25 berkata:
“Abdullah bin Abbas menyebutkan bahwa berdzikir dengan mengangkat suara dikala para jema’ah selesai dari sembahyang fardhu adalah diamalkan sentiasa dizaman Rasulallah saw.. Ibnu Abbas berkata, ‘Saya memang mengetahui keadaan selesainya Nabi saw. dari sembahyangnya (ialah dengan sebab saya mendengar) suara takbir’ (yang disuarakan dengan nyaring) “. (HR Imam Al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Juraij).
Hadits yang sama dikemukakan juga oleh Imam Abd Wahab Asy-Sya’rani dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah hal.110; demikian juga Imam Al-Kasymiriy dalam kitabnya Fathul Baari hal. 315 dan As-Sayyid Muhammad Siddiq Hasan Khan dalam kitabnya Nuzul Al-Abrar hal.97; Imam Al-Baghawiy dalam kitabnya Mashaabiih as-Sunnah 1/48 dan Imam as-Syaukani dalam Nail al-Autar.
Dalam shohih Bukhori dari Ibnu Abbas ra beliau berkata; ‘Kami tidak mengetahui selesainya shalat orang-orang di masa Rasulallah saw. kecuali dengan berdzikir secara jahar’.
Dan masih banyak lagi dalil mengenai keutamaan kumpulan berdzikir yang tidak kami cantumkan disini tapi insya Allah dengan adanya semua hadits diatas cukup jelas bagi kita dan bisa ambil kesimpulan bahwa (kumpulan) berdzikir baik dengan suara lirih maupun jahar/agak keras itu, tidaklah dimakruhkan atau dilarang bahkan didalamnya justru terdapat dalil yang menunjukkan kebolehannya, atau kesunnahannya!!
Demikian juga dzikir dengan jahar itu dapat menggugah semangat dan melembutkan hati, menghilangkan ngantuk, sesuatu yang tidak akan didapat kan pada dzikir secara lirih (sir). Dan diantara yang membolehkan lagi dzikir- jahar ini adalah ulama mutaakhhirin terkemuka Al-‘Allaamah Khairuddin ar-Ramli dalam risalahnya yang berjudul Taushiilul murid ilal murood bibayaani ahkaamil ahzaab wal-aurood mengatakan sebagai berikut: “Jahar dengan dzikir dan tilawah, begitu juga berkumpul untuk berdzikir baik itu di majlis ataupun di masjid adalah sesuatu yang dibolehkan dan disyari’atkan ber- dasarkan hadits (qudsi) Nabi saw.: ‘Barangsiapa berdzikir kepada-Ku (Allah) dihadapan orang-orang, maka Aku pun akan berdzikir untuknya dihadapan orang-orang yang lebih baik darinya’ dan firman Allah swt. ‘Seperti dzikirmu terhadap nenek-moyangmu atau dzikir yang lebih mantap lagi’ (Al-Baqoroh: 200) bisa juga dijadikan sebagai dalilnya.(dalil jahar) “
Agama hanya memakruhkan dzikir jahar yang terlalu keras, begitu juga jahar yang tidak keterlaluan bila sampai mengganggu orang yang sedang tidur atau sedang shalat atau menyebabkan dirinya riya’ serta mensyariatkan/ mewajibkan dzikir jahar ini. Berapa banyak perkara yang sebenarnya mubah tapi karena diwajibkan atau disyariatkan pelaksanaanya dengan cara-cara tertentu padahal agama tidak mengajarkan demikian, maka ia akan berubah menjadi makruh sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qori’ dalam Syarhul Miskat, Al-Hashkafi dalam Ad- Durrul Mukhtar dan beberapa ulama lainnya.
Kalau kita baca ayat-ayat al-Qur’an,hadits dan wejangan para ulama yang telah dikemukakan tadi, jelas bahwa berdzikir baik orang berdzikir sendirian, berkelompok, secara sir atau jahar/agak keras itu semua baik/ mustahab dan sebagai anjuran syari’at Islam. Bagaimana tercelanya saudara kita yang selalu menteror, mencela dan mensesatkan kumpulan dzikir (tahlilan/yasinan, istighotsah dan sebagainya) yang mana disitu selalu dikumandangkan pembacaan diantaranya; ayat-ayat Al-Qur’an, sholawat pada Nabi saw., pembacaan Tasbih, Takbir dan lain sebagainya serta mendo’akan saudara muslimin baik yang masih hidup atau yang sudah wafat? Bacaan yang dibaca didalam majlis tersebut, semuanya tidak ada larangan syari’at, malah sebaliknya banyak hadits Rasulallah saw. yang menunjukkan kebolehannya, atau kesunnahannya!!
Memang ada hadits riwayat Baihaqi, Ibnu Majah dan Ahmad; “Sebaik-baik dzikir adalah secara lirih (sir) dan sebaik-baik rizki adalah yang mencukupi ”. Menurut ulama’ diantaranya Imam as-Suyuthi, kata-kata Sebaik-baik dalam suatu hadits berarti Keutamaan bukan yang lebih utama. Jadi hadits terakhir ini bukan menunjukkan kepada jeleknya atau dilarangnya dzikir secara jahar, karena banyak riwayat hadits shohih yang mengarah pada bolehnya dzikir secara jahar.
Mari kita baca lagi perincian berdzikir dengan jahar yang lebih jelas menurut pendapat Imam Suyuthi dan lainnya.
“Imam As-Suyuthi didalam Natijatul/fikri Jahri Bidz Dzikri, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya mengenai tokoh Sufi yang membentuk kelompok-kelompok dzikir dengan suara agak keras, apakah itu merupakan perbuatan makruh atau tidak? Jawab beliau: Itu tidak ada buruknya (tidak makruh) ! Ada hadits yang menganjurkan dzikir dengan suara agak keras (jahar) dan ada pula menganjurkan dengan suara pelan (sirran). Penyatuan dua macam hadits ini yang tampaknya berlawanan, semua tidak lain ter- gantung pada keadaan tempat dan pribadi orang yang akan melakukan itu sendiri.
Dengan merinci manfaat membaca Al-Qur’an dan berdzikir secara jahar/ jahran dan lirih/sirran itu Imam Suyuthi berhasil menyerasikan dua hal ini kedalam suatu pengertian yang benar mengenai hadits-hadits terkait. Jika anda berkata bahwa Allah swt. telah berfirman:
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيْفَةً وَدُوْنَ الجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُضُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.
‘Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati dengan merendahkan diri disertai perasaan dan tanpa mengeraskan suara’. (Al A’raf:205). Itu dapat saya (Imam Suyuthi) jawab dari tiga sisi:
1. Ayat diatas ini adalah ayat Makkiyah ( turun di Makkah sebelum hijrah). Masa turun ayat (Al A’raf 205) ini berdekatan dengan masa turunnya ayat berikut ini:
وَلاَ تَجْهَرْ بصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِبَيْنَ ذَالِكَ سَبِيْلاً
‘Dan janganlah engkau (hai Nabi) mengeraskan suaramu diwaktu sholat, dan jangan pula engkau melirihkannya…’ (Al Isra’:110).
Ayat itu (Al A’raf :205) turun pada saat Nabi saw. sholat dengan suara agak keras (jahar), kemudian didengar oleh kaum musyrikin Quraisy, lalu mereka memaki Al Qur’an dan yang menurunkannya (Allah swt). Karena itulah beliau saw. diperintah (oleh Allah) untuk meninggalkan cara jahar guna mencegah terjadinya kemungkinan yang buruk (saddudz-dzari’ah). Makna ini hilang setelah Nabi saw. hijrah ke Madinah dan kaum Muslimin mempunyai kekuat- an untuk mematahkan permusuhan kaum musyrikin. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
2. Jama’ah ahli tafsir (Jama’atul Mufassirin), diantaranya Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan Ibnu Jarir, menerapkan makna ayat diatas tentang dzikir pada masalah membaca Al-Qur’an. Nabi saw. menerima perintah jahran (agak keras) membaca Al-Qur’an sebagai pemuliaan (ta’dziman) terhadap Kitabullah tersebut., khususnya diwaktu sholat tertentu. Hal itu diperkuat kaitannya dengan turunnya ayat: ‘Apabila Al-Qur’an sedang dibaca maka hendaklah kalian mendengarkannya…’ (Al A’raf:204). Dengan turunnya perintah ‘mendengarkan’ maka orang yang mendengar Al-Qur’an yang sedang dibaca, jika ia (orang yang beriman) tentu takut dalam perbuatan dosa. Selain itu ayat tersebut juga menganjurkan diam (tidak bicara) tetapi kesadaran berdzikir dihati tidak boleh berubah, dengan demikian orang tidak lengah meninggalkan dzikir (menyebut) nama Allah. Karena ayat tersebut diakhiri dengan: ‘Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai’.
3. Orang-orang Sufi mengatakan berdzikir sirran (lirih) itu hanya khusus dapat dilakukan dengan sempurna oleh Rasulallah saw., karena beliau saw. manusia yang disempurnakan oleh Allah swt. Manusia-manusia selain beliau saw. sangat repot sekali melakukan dengan sempurna sering diikuti was-was, penuh berbagai angan-angan perasaan, karena itulah mereka berdzikir secara agak keras/jahran. Dzikir jahran semua was-was, angan-angan dan perasaan, lebih mudah dihilangkan, serta akan mengusir setan-setan jahat.
Pendapat demikian ini diperkuat oleh sebuah hadits yang diketengahkan oleh Al- Bazzar dari Mu’adz bin Jabal ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
‘Barangsiapa diantara kamu sholat diwaktu malam hendaklah bacaannya di ucapkan dengan jahran (agak keras). Sebab para malaikat turut sholat seperti sholat yang dilakukannya, dan mendengarkan bacaan-bacaan sholat- nya. Jin-jin beriman yang berada di antariksa dan tetangga yang serumah dengannya, merekapun sholat seperti yang dilakukannya dan mendengarkan bacaan-bacaannya. Sholat dengan bacaan keras akan mengusir Jin-jin durhaka dan setan-setan jahat’.” Demikianlah pendapat Imam Suyuthi.
Pendapat Ibnu Taimiyyah yang dijuluki Syaikhul Islam mengenai majlis dzikir didalam kitab Majmu ‘al fatawa edisi King Khalid ibn ‘Abd al-Aziz. Ibnu Taimiyyah telah ditanya mengenai pendapat beliau mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berdzikir, membaca al-Qur’an, berdo’a sambil menanggalkan serban dan menangis, sedangkan niat mereka bukanlah karena ria’ ataupun membanggakan diri tetapi hanyalah karena hendak mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab: ‘Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Shari’a (mustahab) untuk berkumpul dan membaca al-Qur’an dan berdzikir serta berdo’a….’ “ Pertanyaan ini berkaitan dengan kelompok/majlis dzikir dimasjid-masjid yang dilakukan kaum Sufi Syadziliyyah.
Ibnu Hajr mengatakan, bahwa pembentukan jama’ah-jama’ah seperti itu adalah sunnah, tidak ada alasan untuk menyalah-nyalahkannya. Sebab ber- kumpul untuk berdzikir telah diungkapkan pada hadits Qudsi Shohih: ‘Tiap hambaKu yang menyebutKu di tengah sejumlah orang, ia pasti Kusebut (amal kebaikannya) di tengah jama’ah yang lebih baik’.
Dengan kumpulnya orang bersama untuk berdzikir ini sudah tentu menunjuk- kan dzikir tersebut dengan suara yang bisa didengar sesamanya (agak keras). Bila tidak demikian, apa keistimewaan hadits tentang kumpulan (halaqat) dzikir yang dibanggakan oleh Malaikat dan Rasulallah saw.?, karena berdzikir secara sirran/lirih sudah biasa dilakukan oleh perorangan !
Imam An-Nawawi menyatukan dua hadits (jahar dan lirih) itu sebagai- mana katanya: Membaca Al-Qur’an maupun berdzikir lebih afdhol/utama secara sirran/lirih bila orang yang membaca khawatir untuk riya’, atau mengganggu orang yang sedang sholat ditempat itu, atau orang yang sedang tidur. Diluar situasi seperti ini maka dzikir secara jahran/agak keras adalah lebih afdhol/baik. Karena dalam hal itu kadar amalannya lebih banyak daripada membaca Al-Qur’an atau dzikir secara lirih/sirran.
Selain itu juga membaca Qur’an dan dzikir secara jahran/keras ini manfaat- nya berdampak pada orang-orang yang mendengar, lebih konsentrasi atau memusatkan pendengarannya sendiri, membangkitkan hati pembaca sendiri, hasrat berdzikir lebih besar, menghilangkan rasa ngantuk dan lain-lain. Menurut sebagian ulama bahwa beberapa bagian Al-Quran lebih baik dibaca secara jahar/jahran, sedangkan bagian lainnya dibaca secara lirih/sirran. Bila membaca secara lirih akan menjenuhkan bacalah secara jahar dan bila secara jahar melelahkan maka bacalah secara lirih.
Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm berkata sebagai berikut:
“Aku memilih untuk imam dan makmum agar keduanya berdzikir pada Allah sesudah salam dari shalat dan keduanya melakukan dzikir secara lirih kecuali imam yang menginginkan para makmum mengetahui kalimat-kalimat dzikirnya, maka dia boleh melakukan jahar sampai dia yakin bahwa para makmum itu sudah mengetahuinya kemudian diapun berdzikir secara sir lagi”. Dengan demikian tidak diketemukan dikalangan ulama Syafi’iyah pernyataan-pernyataan yang melarang/mengharamkan dzikir secara jahar apalagi sampai memutuskannya dengan bid’ah munkar !
Mari kita rujuk lagi riwayat hadits bahwa setan akan lari bila mendengar suara adzan atau iqamah, karena yang dibaca dalam adzan/iqamah kalimat dzikir dan sekaligus mencakup kalimat-kalimat tauhid juga, sebagaimana juga bacaan yang dibaca pada kumpulan majlis-majlis dzikir (tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan sebagainya).
Hadits nomer 581 riwayat Muslim sabda Rasulallah saw.: “Sesungguhnya apabila setan mendengar adzan untuk sholat ia pergi menjauh sampai ke Rauha’, berkata Sulaiman; ‘Saya bertanya tentang Rauha’ itu, jawab Nabi saw.; ‘jaraknya dari Madinah 36 mil’ “.
Hadits nomer 582 riwayat Muslim dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya apabila setan mendengar adzan sholat ia bersembunyi mencari perlindungan sehingga suara adzan itu tidak terdengarnya lagi. Tapi apabila setan itu mendengar iqamah, ia menjauh (lagi) sehingga suara iqamah tidak terdengar lagi. Namun apabila iqamah berakhir, setan kembail (lagi) melakukan waswas, yaitu membisikkan bisikan jahat “.
Lihat hadits dari Mu’adz bin Jabal dan dua hadits diatas bahwa dengan baca Al-Qur’an waktu sholat malam secara jahar akan didengar oleh malaikat, jin-jin beriman dan lainnya, serta bisa mengusir setan-setan yang jahat dan durhaka. Walaupun hadits ini berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an pada waktu sholat malam hari serta bacaan adzan dan iqomah, tapi intinya sama yaitu pembacaan ayat Al-Qur’an dan bacaan kalimat-kalimat tauhid dan dzikir secara jahar.
Perbedaannya adalah satu didalam keadaan sholat membacanya yang lain diluar waktu sholat, yang mana kedua-duanya bisa didengar oleh malaikat, jin dan mengusir setan. Juga berdasarkan hadits-hadits yang telah di kemukakan tadi, maka tidak ada saat bagi setan untuk memperdayai manusia selama manusia itu sering berdzikir karena dzikirnya itu bisa di dengar oleh setan-setan tersebut. Maka dari itu Allah swt. sering memper -ingatkan dalam Al-Qur’an agar kita selalu berdzikir pada-Nya.
Orang dianjurkan berdzikir setiap waktu baik dalam keadaan junub, haid, nifas maupun dalam keadaan suci (kecuali bacaan ayat Al-Qur’annya), sedang sibuk atau lenggang waktu, sedang berbaring atau duduk dan pada setiap tempat. Itulah yang dimaksud ayat Allah swt. diantaranya surat An-Nisa:103, karena dzikir semacam ini boleh dilaksanakan terus menerus.!! Lain halnya dengan sholat ada syarat dan waktu-waktu tertentu yang tidak boleh melakukan sholat, umpama: orang yang sedang haid, nifas, junub ( harus mandi dulu), sholat sunnah yang hanya niat sholat saja setelah sholat ashar/shubuh dan sebagainya. Begitu juga ibadah puasa akan batal bagi orang yang sedang haidh, nifas atau junub dan hal-hal lain yang bisa membatalkan puasa.
Mereka berdzikir dengan suara yang jahar tapi bila ditempat mereka dzikir terdapat orang yang merasa terganggu umpama orang sedang sholat, atau ada orang tidur maka mereka akan melirihkan suaranya. Sebagian orang senang berdzikir secara agak keras/jahran untuk dapat memerangi bisikan busuk (was-was), godaan hawa nafsu, lebih konsentrasi tidak mudah lengah, dan langsung menyatukan ucapan lisan dengan hatinya, lebih khusyu’ apalagi dengan irama dzikir yang enak, menghilangkan ngantuk dan lain-lain. Masjid-masjid yang dijadikan tempat dzikir oleh kaum Sufi ini diantara- nya masjid Ar Ribath .
Bagi yang memilih dzikir secara sirran (lirih, pelan) untuk memudahkan perjuangan melawan hawa nafsu, melatih diri agar tidak berbau riya’ (meng- harap pujian-pujian orang) dan menahan nafsu agar tidak menjadi orang yang terkenal. Terdapat riwayat bahwa Umar bin Khattab ra. berdzikir secara jahar/agak keras sedangkan sahabat Abubakar ra dengan suara lirih (sirran). Waktu mereka berdua ditanya oleh Rasulallah saw. mereka menjawab dengan penjelasan seperti diatas itu. Ternyata Rasulallah saw. membenar- kan mereka berdua ini !
Dengan adanya keterangan-keterangan diatas ini kita bisa menarik kesimpul an ada ulama yang senang berdzikir secara lirih dan ada yang lebih senang secara jahar, tergantung situasi sekitarnya dan pribadi masing-masing, bila situasi mengizinkan maka secara jahar itu lebih baik/afdhol. Jadi kedua macam cara itu dibolehkan!!
Aturan/adab (paling baik/tidak wajib) dalam dzikir menurut Syaikh ‘Ali Al-Marshafy, dalam kitabnya Manhajus Shalih mengatakan antara lain sebagai berikut: “Kita selalu dalam keadaan bersih yakni mandi dan berwudu’, menghadap kiblat (kalau bisa), duduk ditempat yang suci (bukan najis). Orang agar sepenuhnya konsentrasi (penuh perhatian) dengan hatinya mengenai dzikir yang dibaca itu. Tempat dzikir tersebut ditaburi dengan minyak wangi. Berdzikir dengan ikhlas karena Allah swt…”.
Dan masih banyak yang beliau anjurkan cara yang terbaik untuk berdzikir tapi empat diatas itu cukup buat kita agar tercapainya dzikir itu, sehingga kita bisa menikmatinya dan menenangkan jiwa. Yang dimaksud Syaikh ‘Ali Al Marshafy ditaburi minyak wangi pada tempat dzikir ialah agar tempat dzikir tersebut semerbak wangi baunya. Dalam hal ini dibolehkan semua jenis bahan yang bisa menimbulkan bau harum umpama minyak wangi, sebangsa kayu-kayuan (gahru dan sebagainya) atau menyan Arab yang kalau dibakar asapnya berbau wangi, karena disamping bau-bauan ini lebih mengkhusyukkan/ mengkonsentrasikan, menyegarkan pribadi orang itu atau para hadirin, juga menyenangkan malaikat-malaikat dan jin-jin yang beriman yang hadir di majlis dzikir ini. Bau harum ini malah lebih diperlukan bila berada di ruangan yang banyak dihadiri oleh manusia agar berbau semerbak ruangan tersebut. Gahru, uluwwah atau menyan ini banyak dijual baik di Indonesia, Makkah, Madinah maupun dinegara lainnya. Yang paling mahal harganya adalah Gahru kwaliteit istemewa.
Hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda: “Siapa yang diberi wangi-wangian janganlah ditolak, karena ia mudah dibawa dan semerbak harumnya”. (HR.Muslim, Nasa’I dan Abu Dawud)
Ada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Nasa’i: “Adakalanya Ibnu Umar ra. membakar uluwwah tanpa campuran, dan adakalanya kapur barus yang dicampur dengan uluwwah seraya berkata, ‘Beginilah Rasulallah saw. mengasapi dirinya’.”
Begitu juga tahun 2001 bulan suci Ramadhan kami ziarah ke makam Rasulallah saw. di Madinah, disana setiap usai sholat Isya’ terutama pada di tempat sekitar Raudhah (antara Rumah dan Mimbar Rasulallah saw.) dan disekitar Mimbar Rasulallah saw. selalu di asapi kayu gahru. Bagi orang-orang yang pernah hadir di tempat ini pada waktu tertentu itu insya Allah bisa menyaksikan serta menikmati bau-bauan harum tersebut. Padahal kalau kita lihat negara Saudi Arabia banyak disana golongan wahabi/salafi yang sering mengeritik dan membuat ceritera khurafat atau mengisukan yang tidak-tidak terhadap golongan muslimin yang membakar dupa/gahru waktu mengadakan majlis dzikir. Diantara golongan wahabi dan pengikutnya ini ada yang mengatakan pembakaran dupa/gahru dan sebagainya waktu sedang berkumpul berdzikir maupun sendirian untuk mendatangkan setan-setan dan lain-lain !
Tetapi kalau kita baca hadits Nabi saw., setan malah lari mendengar bacaan dzikir itu, dan senang bersemayam dirumah dan diri orang yang tidak mengadakan majlis dzikir. Lihatlah, karena kedengkian golongan tertentu pada majlis dzikir ini, mereka membuat fitnah dan mengadakan khurafat-khurafat (tahayul) yang dikarang-karang sendiri, agar manusia mengikuti faham mereka dan tidak menghadiri majlis dzikir tersebut. Mengapa golongan pengingkar ini tidak berkata pada sipenjual Gahru, menyan arab di Makkah dan Madinah bahwa itu haram, khurafat karena bisa mendatangkan setan-setan?
Dalil-dalil mereka yang melarang dzikir secara jahar
Dengan adanya riwayat-riwayat yang dikemukakan tadi, buat kita insya Allah sudah cukup jelas mengenai dibolehkannya dzikir baik secara lirih maupun secara jahar. Tetapi bagi golongan pengingkar selalu mengajukan dalil-dalil yang menurut paham mereka sebagai larangan/haramnya orang ber- kumpul berdzikir secara jahar. Mari kita baca dalil mereka untuk masalah ini:
Firman Allah swt (Al ‘Araf : 204): ‘Dan apabila dibacakan (kepadamu) ayat-ayat suci Al-Qur’an, maka dengarkanlah dia dan perhatikan agar kamu diberikan rahmat’. Ayat ini dibuat dalil oleh mereka untuk melarang pem- bacaan Al-Qur’an secara bersama, yang di amalkan orang-orang pada majlis dzikir (Istighothah, tahlilan, yasinan dan lain lain).
Sudah tentu pemikiran seperti ini adalah paham yang keliru, karena makna atau yang dimaksud firman Allah swt. itu ialah: Bila ada orang membaca Al-Qur’an sedangkan orang lainnya tidak ikut membaca bersama orang tersebut, maka yang tidak ikut membaca ini di anjurkan untuk mendengarkan serta memperhatikan bacaan Al Qur’an tersebut agar mereka juga mendapat pahala dan rahmat dari Allah swt. Jadi bukan berarti ayat ini melarang orang bersama-sama membaca Al-Qur’an dalam kumpulan majlis dzikir ! Karena cukup banyak hadits yang menjanjikan pahala bagi orang yang membaca Al-Qur’an baik membacanya secara berkelompok maupun perorangan, serta tidak ada nash baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah yang melarang mem- baca Al-Qur’an secara bersama-sama ! Malah justru mendapat pahala bagi yang membacanya !.
Mereka berdalil juga pada firman Allah Al-A’raf :205 yang berbunyi: ‘Dan ingatlah Tuhanmu didalam hatimu sambil merendahkan diri dan merasa takut serta tidak dengan suara keras (yang berlebihan) dipagi maupun sore hari’.
Ayat diatas juga tidak bisa dibuat dalil untuk melarang semua bentuk dzikir secara jahar. Sebenarnya yang dimaksud ayat ini adalah untuk orang-orang yang sedang mendengarkan Al-Qur’an yang sedang dibaca oleh orang lain sebagaimana ditunjukkan oleh ayat yang telah dikemukakan yaitu surat Al-A’raaf : 204. Dengan demikian, makna surat Al-A’raf : 205 tadi adalah: ‘Berdzikirlah kepada Tuhanmu didalam hati wahai orang yang memperhati- kan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan merendahkan diri serta rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara…’.
Seperti ini pula makna yang dikehendaki oleh ulama pakar diantaranya: Ibnu Jarir, Abu Syaikh dari Ibnu Zaed. Sedangkan Imam Suyuthi dalam kitabnya Natijatul Fikri berkata: Ketika Allah swt. memerintahkan untuk inshot (memperhatikan bacaan Al Qur’an) dikhawatirkan terjadinya kelalaian dari mengingat Allah swt., maka dari itu disamping perintah inshot dzikir didalam hati tetap dibebankan agar tidak terjadi kelalaian mengingat Allah swt. Karenanya ayat tersebut diakhiri dengan ‘Dan janganlah kamu termasuk diantara orang-orang yang lalai’. (baca keterangan pada halaman sebelum ini)
Malah menurut Imam Ar-Rozi bahwa ayat Al A’raf : 205 justru menetapkan dzikir dengan jahar yang tidak berlebihan, bukan malah mencegahnya karena disitu disebut juga ‘…dan bukan dengan mengeraskan suara (jahar yang berlebihan)...’ Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tuntutan ayat itu adalah ’melakukan dzikir antara sir dan jahar yang berlebihan’ makna yang demikian sesuai dan dikuatkan oleh firman Allah swt dalam surat Al-Isro’: 110 yang berbunyi: ‘Janganlah kamu mengeraskan suara dalam berdo’a dan janganlah pula kamu melirihkannya melainkan carilah jalan tengah diantara yang demikian itu’.
Golongan pengingkar ini juga berdalil pada hadits Nabi saw. yang di riwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Marduwaih dan Al-Baihaqi dari Abu Musa Al-Asy’ari ra yang berkata:
“Kami pernah bersama Rasulallah saw. dalam sebuah peperangan, maka terjadilah satu keadaan dimana kami tidaklah menuruni lembah dan tidak pula mendaki bukit kecuali kami mengeraskan suara takbir kami. Maka mendekatlah Rasulallah saw. kepada kami dan bersabda: ‘ Lemah lembutlah kalian dalam bersuara karena yang kalian seru bukanlah zat yang tuli atau tidak ada. Hanyalah yang kalian seru adalah zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sesungguhnya yang kalian seru itu lebih dekat kepadamu ketimbang leher-leher onta tungganganmu’ “.
Hadits ini tercantum dalam kitab-kitab hadits yang enam. Imam Turmudzi dalam bab Fadhlut Tasbih menyebutkan juga hadits dari Abu Musa al-Asy’ari yang senada tapi sedikit berbeda dan ditambah dengan sabda Rasulallah saw. “Wahai Abdullah bin Qais, maukah kamu aku beritahukan sebagian dari perbendaharaan sorga…? Dialah : ‘Laa Haulaa Walaa Quwwata Illa Billah’ “. Turmudzi berkata: Ini adalah hadits yang shohih.
Golongan ini berkata: “Mengapa kita harus mengeraskan suara dalam berdzikir…?, padahal hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari diatas memerintahkan untuk merendahkan suara di ketika berdzikir karena Zat yang didzikirkan yakni Allah swt. bukan Zat yang tuli, bukan Zat yang tidak ada bahkan ilmu dan kekuasan-Nya ada dihadapan kita ! Dia lebih dekat kepada kita dibanding leher-leher onta tunggangan kita !
Alasan inipun tidak tepat untuk dijadikan dalil melarang atau mengharamkan semua bentuk dzikir jahar, perintah irba’uu dihadits tersebut bukanlah hukum wajib sehingga berakibat haramnya berdzikir secara jahar. Hal ini karena perintah dengan menggunakan kata ar-rab’u adalah semata-mata untuk memberikan kemudahan kepada mereka. Berdasarkan inilah maka Syeikh Ad-Dahlawi dalam Al-Lama’aat Syarhul Misykat mengatakan bahwa irba’uu adalah satu isyarat dimana larangan jahar hanyalah untuk memudahkan, bukan karena jahar itu tidak disyariatkan !
Kalau sekiranya Rasulallah saw. tidak mencegah para sahabat berdzikir secara keras pada waktu peperangan menaiki dan menuruni bukit, maka mereka jelas akan menyangka bahwa mengeraskan suara dzikir yang berlebihan itu sewaktu dalam perjalanan adalah disunnahkan, karena per- buatan mereka itu didiamkan/diridhoi oleh Rasulallah saw.. Padahal kesunnahan yang seperti itu tidaklah dikehendaki oleh beliau saw. Mengeraskan dzikir pada saat itu sedang dalam perjalanan perang menuju Khaibar seperti itu tidak ada mashlahatnya/kebaikannya, bahkan bisa menimbulkan bencana kalau sampai didengar oleh musuh orang-orang kafir. Terlebih-lebih ada hadits mengatakan ‘Perang itu adalah satu tipu daya’.
Begitupun juga beliau saw. melarang mereka supaya nantinya tidak merasa lebih lelah dan kesulitan dalam menghadapi peperangan. Beginilah juga yang diterangkan oleh Al-Bazzaazi makna pelarangan pengerasan suara pada waktu itu. Pengarang kitab Fathul Wadud Syarah Sunan Abi Daud mengatakan bahwa kata-kata rofa’uu ashwaatahum menunjukkan bahwa mereka itu terlalu berlebihan dalam menjaharkan dzikir. Maka hadits itu tidaklah menuntut terlarangnya menjaharkan dzikir secara mutlak ! Jadi dzikir jahar yang dilakukan oleh para sahabat itu adalah jahar yang berlebihan (jerat-jerit) sebagaimana ditunjukkan oleh kaitan larangan itu dalam beberapa riwayat.
Begitu juga bila hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari diatas ini dipakai sebagai dalil untuk melarang semua bentuk dzikir secara jahar maka akan ber- benturan dengan hadits-hadits yang berkaitan dengan dzikir secara jahar (silahkan baca keterangan sebelumnya).
Sebelum ini telah kami kemukakan sebagian fatwa seorang ulama yang di andalkan juga oleh golongan ini yaitu Ibnu Taimiyah didalam kitabnya Majmu’at fatawa edisi Raja Saudi Arabi Malik Khalid bin ‘Abdul ‘Aziz sebagai berikut: “Ibnu Taimiyyah telah ditanya mengenai pendapat beliau mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berdzikir (secara jahar), membaca al-Qur’an berdo’a sambil menanggalkan serban dan menangis sedangkan niat mereka bukanlah karena ria’ ataupun menunjuk-nunjukkan diri, tetapi hanyalah karena hendak mendekatkan diri kepada Allah swt. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab, ‘Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Shari’a (agama) untuk berkumpul dan membaca al-Qur’an dan berdzikir serta berdo’a’.”
Sebagian golongan ini juga melarang kumpulan majlis dzikir dengan ber- dalil suatu riwayat bahwa Umar bin Khattab ra. mencambuk suatu kaum yang berkumpul karena kaum ini berdo’a untuk kebaikan kaum muslimin dan para pemimpin ! Dengan berdalil pada hadits ini, mereka melarang semua bentuk berdzikir secara jahar.
Umpama riwayat tersebut benar-benar ada dan shohih, kita harus meneliti dahulu apa sebab Umar bin Khattab ra melarang mereka berkumpul untuk berdo’a kebaikan tersebut, sehingga tidak langsung menghukum semua berkumpulnya manusia untuk do’a kebaikan itu dilarang. Dzikir dan do’a itu termasuk amalan ibadah yang sangat dianjurkan baik oleh Allah swt. maupun Rasulallah saw.. Tidak ada penentuan/kewajiban dalam syariat tentang cara-cara berdzikir dan berdo’a, boleh dilakukan secara berkumpul atau pun secara individu !
Penafsiran mereka seperti itu adalah sangat sembrono sekali, karena ini bisa mengakibatkan orang akan merendahkan sifat Umar bin Khattab, sehingga orang-orang non muslim maupun muslim akan mensadiskan beliau karena mencambuk (tanpa alasan yang tepat) orang yang berkumpul hanya karena berdo’a kebaikan untuk muslimin dan pemimpinnya. Hati-hatilah! Disamping itu riwayat ini berlawanan dengan firman Allah swt (hadits Qudsi) dan hadits-hadits Rasulallah saw. mengenai keutamaan berdo’a dan halaqat dzikir (lingkaran dzikir) !
Juga golongan ini mengatakan ada riwayat dari Bukhori yang berkata ada suatu kaum/kelompok setelah melaksanakan sholat Maghrib seorang dari mereka berkata: “Bertakbirlah kalian semua pada Allah seperti ini… bertasbihlah seperti ini….dan bertahmidlah seperti ini…maka Ibnu Mas’ud ra mendatangi orang ini dan berkata:….sungguh kalian telah datang dengan perkataan bid’ah yang keji atau kalian telah menganggap lebih mengetahui dari sahabat Nabi.”
Riwayat diatas itu dibuat juga oleh golongan pengingkar sebagai dalil untuk melarang semua kumpulan majlis dzikir, alasan seperti ini juga tidak tepat sama sekali. Pertama kita harus mengetahui dahulu kalimat takbir, tasbih atau tahmid apa yang diperintahkan orang tersebut pada sekelompok muslimin itu. Kedua umpama bacaan takbir, tasbih, tahmid serta cara pem- beritahuan sesuai yang dianjurkan oleh Nabi saw. maka tidak mungkin Ibnu Mas’ud ra akan melarangnya, karena Rasulallah saw. sendiri meridhoi dan memberi kabar gembira bagi kelompok kaum yang sedang berdzikir. Ketiga, kelompok tersebut belum melakukan dzikir yang diperintahkan oleh orang itu, oleh karenanya Ibnu Mas’ud bukan tidak menyenangi kumpulan dzikir dan bacaannya tapi beliau tidak menyenangi cara pemberitahuan orang tersebut kepada kelompok itu, yang seakan-akan mewajibkan atau mensyari’atkan kelompok tersebut untuk mengamalkan hal tersebut, karena dzikir adalah amalan-amalan sunnah/bukan wajib !!
Jadi janganlah kita main pukul rata mengharamkan semua jenis kelompok dzikir secara jahar dengan alasan sebagian sahabat telah melarangnya pada kelompok manusia tertentu, tapi kita harus meneliti motif atau sebab apa dzikir tersebut pada waktu itu dilarang oleh sahabat Nabi tersebut. Dengan demikian kita tidak akan ke bingungan atau kesulitan untuk mengamalkan hadits Rasulallah saw. lainnya yang mengarah kepada kebolehan dan kesunnahan untuk berdzikir baik secara individu maupun berkelompok, baik secara lirih maupun jahar sebagaimana yang telah dijelaskan juga oleh ulama-ulama pakar, Imam Nawawi, Ibnu Hajr, Imam Suyuthi serta lain-lainnya.
Begitu juga bila ada sebagian ulama pakar tidak menyenangi berdzikir secara jahar atau secara lirih itu tidak berarti semua dzikir secara jahar atau lirih itu haram diamalkan! Tidak lain hal tersebut tergantung pada pribadi ulama itu masing-masing atau tergantung pada situasi lokasi dan tempat untuk berdzikir tersebut.
Kami tambahkan lagi hadits yang shohih menganjurkan manusia untuk membaca Talbiyah dan Tahlil secara jahar pada waktu musim haji, yang mana Talbiyah dan Tahlil juga termasuk dzikir pada Allah swt. Hadits dari Khalad bin Sa’id Al Anshori dari Bapaknya bahwa Nabi saw bersabda:
“Jibril datang kepadaku lalu menyuruhku untuk memerintahkan kepada sahabatku atau kepada orang-orang yang bersamaku agar mengeraskan suara dengan Talbiyah dan tahlil ”. ( Riwayat Abu Dawud nr.1797, Tirmidzi nr.829, Nasa’i dalam bab mengeraskan suara ketika ber ihram, Ibnu Majah nr.2364, Imam Malik dalam Al Muwattha hadits nr.34). Menurut Imam Syafii Takbir dan Tahlil dalam haji ini boleh diamalkan secara jahar baik dimasjidil Haram atau dilapangan.
Kalau dzikir Talbiyah dan Tahlil secara jahar yang dilakukan oleh berjuta-juta jama’ah haji secara berkelompok-kelompok malah dianjurkan dan tidak di- larang, apalagi dzikir secara jahar yang hanya dilakukan oleh kelompok jauh lebih sedikit jumlahnya dari itu, apa salahnya dalam hal ini..?. Wallahu a’lam.
0
komentar
Label:
Tasawuf
Amuk
Diposting oleh Goze IsnoAmuk Massa Karena Tuah Telah Musnah
Terjadinya Amuk Massa yang belakangan ini marak menghiasi berita di televisi, baik berupaa pembakaran bus antar kota, bus Trans Jakarta, bus mini Kopaja, mobil pribadi yang menabrak warga, saling serang antar warga kampung, “perang” antaran Satpol PP dengan massa yang menentang penggusuran makam Mbah Priok, tawuran antar mahasiswa, dan aksi-aksi amuk massa lain menjadi pokok perbincangan para sufi di teras musholla pesantren. Pasalnya, warga kampung yang anak-anaknya menjadi sopir merasa cemas membayangkan kemungkinan anak-anak mereka menjadi sasaran amuk massa. Itu sebabnya, warga ganti-berganti menghadap Guru Sufi meminta anak-anak mereka didoakan agar selamat dan terhindar dari kemungkinan buruk menjadi korban amuk massa.
Beda dengan harapan warga kampung yang menginginkan keselamatan anak-anak mereka, para sufi justru membincang fenomena Amuk Massa itu sebagai sebuah keniscayaan yang makin lama akan membesar dan meluas skala dan frekuensinya. Salah satu hal yang dijadikan pokok bahasan adalah isu dan alasan yang beragam yang melatari pecahnya Amuk Massa belakangan ini, yang sering dipicu kasus-kasus remeh-temeh. Guru Sufi yang membincang soal amuk massa di era Orde Baru menjelang akhir kejatuhan Soeharto, menunjukkan isu dan alasan yang dengan mudah dapat dicermati dan dicari pangkal pemicunya,”Dalam Amuk Massa yang memicu kerusuhan di Purwakarta (1995), Pekalongan (1995), Jakarta (27 Juli 1996), Situbondo (1996), Tasikmalaya (1996), Sanggau Ledo (1997), Tanah Abang Jakarta (1997), Rengasdengklok (1997), Banjarmasin (1997) yang berpuncaknya pada Perisitiwa 13-15 Mei 1998 di Jakarta, yang melebar ke Bandung, Solo, Medan dan Palembang, isunya berkaitan dengan teori Samuel Huntington dalam The Clash of Civilization yang memprediksi betapa pasca runtuhnya komunisme yang akan terjadi adalah benturan peradaban Barat yang diwakili Kristen – White Anglo-Saxon Protestant dan peradaban Timur yang diwakili Islam dan Konfusius. Ada skenario global yang dirancang untuk menata ulang tatanan dunia pasca runtuhnya komunisme. Tapi amuk massa yang pecah sekarang ini, isu dan latarnya beragam seperti pertikaian antar kampung, permusuhan antar siswa sekolah, ketersinggungan mahasiswa antar fakultas, ketidak-puasan terhadap pejabat publik, peradilan, kepolisian, perebutan tanah antara warga dengan TNI, antara warga dengan perkebunan, kisruh pemilihan kepala daerah, dan lain-lain.”
“Saya pernah dengar orang cerita kalau berbagai amuk massa itu sebenarnya hanya rekayasa pihak intelijen saja, Mbah Kyai,” kata Dullah ingin penjelasan,”Bagaimana dengan pandangan ini, Mbah Kyai?”
“Silahkan saja orang berteori sesuai alur pikirannya,” sahut Guru Sufi serius,”Yang pasti, lepas dari adanya unsur rekayasa, bangsa kita memang punya latar sejarah lama dengan fenomena sosial yang disebut Amuk. Asal tahu saja, istilah itu adalah istilah khas Nusantara yang sudah dikenal oleh orang-orang asing yang pernah datang ke sini pada jaman lampau.”
“Itu benar adanya,” sahut Sufi Sudrun menyela,”Di dalam Ensiklopedia Psikologi, tegas disebutkan bahwa di dalam etnis Melayu yang termasuk sebagiannya adalah orang Indonesia fenomena “amok” ditegaskan menjadi ciri khas – karena fenomena itu tidak didapati pada masyarakat Barat. In a typical case of running amok.”
“John Crawfurd yang ke Nusantara pada paruh kedua abad ke-19 menuliskan dalam The Malay Archipelago (1869) tentang jiwa pendendam penduduk Nusantara, yang sering melakukan AMOK yang dipicu oleh ketidak-adilan dan ketidak-baikan pemerintah. “Amuck means generally an act of desperation, in which the individual or individuals devote their lives, with few or no chances of success, for the gratification of their revenge,” kata Guru Sufi menjelaskan. Sebentar kemudian dilanjutkan,”Bahkan Diogo do Couto yang datang ke Nusantara tahun 1526-1527, dalam Decadas da Asia menyaksikan bagaimana orang Jawa yang melakukan Amoucos (amuk) menyerang musuhnya sampai kena meski tubuhnya ditikam tombak berulang-ulang.”
“Berarti amok akan sering terjadi kalau penduduk merasa tertekan oleh ketidak-adilan dan ketidak-baikan pemerintah yang berkuasa, begitu Mbah Kyai?” tanya Dullah.
“Kayaknya Amuk memang memiliki hubungan korelasional dengan pemerintah yang sudah tidak memiliki legitimasi lagi di mata masyarakat,” kata Guru Sufi.
“Maaf Mbah Kyai,” sahut Sukijan menyela,”Hubungan korelasional Amok dengan pemerintah yang tidak legitimated itu bagaimana?”
“Itu sulit dijelaskan,” sahut Guru Sufi memaparkan,”Yang pasti sejarah mencatat, ketika Majapahit runtuh ditandai kerusuhan akibat Amuk Massa ketika balatentara Kediri membawa penduduk rame-rame menyerbu ibukota. Bukan hanya pejabat-pejabat tinggi dan aparat kerajaan dan abdi yang dimangsa amarah massa, bahkan Maharaja Kertabhumi pun hilang dalam kerusuhan yang ditandai Candrasengkala Sirna Hilang Kertaning Bhumi. Itulah sebabnya, lokasi pasti bekas ibukota Majapahit tak bisa ditemukan karena rata dengan tanah. Amuk massa pada zaman akhir Demak, juga menjadikan sisa-sisa kerajaan itu hilang tertelan bumi. Begitu juga Pajang. Kartosuro juga rata dengan tanah. Bahkan sewaktu kompeni berkuasa mendampingi penguasa-penguasa lokal, amuk massa sering menjadi penanda terjadinya perubahan sosial yang ditandai pemberontakan-pemberontakan.”
“Itu benar adanya,” sahut Sufi Sudrun menimpali,”Kalau kita baca Coloniaal Archive antara tahun 1800 – 1900, yakni rentang waktu satu abad, terjadi 112 kali pemberontakan yang ditandai Amok Massa.”
“Apakah pemerintah colonial waktu itu juga tidak legitimated di mata rakyat, Mbah Kyai?” tanya Sukijan.
“Yang pasti seperti itu, karena kepemimpinan Belanda yang Barat memang beda dengan kepemimpinan Timur yang khas Nusantara,” kata Guru Sufi.
“Apa yang khas dari kepemimpinan Nusantara, Mbah Kyai?” Tanya Dullah.
“Seorang pemimpin baru diakui keabsahannya, jika memiliki tuah, yakni kekuatan kharismatik bersifat gaib yang hanya dimiliki oleh seorang Ratu atau Dhatu. Jika seorang pemimpin tidak lagi memiliki tuah, karena otak dan jiwanya dipenuhi benda-benda dan nafsu rendah duniawi, maka dia berada dalam keadaan panten (rendah, hina). Maknanya, orang semacam itu tidak bisa lagi menjadi pemimpin manusia karena mereka itu kedudukan ruhaninya tidak jauh berbeda dengan begal, maling, rampok, tukang copet, rentenir, pengutil, dan penipu hina,” kata Guru Sufi menjelaskan.
“Subhanallah,”sahut Dullah mengelus-elus dadanya,”Selama menonton berita-berita di televisi, saya sering lihat hakim-hakim menjatuhkan vonis diprotes dan dilawan orang yang berperkara. Pernyataan petinggi polisi dan tentara tidak diindahkan penduduk. Statemen wakil rakyat dilecehkan warga. Bahkan pernyataan para pemimpin tinggi Negara pun dijadikan bahan kritik dan kecaman oleh berbagai kalangan, termasuk tidak diindahkan oleh pejabat di bawahnya. Rupanya, hampir semua orang di negeri ini, sekarang ini sudah kehilangan tuah. Kehilangan kharisma. Semua ibarat keris pusaka yang sudah kehilangan tuah; keris tidak bertuah karena tanpa yoni!”
“Ya itulah resiko memimpin sebuah negeri yang dihuni bangsa yang meyakini kekuatan gaib tuah dan kharisma, yang tidak cukup memadai diatur oleh pemimpin yang menganut sistem kepemimpinan Barat yang paganistik dan sekedar penuh pencitraan-pencitraan bersifat lips service saja,” kata Guru Sufi.
“Alamaak, berarti Amuk Massa nanti, makin lama akan semakin marak dan meluas ya Mbah Kyai?” tanya Dullah dan Sukijan hampir berbarengan,"Dengan jumlah korban bertambah banyak, tentunya, ya Mbah Kyai."
“Wallahu ‘alam bishawab!” sahut Guru Sufi bersiap-siap akan masuk ke musholla,"Tapi mudah-mudahan tidak diikuti penjarahan-penjarahaan massal."
"Lho Mbah Kyai, saya justru mengharap ada penjarahan," sahut Sukijan cengingisan,"Karena saya sudah mengincar rumah kepala sekolah di kampung sebelah yang sekarang menjadi OKB - Orang Kaya baru!"
"Ah pikiranmu itu ngeres, ayo cuci bersih dengan ibadah!" sahut Guru Sufi masuk Musholla
Oleh Agus Sunyoto
0
komentar
Label:
Tasawuf
Zaman Palsu ditimpa Bencana (AGus Sunyoto)
Diposting oleh Goze IsnoZaman Palsu ditimpa Bencana
Dalam sebuah Sarasehan bertema ‘Bencana Alam dan Bencana Kemanusiaan di era Global dalam pandangan sufisme’ yang diselenggarakan Institut Keagamaan Al-Azhar dengan narasumber Guru Sufi, seorang dosen senior bernama Ulul Albab memunculkan pertanyaan yang selama ini dianggap telah membingungkannya, yaitu seputar kebijakan aneh dan tidak terfahami Yang Mahakuasa terhadap saudara-saudara sebangsanya yang sangat keras. “Entah atas pertimbangan apa, kita semua mendapati Yang Mahakuasa dengan amarah berkobar-kobar telah menimpakan adzab berupa bencana sambung-menyambung kepada saudara-saudara sebangsa kita dalam bentuk gempa bumi, air bah Tsunami, tanah longsor, lumpur Lapindo, hujan dan angin puyuh, angin puting beliung, banjir bandang,pPohon-pohon tumbang, banjir rob, kebakaran kampung, kebakaran hutan, kebakaran pasar, serangan virus flu burung, kepungan virus flu babi, serbuan ulat bulu, naiknya lintah laut ke darat, tawuran massal antar kampung, tawuran missal antar fakultas, tawuran antar pelajar, kecelakaan massal di laut dan di darat dan di udara, wabah DBD, wabah ISPA, diare, Malaria, HIV/AID, dst, dst...dengan korban beratus-ratus ribu orang. Kenapa ini bias terjadi, wahai Pak Kyai?” tanya Ulul Albab serius.
Guru Sufi memandang tajam ke arah Ulul Albab. Beberapa jenak kemudian, Ulul Albab melanjutkan kata-kata, “Semua petaka itu mengherankan saya, Mbah Kyai. Sebab di tengah arus globalisasi sekarang ini, selain saya saksikan suasana tenang dan damainya kehidupan di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipinna, dan Australia, saya mendapati kegiatan keagamaan yang dilakukan masyarakat sebangsa kita berkembang lebih menggembirakan. Fakta menunjuk bagaimana masjid-masjid mewah berkubah emas dibangun masyarakat, pengajian-pengajian dilakukan umat di kantor-kantor, hotel-hotel, sekolah-sekolah, radio dan televisi, artis-artis dan pelawak-pelawak pun pintar berceramah agama, partai-partai politik diagamakan, ibadah umroh dan haji dimudahkan dengan KBIH-KBIH dan biro-biro perjalanan sehingga umat berbondong-bondong berangkat seperti wisata, amar makruf nahi munkar dilakukan dengan tegas oleh kelompok-kelompok umat yang militan, gerakan aksi menentang pornografi dan pornoaksi marak dilakukan, makanan dan minuman sudah diberi label halal oleh Majelis Ulama sehingga tidak membuat orang ragu-ragu dalam memakan makanan, pendek kata semua kegiatan keagamaan dilakukan oleh bagian terbesar bangsa kita dalam berbagai kesempatan. Tapi kenapa hasilnya justru bencana yang menimpa bangsa kita? Kenapa ini bisa terjadi, Mbah Kyai? Bukankah yang pantas ditimpa bencana itu adalah umat-umat kufur dan munafik dan zhalim seperti umat di jaman Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Shaleh, Nabi Syu’aib, Nabi Musa AS?”
Guru Sufi diam. Ulul Albab dan semua peserta sarasehan juga diam. Ulul Albab merasa, semua peserta sepertinya membenarkan keheranannya yang seperti menggugat ‘ketidak-adilan’ Yang Mahakuasa. Namun setelah hening beberapa jenak, Guru Sufi balik bertanya,”Apa sampeyan pernah makan bakso?”
“Tentu saja pernah, Mbah Kyai,” jawab Ulul Albab heran dengan pertanyaan Guru Sufi yang dianggapnya tidak relevan dengan pertanyaannya,”Memangnya ada kaitan apa pertanyaan saya dengan bakso, Mbah Kyai?”
“Apakah sampeyan yakin kalau pentol bakso itu terbuat dari daging sapi dan tepung yang benar-benar murni bahannya? Apakah sampeyan yakin di dalam pentol bakso itu tidak ada campuran bahan borak, formalin, daging tikus, daging babi? Apakah sampeyan juga yakin kalau saus bakso dibuat dari tomat asli dan tidak dari bahan pepaya dan ubi yang dicampur cat pewarna dan formalin dan essense rasa tomat?” ujar Guru Sufi.
Ulul Albab diam. Semua peserta sarasehan saling pandang satu sama lain. Lalu diam.
“Di jaman global ini,” sahut Guru Sufi seperti menjawab pertanyaannya sendiri, “Kalau kita melihat sesuatu hanya dari tampilan yang tampak di permukaan, maka kita akan tertipu oleh panca-indera kita yang terbatas sebagaimana kita melihat bakso dengan sausnya. Sebab masyarakat di jaman global ini adalah masyarakat konsumer yang hidup dikelilingi rimba raya komoditi, iklan, tontonan, kuis, produk-produk, status, simbol, prestasi, dan prestise palsu. Dikatakan palsu, karena jika kita mencermati dengan nurani yang bersih tentang apa yang sejatinya ada dan terproses di balik tampilan-tampilan segala sesuatu di sekitar kita, maka kita akan menemukan betapa di hampir seluruh sisi kehidupan yang tampak di sekitar kita, sejatinya diliputi oleh kepalsuan-kepalsuan yang menyesatkan.”
“ Kita mau mengkonsumsi bakso, roti, susu, telur, krupuk, ikan asin, terasi, petis, daging ayam, daging sapi, buah-buahan, sayur-sayuran, bumbu, minyak goreng, atau permen saja sudah sangat sulit menemukan yang benar-benar terbuat dari bahan alami, murni dan sehat. Kita hampir selalu menemukan segala sesuatu yang kita konsumsi dibuat dari campuran bahan tiruan, zat pengawet, zat pewarna, zat pengempuk, insektisida, dan bahan-bahan sintetis palsu. Kita mendapati hampir semua produk makanan, minuman, pakaian, perhiasan, alat elektronik, ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan, status, simbol, dan prestise-prestise bersifat virtual. Palsu. Dengan mata hati yang jernih, kita akan melihat bahwa hidup kita ini benar-benar dikelilingi belantara kepalsuan. Imitasi. Manipulasi. Sintetik. Tiruan. Gadungan. Virtual.”
“Apakah memakan bahan makanan yang palsu bisa membuat kehidupan orang menjadi penuh kepalsuan, Mbah Kyai?” tanya Dalgejo yang duduk di samping Ulul Albab.
Seperti tak perduli dengan pertanyaan Dalgejo, Guru Sufi berkata keras,”Umat di jaman Global ini, sedang sibuk mengembangkan disiplin pengetahuan baru yang disebut scientific virtual, yaitu ilmu pengetahuan membuat segala sesuatu yang palsu. Jadi apa pun yang ada direkayasa sedemikian rupa menjadi tiruan, imitasi, sintetik, virtual, palsu. Bukan hanya makanan yang menggunakan bahan-bahan sintetik palsu, melainkan fisik manusia pun diubah menjadi palsu mulai hidung palsu, dagu palsu, alis mata palsu, payudara palsu, sampai keperawanan palsu. Sungguh, kita sekarang ini hidup di dunia yang palsu dan sengaja dibikin palsu, sehingga hampir tidak ada sesuatu yang asli. Jangankan bahan makanan, janji pun dibikin menjadi janji palsu. Bahkan sekarang ini, ke mana pun kita berada, selalu dikelilingi segala yang serba palsu mulai SIM palsu, ijazah palsu, sertifikat tanah palsu, uang palsu, polisi palsu, tentara palsu, pejabat Negara palsu, undang-undang palsu, surat keputusan mahkamah palsu, pemimpin palsu,guru palsu, nabi palsu, agama palsu, bahkan tuhan palsu.”
“Waduh bagaimana ini, Mbah Kyai, kalau semua sudah jadi palsu?” tanya Dalgejo.
“Ya yang bias bertahan hidup adalah manusia-manusia palsu dengan jiwa palsu.”
“Manusia palsu berjiwa palsu, bagaimana itu maksudnya, Mbah Kyai?” tanya Dalgejo.
“Ya manusia yang fisiknya dibentuk dari sel-sel tiruan sehingga membentuk organ yang disebut Cyborg – Cybernetic Organism,” kata Guru Sufi menjelaskan,”Sedang jiwanya bukanlah jiwa manusia melainkan jiwa siluman pesugihan seperti Nyi Blorong, Babi Ngepet, Tuyul, Kebleg, sehingga apa pun yang mereka lakukan adalah semata-mata untuk menumpuk harta benda sampai dirinya tertimbun di bawah benda-benda dan status-status.”
“Mengerikan sekali, Mbah Kyai. Tapi bagaimana caranya agar saudara-saudara kita bisa sadar kembali bahwa mereka sejatinya sudah tergoda oleh setan.”
“Caranya adalah sesuai jawaban untuk pertanyaan saudaramu, Pak Ulul Albab yang kebingungan menyaksikan fenomena sekitar bencana alam dan musibah yang secara ganti-berganti menimpa bangsa yang kelihatannya qana’ah, wara’, jujur, ikhlas, tan pamrih, sebagai orang-orang beriman dan bertaqwa ini. Maksudnya, bencana yang dicurahkan Tuhan untuk bangsa ini, semata-mata untuk membersihkan jiwa mereka dari hantu pesugihan yang gelap mata dan gelap pikiran yang terselubungi benda-benda,” kata Guru Sufi.
“Alamak, bisa-bisa awak ikut kena bencana,” sahut Sukijan yang duduk di belakang Ulul Albab,”Karena hati awak masih penuh sesak dijejali benda-benda dan hewan buas yang serakah.”
0
komentar
Label:
Tasawuf
Tingkatan Keburukan Akhlak
Diposting oleh Goze IsnoTingkatan keburukan akhlak dibagi menjadi 4 macam
1) Keburukan akhlah timbul dikarenakan ketidaksanggupan seseorang mengendalikan hawa nafsunya
2) Perbuatan yang diketahui keburukannya, tetapi ia tidak bisa meninggalkannya karena nafsu sudah menguasai dirinya
3) Perbuatan akhlak yang bruk disebabkan pengertian baik baginya telah kabur, sehingga perbuatan buruklah yang dianggap baik.
4) Perbuatan yang buruk yang sangat berbahaya di masyarakat, sedangkan tidak ada tanda perubahan kesadaran kearah baik padahal segla daya sudah dilakukan untuk terjadinya perubahan.........(Akhlak Tasawuf)
0
komentar
Label:
Tasawuf
Pesantren Palsu Santri Gadungan
Diposting oleh Goze IsnoPada saat membincang kasus polisi di Bima dibunuh santri, Sufi tua mendapat telepon dari Johnson, keponakannya yang menjadi aktivis LSM di ibukota. Dengan rasa penasaran Johson menanyai ini dan itu seputar fenomena ekstrimitas santri yang tanpa hujan dan tanpa angin citra dirinya tiba-tiba berubah menjadi seram dan menakutkan. Santri yang selama ini dikenal agak kuper, penurut, lugu, kolot, dengan sarung, kopiah dan bakiaknya, tiba-tiba berubah menjadi monster menyeramkan. “Ini fenomena apa, pakde, apa pertanda pesantren akan jadi sarang teroris?” tanya Johnson keras sampai suaranya terdengar oleh para sufi yang duduk di teras musholla.
“Siapa bilang santri berubah jadi monster?” teriak Sufi tua menolak simpulan Johnson,”Apa kamu tidak melihat seragam khas yang dipakai santri pembunuh polisi itu? Apa kamu tidak melihat bagaimana para ustadz dan santri di pesantren Musailamah itu seragamnya? Jangan terlalu cepat mengambil simpulan sebelum tahu benar seragam yang digunakan orang yang mengaku santri.”
“Apa pakde, seragam?” seru Johnson tertegun,”Memangnya santri pakai seragam?”
“Ya pasti toh,” sahut Sufi tua ketawa terkekeh,”Kalau santri bener, pasti pakai seragam khas berupa sarung, baju takwa, peci, bakiak atau sandal jepit. Nah kalau santri gadungan, seragamnya celana cingkrang di atas mata kaki, kopiah putih, kening hitam bekas dibentur-benturkan ke lantai, kumis dicukur klimis, janggut menggantung.”
“O iya pakde, pesantren Musailamah di Bima itu pakai seragam yang kedua, berarti mereka itu santri gadungan ya pakde. Kenapa bisa disebut gadungan pakde? Kenapa pula pesantrennya disebut pesantren palsu?” seru Johnson ingin tahu.
“Disebut santri gadungan dan pesantren palsu, karena identitas itu sengaja dipakai untuk menjalankan skenario yang dirancang kapitalisme global, sesuai yang sudah ditulis Samuel Huntington dalam The Clash of Civilization,” kata Sufi tua dengan suara tinggi.
“Bagaimana pakde bisa simpulkan pesantren Musailamah itu sebagai palsu dan santri itu sebagai santri gadungan?” tanya Johnson ingin tahu.
“Lho kamu pikir istilah pesantren itu dari bahasa Arab?” sahut Sufi tua menjelaskan asal-usul sebutan santri dan pesantren,”Itu istilah Jawa asli yang dipungut dari istilah lembaga pendidikan Hindu-Buddha. Lembaga itu disebut Dukuh, sedang penghuninya yaitu siswa-siswa yang belajar di Dukuh disebut sebagai sashtri, yaitu orang yang mempelajari sashtra (kitab suci). Untuk membedakan siswa-siswa beragama Hindu-buddha yang sering disebut sashtri, maka siswa-siswa yang beragama Islam disebut santri. Dan tempat para santri bukanlah dukuh, melainkan pe-santri-an yang dilafalkan pesantren. Begitu ceritanya.”
“Woo begitu ya ceritanya,” gumam Johnson terheran.
“Nah sekarang, masuk akal tidak orang-orang berfaham Wahafi-Salabi al-Badui membangun lembaga pendidikan dengan memungut nama Hindu-buddha? Masuk akal tidak, penganut Wahafi-Salabi Al-Badui merelakan dirinya disebut sebagai santri, yaitu istilah agama lain yang menurut mereka akan masuk neraka?” tanya Sufi tua.
“Woo bener juga pakde,” sahut Johnson menggerutu,”Mana mungkin orang suci ahli surga mau merendahkan diri dengan memakai gelar yang berasal dari agama non-muslim, santri?”
“Kalau sudah begitu, jangan gampang menyimpulkan kalau sekarang ini santri sudah berubah dari citranya yang khas gara-gara ada santri gadungan membunuh polisi,” kata Sufi tua.
“Bagaimana pakde bisa yakin kalau santri asli tulen sejati tidak akan pernah bisa menjadi orang ekstrim?” tanya Johnson ingin tahu.
“JASMERAH, wasiat Bung Karno, yang bermakna Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Jadi keyakinanku itu atas dasar pengalaman sejarah.Maksudnya, sejak Proklamasi dikumandangkan Soekarno-Hatta yang dilanjutkan pembentukan Negara Kesatuasn Republik Indonesia pada Agustus 1045, sampai sekarang ini santri dan pesantren tidak pernah melakukan pengkhianatan. Maksudku, fakta sejarah menunjuk, tidak pernah ada santri atau pesantren yang terlibat gerakan makar terhadap republik tercinta ini,” kata Sufi tua.
“Apa iya begitu pakde?” sahut Johnson tidak terima,”Bukankah pernah terjadi pemberontakan DI/TII yang melibatkan kalangan santri?”
“Semprul temen arek iki, asal ngomong gak faham sejarah,” sahut Sufi tua menggerutu, ”DI/TII itu tidak ada hubungannya dengan pesantren dan santri. Soalnya, tokoh tertinggi DI/TII yang bernama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo itu bukan santri dan sekali-kali bukan orang didikan pesantren, melainkan orang didikan kampus dari fakultas kedokteran di Surabaya. Kahar Muzakkar pun bukan santri, melainkan orang didikan sekolahan dari mualimin Yogya. Sementara santri-santri asli didikan pesantren seperti Kolonel Kyai Iskandar Sulaiman, Kolonel Kyai Munasir Ali, Kolonel Kyai Sulam Samsun, dan tokoh-tokoh militer berlatar pendidikan pesantren seperti Kyai Zarkasi, Kyai Syam’un, Kyai Yunus Anis, Kyai Duryatman, dll berada di pihak NKRI. Asal kamu tahu, sejarah mencatat para kyai berlatar pendidikan pesantren, ikut membidani lahirnya TNI sejak BKR, TKR, TRI sampai TNI.”
Johnson terdengar ketawa terbahak-bahak,”Para kyai ikut membidani lahirnya TNI? Aneh bin ajaib, pakde. Mana mungkin santri bisa ikut membidani lahirnya TNI? Lhawong daftar tentara itu saja ijazahnya pesantren tidak laku.”
“Semprul temen arek iki, dasar gak ngerti sejarah,” sahut Sufi tua dengan suara ditekan tinggi,”Kamu harus tahu le, waktu Oktober 1943 Saiko Sikikan selaku pimpinan tertinggi Dai Nippon di Indonesia membentuk satuan para militer yang disebut Pembela Tanah Air disingkat PETA sejumlah 60 batalyon. Nah, dari 60 batalyon itu, yang 20 batalyon dipimpin oleh 20 orang kyai yang berpangkat Daidancho (mayor). November 1944 Dai Nippon membentuk lagi satuan paramiliter khusus muslim yang disebut Hizbullah di mana dari Hizbullah itu terbentuk satuan-satuan paramiliter dengan komandannya di daerah-daerah. Jadi saat Indonesia butuh tentara, yang maju ke depan sekali adalah PETA dan Hizbullah diikuti bekas Heiho dan KNIL serta anggota masyarakat. Itu sebabnya, kenapa pesantren terus-menerus membela NKRI dalam keadaan apa pun dan bagaimana pun.”
“Jadi pakde?”
“Kalau ada yang mengaku santri lalu mengacau negara apalagi jadi teroris yang membunuh aparatur negara, bisa dipastikan itu adalah santri palsu. Mereka menggunakan istilah santri dan pesantren, untuk memuluskan skenario Samuel Huntington tentang kemunculan kekuatan Islam yang akan menjadi musuh bagi Barat yang diwakili White Anglo Saxon Protestant. Jadi cukup menggunakan istilah pesantren dan santri, mereka yakin telah bisa mengklaim bahwa seluruh umat Islam Indonesia yang mayoritas adalah ahlussunnah wal-jama’ah adalah ekstrim dan teroris. Mereka ahistoris. Tidak tahu sejarah. Jadinya, siasat licik mereka sia-sia. Tidak ada satu pun pesantren dan santri yang berfaham ahlussunnah wal jama’ah mau membela bahkan sekedar mau mengakui kelompok Wahafi-Salabi Al-Badui itu sebagai bagian dari saudara mereka.”
“Woo begitu tah pakde,” sahut Johnson senang,”Sekarang faham saya kalau ternyata sekarang ini lagi musim kemunculan pesantren palsu dan santri gadungan. Ya palsu dan gadungan. Karena sepanjang sejarah, ternyata tidak ada pesantren dan santri berpaham selain ahlussunnah wal-jama’ah.”
(Agus Sunyoto)
0
komentar
Label:
Tasawuf
Hadits Shahih pun Diputar-balik Wahabi-Salafi
Diposting oleh Goze IsnoPulang dari Umroh bulan Rajab, Dullah ke pesantren dengan membawa kitab-kitab pesanan Guru Sufi yang dibelinya di Makkah, Madinah dan Beirut. Kitab-kitab pesanan Guru Sufi itu, dianggap aneh oleh Dullah, karena semuanya sudah ada di pesantren seperti kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad, al-Adzkar-nya Imam Nawawi, Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, Tafsir Ruh Al-Ma’ani-nya Syaikh Mahmud al-Alusi. Sepanjang perjalanan dari rumahnya ke pesantren, ia terus bertanya dalam hati tentang pesanan Guru Sufi atas kitab-kitab yang sudah ada di pesantren dan sering dijadikan acuan bagi pokok bahasan yang dibincang.
Di teras musholla, ternyata Dullah sudah melihat Guru Sufi duduk dikelilingi Sufi Sudrun, Sufi tua, Sufi Jadzab, Sufi Kenthir, Sufi Majnun, dan Sukiran. Pada saat Dullah memberikan kitab-kitab yang dikemas dalam kotak kardus itu kepada Guru Sufi, ia terkejut ketika tanpa disangka-sangka Sufi Jadzab berteriak keras,”Awas Kitab palsu! Waspadah! Awas kitab palsu bikinan badui bejat!”
Dullah celingukan seperti kera sirkus salah masuk kandang. Ia tidak tahu apa maksud Sufi Jadzab meneriakkan kata-kata tentang kitab palsu, padahal ia sedang memberikan kitab-kitab pesanan Guru Sufi. Apakah Sufi Jadzab menuduh kitab-kitab yang dibelinya sebagai kitab palsu? Atau jangan-jangan kitab yang dibelinya memang palsu?
Guru Sufi ketawa melihat Dullah salah tingkah. Setelah saling bersalaman dan berpelukan serta mengucapkan salam dan doa, Guru Sufi memberitahu Dullah bahwa kitab-kitab yang dibelinya itu ditengarai berisi kepalsuan yang disengaja. Sufi Jadzab, kata Guru Sufi, secara ruhani ternyata sudah menangkap kepalsuan-kepalsuan yang terdapat di dalam kitab-kitab tersebut meski belum membacanya. Guru Sufi memberi isyarat kepada Sufi Sudrun yang membawa kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Hajar al-Asqalani milik pesantren untuk mendekat. Begitu juga Sufi Kenthir yang membawa Shahih Muslim dan Musna Ahmad untuk mendekat. Guru Sufi sendiri meletakkan kitab al-Adzkar Imam Nawawi dan Diwan al-Imam Asy-Syafi’i serta tafsir Ruh al-Ma’ani Syaikh Mahmud al-Alusi dan sebuah kitab yang diletakkan di samping kirinya.
Sufi Majnun dengan gerakan cepat mendekat dan mengambil kitab Shahih Bukhari dari dalam kotak kardus. Kemudian dengan cepat ia membandingkan isi Shahih Bukhari yang dibawanya dengan isi Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari yang dibaca Sufi Sudrun. Lalu dalam hitungan satu menit, Sufi Majnun berteriak,”Laknatullah, Pasal Al-Ma’rifah bab al-Mazhalim tidak ada di sini. Sengaja dihapus. Kalimat-kalimat juga banyak dihilangkan mulai kata pendek seperti “qaulahu: ‘asaathiir”, “qaulahu: yalqii Ibrahiim ‘abaahu ‘Azhar” hingga nama penutur hadits seperti “qaulahu : ‘ala rqam anfa Abi Dzaar”, “qaulahu: wa al-Harts”, “qaulahu: Nuaim bin Abdullah”, waduh banyak sekali yang dihapus.”
Setelah meletakkan Shahih Bukhari, Sufi Majnun mengambil hadits Shahih Muslim dan membacanya untuk dibandingkan dengan bacaan Shahih Muslim Sufi Kenthir. Ternyata, dalam bab Fadhail Khadijah – Keutamaan-keutamaan Khadijah r.a. – terjadi keanehan dari hadits Shahih Muslim yang dibaca Sufi Majnun. Dikatakan aneh, sebab dalam bab fadhail Khadijah itu tidak terdapat satu pun bahasan tentang keutamaan Khadijah sebagaimana terdapat pada Shahih Muslim terbitan lawas. Alih-alih dalam bab Fadhail Khadijah itu tidak terdapat hadits tentang Khadijah, justru yang muncul nama Maryam binti Imran, Asiyah isteri Fir’aun dan Aisyah binti Abu Bakar. “Wah orang-orang badui goblok itu tidak cermat menghapus hadits. Harusnya, bab fadhail Khadijah dihapus jika hadits yang membahas keutamaan Khadijah dihapus. Ini judulnya tidak dihapus tapi isinya dihapus. Jadi pembaca yang paling bodoh sekali pun akan tahu bagaimana gobloknya badui,” kata Sufi Majnun.
“Wahahaha, aku usul,” kata Sufi Jadzab dengan suara tinggi,”Hadits Qudsy tentang Sifat Nabi Saw dalam taubat diganti saja menjadi Sifat Musailammah LMQIJ (la’natullah minal qubr ila al-jahannam) dalam menipu umat. Hadits bab Balasan Memusuhi Wali-wali Allah diganti menjadi bab balasan Iblis kepada kaum yang memusuhi badui-badui penipu!”
Para sufi ketawa. Tapi Guru Sufi tiba-tiba melafazkan hadits Imam Ahmad dari kitab Musnad tentang muakhat riwayat Hudzaifah ibnu al-Yiman tentang Nabi Saw yang mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Nabi Saw juga mempersaudarakan antara seseorang dengan sesamanya yang sederajat, kemudian Nabi Saw mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib r.a dan berkata,”Ini adalah saudaraku!” Usai melafazkan hadits itu, Guru Sufi diam. Matanya memandang ke arah Sufi Majnun yang membolak-balik halaman kitab Musnad tapi tidak menemukan hadits yang dilafazkan Guru Sufi.
“Sudah tidak usah dicari,” kata Guru Sufi,”Hadits itu sudah dihilangkan.”
“Wah kalau orang sudah menghalalkan semua cara untuk membenarkan agamanya, termasuk memutar-balik dan menghilangkan hadits-hadits, pastilah bukan orang benar. Akhlak itu pasti akhlak penjahat akhlak penipu dan pendusta seperti Musailammah Al-Badui Al-Najdi Al-Kadzab,” kata Sufi Majnun geleng-geleng kepala.
Guru Sufi tiba-tiba mendendangkan syair dari Diwan al-Imam asy-Syafi’i yang makna terjemahannya:
Jadilah fakih dan sufi sekaligus/
jangan hanya salah-satunya/
Sungguh demi Allah/
aku ingin memberi nasehat kepadamu.
“Waduh guru,” seru Sufi Majnun keras,”Bagian itu hilang di buku yang dibeli Dullah di Makkah. Ini kesengajaan yang benar-benar goblok. Karena kitab-kitab Diwan terbitan Beirut dan Kairo, tidak menghapus bagian itu.”
“Coba kalian baca kitab al-Adzkar Imam Nawawi!” kata Guru Sufi.
Sufi Majnun dan Sufi Kenthir berlomba membaca al-Adzkar. Pada saat membaca bab haji tentang anjuran (istihbab) berziarah ke makam Rasulullah Saw, kedua tiba-tiba berhenti. Sebab pada kitab al-Adzkar yang dibaca Sufi Majnun, bunyi pasalnya bukan ‘ziarah ke makam Nabi Saw’ tetapi berubah menjadi ‘pasal tentang ziarah ke masjid Nabi Saw. “He bagaimana ini, ziarah ke makam kok diubah menjadi ziarah ke masjid?” gumam Sufi Majnun mendecakkan mulut.
“Coba kalian baca tentang al-Utbiy!” kata Guru Sufi.
Membolak-balik halaman untuk mencari bagian al-Utbiy selama beberapa menit, Sufi Majnun tidak menemukannya. Sufi Kenthir kemudian membaca tentang al-Utbiy – guru Imam Asy-Syafi’i – yang pernah menyaksikan seorang Arab badui berziarah dan bertawassul kepada Nabi Saw. Al-Utbiy bermimpi ketemu Rasul Saw di mana dalam mimpi itu Rasul Saw menyuruh al-Utbiy untuk memberitahu kepada badui itu bahwa ia diampuni Allah berkat ziarah dan tawassulnya kepada Rasul Saw itu. “Wah wah, kitab di Makkah dan Madinah ternyata sudah dimanipulasi semua oleh badui,” seru Sufi Majnun melemparkan kitab al-Adzkar yang dibeli Dullah di Makkah.
“Maaf Mbah Kyai,” sahut Dullah yang sejak mula hanya diam kebingungan,”Apakah semua kitab yang dipesan Mbah Kyai itu memang sudah dipermak sedemikian rupa oleh kaum badui beragama Wahafi-Salabi sehingga berubah isinya?”
“Ya benar itu,” sahut Guru Sufi mengangkat sebuah kitab ke atas ,”Aku ingin membuktikan kebenaran sebagian isi kitab ini!”
“Itu kitab apa, Mbah Kyai?” tanya Dullah ingin tahu.
“Ini kitab tulisan Syaikh Idahram yang mengungkap kebohongan publik penganut Salafi-Wahabi dalam memalsukan kitab-kitab ulama klasik,” kata Guru Sufi.
“Ooo Salafi-Wahabi memalsu kitab-kitab kuning klasik, toh Mbah Kyai?” gumam Dullah.
“Hemmm!” kata Guru Sufi memberikan buku itu kepada Dullah,”Bacalah! Moga engkau akan lebih faham siapa sejatinya orang-orang yang dimurkai dan disesatkan Allah!”
Di Tulis Oleh Pak AGus SUnyoto
0
komentar
Label:
Tasawuf
Minggu, April 17, 2011
Penghalang Doa
Diposting oleh Goze IsnoDikisahkan, bahwa di zaman Nabi Musa AS, Bani Israil dilanda kekeringan panjang. Tumbuh-tumbuhan kering dan hewan-hewan mati bergelimpangan. Untuk mengatasi kekeringan yang mematikan itu, Nabi Musa AS dan tujuh puluh orang pemimpin puak-puak Bani Israil keturunan nabi keluar ke tengah padang dan berdoa memohon pertolongan Allah. Mereka menunjukkan kebenaran dan ketundukannya. Dengan merasa diri hina dan penuh ketundukan, mereka mendekatkan diri sebagai hamba yang lemah tak berdaya. Selama tiga hari mereka menangis dengan harapan doa mereka dikabulkan, tetapi hujan tidak turun juga.
Setelah melihat doanya belum terkabul, Nabi Musa AS berkata,”Ya Allah, Engkau telah berfirman “berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya”. Sungguh, kami semua telah berdoa kepada-Mu dan hamba-hamba-Mu sangat membutuhkannya dan sudah pula menghinakan diri di hadapan-Mu.” Lalu Allah bersabda kepada Nabi Musa AS,”Wahai Musa, sesungguhnya di dalam kaummu banyak orang yang makanan mereka berasal dari sebab haram. Juga banyak yang menjulurkan lidahnya untuk ghibah dan mengadu-domba. Mereka berhak mendapatkan amarah-Ku. Sedangkan engkau meminta rahmat untuk mereka. Bagaimana mungkin dapat bertemu antara rahmat dan azab?”
Nabi Musa AS bertanya,”Siapakah mereka itu wahai Tuhanku, sehingga kami bisa mengeluarkan mereka dari golongan kami?” Allah berfirman,”Wahai Musa, aku bukanlah Dzat yang membeberkan kesalahan dan bukan pula pengadu domba. Tetapi bertobatlah kalian dengan hati yang ikhlas. Mudah-mudahan mereka juga ikut bertobat bersama kalian, sehingga Aku berbuat dermawan kepada kalian semuanya.”
Nabi Musa AS dan ketujuh puluh orang pemimpin puak-puak Bani israil itu mengumpulkan semua Bani Israil. Setelah berkumpul, Nabi Musa AS memberitahukan kepada mereka tentang wahyu Allah itu. Orang-orang Israil yang maksiat ikut mendengarnya. Mereka ketakutan. Airmata mereka mengalir. Lalu bersama-sama dengan Bani Israil lain mereka bertaubat dengan berkata,”Ya Tuhan kami, kami dating kepada-Mu dan lari menjauhi dosa-dosa kami, kami kembali mencari pintu ampunan-Mu. Kasihanilah kami, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.” Mereka terus berdoa seperti itu sampai turun hujan, sebagai bukti taubat mereka diterima Allah.
0
komentar
Label:
Tasawuf
Macam Macam Kejujuran
Diposting oleh Goze IsnoAda enam tingkatan kejujuran. Orang yang mencapai derajat kejujuran yang sempurna layak disebut sebagai orang yang benar-benar jujur, antara lain:
Pertama, jujur dalam perkataan, di setiap situasi, baik yang berkaitan dengan masalalu, kini dan yang akan datang. Kejujuran ucapan ini punya dua sisi kesempurnaan:
Waspada terhadap ucapan yang bersifat pamer. Walaupun ucapan itu sendiri benar adanya, tapi dipahami sebagai lawan kata dan kebenaran. Kedustaan yang diwaspadai dipahami sebagai lawan kebenaran, sebab hati mendapatkan bentuk kedustaan yang berasal dari dusta lisan. Dan bila arah hati telah bergeser dari kebenaran menuju arah yang menyimpang, maka kebenaran itu tidak dapat mengejawantah pada hati secara benar, sehingga penglihatan-penglihatan hati tidak benar/jujur pula. Penampakan amal itu tidak masuk dalam kategori ini sebab ia sendiri merupakan kejujuran, atau suatu hal yang benar adanya. Namun, penampakan amal itu terjerumus dalam larangan.
Masa bodoh terhadap arti ucapan. Ini tidak seharusnya dilakukan, kecuali dengan tujuan yang benar. Penyempurnaan sisi kedua ini adalah hendaknya memelihara kejujuran dalam seluruh pembicaraan bersama Allah Swt. Jadi, ketika mengucapkan, ”Aku hadapkan wajahku,” kemudian dalam hatinya terbetik sesuatu selain Allah, maka dia itu adalah pendusta.
Selanjutnya, pada saat mengucapkan, “Kepada-Mu aku menyembah,” padahal dirinya adalah budak dunia atau budak hawa nafsunya, atau budak orang lain, tentu sulit sekali pembenaran ucapan itu pada hari Kiamat nanti. Karena itulah, Nabi Isa as. berkata, “Wahai budak dunia!”
Dan Nabi Saw. kita bersabda: “Celakalah hamba dirham dan hamba dinar!” (Al-Hadis).
Kedua, kejujuran dalam niat. Hal itu berupa pemurnian, yang menjurus pada kebaikan. Jika di dalamnya terdapat unsur campuran lainnya, berarti kejujuran kepada Allah Swt. telah sirna. Karenanya, orang semacam itu disebut, “Si jujur bermuka masam, dan si jujur bermuka manis”.
Apabila murni, hal itu dikembalikan pada substansi keikhlasan itu sendiri.
Ketiga, kejujuran dalam bertekad. Seseorang bisa saja mempunyai tekad yang bulat untuk bersedekah bila dikaruniai rezeki. Juga bertekad untuk berbuat adil bila dikaruniai kekuasaan. Namun adakalanya tekad itu disertai dengan kebimbangan, tapi juga merupakan kemauan bulat yang tanpa keragu-raguan. Orang yang mempunyai tekad yang bulat lagi kuat disebut sebagai orang yang benar-benar kuat dan jujur.
Keempat, memenuhi tekad. Seringkali jiwa dibanjiri dengan kemauan yang kuat pada mulanya, tapi ketika menginjak tahap pelaksanaan, bisa melemah. Karenajanji tekad yang bulat itu mudah, namun menjadi berat ketika dalam pelaksanaan.
Oleh karena itu, Allah Swt. berfIrman: ”Ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (Q.s. A1-Ahzab: 23).
Allah swt. juga berfirman: “Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah ... dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga,) karena mereka selalu berdusta.” (Q.s. At-Taubah: 75-7).Kelima, kejujuran dalam beramal. Tidak mengekspresikan hal-hal batin, kecuali batin itu sendiri memang demikian adanya. Artinya, perlu adanya keselarasan dan keseimbangan antara yang lahir dan yang batin. Orang yang berjalan tenang misalnya, menunjukkan bahwa batinnya penuh dengan ketentraman. Bila ternyata tidak demikian, dimana kalbunya berupaya untuk menoleh kepada manusia, seakan-akan batinnya penuh dengan ketentraman, maka hal itu adalah riya’. Sebaliknya, bila hatinya tidak berpaling kepada manusia, tapi tiba-tiba lalai, itu bukanlah riya’. Namun dengan demikian, kejujuran menjadi sirna, karenanya Rasulullah Saw. pun berdoa: “YaAllah, jadikanlah batinku lebih baik daripada lahirku, dan jadikanlah untukku ekspresi lahir yang baik.”
Abdul Wahid berkata, “Hasan Bashri adalah orang yang paling tekun melakukan amal yang diperintahkan, dan paling keras meninggalkan sesuatu yang dilarang. Aku belum pernah menyaksikan orang yang batinnya sama dengan lahirnya.”
Keenam, kejujuran dalam maqam-maqam agama. Ini adalah peringkat kejujuran tertinggi. Seperti maqam takut (khauf), harapan (raja’), cinta (hubb), ridha, tawakal dan lain-lain.
0
komentar
Label:
Tasawuf
Sisi sifat Baiknya Anjing
Diposting oleh Goze Isno“Sufi Hasan al-Bashri telah berwasiat tentang sepuluh sifat di dalam diri anjing yang mesti dimiliki oleh seorang beriman,” kata Guru Sufi menerangkan,”Pertama, anjing suka lapar, di mana itu menjadi kegemaran dan kebiasaan hidup Orang-orang Shalih. Kedua, anjing tidak memiliki tempat tinggal tertentu, di mana hal itu merupakan ciri-ciri dan tanda Orang-orang Tawakkal. Ketiga, anjing tidak tidur pada malam hari kecuali sedikit, itulah tanda-tanda kehidupan para Pecinta Tuhan. Keempat, anjing waktu meninggal dunia tidak meninggalkan warisan, itulah ciri dan tanda Orang-orang Zuhud. Kelima, anjing tidak pernah meninggalkan tuannya meski dihardik dan dijauhi, itulah tanda muriid yang benar dalam kesetiaan kepada gurunya. Keenam, anjing rela ditempatkan di tempat yang paling rendah sekali pun di muka bumi, itulah tanda dan ciri Orang-orang Tawadhu’. Ketujuh, anjing saat diusir dari satu tempat, dia akan meninggalkannya dan pindah ke tempat lain dengan sukarela, itulah tanda dan ciri Orang-orang Ridho. Kedelapan, anjing jika dipukul, diusir, diasingkan, dan dikecewakan, dia menerimanya dengan tulus dan tidak merasa dendam atas apa yang diterimanya, itu adalah tanda dan ciri Orang-orang Khusyuk. Kesembilan, saat makanan dihidangkan, anjing selalu duduk menunggu, itu ciri Orang-orang Fakir. Kesepuluh, anjing saat mengembara tidak pernah menengok ke tempat asalnya, itulah tanda dan ciri Musafir ruhani sejati.”
0
komentar
Label:
Tasawuf
Makanan Halal, Pentingkah????
Diposting oleh Goze Isnomanusia itu sedikit atau banyak pasti terpengaruh karakternya dengan apa yang dimakan, apa yang masuk ke mulutnya. Karena itu Allah memebrikan tuntunan dalam masalah makanan. Ini lho yang namanya agama, urusan kecil seperti makanan pun diatur. Sebab kalau makanan yang dimakan baik maka pikiran pun akan juga baik, hati akan baik, demikian juga dengan prilaku. Karena itu tuntunannya adalah bahwa makanan itu tidak cukup dengan halal saja tetapi juga toyibah.
Ada yang halal tetapi tidak baik, contohnya daging kambing itu halal, tetapi kalau bagi orang yang mempunyai sakit darah tinggi maka daging kambing itu halal tetapi tidak baik.
Bagai manusia yang hendak mendekat kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka hal pertama yang harus dijaga adalah apa yang masuk ke mulut dan apa yang keluar dari mulut. Yang masuk ke mulut yaitu makanan dan minuman, sedangkan yang keluar adalah kata. Kalimat dan ungkapan-ungkapan.
Ada seorang waliyullah yang ditanya bagaimana bisa mencapai maqom waliy, maka dijawab bahwa hal itu ditempuh dengan benar-benar mengabdi kepada Allah yang maha Agung dang menjaga makanan yang masuk ke mulut dengan yang halal saja, na’budu jalal wa na’kulul halal.
0
komentar
Label:
Tasawuf