
Membahas tentang cinta, memang tiada habisnya. Kenapa? Karena cinta itu luas dan tidak terbatas. Ia bagaikan curahan yang deras yang mengucur kepada umat manusia dari tahun ketahun sampai mungkin nanti hari kiamat. Coba saja dilihat lagu-lagu dari zaman dal sampai sekarang atau nanti, yang membicarakan tentang cinta tiada bosan-bosannya. Drama, film, novel dan lain sebagainya, seakan tiada habisnya untuk mengangkat tema-tema cinta. Ya begitulah!!!!! Tetapi perlu kita bertanya, apa itu cinta?????? Kenapa banyak orang merindukan cinta???? Kenapa mereka bahagia dengan cinta dan kenapa pula ada yang bersedih pun karena cinta?
Pertanyaan sederhana tentang definisi cinta, sebenarnya sulit sekali untuk menjawabnya. Kenapa? Karena tiap kali mendefinisikan tentang cinta pasti akan bias. Sebagaimana digambarkan di dalam puisi yang saya nukil di novel ketika cinta bertasbih:
“Mmm…cinta! Menurutku,
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah,
Cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai
Kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!
Di teruskan dalam puisi lain:
Cinta adalah kekuatan
Yang mampu
Mengubah duri jadi mawar
Mengubah cuka jadi anggur
Mengubah malang jadi untung
Mengubah sedih jadi riang
Mengubah setan menjadi nabi
Mengubah iblis jadi malaikat
Mengubah sakit jadi sehat
Mengubah kikir jadi dermawan
Mengubah kandang jadi taman
Mengubah penjara jadi istana
Mengubah amarah jadi ramah
Mengubah musibah jadi muhibah
Itulah cinta!
Ya begitulah!!!!!Ya begitulah..............................cinta adalah misteri. Ia hadir tiba-tiba dan terkadang pergi tiba-tiba. Kita tidak mampu menangkapnya. Dan banyak orang terjebak bahkan menafsirkan salah tentangnya. Mereka hanya mampu menangkap secara parsial tidak utuh seperti halnya kenapa cinta itu ditaruh di dada manusia. Membicarakan tentang taruh menaruh cinta, kita perlu melihat dari sisi lain hakekat cinta itu yang sebenarnya.
Saya dalam tulisan ini, mencoba untuk rememory perjalanan cinta saya dan bagaimana mendefinisi ulang dari sebuah proses perjalanan panjang memahami kehidupan khususnya tentang cinta. Lompatan-lompatan tentang proses memahami cinta dari cinta yang sekedar dalam ranah muka kepada cinta yang mengekspresikan ketauhidan inilah yang kemudian saya menamai dalam tulisan ini dengan istilah quantum cinta. Tentang ceritanya, begini.......
Saya merasakan ketertarikan dengan lawan jenis itu sebenarnya mulai dari SD. Namun ketertarikan itu kemungkinan besar hanya sekedar insting yang ditiupkan oleh Alloh seperti halnya hewan-hewan. Kalau ada perempuan cantik saya suka. Namun bagi saya kala itu, ukuran cantik itu bila ada perempuan berkulit kuning dan memiliki rambut panjang. Entah itu karena idealis saya dalam memandang wanita, atau memang itu adalah arketip budaya yang memandang wanita ideal adalah berkulit kuning dan berambut panjang. Bandingkan dengan perkembangan sekarang, opini wanita yang dibentuk adalah berkulit putih, menandakan bahwa warna putih yang memiliki kesamaan dengan orang eropa, adalah tataran ideal. Inilah budaya opini yang telah dikalahkan oleh budaya superior.
Bagi saya, Isno kecil kala itu, memandang wanita cukup sederhana saja. Berkulit kuning berambut panjang. Pasti saya suka. Nah, wanita ideal yang kuidealkan itu ternyata juga ada di kelasku. Aku merasakan sebentuk insting untuk ingin merasakan bentuk cinta. Tapi entahlah, saya adalah laki-laki introvert. Aku pendam rasa itu. Tetapi, seperti ada hukum tersendiri, tiap anak di kelasku sering menghubung-hubungkan aku dengan dirinya. Padahal, saya tidak pernah mengekspresikan rasa cinta saya. Namun hati saya merasa senang. Tapi takut. Takut diketahui rasa ini. Hingga lulus SD aku tidak pernah menyatakannya.
Waktu SMP, penyakit suka sama perempuan yang berkulit kuning itu tetap aku rawat. Namun dari kelas satu sampai kelas dua, aku tetap bersikukuh tidak bisa untuk menyukai wanita atau menyatakan cinta kepada satu wanita. Semua wanita aku suka, yang terpenting kulitnya kuning. Sampai di kelas 3, menjelang EBTANAS, saya dikejutkan dengan titipan surat, yang kubaca ternyata ada temanku seorang perempuan berkulit kuning, menyatakan cinta kepadaku. Aku begitu kaget. Masa ada perempuan yang bisa menyukai aku. Laki-laki ndeso!!!!!!! Namun kala itu kebimbangan melanda pada saya, pertama ada perempuan berkulit kuning suka sama saya, dan saya senang dengan perempuan berkulit kuning tersebut, namun saya takut. Takut karena saya sedang menyiapkan untuk persiapan EBTANAS dan menargetkan bisa menjadi juara satu SMP, kalau gagal????? Padahal saya berkeinginan untuk sekolah lagi???????. Kedua, saya merasa minder. Namun saya, bagaimanapun merasa tidak tega jika menyakiti hati perempuan. Bagaimana nanti jika bertemu dengan dia??? Bagaimana perasaannya??? Mungkinkah dia akan dendam karena sakit hati? Atau jangan-jangan dia akan nekad???? Bagaimana jika hatinya akan penuh kebencian dengan saya??????? Aduh-aduh bingung........ Dilema dan dalam ketidaktegasan ini, akhirnya menjadikan saya terjebak dalam lingkaran cinta. Ia akhirnya benar-benar menjadi pacar dalam alam surat menyurat.
Aku menuliskan angan-angan dan gejolak hati kepadanya. Dan dia menyambut dengan belaian tulisan yang indah. Ah!!!! Aku mulai merasakan kebahagiaan cinta namun juga aku merasakan kepedihan cinta. Kerinduan, kecemburuan, ketidakrelaan, keegoisan mulai saya merasakan. Dan ternyata cinta menampilkan sisi emosional bahagia dan sedihnya. Hingga, pada titik endingnya, pasca dari SMP aku berpisah dengan dirinya, saya meneruskan di SMA N 1 Ngimbang. Dia akan ke Sumatera. Sebuah perpisahan yang aku merasakan kesedihannya. Namun toh dalam hatiku ingin aku merawat dan setia dengan cinta dengan mengharap siapa tahu dia benar-benar jodohku yang nanti akan dipertemukan ALLOH dikemudian hari.
Kuingat-ingat kisah cintaku pada si dia
Sua dengannya sungguh habiskan waktu lama
Antara diriku dan dirinya begitu lekat
Serupa gambar tato yang lekat dikulit
Kunanti ia meski tak kuyakin kedatangannya
Tanpa puutus asa, kumenangis
Dan terus menangis hingga surya lusa tiba
Mereka cemooh segala kedukaan
Jangan kau binasakan dirimu dalam penantian
Kata mereka menambah-nambah kepedihan
Mereka lakukan segala cara
Agar aku segera terpisah darinya
Serupa perahu itulah perpisahan dan pertemuan
Yang lama dicari nelayan kemudian ditemukan
Setiap suka pasti diiringi duka
Mudah berubah semudah balikkan telapak tangan
Dia yang kunanti melemparkan senyuman
Indah menawan seumpama Zabarjad berlian (Puisi Majnun)
Di bangku SMA, aku menemukan kehidupan yang baru. Teman baru, guru baru dan lingkungan baru. Cinta yang kupertahankan, ternyata sering digoda oleh teman-teman cewek baik di SMA maupun di pergaulan lain. Namun toh demikian, aku adalah lelaki yang benar-benar tangguh dalam mempertahankan cinta. Tetapi setangguh-tangguhnya cintaku, pada akhirnya juga jebol oleh keadaan. Aku mulai berpikir, bagaimana aku bisa mempertahankan cinta, jika aku tidak tahu ujung perjalanan cinta dan kehidupanku????? Dia yang kucinta ke Sumatera, apa nanti dia benar-benar masih mencintaiku????. Mungkinkah aku akan bertemu lagi. Mana mungkin, disana pasti ada laki-laki yang lebih ganteng dari aku?????? Ah!!!!!! Dia tidak mengontak aku!!!!!!
Betapa lama kau terpisah jauh dariku
Dan kini kau datang mengobati kerinduanku
Sayang seribu sayang
Kau datang sekejap saja, bertegur sapa
Lalu pergi untuk masa yang lama
Ya, kehadiranmu Cuma sekejap mata
Kau berikan bahagia, pergi lagi berucap cinta
Jangan berputar
Dan aku terjebak di kegelapan malam
Sekejapan, cahaya menyingkap sang kegelapan
Malampun kembali gulita
Pada saat saya masih kelas satu, saya memiliki sebuah perkumpulan dzikir (Insya Allah nanti saya akan menceritakan dalam judul lain “Quantum Iman”) di desa sebelah. Di sana saya melakukan dzikir dan kegiatan-kegiatan lain yang berbau agama. Di Musholalah kegiatan tersentral. Biasanya, sehabis maghrib, anak-anak baik laki-laki dan perempuan satu kampung mengaji al-Quran dibimbing langsung oleh Nurhasyim, saya memanggilnya Gus Nur. Saya pun tertarik untuk ikut mengaji al-Quran meskipun saya sudah khatam sejak kelas lima SD. Di mushola itu saya banyak kenal dengan anak-anak satu kampung. Semakin lama semakin akrab. Ternyata, ada beberapa gadis yang begitu memperhatikan aku. Tanpa kusadari, ada dua gadis yang sama-sama mencitaiku. Mereka bertengkar. Aku dituding biang keroknya. Saya dipanggil oleh Gus Nur untuk menyelesaikan masalah dua muridnya. Dan aku harus meredam perasaan mereka dengan memilih diantara keduanya. Dan dengan terpaksa seperti halnya pada cinta pertama, dilema, tidak tega, akhinya terjebak pada lingkaran cinta lagi.
Menjelang naik ke kelas dua, aku dikegetkan dengan kehadiran pacar pertamaku di sekolahanku itu. Aku datangi dia, dia bercerita tentang kegagalannya untuk pindah ke sumatera. Dia ingin sekolah di SMA Ngimbang saja. Aduh!!!!!! Antara senang dan khawatir. Akhirnya aku berjalan bersama dengan dirinya lagi. Namun sungguh, aku tidak pernah membayangkan bahwa aku memiliki dua pacar sekaligus. Aku merasa memiliki beban dosa yang terus bertambah karena membohongi mereka. Lama kupendam tidak mampu kupertahankan. Aku menceritakan kepada mereka berdua apa adanya. Namun sungguh aneh, mereka berdua menerima apa adanya. Tetapi aku lebih baik memutuskan salah satunya. Aku sholat istikhoroh, dan yang terlihat adalah pacar pertama.
Sampai di kelas tiga, kala itu saya mengalami loncatan iman yang luar biasa begitupun dengan gonjang ganjing kehidupan dan cita-citaku (lihat the great power of mother), aku merasa sangat berdosa telah memiliki pacar. Setiap aku memandang dia adalah maksiat. Setiap aku berharap kepada dia adalah nafsu de el el. Oh!!!! Sampai kapan aku terlepas dari dosa-dosa maksiat. Aku ingin memutuskan, tetapi aku tidak tega menyakiti perasaannya. Akhirnya tetap aku pertahankan sampai lulus kelas 3.
Beberapa minggu setelah saya menjadi Mahasiswa, ada sepucuk surat darinya. Dia memutuskan hubungannya dengan aku. Aku bahagia!!!!!!!!namun juga sedih. Bahagia karena aku terlepas dari kemaksiatan sedih karena dalam isi surat tersebut, ternyata dia meremehkan cintaku. Sejak saat itu aku berjanji kepada ALLOH tidak akan berpacaran lagi. Saya tidak ingin memiliki pacar hingga ada cewek yang benar-benar akan menjadi pendampingku selama-lamanya. Maka sejak saat itu, perspektifku tentang wanita berubah. Aku tidak lagi menyukai perempuan yang berkulit kuning dan berambut panjang, atau perempuan yang cantik-cantik. Aku lebih memandang perempuan dari sudut subtansi. Buat apa cantik, kalau akhlaknya jelek? Buat apa cantik, kalau egois? Buat apa cantik, kalau tidak bisa menjaga aurot? Buat apa cantik, kalau tidak cinta seutuh hati? Akhirnya aku benar-benar tidak bisa melihat perempuan cantik. Karena yang kulihat subtansinya.
Di perguruan tinggi, ALLOH benar-benar menjagaku, saya tidak pernah akrab dengan perempuan. Kecuali teman-temanku di Lembaga Pers EDUKASI. Tetapi kita di lembaga itu, bersama dengan teman baik laki-laki dan perempuan berkomitmen untuk menjaga nama lembaga dengan mengikrarkan satu sama lain adalah muhrim, artinya antar teman dalam lembaga diharamkan untuk pacaran. Di IQMA (Ikatan Qori-qoriah dan dakwah) memang sempat terjadi gesekan emosi dengan aggota perempuannya karena saya yang membidani bidang keilmuannya, tetapi saya masih bisa menjaganya dengan selalu menanyakan getaran hati itu nafsu atau benar-benar cinta. Di FORMULA (Forum Mahasiswa Masjid Ulul Albab) IAIN Sunan Ampel Surabaya, saya adalah pemimpinya. Sebenarnya, saya bisa saja memiliha anggota saya yang cantik, tetapi janji kepada ALLOH itu begitu kuat. Hingga lepas dari kuliah, saya baru merasakan kebutuhan akan cinta itu.
Sebenarnya, janji saya kepada ALLOH itu adalah “saya tidak akan berpacaran selama saya kuliah S1 itu”selain janji untuk memilih pasangan langsung yang bersedia mendampingi. Karena saya sudah lepas dari kuliah, berarti saya boleh dong mencari pasangan. Ternyata mencari pasangannya itu mudah tetapi juga tidak mudah. Mudahnya, banyak rekan-rekan di Mojokerto yang menjadi teman mengaji sering menawarkan sanak familinya. Ketika saya berkunjung ke salah satu kyai, juga ada saja yang menawarkan jamaahnya. Begitupun kerabat-kerabat dikampung, banyak yang ingin menjodohkan anak, atau familinya dengan saya. Dari dokter, putri kyai, penghafal Al-Quran, perawat, guru, PNS, dan lain-lainnya. Ah ternyata bukan itu yang aku cari.
Bahkan setelah banyak orang mendengar, bahwa saya menjadi PNS, semakin banyak orang yang menginginkan saya. Tetapi saya tidak bergeming dari sebuah prinsip dalam memandang wanita. Pendamping hidup itu harus dipilihkan oleh ALLOH. Karena ALLOH-lah yang menentukan yang terbaik untuk kita. Aku bermunajat kepada ALLOH untuk menemukan jodoh yang terbaik untuk saya. Saya tidak ingin salah memilih pasangan hidup padahal untuk selamanya. Memiliki istri dokter itu pasti keren, tetapi apakah menjamin kehidupan itu bahagia?????? Salah-salah memperistrinya niatnya biar keren. Memperistri putri kyai pasti bangga, tetapi kalau nikahnya niatnya ingin dibanggakan?????????
Sampai kemudian, aku dihadirkan Isyarat lewat mimpi yang memberi petunjuk tentang perempuan yang menjadi jodohku. Ngomong-ngomong, sebenarnya saya sudah dapat bocoran tentang jodohku itu sejak SMA. Saya pernah bermimpi wajah anak SD yang muncul kemudian ada suara “INI JODOHMU”. Sampai tiga kali. Pada saat proses pencarian itu, ternyata dia hadir kembali, tetapi sudah berwujud anak SMK kelas II. Seakan adalah petunjuk yang harus aku wujudkan, aku berusaha untuk mendapatkannya. Lewat perantara seseorang aku layangkan ungkapan isi hatiku kepadanya. Dan dia menerimanya.
Tetapi berbeda dengan konsep cinta awal, yang lebih mementingkan tubuh dan nafsu. Kini cinta itu hadir dalam wujud amanah. Saya mencintai karena saya diberi petunjuk oleh ALLOH. Saya ingin mengikuti kehendak ALLOH. Sampai kemudian takdir benar-benar membawa cinta itu ke dalam cinta keabadian. Aku memperistrinya.
Sampai perjalanan ini, baru aku benar-benar memahami cinta itu. Kenapa cinta itu tiba-tiba ada dalam hati? Karena cinta itu memang telah dikehendaki. Bagaimana kita tahu bahwa cinta itu dikehendaki? Ya!!!! Lewat petunjuk bisa lewat isyarat, atau lewat kemantapan hati. Kalau sudah mantap hati? Ya segera memilih cinta yang diriloi. Cinta yang diriloi itu cinta yang bagaimana? Cinta yang tidak terlarang? Cinta yang terlarang itu bagaimana? Cinta yang melanggar syariat? Cinta yang melanggar syariat itu yang bagaimana? Cinta yang tidak mengenal batas dengan hanya mementingkan hawa nafsunya saja. Cinta yang tanpa nafsu liar itu bagaimana? Cinta yang sudah disyahkan dengan pernikahan? Kenapa harus menikah? Karena itu perintah? Siapa? ALLOH? Jadi????
Ternyata cinta itu adalah ekspresi dari rasa cinta kita kepada ALLOH. Aku mencintai ALLOH sehingga aku mencintai manusia. Aku mencintai ALLOH sehingga aku mencintai istriku. Aku mencintai Alloh sehingga aku mau menikah. Aku mencintai Alloh sehingga apapun dalam kehidupannya aku mempersembahkannya untuk Alloh. Jika kehidupan itu pahit bagaimana? Tidak apa asal Alloh mencintai aku. Jika diberi nikmat? Aku tidak mengharap apapun kecuali cinta-Mu.
Mungkinkah kita bisa mengharap cintanya Alloh? Wallahua’lam. Kita sebagai manusia, hanya iktiar untuk mengharap cinta-Nya. Untuk mencintai dan diterima cinta kita oleh seseorang saja biasanya kita banyak menggunakan cara. Tentu mengharap balasan cinta kepada Alloh seharusnya juga banyak cara agar dibalas cinta kita.
Orang jatuh cinta itu tidak mengharap apapun kecuali cinta itu sendiri. Karenanya Harapan terbesar adalah bertemu dengan Dia. Hanya Dia. Huwa. Huwa. Huwa. Hidupku matiku Hanya untuk Huwa. Alloh. Alloh. Alloh.
Oh Tuhan di depan umum kupanggil Kau Junjungaku, tetapi dalam kesunyian kupanggil Kau Kekasihku.
Apakah gerangan akhir cinta? Oh Tolol cinta itu tak mengenal akhir. Kenapa? Karena kekasih tak mengenal akhir.
Cinta berarti bahwa kau tetap berdiri di depan kekasihmu, ketika kau tidak menyandang sifat-sifat lagi dan ketika penyifatan datang dari penyifatan-Nya saja.
Oh kekasih hati, aku tak akan memberikan apa pun kecuali bagi-Mu karenanya kasihanilah hari ini si pendosa yang datang kepada-Mu. Oh harapanku dan istirahatku dan kenikmatanku, hatiku tak bisa mencintai apa pun kecuali Kau Satu.
Oh Gustiku bagian apapun dari dunia ini yang Kau anugerahkan kepadaku, anugerahkan kepada musuh-Mu, dan bagian apapun dari akherat yang Kauberikan kepadaku, berikan kepada sahabat-sahabat-Mu. Kau sudah bagiku.
Oh Tuhan, berikan dunia dan akhirat kepadaku agar aku bisa membuat dunia ini menjadi sepotong daging untuk kulemparkan ke mulut anjing, dan membuat akhirat menjadi sepotong roti untuk kulemparkan ke mulut Yahudi, sebab keduanya merupakan halangan ke tujuan yang sebenar-benarnya.
Oh Tuhan, malam telah berlalu dan fajar pun tiba. Betapa ingin aku mengetahui, apakah Kau telah menerima atau telah menolak doa-doaku. Karenanya, hiburlah daku karena kata-katamulah yang bisa menghibur keadaanku ini. Kau telah memberiku hidup dan menjagaku, dan kata-kata-Mu itulah kejayaan itu. Jika Kau hendak mengusirku dari pintu-Mu, aku tak akan meninggalkannya, karena cinta yang kusimpan dalam hatiku terhadap-Mu.
Aku akan melemparkan api ke surga dan mengguyurkan air ke neraka agar penghalang itu lenyap, dengan demikian akan jelas siapa yang memuja Tuhan karena cinta, dan bukan karena takut akan api neraka atau harapan akan kenikmatan surga.
Dari sini, saya ingin berbagi kepada anda semua. Bahwa ada masa-masa kelam dalam kehidupan kita. Tetapi bisakah kita kembali menemukan jalan kebenaran. Orang yang baik bukannya orang yang tidak pernah berbuat salah. Namun orang yang baik adalah orang yang menyadari kesalahannya kemudian memperbaikinya. Termasuk saya. Saya masih berproses. Tentu potensi sesat tetap ada. Karenanya kita disuruh untuk berdoa Ihdinasyirotol mustakim. Tunjukkan jalan yang lurus.......
Berproses dalam menemukan kebenaran cinta, tentu penuh dengan lika-liku. Dari memahami cinta yang salah sampai cinta yang benar. Yakni cinta sejati Cinta yang sebenarnya. Berikutnya nanti saya akan bercerita tentang penemuan keimanan saya dari iman yang sesat menuju Iman yang untuk sementara saya anggap benar silahkan baca lagi dalam Quantum Iman..........Insya Alloh.
Silahkan tuliskan kesannya.
Hamba Alloh Yang Masih Terus Berproses
Jogodayoh, pukul 05:09
13 Nopember 2009
Jumat, November 13, 2009
Quantum Cinta
Diposting oleh Goze Isno
0
komentar
Label:
Tasawuf
Sabtu, November 07, 2009
KPK VS POLRI : Pertarungan Kekuasaan
Diposting oleh Goze Isno“Kekuasaan itu tidaklah dipersempit hanya pada kekuasaan negara. Namun kekuasaan menemukan dirinya menyebar dimana-mana”
(Disarikan dari buah pikiran Michael Foucoult)
Sekilas Pandang
Pemberitaan diberbagai media tentang perang dingin kepolisian dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sangatlah menyita perhatian semua pihak. Pasalnya, Bibit dan Candra yang mewakili KPK, menurut masyarakat, diperlakukan sewenang-wenang. Mereka didakwah dengan tuduhan yang tidak jelas, dari kasus penyuapan sampai kasus melakukan penyalahgunaan wewenang. Dan pada titik puncaknya Polisi memasukkan Bibit dan Candra ke bui. Perlakuan polisi yang memperkarakan Bibit dan Candra, secara tidak langsung menohok KPK yang selama ini dipuja masyarakat sebagai Pahlawan pemberantas Korupsi. Penahanan Bibit dan Candra, yang meskipun menurut Polisi adalah penahanan individual bukan karena KPK-nya, tetap dianggap oleh masyarakat sebagai bentuk kriminalisasi KPK. KPK diserang. KPK dibonsai. KPK dikerdilkan.
Secara kasat nyata, kesewenang-wenanangan dan ketidakadilan yang dilakukan polisi, mengusik ulu kesadaran keadilan masyarakat. Rakyat menyuarakan harapan untuk melawan ketidakdilan polisi. Melalui Facebook, twiter, demo, unjukrasa, media, jaminan penahanan pun dilakukan. Bahkan beberapa tokoh nasional bersedia pasang badan untuk Bibit dan Candra.
Gelombang respon yang besar dari masyarakat itu menyebabkan Presiden memberi pernyataan untuk membentuk Tim pencari Fakta (TPF) terkait kasus perseteruan POLRI dan KPK. Sehari setelah dilantik, TPF bergerak dengan mendengarkan rekaman penyadapan KPK, yang sebelumnya diminta oleh Mahkamah Konstitusi untuk diputar dalam sidang. Dalam rekaman yang diperdengarkan melalui Media Televisi tersebut, menceritakan tentang kelihaian Anggodo, adik dari Anggoro pemilik perusahan MASARO yang sedang menjadi Buron KPK, mengatur-atur kepolisisan dan kejaksaan untuk menutup kasus yang menimpa sang Kakak, Anggoro. Sejumlah nama yang disebutkan dalam rekaman tersebut, Wakil Kejaksaan Agung AW. Ritonga, dan Kabareskrim Susno Djuadji, Wisnu, Ketut, putra revo dan beberapa nama lainnya. Diceritakan pula, Anggodo telah memberi milyaran rupiah untuk disebarkan kepada pejabat-pejabat baik di ring satu sampai bawahnya. Namun ternyata, entah bagaimana Bibit dan Candra tetap bersikukuh, dan pada akhirnya menyebabkan Anggodo marah, dan menyuruh pihak kepolisian untuk menangkap Bibit dan Candra. Dalam rekaman tersebut diceritakan pula, bahwa Anggodo akan melenyapkan Candra dipenjara nanti.
Rencana besar yang dilakukan Anggodo sampai pada rencana melenyapkan Candra, membuat bergidik semua orang. Bambang, Kuasa Hukum KPK, memohon kepada MK, agar mengeluarkan Candra dan Bibit dari tahanan Polisi. Permohonan Bambang ini, ditindaklanjuti oleh TPF, dengan merekomendasikan kepada Polisi untuk menangguhkan penahanan Bibit dan Candra. Pembebasan Candra dan Bibit disambut gempita oleh masyarakat. Bagitupun dengan aktivis-aktivis mahasiswa. Namun yang masih tersisa, anggodo otak dibalik rencana besar, setelah diperiksa oleh POLRI, masih belum dijadikan tersangka, padahal jelas-jelas dia mengakui kebenaran suara rekaman itu adalah dirinya. Bahkan santer terdengar, selama 24 jam, jika polisi belum menemukan bukti kuat, maka Anggodo akan dibebaskan.
Babak baru, perseteruan POLRI dan KPK, masih berlanjut. Setelah dipanggil oleh DPR, Polisi ternyata mengeluarkan Kartu baru dengan menggelindingkan statemen kepada DPR, bahwa mereka akan tetap melanjutkan pemeriksaan kepada Bibit dan Candra, karena mereka memiliki bukti kuat, bahwa Bibit dan Candra menerima suap. Lalu kelanjutannya bagaimana? Kita menunggu.
Relasi Kekuasan
Sebenarnya, perseteruan antara KPK dan POLRI, meskipun tidak diakui oleh kedua pemimpin dari masing-masing intitusi, jelas-jelas itu terjadi. Itu terbukti dari keganjilan sikap, kebijakan dan peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya. Kenapa Kabareskrim Susno Djuadji begitu marah ketika ditanya tentang penyadapan KPK, yang kemudian secara tidak sengaja, melibatkan nama dirinya? Ada makna apa, dibalik kata “ Cicak melawan Buaya”? kenapa Polisi begitu ambisius memenjarakan Bibit dan Candra? Kenapa KPK berani mengeluarkan rekaman yang katanya merupakan rahasia negara kepada masyarakat? Kenapa pula POLRI akan tetap melanjutkan kasus Candra dan Bibit?
Dari sudut kekuasaan, kita akan memahami bahwa sebenarnya antara Polisi dan KPK, sama-sama memiliki kekuasaan, aparatus penegak hukum. KPK bergerak dalam ranah pemberantasan Korupsi dan Polisi bergerak dalam ranah baik hukum pidana maupun hukum perdata atau hukum-hukum lainnya yang sesuai perundang-undangan, ditangani oleh Polisi. Namun dalam perjalanannya, kedua institusi itu, bagaimanapun akan ada gesekan kekuasaan bahkan kewenangan. Hal ini karena kekuasaan yang ditafsirkan, menurut sudut mereka masing-masing. Kasus-kasus korupsi yang bisa jadi banyak terjadi di institusi Polisi, bisa menjadi bahan ganyangan KPK kepada POLRI. Dan kesalahan-kesalahan pidana yang dilakukan oleh perorangan yang dibuat oleh seluruh warga Indonesia termasuk anggota KPK, bisa jadi juga akan menjadi bahan Polisi untuk menangkapnya. Hal ini ditafsirkan dengan cantik oleh keduanya setelah berseteru. KPK bisa jadi ke depan akan menangkap Susno Djuadji, bahkan mungkin akan membuka bobrok korupsi di tubuh POLRI dan POLRI sendiri akan menjebloskan Candra dan Bibit atau sejumlah pemimpin di KPK, dengan alasan penyalahgunaan wewenang. Jika Konflik itu diteruskan!!!!!
Kekuasaan dalam kekuasaan
Memang kekuasaan bergerak sebagaimana mereka memiliki kekuasaan untuk menafsirkan pengetahuan, baik kesalahan maupun kebenaran atau lainnya. Menurut Foucault, kekuasaan menentukan pengetahuan dalam arti: “menetapkan” tipe-tipe diskursus yang benar dalam arti yang “works”; “menetapkan” mekanisme dan patokan yang memungkinkan untuk membedakan proposisi yang benar dan yang salah; “menetapkan” teknik dan prosedur dalam mencapai kebenaran di atas; “menetapkan” status dari mereka yang ditugasi untuk mengatakan hal-hal yang dianggap benar.
Ukuran kebenaran maupun kesalahan ditentukan oleh kuasa pengetahuan yang menjadi kekuasaan mereka. POLRI memiliki ukuran kesalahan dan kebenaran, KPK juga memiliki ukuran untuk menyatakan kesalahan dan kebenaran masing-masing. Dari sudut POLRI bisa jadi KPK salah, dari sudut KPK, bisa jadi pula POLRI yang salah. Lalu kebenaran dan kesalahannya dimana? Dari sudut birokrasi kekuasaan, yang jelas ukuran kebenaran dan kesalahan terletak pada Undang-undang. Namun Undang-undang adalah benda yang mati yang tidak akan hidup jika tidak ditafsirkan. Dalam menafsirkan Undang-undang, siapa yang memiliki otoritas kekuasaan untuk menentukan kebenaran dan kesalahan? Dasar pijakan KPK juga menggunakan Undang-undang, begitupun juga dengan POLRI.
Karenanya, diperlukan kekuasaan yang lebih tinggi untuk menentukan dan menafsirkan dari kebenaran dan kesalahannya. Karena logika kekuasaan adalah yang menguasai dan yang dikuasi. Dalam sistem birokrasi, yang jelas antara KPK dan POLRI, berada dalam kekuasaan presiden. Karenanya, Presiden tidak bisa melepas tangan dalam kasus itu. Presiden harus memiliki kebijakan untuk melerai dua lembaga dibawahnya itu bertengkar. Seperti halnya seorang ibu yang memiliki dua anak yang bertengkar, tidak mungkin Ibu hanya diam, menunggu anaknya yang bertengkar itu kalah dan menang, tetapi harusnya ketika anaknya bertengkar, segera melerai dan mendudukkan persoalannya.
Presiden dalam konteks kekuasaan memiliki hak-hak dan kewenangan untuk melakukan apapun asal tidak bertentangan dengan Undang-undang. Jika toh nanti ada kesalahan maka dia akan berhadapan dengan DPR atau jika diteruskan akan berhadapan dengan Mahkamah Konstitusi. Terkait dengan lembaga yang langsung berada di bawahnya, presiden seharusnya segera memiliki keputusan jelas semacam PERPU. PERPU yang diharapkan akan menjadi dasar pijakan bagi lembaga negara yang berseteru. Dibentuknya TPF adalah kebijakan lain yang perlu disambut dalam meredam konflik KPK dan POLRI. TPF seharusnya dihargai oleh semua orang, karena apapun yang diputuskan TPF, itu sebenarnya adalah keputusan Presiden. Jika keputusan TPF tidak dihargai, maka jelas tidak menghargai Presiden.
Kebijaksanaan Kekuasaan
Kekuasaan adalah amanah. Karena kekuasaan adalah sebuah pelimpahan kekuasaan Tuhan yang diberikan kepada beberapa orang untuk mengatur hamba Alloh yang mengharap dengan adanya kekuasaan itu akan mampu meningkatkan kestabilan kehidupan mereka. Karena amanah, maka kekuasaan memiliki dampak baik di dunia dan akherat. Jika amanah itu disia-siakan maka dia pada hakekatnya menghianati amanah Tuhan. Karenanya dalam mengemban itu harus digunakan dengan sebaik-baiknya khususnya demi menjaga kedamaian di alam dunia Indonesia yang konon katanya adalah rahmatnya termulia yang diberikan kepada kita semua ini. Pemegang kekuasaan, baik di KPK maupun POLRI, seharusnya mengedepankan amanah ini. Sehingga diharapkan akan memunculkan kearifan dalam bertindak. Bukannya Nafsu yang terselelip dalam kebijakan kekuasaan yang diemban.
Salam.....
Hamba Alloh Yang Sedang Jatuh Cinta kepada Alloh
0
komentar
Label:
Pemikiran
Senin, Oktober 19, 2009
The Great Power Of Mother
Diposting oleh Goze Isno
Dari pengalaman mentraining ISQ (Islamic Spiritual Quetien) di beberapa sekolah SMP/SMA baik di Lamongan maupun di Mojokerto, banyak anak histeris ketika saya sampai pada perenungan tentang Ibu. Yang masih saya ingat, di SMA Negeri 3 ada 15 anak yang histeris, di SMA PGRI 1 ada 19 anak, di SMA Ngimbang ada beberapa anak, dan beberapa tempat lainnya, yang tidak bisa saya sebutkan bagaimana suasana training ISQ tersebut. Sebenarnya saya tidak menetapkan tujuan bahwa keberhasilan training terletak seberapa banyak anak yang menangis. Tetapi dengan perenungan ISQ tentang Ibu tersebut, dapat menjadi ukuran untuk melihat bagaimana tingkat hubungan seorang anak dengan kedua orang tuanya. Banyaknya anak yang histeris dapat saya simpulkan bahwa pertama, anak memiliki hubungan yang buruk dengan orang tuanya, kedua, anak merasakan kerinduan dengan kedua orang tuanya karena ayah atau bundanya telah meninggal atau telah bercerai atau kedua orang tuanya telah meninggalkannya nun jauh disana merantau dinegeri orang, ketiga, anak merasa terharu karena teringat dengan ayah bundanya yang begitu sayang kepada mereka. Pada tingkat pertama yang anak mengalami histeris bahkan pingsan, ketika kita berdialog dengan mereka, rata-rata mengaku bahwa mereka merasa sangat berdosa terhadap orang tuanya, atas perlakuan mereka yang “terlalu” kepada kedua orang tuanya. Mereka merasa dirinya sebagai anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Namun sering saya katakan, everything will change, masih ada waktu untuk memperbaiki dengan sungkem memohon maaf kepada kedua orang tuanya. Tentu, dengan setulus-tulusnya hati. Dan dengan catatan, melakukan perbuatan yang benar-benar mencerminkan perilaku baik kepada orang tua dalam kehidupan nyata.
Pengalaman saya sendiri sebagai trainer, hampir disetiap kali training, saya dijamin pasti meneteskan air mata. Karena di dalam perenungan itu, saya sendiri yang membayangkan sosok ibu saya. Sosok ibu yang benar-benar tulus mendidik saya, merawat, membina dan melakukan segala hal untuk saya. Anda bisa membayangkan, saya ini terlahir di sebuah desa terpencil di Lamongan, yang hampir dalam PETA tidak pernah tergambar. Tidak terbayang, dulu sosok ibu saya mengandung saya bagaimana? Di desa saya, di tahun 80-an keluarga saya masih serba kekurangan. Kekurangan makan dan minuman yang bergizi. Lalu bagaimana Ibu memberi sesuatu kepada buah hatinya yang ada dalam kandungannya? Sosok ibu yang ada di desa jelas berbeda dengan orang kota. Orang desa walau hamil sekalipun, mereka tetap bekerja di sawah. Mereka membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Padahal sosok ibu yang hamil, perutnya semakin lama semakin bertambah besar. Tapi sang ibu terus bergerak bekerja ke sawah walau dengan keadaan payah yang bertambah-tambah, untuk anaknya. Sampai dipenghujung menjelang kelahiranku, menurut ibuku, ibuku dibantu oleh seorang dukun beranak. Anda bisa membayangkan, bagaimana sakitnya seorang ibu yang hendak melahirkan anaknya, dengan dibekali peralatan seadanya. Sakitnya, konon kata banyak wanita, bahwa melahirkan itu 1000 kesakitan menjadi satu. Bahkan yang lebih eskterim, melahirkan itu sama dengan mempertaruhkan hidup dan mati. Saya selalu membayangkan, bagaimana pas seorang wanita mau melahirkan waktu itu, perutnya sudah sakit, dukun beranaknya belum datang-datang. Soalnya, tempat dukun beranak jauh, dan untuk menjemputnya memakai sepeda onthel. Belum lagi, jika ada yang eror dalam kehamilannya, adakah operasi caesar seperti sekarang ini? Jelas tidak ada, makanya taruhannya hidup dan mati. Dan begitulah keadaan ibuku dengan segala pernak perniknya.
Waktu saya dilahirkan, kata ibu saya, ukuran tubuh saya kecil dan saya sering sakit-sakitan. Sering menangis, sering mencret jika ibu memakan hal-hal yang dilarang oleh dukun beranak. Puskesmas, dukun dan beberapa pengobatan sudah pernah dijelajah, tetapi toh tetap saya masih sakit-sakitan. Padahal sudah banyak uang dikeluarkan untuk pengobatanku. Karena keadaan itulah akhirnya ayahku berkonsultasi kepada dukun beranak yang membantu ibuku dalam proses kelahiranku dulu. Konon kata dukun itu, nama saya yang waktu itu bernama SUWONO, terlalu berat, maka harus diganti. Dukun tersebut menyarankan nama saya menjadi ISNO.
Tetapi, toh, meskipun sudah berganti nama saya masih sakit-sakitan. Sampai tubuh saya tidak bisa berkembang cepat. Ada tetangga saya sampai saya sudah dewasa tetap memanggil KUNTHENG (kecil). Begitulah aku, sosok anak kecil yang selalu digendong kemana-mana oleh ibuku. Masih teringat, waktu orang-orang desa melihat ludruk, maupun layar tancap atau apapun, saya selalu digendong oleh ibuku. Ibuku tidak peduli walau saya sudah berumur 6 tahun atau 7 tahun lebih saya masih tetap di gendong. Meskipun saya ini kecil, tetapi saya adalah sosok anak yang sangat berani. Saya masih teringat hampir anak-anak satu dusun di desaku, tidak berani dengan aku. Karena setiap kali bertarung saya selalu menang. Terkadang teman-temanku yang saya jadikan uji coba jurus-jurus yang aku imajinasikan dari sandiwara radio TUTUR TINULAR, Arya Kamandanu. Sehingga orang tua mereka melabrak saya. Saya menangis dan takut. Tetapi saya merasa aman berlindung dibelakang ibuku. Ibuku selalu membelaku entah salah entah benar.
Meskipun saya sudah dewasa, saya masih menyusui ibuku. Dan ibuku tidak keberatan. Namun suatu hari, ketika saya melihat ada anak yang disapih oleh orang tua yang ada di desaku, saya sangat ingin disapih. Karena saya melihat anak yang disapih itu diberi oleh ibunya telur ayam. Dan saya sangat ingin makan telur ayam. Akhirnya aku merengek-rengek kepada ibuku untuk disapih biar bisa makan telur ayam. Karena dalam imajinasiku waktu itu, hanya orang yang sudah disapih sajalah yang sudah boleh makan telur ayam. Dan telur ayam, di zamanku, lauk yang sangat langka dan bahkan tidak mungkin diberikan kepada saya kecuali pas hari raya idul fitri.
Masih teringat, pertama kali aku menjadi anak TK. Waktu itu saya paling kecil. Ibuku merasa bangga, melihat aku memakai baju seragam sekolah itu. Aku dibelikan buku, pensil, tas dan sepatu. Teringat pertama kali sekolah, aku diantar oleh ibuku memakai sepeda onthel. Aku menangis bertemu dengan teman yang tidak aku kenal. Dan ibuku menghiburku. Tiap hari aku diantar oleh ibuku. Terkadang saya dititipkan kepada tetangga, karena ibuku harus ke sawah. Saya merasa bangga, menjadi anak sekolahan. Apapun yang diajarkan oleh ibu guruku aku ceritakan kepada ibuku. Ketika aku diajarkan oleh ibu guruku menyanyi, akupun pas di rumah menyanyi sangat keras seperti yang diajarkan oleh guruku. Ibuku bangga melihat aku bisa menyanyi.
Sampai satu tahun, ternyata pas kenaikan kelas, aku tidak naik kelas. Konon kata guru TK-ku, aku terlalu kecil dibanding dengan teman-teman kelasku lainnya. Namun ibuku tidak menerima alasan apapun yang disampaikan guruku. Ibuku memaki-maki guruku. Karena tega-teganya sang buah hatinya disakiti hatinya dengan tidak menaikkan kelas ke kelas SD. Aku melihat ibuku menangis. Aku tidak paham. Namun toh, akhirnya ibuku menerima keputusan itu walau dengan keberatan hati yang sangat. Keputusan untuk mengulang itu pada akhirnya menjadi keputusan yang begitu gemilang dalam sejarah hidupku. Aku menjadi sosok siswa anak petani yang mampu menjadi juara yang tidak tertandingi walau dengan anak pak lurah maupun anak guru yang menjadi pegawai negeri sekalipun. Kegagalanku, dan ketidakadilan dalam sistem kasta di Sekolah-ku menjadikan dendam arketipe untuk harus mengalahkan anak-anak orang kaya. Aku menjadi sosok yang beroposisi terhadap kemapanan sampai aku menjadi Mahasiswa. Dan begitulah spiritku.
Aku melihat wajah ibuku yang begitu lekat, manakala waktu aku dikhitan. Habis saya dikhitan oleh seorang dokter di kecamatan ploso Jombang, aku pulang diantar memakai sepeda motor tetangga. Tibanya di rumah, aku disuruh minum memakai jebor. Saya disuruh makan. Beberapa waktu, saya merasakan kesakitan di alat vitalku. Dan ibuku merawat aku dengan begitu sayangnya. Tiap pagi saya dimandiin memakai air hangat. Dan ibuku pula yang membersihkannya. Pada malam hari, manakala saya tidak bisa tidur, ibuku memelukku, dan mengibar ibaskan kertas agar ada air semilir yang menjadikan aku tertidur. Dan begitulah hari-hari proses kesembuhanku yang selalu ditemani oleh ibuku tercinta.
Sampai saya lulus SD, saya bersikeras untuk masuk ke SMP negeri. Namun ibuku berharap aku masuk SMP swasta. Karena melihat tekadku, akhirnya hati ibuku luluh. Aku masuk di SMP Negeri 1 Ngimbang Lamongan. Singkat cerita, sampai pada tahap lulus SMP. Ibuku kembali berharap agar aku tidak melanjutkan sekolah dan aku bisa membantu bapak ke sawah saja. Namun jiwa ilmuwan telah mendaging, aku ingin tetap menuntut ilmu setinggi langit. Akhirnya aku disekolahkan juga. Aku mengambil SMA Negeri di Kecamatanku. Waktu itu aku tidak memperdulikan uangnya darimana untuk menyekolahkanku??? dengan penghasilan sebagai petani? Aku tidak tahu. Yang jelas orang tua harus menuruti semua kamauan anak. Dan ibuku ternyata lebih memilih menuruti kemauan anak. Walau entah berapa juta uang yang telah dikeluarkan untuk membelikan seragam yang menuntut berganti-ganti, sepatu, tas, pensil, bulpoin, buku, LKS, uang jajan, de el el???????? Namun toh ibu lebih memilih menuruti kemauan anaknya. Asal anaknya bahagia. Walau ia harus membanting tulang siang dan malam, sebagai petani.
Ketahanan perasaan ibu untuk bertahan demi kebahagiaan anaknya, terkadang juga bisa jebol lantaran beban hidup yang semakin bertambah. Ketika aku menuntut ibuku untuk meng-kuliahkan aku, ternyata benar-benar tidak dituruti. Seluruh keluargaku menghakimi aku untuk tidak menyekolahkan aku. Tetapi aku benar-benar tidak bisa menerima semua alasan mereka. Aku memberontak. Aku lari ke surabaya. Di sana aku daftar di IAIN Sunan Ampel. Aku ingin membuktikan kepada orang tuaku bahwa aku adalah anak yang bisa diandalkan untuk menjadi orang. Aku tidak butuh harta benda. Aku hanya butuh ilmu untuk menjadi warisan dalam menata kehidupanku yang akan datang. Hingga, ada kabar bahwa aku benar-benar diterima di fakultas Tarbiyah PAI, yang konon jurusan itu adalah jurusan terfavorit di IAIN. Ibuku hanya bisa menangis, dia tidak bisa memutuskan. Ia bagaikan makan buah simalakama. Mau mengkuliahkan aku, khawatir jangan-jangan nanti seluruh harta bendanya habis untuk kuliah saja, sedangkan anaknya tidak menjadi apa-apa/pengangguran, kemudian dicemooh masyarakat sebagaimana anak-anak kuliah dibeberapa desaku, yang menghabiskan sapi dan sawah, tetapi pekerjaan mereka hanya mengamen di pos-pos mengiringi orang-orang yang hendak pergi ke sawah, atau tidak mengkuliahkan aku, tetapi akan sungguh menyakiti hati aku yang sudah membaja tekadnya dan membuktikan kecerdasannya. Namun ibuku lebih memilih untuk tidak menyakiti hati aku. Aku dikuliahkan walau dengan kekhawatiran masa depanku nanti bagaimana.
Menjelang wisuda, aku sedikit khawatir bahkan mungkin ibuku lebih khawatir, apakah aku akan menjadi anggota pengangguran Indonesia (API) ataukah tidak? Walau belum ada kejelasan pada masa depanku, tetapi saya bertekad akan mencari apa saja asal saya tidak kembali ke desa dan dikatakan menjadi anak pengangguran. Setelah wisuda, aku memilih tinggal di Mojokerto menemani dosenku Dr. Wahib Wahab. Di sana aku banyak menyelesaikan penelitian-penelitian ilmiah yang bisa aku gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun begitu, ibuku tetap khawatir terhadap aku. Karena ketika di rumah, selalu ditanya apa pekerjaannya Isno??? Akhirnya ibuku menyuruh aku untuk bekerja. Aku stress belum ada pekerjaan yang mapan. Aku mencari-cari akhirnya saya bisa bekerja di KBIH, namun cuma satu bulan aku di sana. Akhirnya aku mencari lagi dan menemukan di SD Wates membutuhkan guru bahasa Inggris. Gajinya sangat kecil. Aku terus berusaha. Aku mendaftar di Jawa Pos untuk menjadi wartawan. Pada titik finalnya aku ditolak. Seorang teman memberitahu aku ada lowongan untuk masuk LSM, namun di luar jawa. Aku tidak peduli, yang penting aku bekerja. Sebelum berangkat ke sana, ada info lowongan PNS di beberapa kabupaten. Aku mendaftar di Lamongan dengan diiringi oleh kedua orang tua. Tetapi dengan berbagai kondisi aku membatalkan mendaftar PNS di sana, aku pindahkan mendaftar di Kota Mojokerto. Tidak ku duga, keputusan itu menjadi keputusan yang sangat bersejarah dalam kehidupanku. Pada pagi hari setelah subuh, aku mencari pengumuman di koran. Ternyata di sana terpampang namaku. Aku bersujud syukur. Aku sms ke ibuku. Konon, ibuku histeris dan menangis sejadi-jadinya. Ia bersyukur. Anaknya menjadi orang. Anaknya akan banyak dibanggakan orang. Perjuangannya tidak sia-sia.
Sambil menunggu SK datang. Aku memilih pulang di kampung halaman. Di sana aku berharap bisa berkumpul bersama keluarga sekalian membantu orang tua bekerja di sawah. Namun SK-nya ndak datang-datang. Hampir enam bulan aku menunggu. Lamanya aku menunggu ternyata, menjadikan guncingan di sana sini. Apa benar Isno menjadi PNS? Atau ceritanya hanya bohongan untuk menutupi ketidakbecusannya mencari pekerjaan? Mana mungkin anak petani menjadi PNS? Menjadi PNS mestinya bayar? Dll. Ibuku tidak tahan. Ia menangis di depanku menyuruh aku kembali ke Mojokerto. Aku menuruti saja. Kebetulan aku punya agenda di Pasuruan. Pada waktu di Pasuruan, aku ditelpon oleh BKD, bahwa SK telah datang, dan aku disuruh siap-siap untuk diklat. Alhamdulillah aku panjatkan. Setelah menempuh 6 hari diklat, aku resmi mendapat SK dan ditempatkan di SMA Negeri 3 Mojokerto. Aku memberitahukan ke ibuku. Kemudian ibuku mengundang seluruh warga kampung untuk melaksanakan tasyakuran. Pasca tasyakuran, aku mengucapkan alhamdulillah ternyata aku dimampukan oleh Alloh untuk membuktikan kebenaran ucapanku. Semua orang kemudian memanggil namaku “Pak Guru”. Aku melihat linangan air mata ibuku.
Setelah satu tahun aku menjadi “Umar Bakrie” aku mempersunting gadis di desaku. Waktu mau berangkat untuk ijab qobul, aku masih teringat, ibuku tidak kuat menahan tangisnya. Ia memelukku. Semua keluarga terharu. Ibuku bilang teringat dengan semua ke-nekadanku. Ia teringat masa kecilku. Ia teringat semua nestapa hidupku. Akhirnya ibuku bisa menghantarkan aku menuju ke pernikahan. Itulah ibuku. Ia adalah orang yang sangat bangga terhadap aku. Ucapan-ucapanku menjadi dalil dalam pembicaraan-pembicaannya dengan tetangga-tetangga. Tangisnya selalu mengiringku, jika aku curhat terhadap problem-problem kehidupanku. Itulah spirit dalam kehidupanku. Aku ingin mempersembahkan yang terbaik untuk ibuku. Aku ingin melihat sesungging senyum pada bibirnya. Aku ingin mempersembahkan seluruh hidupku untuk memberikan yang terbaik dalam kehidupannya.
Kawan, itulah gambaran “the great power of mother”. Bahwa kasih sayang ibu yang merupakan cerminan dari rohman dan rohimnya ALLOH yang ditiupkan ke dalam hati ibu, mampu menjadi sebuah loncatan energi yang sangat luar biasa. Dan saya telah membuktikannya. Jika kamu ingin menjadi sukses maka jangan lupakan ibumu. Karena surga ada di telapak kaki ibu. Artinya kebahagian atau kesuksesan sebenarnya terletak pada restu dan ridlonya ibu kita.
Dulu, saya pernah berjanji, saya tidak akan pacaran sebelum aku menjadi orang sukses. Biar aku bisa menjadi anak yang dibanggakan ibu dulu dengan kesuksesan itu. Ternyata spirit itu begitu kuat, aku benar-benar tidak pacaran selama aku kuliah. Selanjutnya, demi kesuksesan itu pula, aku harus berdarah-darah hidup di Surabaya dan Mojokerto. Aku berpindah dari Masjid ke Masjid lainnya. Dari bekerja satu ke bekerja lainnya. Saya pernah menjadi kuli bangunan, pernah menjadi penjaga wc, tukang ngrental, tukang nggarap skripsi, jualan kambing, kerja di KBIH, tukang bersihin Masjid, ngelesi de el el. Dan ternyata ALLOH menjawab semua itu dengan dihadiahi menjadi PNS. Semua adalah spirit Ibu. Spirit ingin melihat senyum ibu mengembang penuh kebahagiaan.
Perhatikan firman-firman ALLOh di bawah ini.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. ( Lukman : 14)
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al-Ahqaaf: 15)
Silahkan pembaca sekalian untuk menuliskan emosi yang timbul setelah membaca tulisan pada pesan di shout mic ini. Sekalian saya menyarankan anda juga menulis kapan ibu anda tersenyum penuh dengan kebahagiaan dan kapan ibu anda menangis. Trims
0
komentar
Label:
Family
Selasa, Oktober 13, 2009
Keuangan Yang Maha Kuasa
Diposting oleh Goze Isno
Time is money. Demikian sebuah kata mutiara yang selalu didakwahkan oleh setiap orang bila dikaitkan dengan masalah bisnis, atau untuk memarahi orang yang kurang menghargai waktu dengan bermalas-malasan tidak menghasilkan uang sama sekali. Abang punya uang tak sayang, abang tidak punya uang maka tak tendang, demikian juga joke yang sebenarnya mengarah kepada penghargaan terhadap uang. Hal yang sama dengan arti yang mirip dalam sebuah lirik lagu “ Duwit...... duwit, mau makan pakai duwit, mau gaya pakai duwit, mau nikah pakai duwit, mau buat anak pakai duwit, mau mati pake duwit, SEMUANYA PAKE DUWIT, SEMUA ORANG MABUK DUWIT”. Hingga terakhir sebuah seloroh yang sering dipakai oleh orang yang berputus asa dalam mencari rizki halal dan orang yang tidak mampu membedakan uang “apa” mengatakan “Yang Haram saja sulit apalagi yang halal”????????!!!!!!!!
Maka tepatlah bila tulisan ini saya kasih title “ Keuangan Yang Maha Kuasa”. Tetapi jangan ditafsiri macam-macam. Saya hanya berkeinginan untuk mengkritik konsep banyak orang yang tega-teganya menggantikan posisi Alloh Yang Maha Kuasa mengjadi Keuangan Yang Maha Kuasa. Harus kita akui, bahwa dalam kehidupan kita ini sudah banyak mengarah kepada uang yang dituju, bukannya ALLOH ( Buka tulisan saya dulu “La Maksuda Ilalloh”). Tidak ada yang ku tuju kecuali Uang, mungkin gambarannya demikian. Kalau begitu, apa hal ini tidak menjadikan orang terpleset ke wilayah syirik??????? MENDUAKAN TUHAN. Apa hal ini tidak berbahaya bila dibandingkan orang memuja keris, atau kuburan yang sering di sesat-sesatkan?????? Kenapa???? Karena hampir penyakit ini menggerogoti kita semuanya. Kalau keris itu sih!!!!! cuma yang punya keris saja dan itu paling sedikit. Kalau uang????????? Bedakan dengan pertanyaan ini, Anda punya keris?????? Dengan, Anda punya uang???? Anda kepingin keris banyak???????? Anda Kepingin uang yang banyak!!!!!!!????????? Anda ingin menjadi penguasa keris??????? Anda ingin menjadi penguasa uang????? Pertanyaan dan jawabannya dijamin rasanya beda.
Coba anda membayangkan dan kalau bisa mencoba untuk diam sambil memejamkan mata. Melihat kehidupan disekeliling kita. Pada pukul tiga dini hari, lihatlah ada saudara-saudara kita yang terbangun malam dan melaksanakan wudlu kemudian sholat dengan diiringi sujud sambil beruraian air matanya mengadukan keluh kesah kesalahan serta kehidupannya kepada ALLOH. Di sisi lain ada saudara kita yang baru pulang dari diskotik sambil berjalan terhuyung huyung mabuk. Dia masuk kerumahnya, menggedor-gedor pintu agar dibukakan oleh istrinya. Istrinya membukakan dan dipukul karena terlalu lama membuka pintunya. Dia menangis. Dan suaminya langsung tersungkur ke kursi rumah. Sang istri sambil menangis kemudian membukakan pakaian dan membuat minuman kopi. Ada juga saudara kita yang baru pulang dari mencuri, mencopet, merampok, kerja malam dan juga ada yang baru pulang dari hotel karena semalaman baru dapat bokingan dari orang kaya untuk melayani anunya yang sedang berusaha untuk dihibur. Ada juga saudara-saudara kita yang menyiapkan dagangan sambil mengendari sepeda bututnya. Tidak berapa lama kemudian terdengar lantunan TARKIM. Kemudian dilanjutkan dengan Adzan. Kemudian berduyun-duyun orang berdatangan ke Masjid. Yang laki-laki memakai sarung, perempuannya memakai mukena. Sehabis dari Masjid, sang istri menyiapkan masakan. Anak-anak muda masih ada dalam selimut-selimut tebal mereka. Namun ada saudara kita yang bangun kemudian berolah raga. Riuh ramai di lapangan. Beberapa lama, sudah ada hiruk pikuk dalam keluarga. Si kecil bangun merengek-rengek minta diantar kencing. Saudaranya ada yang langsung melihat televisi. Anak-anak sekolahan menyiapkan keperluannya untuk sekolah. Ia mandi dan berganti pakaian. Pemuda-pemuda yang barusan bangun langsung menuju ke warung warung kopi. Tidak berapa lama pada pukuk setengah tujuh, terdengar suara yang hampir bersamaan. Brung brung brung.........det det det......... suara sepeda motor dan mobil bersahutan bergerak ke tempat kerja mereka masing-masing. Nun jauh disana, para petani telah mencangkul di sawahnya tanpa harus membisingkan jalannya. Di jalan-jalan agak sunyi. Karena semua orang bekerja sesuai dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang dikantor, di sekolahan, di pasar-pasar, di sawah, di gedung DPR dan dimanapun. Sampai pukul sekitar dua belas......jalan mulai ramai kembali. Kendaraan mulai bersahutan. Anak-anak SD pulang dan orang tua menjemput anaknya masing-masing. Setelah itu orang tuanya kembali ke kantor mereka masing-masing lagi. Tidak berapa lama, anak SMP dan SMA juga baru pulang dari sekolahnya masing-masing. Sampai jam 4 kendaraan di jalan-jalan mulai ramai kembali. Pekerja-pekerja kantoran mulai pulang. Jalan-jalan mulai ramai kembali. Mereka berebut. Para kondektur bersahutan merayu-rayu penumpang. Peluit ke sana kemari, para pengamen, pedagang asong, sampai pencopet lebur dalam arus manusia yang berseliweran. Sampai menjelang malam, sudara adzan magrib bersahutan antar speaker. Orang berbondong-bondong menuju Masjid. Setelah maghrib, orang-orang disbukkan dengan makan dan aktivitas lainnya lagi. Di Alun-alun akan kita lihat betapa ramainya orang berjual beli. Di pinggir-pinggir sungai, anak-anak muda sudah nongkrong berduaan disana. Pekerja-pekerja malam, Tempat karaoke sudah menyiapkan dengan baik untuk menyambut malam yang meriah. Di Mal mal mulai ramai. Ditengah hiruk pikuk, adzan isya’ berkumandang. Namun toh lebih ramai Mal daripada Masjid Agung sekalipun. Hiruk pikuk itu baru selesai sekitar pukul sembilan-sepuluh. Pedagang-pedagang mulai mengemasi dagangannya. Tetapi pedagang Bakso dan pedagang Tahu tek terus berjalan menyusuri rizki yang belum dia dapat. Tek....tek.....tek......tok....tok.... di club-club justru semakin lama. Masjid-masjid di kunci. Orang tertidur, melanjutkan kehidupan seperti KEMARIN.
Hidup yang mekanik. Mereka bergerak, membanting tulang, menghilangkan kehormatan, merampas hak saudara mereka sendiri, membunuh, semua demi UANG. Dari waktu subuh sampai terpejamnya mata mereka bergerak demi UANG. Tanpa sadar mereka melupakan tugas mereka hidup. Untuk apa aku hidup??????? Yang diketahui adalah dengan UANG aku bisa melakukan segala apapun. Termasuk membeli kehormatan sekalipun. Kalau kita memakai alat yang bernama RONTGEN (baca Rongsen), maka yang terlihat di otak mereka Cuma UANG. Uang yang berwarna merah dan biru. Kalau kita bedah hatinya, ternyata terselip UANG. Pegawai bekerja karena UANG, Pelajar belajar ujung-ujungnya ingin menjadi orang sukses dan mendapatkan uang banyak, DPR berdebat sana sini ujung-ujungnya uang, Kyai berkutbah ujung-ujungnya uang, tender-tender yang diumumkan ternyata ujung-ujungnya uang, semuanya LIL UANG. Tetapi tetap dalam tanda kutip. Kalau kita simpulkan ternyata keuangan benar-benar YANG MAHA KUASA. Uang menguasai seluruh pikiran hati dan kehidupan manusia yang ada di bumi ini. Semuanya LA ILA HA ILA UANG. Kita berdzikir La Ilahaillaloh, itu hanya di bibir, hati dan pikiran tidak. Kita pandai bersilat lidah, bahwa apa yang kita lakukan hanyalah amaliah sosial kita, tetapi kalau kita peres teryata juga UANG. Kita terlalu pandai dengan mengatakan bahwa doa itu baik tetapi ujung-ujungnya REG SPASI. Kita terlalu pandai mengatakan bahwa ayat-ayat suci sangat bagus untuk memecahkan segala persoalan tetapi ujung-ujungnya UANG. De el el.......................APA YANG TIDAK UANG????????? SYETAN MENARI DISANA!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Perhatikan firman ALLOH dalam surat Al’Ala ini, renungkan dan kira-kira kita termasuk di dalamnya ataukah bukan..........
Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. ,Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
0
komentar
Label:
Tasawuf
Kamis, Oktober 08, 2009
TUNE UP Alam Semesta
Diposting oleh Goze IsnoBeberapa siswa mengirim sms kepada saya terkait dengan gempa di padang. Isi sms itu menerangkan tentang hubungan waktu gempa dengan Al-quran. Coba anda cek, pasti anda akan terkejut. Gempa Tasikmalaya terjadi pukul 15.04, kalau anda buka surat yang ke lima belas ayat 4 anda akan menemukan yang artinya, “Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan”, begitupun sama dengan gempa di Padang yang terjadi pukul 17.16, kita akan menemukan arti pada surat al Isra ayat 16 “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” gempa susulan yang terjadi di Padang tepat pukul 17.58, yang akan kita ketahui berisi “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”. Kalau orang yang tidak memahami ulumul Quran pasti akan terpesona dengan kecocokan ayat al-Quran terkait dengan peristiwa tersebut. Namun kenapa hanya yang dicocokkan gempa Tasikmalaya, Padang dan Jambi?????? Lalu bagaimana dengan tsunami Aceh, lumpur lapindo, gempa jogja, gempa Pangandaran Situ Gintung dan gempa-gempa lainnya, apakah juga ada di dalam ayat Al-Quran?????? atau banjir di Jakarta, atau musibah-musibah lainnya. Kalau Al-Quran sudah menjelaskan ayat-ayat tentang waktu gempa, bisa tidak Al-Quran dijadikan kitab meramal suatu gempa yang akan terjadi?????? Di sini saya tidak menyangsikan kebenaran al-Quran, tetapi jika al-Quran hanya dijadikan sebagai justifikasi tentu sangat berbahaya. Kenapa????? Orang akhirnya suudzon bahwa di Aceh banyak terjadi kemaksiatan, sehingga Alloh mengadzabnya melalui tsunami????? Begitupun dengan Jogja, Padang de el el. Lalu kenapa tidak di Surabaya????? Padahal di Surabaya ada lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Kenapa tidak di Jakarta????? Padahal kemaksiatan banyak terjadi di Jakarta. Koruptor-koruptor berkumpulnya juga di Jakarta. Kenapa juga Alloh tidak membuat tsunami di Los Angles, Holliwood, atau California??????? Padahal pendosa atau orang-orang kafir banyak tinggal disana????
Kalau kita memahami bencana di Indonesia sebagai adzab, kenapa harus orang muslim????? Bukankah Aceh orang Muslim, begitupun dengan Padang???? Begitupun dengan Jogja, de el el. Berarti ada yang error pada orang muslim itu sendiri sehingga di Adzab. Muslimnya ataukah perilakunya????? Kalau kita menjawab perilakunya......nanti dulu.......tidak bisa diukur..... baik mana antara orang Padang dengan orang Surabaya??????? Atau orang yang ada di Gang Dolly, atau Balongcangkring, atau orang-orang yang ada di Tretes????? Kalau kita menjawab Muslimnya, konteksnya sebenarnya bukan adzab, tetapi ujian atau teguran. Kenapa UJIAN?????? Pertama, Untuk mengakui keabsahan seseorang bersabar dalam kemusliman maka bisa jadi ALLOH menguji. Ketika ia bersabar dalam kepasrahan menerima apapun dari ALLOH, maka ia absah untuk dihadiahkan label Muslim. Karena dia Muslim dan terkena bencana Alam kemudian mati, maka connect dengan PBNU yang memfatwakan bahwa orang yang mati dalam bencana Alam di Padang Matinya MATI SYAHID. Tapi MUSLIM. Kedua, memang ALLOH pernah berkata, bahwa orang yang tidak bersyukur itu pasti akan di adzab ALLOH dengan adzab yang sangat pedih. Tetapi, saya yakin, jika orang itu Muslim, pasti bisa bersyukur. Kalau tidak bersyukur berarti bukan MUSLIM. TEGURAN!!!!!! Orang yang di tegur itu biasannya salah. Kalau tidak salah berarti tidak di tegur. Bisa jadi bencana alam itu merupakan teguran kepada kita. Satu, sebagai muslim, kedua, sebagai bangsa Indonesia. Bisa jadi ada yang error pada pola perilaku kita, pikiran kita, hati kita dan semuanya. Kata Cak Nun, masyarakat kita sedang berproses menuju kepada gerakan Majnun Berjamaah. Gerakan gendeng bareng-bareng. Pekok Bareng-bareng. Tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah.....
Namun, secara general, pola-pola pikiran dan hati yang salah kemudian teraplikasi dalam perilaku manusia yang salah pula membawa kepada dampak-dampak yang negatif. Akhirnya tatanan alam semesta yang sudah diatur oleh ALLOH dengan keseimbangan yang sempurna, menjadi tidak seimbang. Penggundulan Hutan, Penyedotan barang tambang tidak terbatas, pengerukan tanah, pemusnahan hewan-hewan, dekadensi moral masyarakat dunia de el el.......menandai ketidakseimbangan alam semesta. Namun Alam ternyata memiliki fitrah untuk menyeimbangkan dirinya sendiri manakala ada ketidakseimbangan yang terjadi. Seperti hidung yang kemasukkan virus dengan sendirinya hidung secara fitrah akan gebres untuk melindungi dari ketidakseimbangan yang akan terjadi pada dirinya. Atau seperti sepeda motor, yang sekian lama dipakai, maka dia membutuhkan sesuatu untuk menyeimbangkan dirinya agar tidak terjadi eror. Bahasa bengkelnya TUNE UP. Ternyata alam semesta juga membutuhkan TUNE UP agar terjadi keseimbangan. Terkadang dengan meletusnya gunung berapi, terkadang dengan Gempa dan terkadang dengan tsunami. Semuanya tetap masih dalam kasih sayangnya ALLOH. Andai alam tidak memuntahkan lahar lewat gunung Berapi, maka bisa jadi bumi ini akan meledak. Semua manusia akan binasa. Tetapi hanya beberapa saja yang menjadi imbasnya jika dibandingkan dengan masyarakat dunia. Maka kita sepatutnya berbagi dengan mereka, mereka menjadi tumbal demi menyelamatkan seluruh umat manusia. Begitupun dengan logika gempa maupun bencana-bencana lainnya. Mereka pantas untuk dijuluki MATI SYAHID, karena merekalah penyelamat seluruh umat manusia. .......Allohumaqfirlahum warhamhum waafihim wa’fu anhum......
Kajian SKI SMAGHA
8 Oktober 2009
1 komentar
Label:
Pemikiran