Beberapa siswa mengirim sms kepada saya terkait dengan gempa di padang. Isi sms itu menerangkan tentang hubungan waktu gempa dengan Al-quran. Coba anda cek, pasti anda akan terkejut. Gempa Tasikmalaya terjadi pukul 15.04, kalau anda buka surat yang ke lima belas ayat 4 anda akan menemukan yang artinya, “Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan”, begitupun sama dengan gempa di Padang yang terjadi pukul 17.16, kita akan menemukan arti pada surat al Isra ayat 16 “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” gempa susulan yang terjadi di Padang tepat pukul 17.58, yang akan kita ketahui berisi “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”. Kalau orang yang tidak memahami ulumul Quran pasti akan terpesona dengan kecocokan ayat al-Quran terkait dengan peristiwa tersebut. Namun kenapa hanya yang dicocokkan gempa Tasikmalaya, Padang dan Jambi?????? Lalu bagaimana dengan tsunami Aceh, lumpur lapindo, gempa jogja, gempa Pangandaran Situ Gintung dan gempa-gempa lainnya, apakah juga ada di dalam ayat Al-Quran?????? atau banjir di Jakarta, atau musibah-musibah lainnya. Kalau Al-Quran sudah menjelaskan ayat-ayat tentang waktu gempa, bisa tidak Al-Quran dijadikan kitab meramal suatu gempa yang akan terjadi?????? Di sini saya tidak menyangsikan kebenaran al-Quran, tetapi jika al-Quran hanya dijadikan sebagai justifikasi tentu sangat berbahaya. Kenapa????? Orang akhirnya suudzon bahwa di Aceh banyak terjadi kemaksiatan, sehingga Alloh mengadzabnya melalui tsunami????? Begitupun dengan Jogja, Padang de el el. Lalu kenapa tidak di Surabaya????? Padahal di Surabaya ada lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Kenapa tidak di Jakarta????? Padahal kemaksiatan banyak terjadi di Jakarta. Koruptor-koruptor berkumpulnya juga di Jakarta. Kenapa juga Alloh tidak membuat tsunami di Los Angles, Holliwood, atau California??????? Padahal pendosa atau orang-orang kafir banyak tinggal disana????
Kalau kita memahami bencana di Indonesia sebagai adzab, kenapa harus orang muslim????? Bukankah Aceh orang Muslim, begitupun dengan Padang???? Begitupun dengan Jogja, de el el. Berarti ada yang error pada orang muslim itu sendiri sehingga di Adzab. Muslimnya ataukah perilakunya????? Kalau kita menjawab perilakunya......nanti dulu.......tidak bisa diukur..... baik mana antara orang Padang dengan orang Surabaya??????? Atau orang yang ada di Gang Dolly, atau Balongcangkring, atau orang-orang yang ada di Tretes????? Kalau kita menjawab Muslimnya, konteksnya sebenarnya bukan adzab, tetapi ujian atau teguran. Kenapa UJIAN?????? Pertama, Untuk mengakui keabsahan seseorang bersabar dalam kemusliman maka bisa jadi ALLOH menguji. Ketika ia bersabar dalam kepasrahan menerima apapun dari ALLOH, maka ia absah untuk dihadiahkan label Muslim. Karena dia Muslim dan terkena bencana Alam kemudian mati, maka connect dengan PBNU yang memfatwakan bahwa orang yang mati dalam bencana Alam di Padang Matinya MATI SYAHID. Tapi MUSLIM. Kedua, memang ALLOH pernah berkata, bahwa orang yang tidak bersyukur itu pasti akan di adzab ALLOH dengan adzab yang sangat pedih. Tetapi, saya yakin, jika orang itu Muslim, pasti bisa bersyukur. Kalau tidak bersyukur berarti bukan MUSLIM. TEGURAN!!!!!! Orang yang di tegur itu biasannya salah. Kalau tidak salah berarti tidak di tegur. Bisa jadi bencana alam itu merupakan teguran kepada kita. Satu, sebagai muslim, kedua, sebagai bangsa Indonesia. Bisa jadi ada yang error pada pola perilaku kita, pikiran kita, hati kita dan semuanya. Kata Cak Nun, masyarakat kita sedang berproses menuju kepada gerakan Majnun Berjamaah. Gerakan gendeng bareng-bareng. Pekok Bareng-bareng. Tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah.....
Namun, secara general, pola-pola pikiran dan hati yang salah kemudian teraplikasi dalam perilaku manusia yang salah pula membawa kepada dampak-dampak yang negatif. Akhirnya tatanan alam semesta yang sudah diatur oleh ALLOH dengan keseimbangan yang sempurna, menjadi tidak seimbang. Penggundulan Hutan, Penyedotan barang tambang tidak terbatas, pengerukan tanah, pemusnahan hewan-hewan, dekadensi moral masyarakat dunia de el el.......menandai ketidakseimbangan alam semesta. Namun Alam ternyata memiliki fitrah untuk menyeimbangkan dirinya sendiri manakala ada ketidakseimbangan yang terjadi. Seperti hidung yang kemasukkan virus dengan sendirinya hidung secara fitrah akan gebres untuk melindungi dari ketidakseimbangan yang akan terjadi pada dirinya. Atau seperti sepeda motor, yang sekian lama dipakai, maka dia membutuhkan sesuatu untuk menyeimbangkan dirinya agar tidak terjadi eror. Bahasa bengkelnya TUNE UP. Ternyata alam semesta juga membutuhkan TUNE UP agar terjadi keseimbangan. Terkadang dengan meletusnya gunung berapi, terkadang dengan Gempa dan terkadang dengan tsunami. Semuanya tetap masih dalam kasih sayangnya ALLOH. Andai alam tidak memuntahkan lahar lewat gunung Berapi, maka bisa jadi bumi ini akan meledak. Semua manusia akan binasa. Tetapi hanya beberapa saja yang menjadi imbasnya jika dibandingkan dengan masyarakat dunia. Maka kita sepatutnya berbagi dengan mereka, mereka menjadi tumbal demi menyelamatkan seluruh umat manusia. Begitupun dengan logika gempa maupun bencana-bencana lainnya. Mereka pantas untuk dijuluki MATI SYAHID, karena merekalah penyelamat seluruh umat manusia. .......Allohumaqfirlahum warhamhum waafihim wa’fu anhum......
Kajian SKI SMAGHA
8 Oktober 2009
Kamis, Oktober 08, 2009
TUNE UP Alam Semesta
Diposting oleh Goze Isno
1 komentar
Label:
Pemikiran
Rabu, Oktober 07, 2009
Melampaui Kasih Sayang Biasa
Diposting oleh Goze IsnoKasih sayang!!!!!?????? Apakah kasih sayang itu????? Dimanakah kasih sayang itu didapat???? Untuk apa harus berkasih sayang??? Kenapa banyak orang merindukan kasih sayang??? Apa hebatnya?????Sederetan pertanyaan itu terus memusingkan saya beberapa lama setelah memahami konsep kasih sayang yang dipahami oleh istriku. Istriku memahami konsep kasih sayang sebatas pada ketika kita berduaan, makan berdua, jalan-jalan berdua, memadu kasih berdua,....pokoknya berdua, runtang runtung berdua. Kayaknya konsep ini kebanyakan yang dipahami oleh orang. Mereka hanya memahami APA YANG DIBERIKAN KEPADAKU SAAT INI. Titik. Sebaliknya ketika tidak berduaan, tidak jalan-jalan, tidak memadu kasih itu dikatakan tidak kasih sayang. Benarkah????????
Kalau kita memahami lebih jauh, sebenarnya dapat kita lihat dengan gamblang, bagaimana seharusnya menerapkan kasih sayang yang tidak merupakah kasih sayang biasa tetapi lebih luar biasa. Bayangkan, anak kecil yang berlatih berjalan, dia harus tertatih-tatih bahkan terkadang jatuh berdarah-darah. Jika orang tua yang berpikiran kasih sayang sempit, dia tentu akan sangat khawatir dan tidak memperbolehkan anaknya jalan, kemungkinan selalu digendong kemana-mana. Tetapi bayangkan apa yang akan terjadi pada masa depan anaknya, pastinya anaknya justru Tidak Bisa Berjalan. Sebaliknya orang tua yang berpandangan visioner, melihat anaknya jatuh berdarah-darah tetap dibiarkan bahkan di support, untuk terus berjalan. Bukannya tidak sayang, tetapi justru kasih sayangnya itulah kasih sayang melampaui kasih sayang biasa. Akhirnya, anaknya mampu berjalan sendiri dengan bebas dan terbiasa. Bandingkan dengan contoh orang tua pertama tadi.............
Begitupun dengan kasih sayang seorang suami kepada istri. Jika suami hanya memahami konteks kasih sayang yang sempit, maka dia kerjanya hanya berduaan, jalan berdua, tidur berdua, makan berdua, minum berdua, de el el. Tetapi berbeda dengan seorang suami yang memiliki kasih sayang yang tidak biasa, bentuk kasih sayang yang diberikan adalah melakukan untuk masa depan kehidupannya. Dia bekerja, memikirkan nasib istrinya, nasib anaknya kelak, tidak hanya masalah ekonomi, atau keharuman nama, atau status sosial yang tinggi, tetapi lebih jauh dari itu, kemapanan dalam beramal sholeh dunia dan akherat yang bisa di panen oleh anak cucunya bahkan sampai cicit-cicitnya. Walau terkadang ia harus tidak berduaan. Tetapi jauh dari itu justru kasih sayang yang ia tumpahkan adalah kasih sayang yang sebenar-benarnya kasih sayang.
Bahkan, begitupun yang dilakukan Tuhan kepada makhluknya. Seringkali makhluk mengkonsepsi bahwa kasih sayang Tuhan harus dirasakan dan dinikmati langsung saat itu. Biar dia merasakan. Merasakan kehidupan yang hanya enak-enak saja. Padahal ujian dan persoalan-persoalan kehidupan yang menggelayut merupakan kasih sayang yang besar. Lho????? Ujian dan cobaan berbagai masalah adalah merupakan pendidikan langsung yang diberikan oleh ALLOH kepada hambanya agar ia memperoleh mental yang kuat, memiliki jiwa yang tangguh dan menjadi manusia-manusia yang tidak cengeng, manusia yang hebat. Coba jika hidup itu linier, enak saja, maka dijamin dunia itu tidak akan indah, karena monoton. Tetapi justru ada rupa-rupa itulah keindahan itu terwujud. Kasih sayang mendidik dan menempatkan pada maqom tertentu. Itulah kasih sayang ALLOH.
Mungkin, hal yang sama bisa kita analisis pada terjadinya letusan gunung merapi yang melanda umat manusia, tsunami, gempa de el el. Jika kita memahami dari sudut kasih sayang yang sempit, kita akan menyalahkan Tuhan, karena tega membunuh sekian banyak umat manusia. Tetapi jika kita melihat lebih jauh, andai gunung merapi tidak meletus, maka bumi, bahkan umat manusia seluruhnya akan meledak dan mati. Karena di dalam bumi ada magma yang terus aktif bergerak dan membutuhkan saluran untuk memuntahkan maghmanya. Kasih sayang Tuhan melampaui persepsi manusia tentang kasih sayang yang dipahami begitu sempit dan kerdil sehingga hobi menyalah-nyalahkan orang, TIDAK SAYANG???????
Karenanya, kita sebagai umat yang sedang meniti, harusnya menggunakan dan meletakkan kasih sayang tepat pada kasih sayang yang sebenarnya. Kasih sayang yang melampaui ruang dan waktu. Dan itulah RAHMAN DAN RAHIMNYA ALLOH.
0
komentar
Label:
Curhat
Pilihan!!!!!!!!!!
Diposting oleh Goze IsnoKehidupan di dunia ini adalah perintah dari Dia Yang Maha mengatur.
Orang yang bijaksana tidak akan memperdebatkan apa yang telah dialami tetapi tetap akan mencari cara untuk memecahkan kesukaran yang dideritanya.
Jangan pernah mencoba untuk merubah keputusan orang lain. Messkipun hanya memperbincangkannya!
Jika seseorang menginginkan sesuatu melalui caranya, kataknlah “baiklah” dan susun kembali caramu sendiri.
Ambillah pelajaran dari air yang mengalir. Manakala air bertemu dengan batu karang, ia mengubah arahnya dan menemukan jalan untuk tetap mengalir!
Masing-masing orang berusaha memenuhi apa yang diperlukan dalam mencapai tujuan pribadinya. Seseotang yang turut ambil bagian akan berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan bagiannya yang dia perlukan dan si pembawa sial juga akan berupaya sekuat mungkin untuk membuang karunia yang telah mendatangi jalannya.
Ikuti caramu sendiri tatkala kamu mengetahui kebenarannya di bawah bimbingan imanmu, sekalipun kamu tinggal sendirian!
Barang siapa berpaling dari kebijaksanaan, berarti dia sudah memilih ketidaksadaran! Dan dia mengobral kehidupannya berdasarkan hasil pilihannya.
0
komentar
Label:
cafe sufi
Tamak dan Syukur
Diposting oleh Goze IsnoKETAMAKAN adalah ketidakmampuan seseorang untuk menghargai apa yang telah diterima dan menginginkan sesuatu “SECARA BERLEBIHAN” baginya.
BERSYUKUR adalah mengerti kepada siapa yang telah memberikan berkah sebagai Sang Pemberi. Mencari-cari seorang pemberi di balik Sang Pemberi adalah SYIRIK.
Tidak bersyukur adalah sifat orang yang tidak hidup dengan ilmu pengetahuan.
Penghiburan diri yang terburuk adalah menghibur dirimu sendiri dengan obrolan tentang ilmu pengetahuan tanpa menerapkannya dala kehidupanmu.
Orang yang tidak bisa lepas dari KEPOMPONG yang dipusingkan oleh emosiya, disebut orang yang tidak sadar.
Apakah kamu juga,.....akan menerima resiko terbelenggu di dalam KEPOMPONG-mu?
0
komentar
Label:
cafe sufi
Mengendalikan diri
Diposting oleh Goze IsnoSeorang ayah memberi anaknya sebuah kantong berisi paku dan meminta kepadanya untuk menancapkan satu paku pada sebuah peti yang terbuat dari kayu kenari setiap kali ia marah dan kehilangan kesabarannya. Anaknya menancapkan kurang lebih 37 paku pada hari pertama.
Selama seminggu, anak itu belajar tentang bagaimana cara mengendalikan dirinya dan mulai menggunakan lebih sedikit jumlah paku. Dari waktu ke waktu anak itu menyadari bahwa lebih mudah untuk tetap bisa mengendalikan dirinya dari pada menancapkan sebuah paku ke kotak kenari. Anak itu melaporkan kepada ayahnya setiap hari manakala dia tidak menggunakan satu paku pun.
Kali ini sang ayah menyuruh anaknya untuk mencabut satu paku yang menancap pada kotak kenari itu setiap harinya manakala ia bisa mengendalikan dirinya.
Seminggu berlalu dan anak itu akhirnya selesai mencabut semua paku tersebut setelah memahami arti pengendalian diri dan kesabaran, lalu ia memanggil ayahnya. Sambila menggandeng tangan anaknya, sang ayah mengajaknya mendekati peti tersebut sembari berkata:
“Wahai anakku, kamu telah berusaha keras dan belajar untuk tidak membuat lubang pada buah kenari itu selama kamu bisa mengendalikan diri.
“Hanya saja lihatlah lubang pada peti kenari itu! Lubang-lubang tidak akan tertutup kembali seperti sedia kala!”
Reaksi emosionalmu dan ketidaksabaranmu akan membuat ssebuah luka yang tak akan disebuhkan di dalam hati orang lain yang halus. Tak peduli seberapa banyak kamu meminta maaf, luka itu akan selalu ada di sana. Sebuah serangan lisan akan menyakiti seseorang seperti serangan fisik.
Sahabat-sahabat kita adalah kebahagiaan kita, mereka membuat kita tertawa, mendorong kita untuk berhasil, siap mendengar keluh kesah kita dan selalu siap untuk embuka hati mereka bagi kita.
0
komentar
Label:
cafe sufi