Jumat, Juli 17, 2009

Istri Pertama


Dikisahkan ada seorang saudagar yang sangat kaya raya yang memiliki 4 istri. Suatu hari dia sakit. Sakitnya ternyata begitu parah sehingga mendekati sakaratul mautnya. Ketika mendekati sakaratul maut, sang saudagar mengumpulkan keempat istrinya tersebut. Setelah berkumpul sang saudagar bertanya satu per satu istrinya. Sang saudagar bertanya kepada istri ke empat, “wahai istriku, jika aku mati nanti, apakah engkau akan menemaniku?” mendengar pertanyaan ini istri keempat kemudian menjawab “ saya tidak sudi untuk menemanimu”. Mendengar jawaban istrinya tersebut sang saudagar bersedih hati. Kemudian dia beralih ke istri ke tiganya. Sang saudagar bertanya “wahai istriku, kalau aku mati nanti, maukah kamu menemaniku?” Istri ketiga menjawab “jika kamu mati, aku akan menikah lagi dengan orang lain yang lebih ta’jir dari dirimu” sang saudagar bersedih lagi mendengar jawaban istri ketiganya. Ia kemudian beralih ke istri keduanya dan berharap istri keduanya itu yang akan menemaninya “ istriku maukah kamu menemaniku nanti ketika aku mati?” istri kedua menjawab “ Aku akan menemanimu dan mengantarmu namun hanya sampai diliang lahat, setelah itu aku akan pergi meninggalkanmu” sang saudagar agak tentram namun ia tetap bersedih hati karena tidak ada yang menemaninya di alam kuburnya nanti. Dia hanya berharap kepada istri pertamanya, namun ada kekawatiran istri pertamanya itu tidak mau menemaninya, karena selama ini dia selalu menyia-nyiakannya. Namun dengan sedikit keberanian sang saudagar bertanya “istriku, maukah kamu menemaniku?” istri pertama diam sebentar, dan suasana begitu hening, tetapi kemudian dia menjawab “aku siap menemanimu kapan saja dan dimana saja sampai Alloh memutuskan yang terbaik untukmu”. Mendengar jawaban ini sang saudagar begitu bahagia. Karena selama ini istri yang ditelantarkan justru begitu setia menemaninya, walau di alam kubur sekalipun. Sang saudagar bersumpah jika masih ditaqdirkan hidup, ia akan memuliakan dia dan mengasihi dia selamannya.
Kawan!!!!!!cerita di atas adalah sebuah gambaran dan simbol dari sesuatu yang utama tetapi sering kita sepelekan. Emas kita anggap tai. Intan kita anggap kerikil. Besar kita anggap kecil. Kita sia-siakan kemuliaan dengan lebih menguatama sesuatu yang tidak mulia. Tahukah kawan??? Istri keempat tadi pada hakekatnya adalah jabatan/ kemasyhuran atau famaous yang sering dipuja-puja oleh sekian banyak orang. Namun ketika anda meninggal dia tidak mau menemanimu. Tahukah kawan? Istri ketiga adalah harta benda/ kekayaan/rich, banyaknya perhatian kita kepadanya toh dia tetap tidak sudi untuk menemaninya manakala kita dipanggil oleh Alloh untuk menghadapnya. Istri kedua adalah sahabat/famili/kerabat, sebaik-baik mereka, ketika seseorang meninggal mereka hanya mengantarkan kita sampai diliang lahat. Mereka tidak mau menemani kita di alam kubur. Tahukah kawan? Istri pertama tadi sebenarnya adalah amal sholihah kita. Amal sholihah itulah yang akan menemanimu untuk menghadap Alloh. Ia menemanimu di alam kubur. Ia menemanimu ketika malaikat mengintograsimu. Ia menemanimu ketika kamu digiring ke padang mahsyar. Ia menemanimu ketika Alloh memberikan keadilah kepada semua manusia di Istana pengadilan-Nya. Ia adalah istri dan teman yang paling setia menemanimu. Namun berapa banyak orang yang menyia-nyiakannya? Banyak orang lebih memburu kecantikan dunia. Mereka semua tertipu. Karena dibalik kecantikannya ternyata mengandung kepalsuan. Ia memang menggoda dan menggemarkan untuk diajak bercengkrama namun ternyata dia tidaklah setia. Dia hanya mau menemanimu ketika kamu manja dia. Kamu utamakan dia. Namun ketika kamu sudah tidak berdaya kamu ditinggal olehnya. Kerabat dan keluargamu yang kamu puja dan kamu ;pedulikan dalam seluruh umurmu sekalipun ternyata mereka tetap tidak mau menemani di kesendirian tidur panjangmu. Hanyal amal sholiha? Ya hanya amal sholiha yang terpancar dari kebeningan hati yang menemanimu. Ya! Mudah-mudahan kita semua tidak tertipu pada kecantikan istri ke empat dan ketiga sekaligus istri ke dua. Kita boleh “cinta” tetapi cinta yang tidak boleh mengalahkan cinta yang utama. Kita boleh menjadi kaya, menjabat dan lain sebagainnya namun jangan meninggalkan cinta utama. Karena cinta utama itulah cinta yang sebenarnya. Amin.

Kamis, Juli 16, 2009

Rintihan Sekolah Bertarif Internasional



Menjamurnya sekolah bertaraf Internasional di beberapa sekolah-sekolah SMA membawa dampak terhadap laju perkembangan dunia pendidikan dewasa ini. Di satu sisi, sekolah tersebut memiliki bargaining position (daya tawar) terhadap pangsa pasar dalam hal ini masyarakat, namun disisi lain membawa sebuah problem kontroversi terhadap kaulitas ke-Internasionalan-nya.

Keunggulan dan Kelemahan RSBI
Sekolah Bertaraf Internasional, harus diakui, pertama, menjadi dambaan setiap sekolah. Karena RSBI menjanjikan penggelontoran dana yang sangat begitu besar dari pemerintah. Seperti halnya SMA Khodijah Surabaya sebagaimana laporan harian Surya (14 Juli), mendapatkan dana bantuan dari pemerintah pusat Rp. 500 juta setelah tahun sebelumnya digelontor Rp. 300 juta. Dari dindik provinsi diberi bantuan sarana senilai Rp. 150 juta. RSBI juga memiliki kewenangan untuk mematok biaya tinggi kepada orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Menurut Surya, di SMAN 2 Pare Kediri yang menerapkan RSBI, sampai mematok orang tua untuk membayar 4 juta untuk kebutuhan fisik sekolah. Di beberapa Sekolah SMA Mojokerto yang menerapkan RSBI, dipatok menurut kemampuan biaya, tentunya orang tua yang mampu menyumbangkan uang yang terbanyak. Kedua, RSBI memiliki image internasional. Karena RSBI mengharuskan sekolah mengacu kepada kurikulum Internasioanl. Yakni kurikulum dari Cambridge. Kurikulum Cambridge mengharuskan sejumlah pelajaran harus menggunakan bahasa Inggris. Pelajaran itu adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Sains (Fisika, Biologi, Kimia), Humanity (Sosiologi, PPKN), social study (sejarah), Editional Math (matematika dan terapan).
Namun RSBI tidak luput dari kelemahan dibalik keunggulannya. Pertama, karena biaya RSBI mahal, maka yang memiliki kemampuan untuk masuk ke RSBI hanyalah anak-anak yang orang tuanya berduit saja. Meskipun dalam tes masuk RSBI ada tes tertulis, namun jika lulus tes tulis tetapi tidak bisa menyumbangkan dana besar kepada sekolah, jangan diharapkan anak tersebut bakal mencicipi sekolah bertaraf Internasional tersebut. Maka jangan heran jika nanti RSBI hanya akan dihuni oleh anak-anak orang kaya tetapi keropos otaknya. Karena yang diukur bukan tes akademiknya, namun seberapa besar sumbangannya. Bukan kualitasnya yang bertaraf Internasional namun tarifnya saja yang bertarif Internasional. Kedua, karena dalam RSBI harus menggunakan standar Internasional, maka diperlukan kaulitas-kualitas guru yang mumpuni, khususnya secara akademik syarat menjadi RSBI sebagaimana standar mutu pendidikan ISO 9001:2008 sekolah harus memiliki 30% tenaga pendidiknya sudah lulusan dari strata dua (S2) dan pengajarannya pun harus menggunakan bahasa Internasional. Kenyataannya dilapangan, masih banyak guru yang belum memiliki ijazah S2, dan belum banyak yang mahir menggunakan bahasa Inggris. Lalu bagaimana bisa menjamin sekolahnya bisa bertaraf Internasional? Jika perangkatnya saja belum siap. Bagaimana bisa menjamin sekolah tersebut sudah pantas dikatakan Internasional? Bagaimana bisa menjamin sekolah tersebut mampu bersaing secara internasional? Jangan-jangan sekolahnya saja seakan-akan Internasional tetapi tetap lokal. Sekolahnya lokal tetapi tetap lokal.
Ada beberapa selintingan dikalangan guru tentang RSBI, sejumlah guru yang ada di lingkungan RSBI, sebenarnya banyak yang menolak diadakannya RSBI, karena mereka belum siap baik secara akademis maupun mental. Namun karena kepala sekolahnya bersikeras dan mengancam akan memutasi jika tidak mau dan setuju dengan penerapan RSBI, maka apa boleh buat. Guru hanya prajurit, mungkin begitu yang bisa dikatakan. Siap tidak siap harus siap. Meskipun mereka tahu bahwa mereka tidak mampu.
Menata Sekolah Lokal rasa Internasional
Dengan menimbang keunggulan dan kelemahan RSBI, sekolah-sekolah lain diharapkan tidak latah untuk merubah menjadi RSBI jika perangkat-perangkat yang diprasyaratkan belum terpenuhi. Karena memaksakan kehendak namun tidak memiliki kemampuan maka akan menjadi blunder bagi sekolah tersebut. Dalam ukuran sederhana, jika siswa yang masuk RSBI ada yang tidak lulus dalam UNAS, maka akan dipertanyakan kualitas RSBI. Jika lulusan RSBI sama dengan lulusan kelas reguler biasa, maka perlu dipertanyakan kualitas dari RSBI itu. Karenanya diperlukan kearifan dari semua pihak untuk berpikir jernih dalam menata pendidikan supa lebih baik lagi.
Banyak sebenarnya sekolah-sekolah yang biasa namun jika dikelola secara baik akan menjadi sekolah luar biasa. Sekolah-sekolah lokal jika dikelola dengan baik maka akan menjadi sekolah lokal rasa Internasional. Bukannya cap yang kita butuhkan tetapi aksi nyata dan niat tulus untuk membesarkan kualitas pendidikan itu. Buat apa cap international tetapi rasanya tetap lokal? Bukankah lebih baik sekolah lokal rasa internasional? Dan yang lebih baik sekolah Internasional benar-benar rasa Internasional. Bukanya menolak RSBI, namun kita hendaknya menggunakan kearifan dalam mengukur diri. Mengukur kemampuan baik masyarakat yang ada disekitar maupun kemampuan akademis dari sekolah tersebut. Jika sudah terpenuhi, kenapa tidak boleh maju? Kemajuan adalah dambaan setiap manusia. Namun maju sendiri tanpa lihat kanan kiri maka akan menjadi manusia sombong ditengah ketidakmampuan. Sekolah hendaknya tetap ingat dengan fungsi dari sekolah itu sendiri. Fungsi dari sekolah adalah untuk proses pendidikan. Bukannya untuk ajang mencari bantuan. Atau untuk ajang pamer. Karena fungsiny adalah untuk proses pendidikan, maka seharunya dimaksimalkan dalam proses pendidikan itu sendiri. Sehingga benar-benar sekolah itu sesuai dengan khitahnya.

Mati Konyol



Habis subuh aku bertemu dengan seorang teman di Masjid. Aku bertanya “Sekarang kerja apa?” dia menjawab “aku belum bekerja. Sekarang ini susah mencari pekerjaan”. Saya bertanya “Sampean gak nyoba ke pabrik Tjiwi atau Ajinimoto, tapi katanya kalau mau masuk harus membayar dulu”. Dia menjawab“Walah saya tidak mau mas Isno, lebih baik saya ndak kerja saja. Daripada harus membayar, gajinya tidak halal nanti. Urusannya nanti sampek akherat. Hidup di dunia sudah susah, di akherat susah juga. Apa itu tidak mati konyol mas Isno.” Aku mengangguk-angguk tanda setuju. Setuju terhadap cara pandang dia terhadap kerja. Kerja yang halal yang didapat dari kehalalan. Kehalalan yang benar-benar halal. Tidak halal-halalan. Ada kan kerja yang halal tetapi haram. Contoh kerja dipabrik itu halal daripada kerja jual narkoba. Tetapi kerja dipabrik itu menjadi haram karena waktu mau masuk kerja itu memakai suap. Termasuk menjadi PNS itu halal, namun ketika masuk PNS menyuap menjadi haram. Makan kambing itu halal tetapi bisa menjadi haram kalau menyembelihnya tidak memakai bismillah, atau kambingnya hasil curian atau kambingnya menjadikan dia meninggal akibat darah tinggi atau kambingnya terkena penyakit misalnya Flu Kambing. Begitupun makan ayam, bebek, dara dll. Yang halal saja bisa menjadi haram apalagi yang haram pasti haram. Keharaman bisa menjadi halal jika ada unsur darurat contoh ketika manusia tersesat dan berhari-hari tidak makan, dan dia hampir-hampir mati, maka orang ini boleh untuk memakan ular jika sudah tidak ada lagi makanan lain, atau bangkai atau hewan-hewan yang haram. Karena ada unsur menyelematkan nyawa. Kembali ke pekerjaan!!!! Betapa banyak manusia terjebak dalam keinginan. Keinginan bekerja walau dengan cara gelap. Keinginan mendapat gaji lebih walau dengan cara-cara kotor. Keinginan mendapatkan pangkat/jabatan walau dengan sikut sana sikut sini. Dll. Tetapi anehnya mereka sadar bahwa itu perbuatan buruk. Itu perbuatan jahat. Bahkan jika mereka ditiupu mereka marah padahal dianya sering menipu. Mereka berbohong tetapi jika dibohongi tidak mau. Mereka mencuri padahal ketika dicuri mereka bersedih hati. Mereka suka menyakiti hati orang lain padahal ketika disakiti hatinya mereka berduka. Aneh....aneh....aneh. Mereka ingin masuk surga tetapi tidak pernah berusaha beramaliah solihah. Mereka ingin hidup bahagia tetapi tidak pernah berusaha mendapatkan kebahagiaan. Aneh-aneh....... padahal tujuan hidup jelas. Padahal kehidupan yang akan datang jelas. Mati. Akherat. Masuk surga atau neraka. Kalau sudah tahu dan yakin begitu kenapa tidak menyiapkan kesana dengan hati-hati menjalani kehidupan di dunia. Kenapa mereka hanya ngurus perutnya saja? Kenapa mereka tidak sadar bahwa kerja yang tidak halal menjadi mereka tergelincir masuk kelembah kenistaan?. Kenapa? Kenapa? Saya banyak melihat seorang guru untuk mendapatkan sertifikasi harus menipu data sana sini.....demi tunjangan.....lagi-lagi UUD (Ujung-ujungnya Duwit). Seorang guru berani memasukkan siswa walau danemnya rendah padahal untuk masuk kesekolah favorit itu harus danem tinggi....lagi-lagi UUD (Ujung-ujungnya Duwit). Pejabat yang berani memasukkan seseorang menjadi pegawai walau tidak memiliki kualifikasi keprofesionalan ujung-ujungnya duwit. Dll. Apa mereka tidak mengetahui suap maupun yang disuap itu sama-sama neraka. Apa itu tidak mati konyol. Bahagia belum tentu. Dapat uang paling sebentar sudah habis tapi dampaknya dunia akherat. Konyol-konyol......ayo mikir. Mikir. Kecuali jika kamu tidak percaya siksa kubur. Kecuali jika kamu tidak percaya siksa neraka. Atau kecuali jika kamu tidak percaya Alloh. Naudzubillah. Syetan dan Iblis saja masih percaya sama Alloh!!!!!!!!

Selasa, Juli 14, 2009

14-07-2009

Hati-hatilah kawan……!!!!!jangan sampai kamu sakiti hati seseorang. Karena sifat hati itu ibarat kaca. Jika sudah pecah sulit untuk digabung lagi.

Sabtu, Juli 11, 2009

Michael Jackson Oh Michael Jackson



Kematian Michael Jackson beberapa hari yang lalu sempat menggemparkan jagat dunia. Pasalnya tidak dinyana sang Raja Pop Dunia itu meninggal begitu cepat. Padahal dia akan melakukan konser diseluruh dunia. Sang Raja Pop meninggalkan kesan yang mendalam khususnya bagi pengagumnya. Kepiawian dia dalam menyanyi, kehebatan dia dalam menari serta ketenaran yang tak mampu tertandingi penyanyi di zamannya. Namun dia juga meninggalkan kesan kekontroversian, dari pergantian wajah, kulit hitam menjadi kulit putih, kriminalitas yang dia lakukan, pengasuhan anak, warisan, serta isu mualafnya yakni pergantian agamanya menuju Islam. Terlepas dari kehebatan maupun kekontroversialannya, dalam rubric ini saya ingin mengajak pembaca untuk melihat sisi lain dari Sang Maestro Pop tersebut. Saya menjadi teringat dengan sebuah kisah dari dunia sufi, ada seorang sufi sebelum dia beraktifitas dalam kehidupan sehari-harinya, dia selalu mengunjungi tiga tempat. Pertama dia selalu mengunjungi rumah sakit, kedua, sehabis dari rumah sakit terus dilanjutkan menuju rumah tahanan, habis itu dia menuju tempat pemakaman. Ketika ditanya, “wahai Fulan, kenapa kamu selalu mengunjungi ke tiga tempat itu, sebelum kamu melakukan aktifitas sehari-hari?” sang sufi menjawab “aku selalu mengunjung rumah sakit disebabkan dirumah sakit aku banyak mendapatkan pelajaran darinya. Aku melihat banyak orang yang sakit dari sakit jantung, strok, diabetes, gagal ginjal, paru-paru dll. Aku melihat banyak diantara mereka menderita karena sakitnya. Melihat itu muncul rasa syukurku kepada Alloh karena aku masih diberi kesehatan. Aku beruntung dengan kondisiku saat ini disbanding saudara-saudaraku yang lainnya yang ada di rumah sakit ini. Aku bersyukur dengan sehatku. Alhamdulillah….alhamdulillah. Kemudian sang penannya bertanya kembali “bagaimana dengan rumah penjara?” sang sufi menjawab “Aku mengunjungi rumah tahanan dikarenakan aku juga mendapatkan pelajaran yang berharga darinya. Aku melihat disana banyak orang yang tidak bebas hidupnya dikarena ulah mereka melakukan pelanggaran tata tertib masyarakat. Ada kasus korupsi, pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, narkoba, pencemaran nama baik dan lain sebagainya. Mereka mengajarkan kepadaku bahwa aku tidak boleh seperti mereka melakukan kejahatan kemanusiaan. Karena akan menyebabkan terkurungnya kebebasan hidupku. Aku bersyukur karena aku masih bebas di dalam melakukan segala sesuatu. Aku ingin mengisi kehidupanku yang lebih baik dan tidak terjeblos dalam penjara yang nista. Subhanalloh….subhanalloh……. Lalu kenapa kamu ke pemakaman? Sang penanya bertanya “ Aku dipemakaman melihat banyak orang-orang yang dulunya terkenal, orang kaya, pejabat tinggi, dan memiliki kemewahan-kemewahan dunia, namun toh mereka tidak membawa itu semuanya, semua kemewahan dunia itu tidak menyertainya di alam kubur, mereka terbujur kaku ke utara hanya ditemani amalnya saja. Karenanya aku mendapatkan pelajaran, jangan sampai aku terbujuk oleh dunia benda sehingga melupakan amalku untuk mempersiapkan menjadi teman di alam kubur kelak. Aku bersyukur masih diberi kesempatan oleh Alloh untuk beribadah mencari ladang amal untuk akherat kelak”
Cerita ini menginspirasiku untuk melihat sosok Jacko dari sisi lain. Jacko member pelajaran kepada kita dari sudut-sudut lain pada sisi drama kemanusiaan. Baik kita bisa melihat Jacko dari Pertama, Jacko memiliki harta benda yang sangat mewah. Konon dia memiliki area khusus untuk tempat tinggalnya serta untuk semua rekaman dirinya. Dia juga pernah dikabarkan memiliki perumahan di Arab. Harta benda yang dia raih diperoleh dari ledakan lagu-lagunya yang menghebohkan dunia. Ada jutaan kopi kasetnya telah terjual. Ada ribuan royalty yang mengalir. Dan harta benda yang melimpah lainnya. Namun, di akhir hidupnya, semua harta benda itu tidak dibawa serta ke pemakamannya. Walau ada emas yang menjadi petinya, itu hanya menemani jasad yang sebentar lagi akan membusuk. Sedangkan ruhnya yang hendak mempertanggungjawabkannya kepada Alloh tidak sudi membawa peti emas, karena ndak nyambong choi……… Harta bendanya?????? justru menjadi bahan rebutan warisan keluargannya. Keluarganya memperebutkan berapa bagian mereka mendapatkan peninggalan harta Jacko. Mungkin termasuk hutangnya……tetapi saya pikir ada ta manusia yang mau mewarisi hutang……paling-paling maunya harta mentahan saja…….tapi mudah-mudahan hutangnya dibayar, kasihan ruhnya nanti menggantung……… Ingat ternyata harta benda itu menjadi fitnah. Aku melihat di sisi ini. Mega konser yang mengiringi pemakaman hanya menjadi sebuah pesta semu ditengah kepiluan ditinggal sang maestro. Benarkah di alam sana, sang maestro bahagia? Bahagia mendapatkan alunan music? Padahal dalam ukuran budaya desa kami, jelas pesta kematian itu adalah sebuah keambiguan, sebuah paradox, derita namun diiringi dengan sebuah konser yang penuh dengan kemeriaahan. Wong kami yang mengadakan tahlilan dengan memberi tamu-tamu hidangan sekedarnya saja sudah dibid’ah-bid’ahkan, apalagi konser. Padahal yang nonton konser juga orang yang membid’ahkan…he….he….termasuk yang makan kenduriannya.
Kedua, Jacko memiliki prestasi yang gemilang. Ketenaran dan kemasyhuran ia raih. Dia dijuluki si Raja Pop. Siapa sih yang tidak tahu dia?. Anak-anak kecil saja tahu siapa Michael Jackson. Saya juga tahu meskipun tidak mengerti lagunya. Saya tahunya cuma njogetnya lucu….he…he maklum saya ini termasuk orang buta lagu music barat. Karena saya hanya tahu lagu barat itu cuma satu yakni “ cempe….cempe barato sing gedhe tak upahi dudoh tape…nek kurang mek’o dewe” he…he….kembali ke Jacko!!!!! Ketenarannya toh ternyata tidak menjadikan dia bahagia. Kenapa????? Pertama, jika kita melihat hutangnya yang menumpuk, menandakan bahwa dia itu mungkin memiliki keinginan yang tinggi yang selalu ingin dia raih. Model seperti ini selalu tidak tenang. Dia berambisi ini dan itu, tidak selalu puas dengan apa yang dimiliki. Hal ini menyebabkan kegersangan diri sendiri. Dia merasa belum memperoleh sesuatu. Dia terus ingin mengejar mimpi itu meskipun harus merogoh kocek dan hutang sana sini. Ini salah satu indikasi tersebut. Kedua, bergantinya wajah. Menurut saya, bergantinya wajah menandakan sebuah mind set yang kurang mapan. Dia lebih bangga dengan kulit putih daripada dirinya sendiri yang berasal dari keturunan Afrika. Jelas-jelas dia korban dan mind set salah dalam perubahan paradigm bahwa kulit putih adalah menjadikan dirinya lebih dibanding kulit hitam. Ketiga, masuk Islam. Seperti halnya Cat Steven yang kemudian menjadi Islam dan berganti Yusuf Islam atau Mike Tyson, dan Muhammad Ali yang berubah menjadi Islam, mereka rata-rata menginginkan kehidupan yang tenang yang didapat dari agama Islam. Artinya sebelum memperoleh ke-Islamannya mereka tidak tenang hidupnya. Mereka masih menempuh jalan dalam pengembaraan menemukan ketenangan dan kebahagiaan. Sang Maestro barangkali baru masuk Islam, namun belum sampai mencapai ketenangan, Alloh keburu mencabutnya. Wallahu’alam apakah dia menjadi muslim yang sebenarnya ataukah hanya keinginan belaka atau hanya kedok. Wallahu’alam apakah dia diterima disisi-Nya ataukah tidak? Wallahu’alam doa tahlil yang dikirim oleh penggemar di Pondok Pesantren diterima Alloh ataukah tidak. Namun satu hal yang menyisakan, pemakaman Jacko menjadi sebuah atraksi konser dengan ticket mahal yang diiringi dengan hysteria luar biasa dari penggemarnya yang kalau boleh dibilang menjadikan orang mengelukan dia, mengkultuskan dia. Padahal dalam konteks Islam, jelas ini tidak diperbolehkan. Jelas ini membahayakan. Namun semuanya kita kembalikan kepada Alloh yang berhak mengadili dan menghakimi. Apakah sang Maestro diterima ataukah tidak. Tetapi yang jelas kita yang ditinggalkan hanya bisa mengambil pelajaran, “sekaya-kaya orang toh akan mati juga, se-hebat-hebat apapun dia toh akan mati juga, se-tenar-tenar dan se-masyhur-masyhur orang toh mati juga, se-sombong-sombong dia toh juga akan mati, menjadi raja apapun dia akan mati, dan se-se-se lainnya akan mati. Semuanya akan mati sebagaimana dawuh Alloh “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” (Al Imran 145). Atau sebagaimana intisari hadis “ silahkan hidup sesuka-sukamu, silahkan!!!!!! namun ingat bahwa engkau akan mati. Silahkan tertawa dengan penuh kesombongan, silahkan!!!!!!silahkan hidup sak karepe udelmu, tapi ingat perbuatanmu akan dimintai pertanggungjawaban (LPJ) diakherat kelak. Apapun atribut yang pernah dibawa di dunia tidak akan dibawa serta menghadap Alloh. Istri, rumah, mobil, gelar, jabatan, kambing, sapi, sawah, kucing, celana, baju, kutang, celana dalam, semuanya tidak dibawa. Karena yang dibawa kehadirat Alloh adalah amaliah didunia. Kain kafan, peti atau atribut kematian itu hanyalan symbol. Symbol hanyalah pelajaran yang tidak memiliki pengertian apapun dihadapan Alloh. Mungkin dimata manusia itu pertanda kesucian menghadap Alloh karena memakai kain putih. Namun untuk menghadap Alloh, semua atribut di dunia wajib ditinggalkan. Sandal saja kalau kita menghadap ALLOH harus ditinggalkan, apalagi lainnya. Karenanya tinggalkan semua symbol duniawi dalam hati kita ketika kita hendak menghadap ALLOH. Karena adanya duniawi dalam hatimu menjadikan Alloh enggan bersinggasana dalam hatimu. Mungkin tempatnya terlalu sempit. Ingat!!!!!malaikat saja tidak mau masuk ke dalam rumah yang ada gambar atau patung di dalamnya, apalagi Alloh. Padahal sering kali hati kita, kita isi dengan patung atau gambar duniawi. Bagaimana mungkin ALLOH mau masuk ke dalam hatimu??????mungkin ini pelajaran yang bisa kita ambil. Selamat Jalan Jacko!!!!!!! Semoga pengagummu mampu menangkap pelajaran dan symbol kebenaran. Semoga “mudah-mudahan ke-Islamanmu” menjadikan pengagummu mendapatkan hidayah-Nya. Amin.

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*