Jumat, Februari 28, 2014

SINOPSIS NOVEL "SANG PENGGEMBALA"

SINOPSIS NOVEL “SANG PENGGEMBALA”





“Belajarlah kepada orang desa” demikianlah kata Gus Mus dalam sebuah tulisan di Facebook menyikapi permasalahan bangsa yang a-historis terhadap kearifan-kearifan local. Orang-orang desa dulu telah berbicara tentang hormat-menghormati antar tetangga, mencintai persaudaraan, mencintai alam, mencintai kehidupan dan lain sebagainya. Tidak ada gonjang-ganjing, apabila terdapat perbedaan pandangan bahkan kepentingan. Semuanya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan semangat mencari solusi, bukan meraih kemenangan semata.
Novel ini adalah gambaran tentang kearifan desa. Novel yang mengisahkan tentang pernak pernik anak desa yang telah dididik dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan alam sekitarnya. Ia tumbuh menjadi penggembala bersama dengan kawan-kawan  satu kampungnya. Menjadi pengembala adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi anak desa dizamannya. Ia selain mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan dan solidaritas juga mengajarkan akan rasa tanggungjawab serta kecintaan kepada makhluk Allah. Nilai-nilai kepemimpinan ditunjukkan dengan kelihaian para pengembala yang mengembalakan kambingnya yang begitu sulit untuk dikendalikan. Dibutuhkan jiwa ngemong dan kesabaran atas kambing-kambing yang seringkali mblalo, suka memakan tanaman milik para petani. Solidaritas terbangun saat anak-anak penggembala ini terkena musibah yang menyita solidaritas untuk berbagi suka dan duka. Sedang jiwa tanggungjawab dan kecintaan, terbangun dengan sendirinya atas tanggungjawab setiap hari kepada kambing-kambingnya untuk memberi makan, memandikan, mengawinkan bahkan membantu untuk melahirkan kambing-kambing yang sedang mengandung.
Para penggembala yang terdiri dari Rizal, Sudiono, Suryanto, Supadi, Seniman dan Sukari ini berjibaku dengan alam, merasakan pahit getirnya kehidupan yang harus dilalui oleh anak-anak se-usia mereka.  Mereka harus berhadapan dengan kewajiban untuk membantu orang tua mereka tanpa pernah merasakan dunia permainan sebagaimana dirasakan anak-anak kota. Kebahagiaan mereka adalah saat bermain-main dengan gembala-gembala mereka.
Cerita pertama dalam novel ini mengkisahkan tentang suasana keberagamaan warga Dusun Sayun, yang masih plural dan masih banyak pengaruh dari adat-adat yang ketat. Namun ditengah alam pikir keawaman warga desa, Islam berkembang pelan, memeluk tradisi-tradisi setempat. Sehingga lama kelamaan melelehkan kekakuan tradisi yang memiliki kecenderungan resistensi terhadap agama Islam. Anak-anak se-usia Rizal adalah generasi kesekian, yang telah dididik dalam ajaran agama. Ia tumbuh menjadi remaja Masjid yang dengan penuh dengan nilai-nilai keagamaan. Saat mereka harus mengaji mengkhatamkan al-Quran, mengaji kitab kuning, tidur di Masjid bersama-sama pemuda seluruh kampung, dan menghadiri acara khitanan, yang mana anak yang dikhitan akan ditemani tidur selama tujuh hari, menghadiri yasin dan tahlil dan lain sebagainya.
Para remaja menjadikan Masjid sebagai pusat segala kegiatannya. Termasuk dalam merencanakan hendak mengembalakan kambingnya kemana. Dalam merencanakan mengembalakan kambing, mereka harus bermusyawarah tentang daerah yang layak untuk dijadikan tempat mengembalakan kambing. Setelah disepakati mereka akan bersiap-siap untuk mengantarkan kambing-kambingnya. Ada prasyarat serta rukun-rukun mengembalakan kambing. Di novel ini diterangkan dengan gamblang.
Novel ini membincangkan bagaimana anak anak remaja menggembalakan kambing di sebuah oro-oro. Dimana mereka melakukan segala aktivitas termasuk dalam mandi bersama atau diistilahkan dengan bluron. Novel ini memulai konflik-konflik dengan titik bluron tersebut. Mereka harus dihadapkan kepada kenyataan pahit, salah satu teman mereka, Supadi, hendak dibawa ke dasar sungai oleh makhluk kalap, penghuni sungai, saat mereka bluron, mandi disungai “kali umber”. Mereka berjibaku menolong Supadi. Supadi tertolong. Namun tanpa mereka sadari, kambing-kambing mereka yang dibiarkan di oro-oro, mblalo, memakan tanaman jagung milik Pak Untung. Pak Untung melaporkan kejadian ini ke Pak Lurah. Dan Pak Lurah pun mengadili para pengembala itu. Dengan berbagai tuduhan dan berakhir dengan denda, pengadilan sesat itu pun ditandai oleh Rizal dan kawan-kawannya akan perangai pemimpinnya yang tidak layak menjadi pemimpin.
Rizal semakin memahami realitas sosialnya, manakala mendengar berbagai bisik-bisik seputar geliat-geliat pemberontakan warga desa atas sikap Kepala Desanya yang suka meminta “upeti” kepada para warga. Rizal mengawal pemberontakan itu. Ia ikut menyimak dari rapat ke rapat. Hingga pada akhirnya menggumpal menjadi demonstrasi massal. Warga Dusun Sayun bersatu hendak menggulingkan Kepala Desa yang berada di Desa Jejel. Dalam demosntrasi itu, warga dusun Sayun, terkecoh dengan taktik polisi, yang mengatakan bahwa kepala desa dibawa ke kantor polisi untuk dipenjara. Dari warga yang menyelidiki, diketahui kepala desa ternyata bebas lenggang kangkung diluar penjara. Hal ini menyulut demonstrasi besar-besaran ke kecamatan. Tetapi belum sempat berdemonstrasi, para warga dikejar Polisi dan dipulangkan ke rumah. Kepala Desa, pulang ke desanya, dengan dikawal oleh para pendukungnya, dengan naik trek. Warga dusun sayun pun bersungut-sungut.
Manakala pemilihan umum kepala desa hendak dilaksanakan, para elit tokoh dusun sayun memainkan politik untuk melakukan penggembosan kepada kepala desa lama yang akan mencalonkan lagi. Dalam pemilihan itu mereka harus memiliki calon yang bisa mengalahkan kepala desa lama. Benturan-benturan emosi dan kepentingan politik tidak bisa dihindarkan.
Kepala desa hendak memecah belah solidaritas politik warga dusun Sayun tersebut. Ia taburkan janji-janji bahkan uang. Namun para tokoh dusun Sayun melakukan gerakan perlindungan dari suap. Seluruh pemuda, termasuk Rizal, dikerahkan untuk menjaga para warga dari suapan-suapan baik dari kepala desa, ataupun botoh yang hendak sedang bermain judi.
Namun politik desa, tidaklah selinier yang diduga oleh para tokoh. Para warga ternyata plural. Ada warga yang merupakan family Kepala desa, atau calon lainnya, sehingga tidak mungkin mereka bisa pindah ke orang lain. Pun dengan mentalitas para warga. Ada yang idealisme mengatasnamakan solidaritas, namun tidak sedikit pula yang butuh duit untuk melunasi hutang-hutang mereka yang jatuh tempo.
Dan pada akhirnya, para tokoh dusun Sayun, membuat gerakan kepastian pilihan. Semua terpetakan. Ada masa tetap dan masa mengambang. Sayangnya Ustad Saifuddin Zuhri, sebagai guru ngaji Rizal dan panutan para santri di dusun yang baru berkembang Islamnya ini menjadi sorotan. Ia tidak memiliki kejelasan pilihan politik. Ia mengaku dihadapan Rizal, bahwa ia tidak ingin memihak lantaran ia adalah bapak bagi seluruh calon. Ia tidak ingin para warga terpecah belah gara-gara urusan politik. Ia ingin mengayomi seluruh calon. Bahkan kepada kepala desa lama, orang yang sempat berkonflik dan hendak memidanakan Ustad Saifudin gara-gara menebang pohon beringin yang menjadi punden dan digunakan untuk membangun Masjid.
Namun sikap demikian, membuat kejengkelan para warga. Mereka mengancam akan memboikot tidak mau sholat di Masjid. Namun Ustad Saifudin tidak bergeming. Para warga pun menjadi-jadi dalam memaki-maki Ustad Saifuddin Zuhri.
Hal inilah yang menjadikan Rizal dan kawan-kawan bersedih. Mereka mengkhawatirkan konflik politik ini akan berakhir dengan konflik fisik. Mereka pun bermunajat kepada Allah. Dalam munajatnya, Rizal, dibukakan hijab oleh Allah, mampu berkomunikasi dengan pembabat dusun Sayun yang bernama “Mbah Reseco”. Ia diberi petunjuk untuk menyelamatkan desanya dengan memberi “pagar gaib” sebagai antisipasi atas berbagai serangan gaib yang hendak mempengaruhi alam pikir warga. Rizal pun berjibaku melakukan petunjuk aneh itu. Hal yang sama juga ia lakukan saat pemilihan kepala desa dilaksanakan. Ia mendapat petunjuk aneh dari Mbah Reseco, sang pembabat desa, untuk melakukan pembersihan desa dari anasir-anasir jahat. Ia pun berhasil walaupun dengan terengah-engah. Kekhawatiran adanya konflik fisik bisa dihindarkan.
Pasca pemilihan kepala desa, Rizal dan kawan-kawannya pun, merasakan bagaimana luka-luka akibat politik tersebut. Ia hendak merawat luka konflik yang masih menganga. Yang sewaktu-waktu apabila meletup akan membuncah menjadi ledakan dahsyat berupa konflik horisontal. Karenanya ia bergerak melakukan gerakan “Dondom Kloso Bedah”. Dengan berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh elemen, lambat laun, karena seringnya berbaur, maka luka-luka itu mulai tersembuhkan. Dan Rizal pun bisa bernafas lega, manaka ia harus pamit meneruskan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Ia pun menyerahkan estafet kepemimpinan pemuda ke generasi muda yang menjadi muridnya, Solikin. Banyak konsep telah diberikan untuk memajukan desa dengan segala potensinya. Novel ini diakhiri dengan harapan social yang membumbung untuk memajukan desa. Baik dari konsep pertanian, konsep organisasi, hingga konsep social politik kemasyarakatan. Sehingga membaca novel ini akan menjadi pengetahuan lengkap tentang bagaimana memajukan desa sebagai miniatur Negara bernama Indonesia.


Muhammad Isno El Kayyis










Telah Terbit Buku Kedua Saya "Sang Penggembala"

Menulis novel ini tidaklah selinier apabila membaca hasilnya. Penuh lika-liku dari kurangnya mood, hingga terganggunya berbagai kegiatan sebagai pelayan ummat. Ada beberapa hal yang menyebabkan lamanya proses penulisan novel ini. Salah satunya data-data yang terkumpul seringkali kurang lengkap untuk membumbungkan imajinasi cerita dalam novel ini. Karenanya manakala saya menulis kemudian tidak menemukan kelanjutan ceritanya, maka saya agendakan untuk pulang kampung halaman. Di sana saya banyak menggali berbagai cerita dari mulut ke mulut.
Beberapa bagian dari cerita novel ini adalah kenyataan. Namun untuk menyebut true story, saya kira bukan. Karena disamping cerita nyatanya, banyak dibumbui dengan imajinasi-imajinasi dan harapan-harapan membangun sebuah peradaban Indonesia kecil berupa desa.
Tentang Rizal sebagai tokoh utama, tidaklah selamanya dia itu saya. Dia adalah banyak pribadi. Seringkali orang yang membaca karya saya, khususnya siswa-siswa dan sahabat saya, selalu mengira bahwa tokoh yang saya ceritakan itu adalah saya. Padahal tidak. Ia hanyalah bagian kecil. Selebihnya berbagai unsur kebaikan dari masing-masing orang saya poles dalam kepribadian utuh pada sosok Rizal. Misalnya tentang solidaritas Rizal terhadap kawan-kawannya sesama pengembala itu adalah pengalaman saya masa kecil. Dan nama-nama yang saya nukil adalah nama sebenarnya. Termasuk dalam solidaritas sunat. Dan memang demikianlah dulu tradisi khitan ala desa saya yang sangat mengagumkan. Solidaritas lainnya, yakni solidaritas tidur di Masjid. Ini adalah polesan saya. Sebenarnya, tidur yang saya ceritakan itu tidur di Mushola. Dulu masa kecilku belum ada Masjid. Yang ada hanya Mushola. Dan di Mushola inilah dijadikan sebagai sentral kegiatan seluruh pemuda.
Adapun pengalaman mistis, Supadi yang dipegang oleh kalap, makhluk penghuni sungai, adalah kisah orang lain yang memang demikianlah cerita yang saya suguhkan. Ia yang sekarang menjadi tetangga saya, dan ia juga masih keluarga saya, mengalami hal mistis saat ia tenggelam di tengah sungai dengan adanya penarikan yang kuat di dasar sungai. Ia mampu melepaskan diri dengan merapalkan bacaan-bacaan ayat suci dan terbebaslah ia dari cengkraman makhluk halus bernama kalap.
Dan adanya goro-goro Masjid, memang demikianlah kenyataan di desa saya. Yakni sewaktu proses berdirinya Masjid, terjadi keributan antar tokoh. Pasalnya Ustad Saifuddin membangun Masjidnya bersebelahan dengan dua pohon beringin yang dijadikan sebagai tempat sesaji penduduk desa. Bahkan Ustad Saifuddin, menebang pohon beringin. Dan pohon beringinnya dijadikan bahan untuk membangun Masjid. Sebenarnya tidak hanya pohon beringin yang dijadikan sebagai polemik kepercayaan akan adanya pagebluk setelah itu. Ustad Saifuddin, ini adalah nama dari guru ngaji saya yang merupakan nama pesantren, nama aslinya Sukardi, membuat kebijakan menebang pohon Jati yang ada di kuburan desa untuk dijadikan bahan bangunan Masjid juga. Dan ini ditentang habis-habisan oleh para tokoh kejawen dengan berbagai fitnah. Dan ini realitas. Ini saya ekspose sebagai bagian dari konflik-konflik dalam cerita novel ini.
Tentang perdebatan antara Ustad Saifuddin dengan Mas Wariso itu adalah kenyataan. Namun itu saya tulis berdasar cerita-cerita. Pasalnya saya sendiri sewaktu hal itu terjadi saya masih kecil dan belum memahami duduk permasalahanya. Namun saya tulis dalam novel ini Rizal ikut andil dalam perdebatan perbedaan khilafiah itu.
Begitupun manakala saya menulis tentang Rizal dan kawan-kawannya tentang pengadilan Kepala desa kepadanya akibat kambing-kambingnya yang mblalo. Kambing yang mblalo adalah kenyataan. Namun pengadilannya adalah hasil imajinasi. Saya ingin menggambarkan sisi yudikatif di desa, sebagai bentuk kebobrokan hukum yang menggambarkan kebobrokan hukum di Indonesia. Dan di desa inilah miniaturnya.
Pengadilan yang dilakukan oleh Kepala Desa terhadap Rizal ini yang kemudian menjadikan pembalasan dendam si Rizal dengan memanfaatkan moment pemberontakan warga kampung atas kepemimpinan kepala desa yang otoriter. Ia memanfaatkan situasi itu dengan ikut memobilisasi massa melakukan unjuk rasa menuntut turunnya kepala desa. Ini sebenarnya cerita nyata. Bahwa ada unjuk rasa memang pernah dilakukan warga kampung Sayun. Namun gambaran di novel dan kiprah Rizal, saya imajinasikan berperan dalam konflik yang memanas.
Kenyataan akhirnya membuat kecewa Rizal dan penduduk desa. Polisi ternyata berkongkalikong dengan kepala desa, dengan seakan akan berpura-pura dipenjara, padahala dipelihara. Akhirnya kepala desa melenggang bebas dengan memamerkan kebebasan kepada warga dusun Sayun, yang memberontak.
Satu tahun kemudian, saat terjadi pemilihan kepala desa. Warga Sayun memanfaatkan moment tersebut untuk membalas dendam kepada kepala desa. Mereka bersepakat akan memilih asal bukan kepala desa. Jain-lah yang dipilih oleh warga. Namun karena penduduk desa heterogen, tidak semua sepakat dengan pemilihan mayoritas. Pasalnya ada beberapa keluarga dari kepala desa dan calon lain yang tetap memilih karena hubungan kekerabatan.
Adanya pilihan warga yang berbeda inilah yang kemudian menimbulkan konflik. Warga dusun sayun tidak siap dengan perbedaan. Mereka mencurigai bahkan mengucilkan siapa saja yang berbeda pilihan dengan mereka. Karena sifat fanatik ini menjadikan semua yang berpotensi berbeda akan dimusuhi.
Hal ini melanda Ustad Saifuddin. Ustad Saifuddin yang ingin netral ditengah-tengah hiruk pikuk masyarakat yang berbeda-beda pilihannya, Ustad Saifuddin ingin menjadi pengayom pada seluruh warga. Namun ia kena getahnya. Ia dimusuhi karena tidak jelas pilihannya. Ia difitnah bahkan para warga akan boikot sholat di Masjid.
Hal ini yang menjadikan Rizal gelisah. Ditengah kegelisahannya ia bermujahadah malam. Dan dalam mujahadahnya tersebut ia ditemui secara ghaib Mbah Reseco, sang founding father dusun Sayun. Ia mendapat tugas untuk menyelamatkan warga kampung dari angkara murka akibat kiriman para dukun-dukun dari calon kepala desa lain yang ingin memanfaatkan situasi. Rizal pun menjalankan tugas. Ia berperan dalam hal mistis. Bahkan mendampingin proses transisi kepemimpinan yang ditandai dengan hadirnya pulung, tanda kepemimpinan desa.
Cerita ini, wahai para pembaca, adalah kisah dari teman saya. Tetapi sengaja saya jadikan Rizallah yang mengalami. Dimana ia yang berperan secara ghaib menyingkirkan anasir-anasir jahat yang hendak menyusup dalam alam bawah sadar masyarakat desa yang ditiupkan agar para warga berbuat angkara murka. Termasuk merubah pilihan.
Rizal bertarung secara ghaib dengan para dukun-dukun dari calon kepala desa lain. Dan ia memenangkan pertarungan itu. Dan kemenangan itu semakin gemilang, tatkala Jain sebagai pilihan Rizal menang mutlak.
Pilihan kepala desa ini adalah kenyataan. Dan ini saya peroleh saat saya harus terjun ditengah masyarakat sekaligus mengawal pesta demokrasi di Desa JEJEL. Dan ini yang saya jadikan bahan dalam novel hingga menjadikan kisah yang saya sambung-sambungkan. Namun sebenarnya calon kepala desa hanyalah dua orang. Dalam novel ini saya buat tiga orang. Saya ingin menghadirkan kepala desa dongkol[1], kepala desa yang dimusuhi oleh warga, bertarung dengan dua calon lain dengan strategi politik yang bermutu.
Adapun intrik-intriknya saya buat sendiri, agar perhelatan pemilihan pemimpin desa ini lebih politis. Tetapi tidak semua intrik hanyalah karangan saya sendiri, karena bila ditelusuri jauh akan lebih politis daripada yang saya tulis dalam novel ini. Ada perdukunan, suap, kampanye hitam, perjudian, dan lain sebagainya.
Dan sekali lagi saya mohon maaf, saya tidak berani menuduhkan siapa-siapa kepala desa dongkol itu. Meski cerita ini ada yang benar. Tetapi saya cukup menamakan dengan nama kepala desa saja.
Selanjutnya setelah usai huru-hara, saya ketengahkan tentang konsep “dondom kloso bedhah” dan pemberdayaan para warga oleh Rizal. Rizal melakukan perannya sebagai pemuda di Dusun Sayun ini dengan program-program jelas untuk merawat luka-luka politik.            
Para pembaca sekalian, apabila anda ingin melihat perpolitikan di desa maka membaca novel ini anda akan terpuaskan untuk melihat lebih jauh persepsi masyarakat desa terhadap politik. Ini saya tulis apa adanya sebagaimana saya temui dilapangan (sewaktu saya menulis ini sedang berlangsung pemilihan kepala desa). Meski juga, sekali lagi, ini adalah novel fiksi, jadi unsur fiksi tetaplah lebih kuat.
Selanjutnya, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada semua yang mendukung terselesaikannya novel ini. Tidak bisa satu persatu saya sebutkan. Kepada Allah, para guru, orang tua, istri dan kawan-kawanku sekalian. Terkhusus kepada Nurul Fitria Mutmainnah yang telah membantu memperbaiki tulisan-tulisan dalam novel ini saya haturkan ribuan terima kasih. Juga untuk penerbit yang telah menerbitkan novel ini dihaturkan terima kasih.
Akhirnya saya berharap agar ada kritik dan saran. Kritik bisa berupa cacian, makian atau kritik-kritik yang membangun. Wassalam.




[1] Mantan kepala desa

Jumat, Februari 21, 2014

Peduli Kelud : Sebuah Fenomena gotong royong yang menampak



Setiap kali ada bencana alam, disana sini akan bermunculan ajakan untuk menyumbangkan dana untuk para korban bencana alam. Baik oleh lembaga resmi pemerintah maupun swasta bahkan yayasan-yayasan abal-abal sekalipun. Melalui televise, radio, media cetak, maupun dijalan-jalan. Masyarakat pun berbondong-bondong mendonasikan hartanya. Baik melalui transfer maupun secara langsung kepada yayasan penggerak dana social.
Di sekolah saya sendiri saja, anak-anak OSIS dengan cekatan melakukan kampanye peduli kurban kelud. Mereka masuk ke kelas-kelas sambil membawa kotak amal. Dan dari dana yang terkumpul tercatat jumlahnya lumayan besar.
Terus terang, saya menunggu reaksi anak-anak SKI dimana organisasi exstrakurikuler ini yang saya bimbing. Namun tidak ada reaksi. Padahal mereka-merekalah yang selama ini terlatih untuk melakukan aksi-aksi social. Karena gak srantan, akhirnya saya cetuskan sendiri dengan memerintahkan ketua SKI melakukan gerakan ke kelas-kelas dengan memberikan informasi untuk melakukan sumbangan berupa kain layak pakai, mie instan dll. Bukan uang. Biasanya kalau uang orang akan merasa eman.
Perintah saya ini tidak serta merta berjalan mulus. Masih ada saja kendala. Ketidakberanian atau kalau boleh disebut, ketidakpedean menghadapi massa, inilah yang masih menjadi kendala di tubuh SKI saat ini. Saya sendiri malah diminta untuk memanggil ketua kelas dan segera memerintahkan sebagaimana saya perintah. Padahal yang saya inginkan SKI-lah yang muncul menjadi “artis”.
Namun tetap saja ada solusi. Anak-anak SKI menggandeng OSIS. Terbukti dari donasi masuk ke kelas-kelas, anak-anak SKI terlibat. Bahkan yang akhirnya menerima donasi-donasi itu lebih banyak anak-anak SKI. Untuk belanja dan pengangkutan barang-barang adalah anak-anak SKI, sebagaimana saya bilang, mereka lebih terlatih dalam aksi-aksi social sebagaimana program BAKSOS yang selalu dilakukan tiap tahun.
Saya sendiri pun bergerak dengan menginfokan gerakan peduli kelud kepada para alumni, guru-guru dan jaringan tarekat syadziliyah serta masyarakat umum. Hasilnya lumayan, tetapi kurang “wah”. Kenapa kurah “wah”? Karena untuk ukuran banyak belum bisa dikatakan banyak. Terbukti saat saya belanja di carefour, barang dagangan hanya muat satu becak. Sumbangan yang terkumpul paling banyak adalah kain bekas yang menumpuk. Beruntung dan sangat beruntung, saya dibel oleh Mas Bahrul, Ketua Yayasan al-Kahfi. Beliau juga melakukan donasi. Yayasan al Kahfi menerima banyak sumbangan. Dan mereka bingung menyalurkan. Dengan mantab saya mengatakan siap mengantarkan dan menyalurkan sembako serta sumbangan masyarakat yang ditampung Al Kahfi.  Mobil luxio dipenuhi oleh bantuan dari Yayasan al-Kahfi.

Tidak hanya berhenti disitu saja. Sumbangan menumpuk. Sedang mobilnya hanya luxio saja. Saya prakirakan mobil luxio tidak akan muat. Karena harus muat manusia juga. Harus menyewa. Tetapi kok menyewa? Tidak enak, apabila uang yang telah terkumpul digunakan untuk ongkos transportasi. Dan beruntunglah tiba-tiba, disana-sini banyak tawaran mobil beserta sopirnya. Ada 2 mobil innova dan 1 mobil avanza. 4 mobil siap mengantarkan barang-barang yang menumpuk tersebut.
Hari kamis, pukul 10.30 rombongan yang terdiri dari gabungan antara anak OSIS dan SKI berangkat menuju Kediri. Di Kediri, saya telah berkirim kontak, bahwa kawan-kawan saya yang tergabung dalam SA 78, membuat posko bencana alam. Posko SA 78 yang dibuat untuk tanggap bencana itu adalah bentukan pondok PETA Tulungagung, dimana saya sebagai santrinya. Meski dengan tertatih-tatih dijalan, karena tidak tahu rute, akhirnya sampai juga di Desa Kepung, Kec. Kepung Kab. Kediri. Disana rombongan disambut oleh kawan-kawan saya yang akrab hanya di Facebook tersebut. Mereka bertanya, “Yang mana yang namanya Pak Isno?”, “Saya Pak” saya jawab sambil bersalaman. Ada aura kebahagiaan bertemu dengan saudara-saudara sesama tarekat syadziliyah.

Barang-barang diturunkan semua. Dibantu oleh team para relawan. Berdasarkan info, untuk menuju lokasi langsung sangat rawan. Terlebih apabila tidak tahu lokasi. Bisa-bisa rombongan akan dijarah. Saya sendiri, sebenarnya sudah percaya 100 persen kepada kawan-kawan saya. Namun ada “orang” dalam rombongan tetap minta menuju lokasi, dengan alasan untuk dokumentasi. Akhirnya dikabulkan oleh team relawan. Tetapi dicarikan daerah yang aman. Beberapa dus air, makanan dan masker dijadikan sebagai symbol pemberian. Rombongan menuju desa Kebonrejo. Desa ini adalah desa puncak yang tidak ada lagi desa sesudahnya. Kerusakan akibat erupsi menjadi pemandangan dalam perjalanan. Hanya kata “Ya Allah”. Imajinasi para rombongan, “Ndahneo Pas meletusnya bingungnya masyarakat sini”. Tidak berapa rombongan telah tiba di desa Kebonrejo. Disepanjang jalan desa, kami bagikan makanan dan minuman. Dan disetiap membagikan, masyarakatnya saling berdatangan. Apabila mereka tidak kebagian, ada raup kecewa. “Duh gusti, andai aku kaya akan aku jatah makan setiap hari” gumamku dalam hati. Terakhir, rombongan diajak oleh team relawan, berkunjung ke rumah yang kebakaran akibat letusan gunung berapi. Dugaanku, rumah ini terkena konsleting listrik. Bukan karena batu pijar sebagaimana desas desus. Tampak bagus rumahnya sebelum kebakaran. Dan memang rata-rata didesa ini, meskipun di dekat gunung kelud, tetapi masyarakatnya sejahtera. Kemungkinan hasil pertaniannya yang melimpah. Sebagaimana yang terlihat dikanan kiri jalan, banyak Lombok, tomat, salak, durian menjadi tanaman penghasil pundi pundi amal. Jadi sebenarnya mereka kaya-kaya. Tetapi dengan kondisi seperti ini, apalah arti kekayaannya?

Kekayaan orang desa itu terlihat hanya dari bangunan rumahnya. Mereka, jarang atau kalau boleh dikatakan, tidak memiliki tabungan uang di BANK, sebagaimana orang kota-kota. Biasanya kalau sudah punya uang langsung dibelikan wujud barang. Jadi dengan bangunan rumah yang nampak bagus, tetapi kemudian hancur, sangat mungkin mereka akan kesulitan untuk membenahi segera, sedang hasil panennya hancur akibat letusan kelud pula.
Setelah selesai muter desa, rombongan kembali ke posko SA 78. Disepanjang jalan kembali, saya memperhatikan kanan kiri. Banyak relawan mendirikan posko-posko. Mereka membantu mendirikan tenda untuk pengungsian. Ada juga yang membantu membangun tempat ibadah kembali. Ada FPI, Pesantren, PCNU, Sekolah, geraja dll. Mereka membantu dengan kadar kemampuan masing-masing.

Saya menjadi teringat, bahwa dulu kita ini adalah masyarakat gotong royong. Hanya saja sekarang sedikit demi sedikit, atau kalau boleh dibilang hilang dalam kehidupan sehari-hari. Dulu, bila ada orang mau membetulkan emperan (serambi) maka tetangga kanan kiri akan berbondong bondong membantu. Tanpa upah. Dulu, apabila ada orang sedang mengerjakan sawah, atau memanen, tetangga kanan kiri akan membantu. Dulu, apabila ada orang mendirikan rumah, maka seluruh masyarakat akan membantu. Tanpa upah. Dulu, membangun jalan desa, semua berbondong-bondong. Tanpa upah. Namun sekarang? Semuanya serba uang. Semua diukur dari uang. Tidak ada makan siang gratis, demikian kata-kata orang yang membantu tetapi ada udang dibalik maksud.
Tetapi melihat sumbangan dari berbagai lapisan masyarakat yang berduyun-duyun, mengingatkanku pada teori Psikologi, yakni Gustav Jung, santrinya Pak Dhe Sigmund Freud. Bahwa ada arketipe yang mewaris. Ia mewaris melalui alam bawah sadar masyarakat. Tanpa disadari bahwa jiwa gotong royong itu telah merembes menjadi alam bawah sadar kebudayaan suatu masyarakat. Ia akan muncul terus dalam bentuk yang berbeda. Ia juga akan muncul dengan tampa sempurna bila ada kondisi-kondisi tertentu. Jiwa Gotong Royong adalah kesejatian kebudayaan bangsa Jawa. Ia telah meletus seiring dengan letusan Kelud. Ia mengejawantah dalam gawe besar membantu saudara-saudaranya yang terkena musibah. Berbondong-bondong saling membantu. Tanpa Upah. Sungguh Indah Ketulusan itu. Namun kenapa munculnya harus melalui Letusan Kelud? Mungkinkah ini adalah hikmah dibalik Musibah? Kata orang-orang, mungkin demikian.

Mojokerto, 18.45 19-02-14
Isno El Kayyis
     

        

Kamis, Juni 20, 2013



Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*