Saya pernah melihat seorang biksu yang begitu tenang dalam berbicara dan terasa tidak ada yang mengkhawatirkan dalam hidupnya. Dalam hati aku berkata, luar biasa kepribadian orang ini. Saya juga pernah melihat pendeta Katolik yang begitu tenang, begitupun dengan orang kepercayaan Jawa, tenang dalam kepribadiannya, tenang menghadapi hidup. Tidak ada dendam, tidak ada sakit hati, tidak ada ria kepada orang lain. Begitupun aku juga pernah melihat ustad kampung yang begitu, meminjam istilah jawa, sareh dalam menyikapi hidupnya. Manusia-manusia ini bisa saya katakan mereka berada dalam mutmainnah, jiwa-jiwa yang tenang. Bagaimanakah bisa mencapai nafsu mutmainah. Di artikel ini saya mencoba menghadirkan tulisan beliau Ustad Yusdeka yang saya sadur untuk memahami bagaimana bisa mencapai nafsu mutmainah yang dipanggil Alloh menempati surga yang dijanjikan sebagaimana surat Al-Fajr “ Hai Jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridloi. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surgaku”
Baiklah kita kembali ke proses menuju nafsu mutmainah. Kalau kita kembali melihat ayat Al Qur'an tentang penciptaan manusia, maka sebenarnya hanya ada DUA eksistensi yang ada pada setiap manusia itu, yaitu ada DIRI (NAFS) yang berasal dari saripati tanah disatu pihak, dan ada entitas yang bukan dari sari pati tanah yang dipanggil dengan mesra oleh Tuhan sebagai RUH-KU dipihak lainnya sebagaimana ayat di atas. Ya...., hanya ada dua, DIRI (NAFS) dan MIN-RUHI.
SIAPA SAYA......???
Isno itu nama saya. Jadi Isno itu bukan saya, tapi sebagai TANDA ADA SAYA.
Yaaa..., pada Isno itu ada saya.
Kemanapun Isno pergi ehhhh...., disitu ada saya.
Dulu, sekarang, dan yang akan datang ehhh..., ternyata juga ada saya.
Ngapain pun Isno...., disitu ada saya.
Saya menulis lewat tangan Isno.....
Oooo..., ternyata saya yang menggerakkan tangan Isno untuk menulis. Tangan Isno hanya benda yang diam saja. Karena ada saya, maka tangan Isno seakan-akan bisa bergerak untuk menulis. Karena di sekolah ada saya, maka tangan Isno bisa mengajar di kelas. Di rumah juga ada saya, sehingga tangan Isno juga bisa menulis di rumah...!!. Heii..., di Mojokerto pun ada saya, sehingga tangan Isno pun bisa menulis di Mojokerto...!!. Oooo..., ternyata saya juga melihat lewat mata Isno. Saya yang mengalirkan rasa melihat pada mata Isno sehingga Isno seperti bisa melihat. Kemana pun Isno pergi, saya bisa melihat lewat mata Isno. Bahkan saat mata Isno ditutup pun saya masih bisa melihat, saya melihat GELAP, dan saya TAHU itu gelap. Karena sayalah yang melihat itu. Mata saya hanyalah benda mati yang seakan-akan bisa melihat karena saya melaluinya dengan melihat saya. Oooo..., ternyata saya juga mendengar lewat telinga Isno. Saya yang mengalirkan rasa mendengar pada telinga Isno sehingga Isno seperti bisa mendengar. Kemana pun Isno pergi, saya bisa mendengar lewat telinga Isno. Bahkan saat telinga Isno ditutup pun saya masih bisa mendengar, saya mendengar SENYAP, dan saya TAHU itu senyap. Karena sayalah yang mendengar itu. Telinga saya hanyalah benda mati yang seakan-akan bisa mendengar karena saya melaluinya dengan mendengar saya. Oooo..., ternyata saya juga tahu lewat otak Isno. Saya “tahu” apa-apa yang difikirkan oleh otak Isno. Saat otak Isno dialiri rasa mikirin yang baik-baik, saya tahu itu. Saat otak Isno dialiri mikirin yang tidak baik, saya juga tahu itu. Bahkan saat otak Isno tidak dialiri mikirin apapun saya juga tahu. Karena sayalah yang tahu itu. Otak saya hanyalah benda mati yang seakan-akan bisa berfikir karena saya melaluinya dengan berfikir saya. Ooooo..., ternyata saya juga tahu saat dada saya dilanda berbagai rasa. Saya tahu persis saat dada saya dilanda rasa marah, saat dada saya dibekap rasa benci, saat dada saya dibuai rasa cinta, saat dada saya dilanda rasa sedih, saat dada saya menuai rasa apa saja. Saya tahu persis. Karena sayalah yang ”tahu” itu. Dada saya hanyalah benda mati yang seakan-akan bisa merasa karena saya melewatinya dengan merasa saya.
Ahaa...., ternyata saya berada "DIATAS" semua itu.
Yaaa....., posisi saya diatas bergeraknya Isno, saya ada diatas melihatnya Isno, saya ada diatas mendengarnya Isno, saya ada diatas otaknya Isno, saya ada diatas rasanya Isno, saya ada diatas “tahu”-nya Isno. Karena saya adalah Yang Bergerak, saya adalah Yang Melihat, saya adalah Yang Mendengar, karena saya adalah Yang Tahu (Bashirah).
"Balil Insanu 'ala nafsihi Bashirah.... Pada manusia itu, diatas dirinya (nafs) ada bashirah (yang tahu)"
Sedangkan Isno adalah TANDA ADA SAYA,
Bergeraknya Isno kemana pun adalah TANDA ADA SAYA,
Melihatnya Isno adalah TANDA ADA SAYA,
Tahunya Isno adalah TANDA ADA SAYA.
Bahkan diatas DIRI saya (NAFS) yang HAKIKI, yaitu substansi yang universal, yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat tubuh Isno, otak Isno, maupun rasa Isno, yang Luas Tak terhingga, yang meliputi segala sesuatu, yang muthmainnah (tenang, tenteran), juga ada saya.....!!!!.
Yaaa..., keluasan diri saya itu, keuniversalan diri saya itu, juga adalah TANDA ADA SAYA.
Oopppsss...
Jebakannya ternyata ada disini....!!!!
Halus sekali..., munculnya nyaris tak mudah untuk menyadarinya.
Apa jebakannya ?????
• Karena saya bisa mencapai posisi asli diri saya (Nafs), yaitu substansi yang universal (nafsul muthmainah), yang luas tak terhingga, yang meliputi segala sesuatu, maka saya merasa bahwa dimana-mana YANG ADA tetap ada saya. Akan tetapi pada saat yang sama saya juga BISA MENYADARI ADANYA SUBSTANSI LAIN, sebut saja DIA. Yaaa..., “saya” juga merasa ada “Dia”. Akan tetapi antara saya dan Dia TIDAK terpisahkan. Sayangnya saya masih merasa bahwa saya TETAP ada. Sehingga saya merasa menjadi DIA. dan Dia menjadi saya. "Dia adalah Saya, dan Saya adalah DIA.....Tatwam Asi"....!!!. Atau saya merasa bahwa "Saya bersatu dengan DIA...yang nantinya akan memunculkan konsep “hulul, emanasi, wihdatul wujud".
Dua berpadu menjadi satu, akan tetapi saya masih tetap ada, saya BELUM LOLOS.
• Karena saya yang melihat, saya yang mendengar, saya yang tahu, saya yang merasa, saya yang berfikir..., maka saya seperti merasa tidak ada apa-apa lagi selain saya. Hanya ada saya.....!!!.. Akan tetapi pada saat mengaku hanya ada saya ini, kalau saya masih berada di WILAYAH AMBANG (NYARIS LOLOS) maka yang muncul adalah pengakuan: Saya adalah Kebenaran ... (ANA AL HAQ)....!!!. Maha suci saya.... (SUBHANI)...!!!.
Naaaahhh..., kalau sudah berada pada posisi ini, agar tidak tersiksa lagi, maka saya harus CEPAT-CEPAT mencari TEMPAT KEMBALI saya, tapi tempat kembali itu harus yang COCOK dan yang SEBENARNYA.
Dari KEUNIVERSALAN ini, atau dari TATWAM ASI ini, atau dari NAFSUL MUTHMAINNAH inilah perjalanan SAYA yang sebenarnya baru DIMULAI untuk MENUJU KE TEMPAT KEMBALI YANG SEBENARNYA.
Saya Yang KEMBALI PULANG...!!!
Untuk kembali pulang, maka saya butuh PETA yang akan membawa saya pulang ke tempat asal saya. Peta itu harus pula diwariskan oleh "saya" yang pernah pulang ke tempat asal "saya" yang sebenarnya. “Saya” yang pernah pulang itu diwakili oleh “saya” yang melihat, mendengar, dan tahu lewat Nafs Muhammad (saw). Karena Muhammad memang sudah mencapai posisi “saya” yang diatas DIRI, “saya” yang UNIVERSAL, Muthmainnah. Muhammad tidak lagi berada dalam batas-batas fikiran, batas-batas melihat, batas-batas mendengar, batas-batas tahu yang hanya sebatas OTAK dan PERSEPSI Beliau.
Yaa..., Beliau telah LOLOS dan berada pada posisi “saya” yang universal. “Saya” yang bekasnya ada pada diri Muhammad berada diatas dan meliputi alam semesta. Oleh karena itu Beliau disebut juga disebut sebagai rahmat bagi alam semesta itu sendiri.
Proses lolosnya Beliau menjadi “saya” yang universal ini sebenarnya juga adalah sebuah PETA, CARA, METODA, atau cara meracik laku untuk bisa menjadi universal yang perlu ditiru oleh umat manusia. Saat Beliau berada di Gua Hira' yang berada diketinggian (diatas) kota Mekkah, maka Beliau "melihat keluasan" alam semesta. Semakin lama Beliau melihat keluasan itu, maka hampir secara otomatis persepsi keterbatasan dengan atribut ketubuhan Beliau juga menjadi menyusut dan berubah menjadi persepsi alam semesta yang sangat luas tak terhingga. Berada pada posisi ketinggian inipun ditiru pula oleh wali-wali penyebar Islam pada zaman Wali Songo di wilayah Jawa. Hampir semua wali-wali itu membuat markas untuk kontemplasi transenden beliau-beliau itu di daerah "pegunungan".
Saat bermeditasi secara transenden di Gua Hira' itu, Mekkah dan umat manusia yang berada di didalamnya seperti berada dalam liputan Beliau. Beliau bisa merasakan posisi "saya" umatnya yang saat itu masih sangat kuat berada pada persepsi ketubuhan mereka. Beliau bisa melihat dan menyadari bahwa saya yang luas universal ini, oleh hampir seluruh umat Beliau pada saat itu dan pada zaman-zaman berikutnya akan "DIBATASI" menjadi hanya menjadi saya Abu Lahab, saya Abu Jahal, dan saya-saya lainnya, sehingga saya lalu menjadi kecil, terbatas, dan sempit sekali.
Keterpisahan akibat mempersempit “saya” ini adalah ibarat lautan luas yang kemudian airnya dipisahkan atau dibatasi dengan sebuah ember, lalu sang air yang berada pada pembatas satu ember itu tak mampu lagi menyadari adanya eksistensi lautan luas yang sebenarnya, yang berada diluar batas-batas ember itu.
Yaaa.…..ember itulah yang "memisahkan" antara lautan dengan air yang ada diember. Akibatnya air itu hanya merasa bahwa yang air itu adalah sebatas yang ada di dalam ember. Lalu air yang ada diember itu mengaku-ngaku : “Heiii... sayalah air..., sayalah air...”, tanpa si air bisa keluar dari batas-batas ember tadi. Pada manusia, ember itu sangat kuat dan sulit sekali untuk dibuang. Karena ember itu sekaligus juga adalah nikmat, dan rahmat dari Tuhan. Karena pengakuan itulah yang diberikan oleh Tuhan HANYA kepada MANUSIA, tidak kepada ciptaan-Nya yang lain, tidak juga kepada malaikat sekali pun. Keterpisahan seperti inilah yang dirasakan oleh manusia yang tahunya, yang melihatnya, yang “saya”-nya tertutup oleh hijab dirinya, hijab otaknya, hijab persepsinya sendiri.
Yaaa..., akan tetapi Muhammad Saw berhasil mengetahui bahwa “saya” adalah yang luas tak terhingga ini. Akan tetapi oleh umat beliau kemudian dikotak-kotakkan menjadi “saya” yang HANYA terbatas oleh atribut-atribut ketubuhan dan persepsi otak masing-masing orang. Lalu kotak-kotak ketubuhan dan persepsi itulah yang mengaku dan bersaya-saya. Saya adalah Abu Lahab, Saya adalah Abu Jahal, Saya adalah Hindun, saya Umar, saya adalah Ali, dsb. Apapun yang tidak sesuai dengan saya, maka saya akan lawan dan habisi saya-saya lainnya itu......!
Saat di Gua Hira' itu, Muhammad Saw berhasil LOLOS dari "kotak" ketubuhan Muhammad. Beliau mampu menempatkan “saya”-nya di posisi jiwa (diri) muthmainnah (jiwa yang tenang). Dan saat itulah Beliau "bertemu" dengan jiwa universal lainnya yaitu malaikat JIBRIL, dimana Jibril ini sudah berhasil mengembalikan “saya”-nya ke posisi yang sebenarnya.
Lalu Jibril memberitahu Muhammad untuk tidak berlama-lama bingung dan merenung dalam posisi Jiwa Universal itu. Karena Jiwa Universal itu dapat merasakan kepedihan, kegalauan, dan penderitaan jiwa-jiwa lainnya yang berada dibawahnya. Bahkan Jiwa Universal ini juga dapat merasakan kebahagian, nikmat, dan rahmat yang dirasakan oleh jiwa-jiwa universal lainnya. Kemudian Muhammad saw di perintahkan oleh Jibril untuk membaca (Iqraa') Jalan Kembali bagi “saya” Muhammad ke rumah yang SEBENARNYA. Dan Beliau akhirnya tahu rumah yang sebenarnya untuk tempat kembali “saya”-nya agar nantinya tidak merasakan jebakan seperti yang telah diuraikan sebelumnya diatas.
Dimana rumah Beliau ????
Dan rumah tempat kembali itu adalah Allah, dan lalu “saya” Muhammad kembali kepada Allah:
"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiunn....
saya adalah dari Allah, milik Allah, dan kepada-Nya saya kembali....".
Deerrr....!
Dan karakteristik (ciri-ciri) rumah tempat kembalinya saya Beliau itu adalah:
"Laisa kamistlihi syai'un...
tidak sama dan tidak serupa dengan apapun...!!".
Deeerrr...!!
Lalu setiap saat “saya” Beliau (atau diringkas saja menjadi Beliau) mengembalikan ke tempat yang hakiki apapun yang Beliau lihat, yang Beliau rasakan, yang Beliau dengar, yang Beliau ketahui, dan yang Beliau kerjakan. Semuanya Beliau KEMBALIKAN ke tempat yang Sesungguhnya, yaitu Allah. Dan Beliau selalu diberitahu dan diingatkan dari waktu kewaktu bahwa: "Tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemahuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (53:3-4). Beliau selalu mengembalikan kepada Allah..., selalu...!!!
Yaaaa..., hanya sesederhana ini sajalah INTI dari Ajaran Muhammad SAW yang HAKIKINYA. Sama saja seperti ajaran yang di bawa oleh Musa, Yesus (Isa), dan nabi-nabi serta rasul-rasul lainnya. Bahkan INTI ajaran Budha dan Hindu-pun mengarahkan agar umatnya juga seperti diatas.
Dari posisi Puncak inilah Muhammad Saw kemudian BERHASIL mendapatkan potret tentang:
• Bagaimana ciri-ciri manusia yang tidak berhasil mengembalikan setiap atribut dan pencapaian “saya” kepada pemiliknya, yaitu Allah. Artinya..., “saya” itu hanya tersekat dan terkotak-kotak dalam persepsi ketubuhan setiap manusia, dan bagaimana akibat yang dirasakan oleh manusia yang tersekat itu sehingga umat berikutnya bisa mengambil pelajaran.
• Bagaimana ciri-ciri manusia yang tidak berhasil menemukan karakterisitik RUMAH tempat pengembalian atribut “saya” itu, yaitu Allah, sebagai YANG TIDAK SAMA DENGAN APAPUN. Dimana ketidakberhasilan inilah nantinya yang akan melahirkan banyak agama-agama dan aliran-aliran, berikut dengan segala problema dan akibatnya, agar umat berikutnya bisa mengambil pelajaran.
• Begitupun sebaliknya. Bagaimana ciri-ciri manusia yang BERHASIL mengembalikan segala atribut saya kepada Allah, dan berhasil pula menemukan karakteristik Allah yang sebenarnya, yaitu YANG TIDAK SAMA DENGAN APAPUN, berikut dengan segala akibatnya, sehingga umat berikutnya bisa mengambil pelajaran.
• Setelah tahu ciri-cirinya, maka potret berikutnya yang berhasil Beliau dapatkan adalah bagaimana JALAN, METODA, atau CARA MERACIK, agar manusia-manusia BISA mendapatkan ciri-ciri yang sesuai dengan ciri-ciri potret orang-orang yang BERHASIL mengembalikan segala atribut saya kepada Allah, dan berhasil pula menemukan karakteristik Allah yang sebenarnya. Tentu saja jalan, metoda, atau cara meracik segala usaha ini memuat perintah dan larangan yang perlu dipatuhi oleh si manusia agar berhasil pula mencapai posisi seperti yang dicapai oleh Muhammad Saw.
POTRET UTUH yang memuat setiap ciri-ciri, jalan, metoda, berikut dengan akibat-akibatnya ini, yang kemudian disalin kedalam bentuk bahasa tertulisnya dalam bahasa Arab, lalu disebut sebagai Al Qur'an. Dan oleh sebab itu Al Qur'an ini disebut juga sebagai PETA yang sanggup mengarahkan manusia untuk dapat pula PULANG ketempat Asalnya yang sebenarnya yang bekarakterisitik "Laisa kamistlihi syai'un", yaitu Allah.
Awal Keterpisahan
Pada awalnya Al Qur'an ini - karena didapatkan oleh MANUSIA UNIVERSAL, yaitu Muhammad Saw, yang juga berisikan POTRET UNIVERSAL - ditujukan untuk semua umat manusia. Hal ini dibuktikan oleh sejarah bahwa selama Beliau hidup, tidak ada umat yang berada dalam wilayah kekuasan Beliau yang tidak merasakan manfaatnya. Umat-umat yang tidak menjalankan "syariat" Islam-pun merasakan keuniversalan muatan Al Qur'an itu.
Akan tetapi, manusia-manusia sesudah Beliau, yang seharusnya juga berada di SUASANA DIRI YANG UNIVERSAL (muthmainnah, tenang) seperti Muhammmad Saw dan menyampaikan keuniversalan Al Qur'an, malah GAGAL menyampaikan pesan Al Qur'an itu sendiri. Penerus-penerus Beliau gagal menyampaikan pesan bahwa Al Qur'an itu adalah PETA untuk semua manusia. Karena banyak dari penerus-penerus beliau yang GAGAL untuk mencapai posisi DIRI UNIVERSAL. Bagaimana bisa menyampaikan SUASANA UNIVERSAL kalau penyampainya sendiri tidak berada dalam POSISI DIRI YANG UNIVERSAL pula.
Tidak..., tidak akan bisa..........!!!!.
Duh..., kasihan sekali Rasulullah Muhammad Saw. Usaha dan karya besar Beliau selama + 25 tahun tidak ada yang bisa meneruskannya dengan komitmen yang tinggi sehingga keindahan Islam seperti terpisah dari kenyataan hidup umat Islam sehari-hari. Kesempurnaan dan ketinggian Islam seperti hanya jadi mimpi-mimpi indah yang menina bobokan kita.
Sanggupkah kita meneruskan perjuangan Rasulullah itu...???,
Semoga paham. Untuk anak-anak SKI, bisa kita diskusikan lebih lanjut.
Jogo dayoh, Tanggal 30 jam 7.32
Goze Isno
Selasa, Juni 30, 2009
Nafsu Mutmainnah
Diposting oleh Goze Isno
0
komentar
Label:
Tasawuf
Lupa-Lupa Ingat
Diposting oleh Goze Isno
Lupa……lupa lupa lupa lupa lagi Allohnya.
Lupa….lupa lupa lupa lupa lagi Syukurnya.
Ingat…..ingat ingat ingat ingat cuma ingat waktu susah…..
Itu lagu dari orang kuburan yang menyindir kita, manusia yang masih hidup, tentang ketidakkonsistenan dzikir kita. Seringkali kita lupa kepada Alloh, ketika ingat hanya waktu susah saja, atau waktu butuh saja. Contoh, biasanya anak-anak SMA kalau mendekati Ujian Nasional khusu’nya minta ampun. Dia selalu ingat kepada Alloh. Menjalankan Sholat dhuha secara istikomah, Sholat tahajud secara istikomah, dzikir-dzikir, dan amaliah-amaliah lain. Bahkan mereka biasanya menggunakan senjata pamungkas dengan berjanji kepada Alloh jika lulus akan berpuasa 7 hari (nadzar). Namun ketika mereka sudah mendengar kelulusan UNAS, amaliah yang begitu mulia lama kelamaan ditinggal. Akhirnya mereka menjadi manusia normal seperti kebanyakan manusia Lupa-Lupa Ingat kepada Alloh. Banyak sms yang datang kepada saya, “pak bolehkan puasa nadzar saya, saya kerjakan nanti saja, saya masih……..” “Pak boleh tidak puasa nadzar saya tidak saya kerjakan berurutan”. Dalam hati, dasar manusia, jika butuh saja menggebu-gebu mengumbar janji kepada ALLOH - padahal mereka jika digombali tidak mau- kalau sudah dituruti inginnya mencari keringanan atau jika perlu tidak usah melakukan nadzar. Dasar manusia, inginnya tidak usah sholat dan melakukan amaliah agama tetapi bisa masuk surga, mungkin secara general bisa disimpulkan seperti itu. Seperti sebuah lagu “andai a….a….aku jadi orang kaya…..andai….a….a….aku tak usah pakai kerja” pokoknya pingine puenak dewe, sak karepe udele dewe-dewe. Termasuk dalam hal berdzikir, kebanyakan manusia ingin hatinya tentram, namun mereka tidak pernah ingat kepada Alloh. Bukankah ada yang mengatakan “Ala bidikrillah tatmainul qulub” bahwa dzikir itu bisa menentramkan hati. Bagaimana bisa tentram hatinya, jika mereka tidak ingat Alloh? Bahkan orang berdzikir hanya lisannya saja tetapi hatinya tidak pernah ingat kepada Alloh? Lha terus bagaimana bisa tentram. Dalam mengerjakan apa saja mereka tidak ingat Alloh. Ketika makan tidak ingat Alloh. Ketika berhubungan dengan istri tidak ingat Alloh. Ketika mendapatkan rizki lupa kepada Alloh. Padahal semuanya itu pemberian Alloh. Dalam surat Al-Imran kita itu disuruh untuk selalu ingat kepada Alloh dalam setiap geraknya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (ali Imran 190-191),
Lha??????? Lho????
Makanya Ibnu Athoillah pernah dawuh. Alloh itu memberi dua hal kepada manusia agar manusia kembali ingat kepada Alloh. Pertama diberi cobaan, dengan diberi cobaan maka manusia pasti ingat Alloh. Sekafir-kafir apapun manusia jika dalam batas klimak ketidakmampuan dirinya mesti ingin dibantu oleh sebuah kekuatan yang melebihi batas kemampuan manusia apapun termasuk superman sekalipun, orang menyebut “Tuhan”. Saya contohkan jika kita berlayar dilautan, di tengah lautan itu tiba-tiba ombak begitu besar hendak menggulung seluruh penumpang perahu. Dalam batas klimak antara hidup dan mati orang akan mengharap “Ya Alloh selamatkan aku”. Begitupun ketika anda tersesat disebuah hutan atau gunung yang disitu tidak ada satu orangpun yang sanggup menolong kita mesti tanpa sadar kita akan berucap “Ya Alloh tolong aku”. Seorang ibu yang hendak melahirkan anaknya, dalam batas klimaks ketikdamampuan dia menghadapi antara hidup dan mati itu dia akan berujar “Ya Alloh selamatkan anakku”. Maka jangan heran, manusia ketika mendapatkan ujian, cobaan atau apapun itu namanya sebenarnya Alloh merindukan suara “Ya Alloh tolong aku”. Di situlah Alloh mengingkan agar hambanya kembali kepada Alloh. Jika anda (pembaca) sedang menghadapi musibah atau cobaan sebenarnya anda sedang dirindu sama Alloh agar kamu memasrahkan urusanmu kepada Alloh. Guru saya berpesan “Jika Kau serahkan Hidupmu kepada Alloh maka Alloh yang akan mengurus hidupmu, namun jika Kau pasrahkan hidupmu kepada ikhtiarmu maka Alloh akan menyerahkan hidupmu pada ikhtiarmu sendiri” kira-kira enak mana diurus Alloh dengan mengurus sendiri??????? Banyak orang yang ingin mengurus dirinya sendi makanya dia sering berputus asa karena ketidakmampuan manusia dalam menyelesaikan kemelut hidupnya. Kepasrahan kepada Alloh itu adalah solusi, bukan dengan ego kita. Kedua, Alloh memberi nikmat agar kamu bersyukur dan kembali kepada Alloh. Kamu diberi kelapangan rizki agar kamu semuanya berucap syukur kepada Alloh. Diberi kesempurnaan tubuh, kecerdasan otak, kelezatan makan, kesehatan, keluarga lengkap de el el, agar mulutmu berujar “Trims Ya Alloh, Syukron Ya Alloh, Suwun Ya Alloh, Thank Ya Alloh, Kamisia Ya Alloh”. Alloh rindu dengan itu.
Namun kedua hal itu bisa menjadi hijab jika kita memandang berbeda atau misunderstanding dengan kemauan Alloh. Alloh memberi cobaan kepada manusia agar manusia kembali kepada Alloh tetapi dipahami sebagai bentuk Alloh benci kepada kita. Bahwa Alloh tidak sayang kepada kita, Alloh tidak adil kepada kita, Padahal…….????????? Alloh member rizki kepada kita agar kita bersyukur kepada Alloh namun seringkali dipahami bahwa anugerah yang ada pada kita sebagai usaha dari kita sendiri tanpa melibatkan Alloh. Contoh ingatkah kamu contohnya si Korun Umatnya nabi Musa, yang minta didoakan oleh nabi Musa untuk menjadi orang kaya. Dia berjanji jika kaya akan mempergunakan kekayaannya untuk memperjuangkan umat dan membela umat dengan program “ Lebih cepat lebih baik dilanjutkan untuk umat semua” tetapi kita benar-benar jadi kaya dia lupa bahwa semua kekayaan yang diperoleh adalah fadolnya Alloh. Karena rahmatnya Alloh. Karena tidak mau mensyukuri nikmatnya Alloh maka seluruh harta bendanya di tenggelamkan oleh Alloh. Maka siapapun kalian jika tidak menjadikan musibah menjadi ingat kepada Alloh atau menjadikan segala kenikmatan yang kamu berikan untuk tidak kembali kepada Alloh bersiap-siaplah seperti si Korun. Karena jelas ayatnya “Lain sakartum laajidannakum walakin kafartum innahu adzabu lasadiid” Siapa yang bersyukur kepada aku aku tambah nikmatnya namun jika mereka kufur terhadap nikmatku maka bersiap-siaplah adzabku sungguh sangat puedih sekali”….ingat…..ingat………Alloh.
0
komentar
Label:
Tasawuf
Senin, Juni 29, 2009
Pengemis Sejati
Diposting oleh Goze Isno
Ketika berangkat ke sekolah untuk mengajar, pasti saya melewati jalan perempatan jalan yang terdapat lampu lalu lintas. Suatu saat, aku menemui lampu merah, yang mau tidak mau harus menghentikan sepedaku. Biasanya ketika aku berhenti mesti ada pemandangan yang tidak menarik. Sepeda motor berjubel-jubel ingin berada digarda depan, kadang-kadang ada yang menyerobot, belum lagi ada pedagang asongan yang berebutan..de el el. Salah satu pemandangan dilampu merah yang membuat hatiku tertarik untuk mengamati adalah seorang pengemis yang meminta (memangnya ada ta, pengemis yang memberi he…he..). aku mengamati gerak-geriknya. Yang menarik, ketika satu orang yang dimintai tidak memberi, dia berganti ke orang lain untuk meminta, tidak diberi lagi, dia meminta lagi ke orang lain sampai diberi. Pengemis tadi, tiada pernah putus asa untuk meminta. Dia meminta kepada siapa saja tanpa memandang dia kaya ataukah miskin, jelek ataukah tampan, kurus ataukah gendut, keriting ataukah lurus, hitam ataukah kuning, lagi senang ataukah sedih….de el el (mungkin terlalu pusing untuk memikirkannya). Aku melihat gaya dia meminta, mimik yang memelas diiringi dengan suara yang memelas pula. Tangan terus menengadah kepada semua orang. Dia tidak memperdulikan lagi harga diri socialnya yang diinjak-injak oleh mata-mata orang dengan penuh kehinaan. Yang mereka inginkan hanya uang untuk mendamaikan isi perut yang berunjuk rasa ingin dipenuhi. Setelah diberi, biasanya dia mengucapkan terima kasih dengan diiringi doa tanda rasa syukur telah dibagikan rizki kepadanya.
Pengemis mengajarkan kepadaku tentang ilmu mengemis. Mengemis????? Saya pikir-pikir, ternyata kita semua ini pengemis. Bukankah begitu??? Ketika kita ini dalam kesusahan kita ngemis-ngemis kepada Alloh untuk diberi anugerah kenikmatan. Ketika kita ini sedang mengalami kemiskinan kita ngemis kepada Alloh agar diberi rizki…, de el el. Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, camat, Lurah mengemis kepada Alloh agar jabatannya lancar dan langgeng (apalagi pas waktu pilkada, pilgub, pilpres, pil kb, pil….). Pedagang, pengusaha, mengemis kepada Alloh agar diberi kelancaran menjalankan bisnisnya (apalagi pas bangkrut). Siswa, mahasiswa mengemis kepada Alloh agar diberi kelulusan (apalagi pas ujian nasional….). Kyai, ustad, guru, mengemis kepada Alloh agar bisa membina umat dengan baik….de el el. Mbok sadar!!!!!!! Kalau butuh, ngemis-ngemis, kalau tidak butuh, lupa!!!!!! Mungkin terkena amnesia. Kita semua ini pengemis, setuju????? Lalu apa yang kita sombongkan dari diri kita?????? Bukankah itu semua adalah pemberian-Nya????? kalau kita ini sudah menyadari bahwa hakekatnya kita semua ini pengemis mbok yao (agar, supaya) belajar kepada orang pengemis. Pengemis itu pertama, selalu merendahkan dirinya dihadapan yang memberi. Tidak sepantasnya kita berdoa dengan membusungkan dada dihadapan Alloh apalagi sampai mengancam (Lihat dong Filmnya Aming “Akibat doa Mengancam”) atau menyuruh-nyuruh Alloh menuruti nafsu kita. Rata-rata orang berdoa itu ingin Alloh menuruti nafsunya. Aku ingin ini Ya Alloh……Aku ingin itu Ya Alloh…… Jika tidak dituruti biasanya dia akan memaki-maki Alloh. Alloh tidak adil…..Alloh tidak sayang sama aku…… Nah??????ini lho bedanya doa lillah dengan doa nuruti nafsu!!!!! Mesti ujung-ujungnya menyalahkan taqdir. Kalau sudah menyalahkan taqdir berarti menyalahkan kebijakan Alloh. Alloh tidak adil padahal Maha Adil. Alloh tidak sayang padahal Maha Kasih. Berbeda dengan do’a lillah, jika tidak diberi itu urusan Alloh. Semuanya dipasrahkan Alloh. Kita berdoa karena memang disuruh bukan hanya meminta saja. Karena berdoa merupakan bagian dari perintah berarti wajib. Kalau ada orang yang bilang bahwa, apa kalau kita tidak berdoa Alloh tidak memenuhi kebutuhan kita? Apakah Alloh tidak tahu kebutuhan kita? Memangnya Alloh Tuli apa? sampai-sampai kamu semua berdoa terus menerus? He…he…he bagaimana? Bihun!!!! Kita jawab, berdoa adalah perintah. Perintah adalah perintah. Kita cuma sami’na wa ato’na. Tidak usah ngeyel. Kenapa disuruh berdoa padahal tanpa berdoa sekalipun Alloh juga bakalan memberi????? Karena, Alloh menginginkan kamu untuk tidak sombong dihadapan Alloh. Agar ada perasaan butuh sama Alloh. Agar kamu merasa rendah dihadapan Alloh. Agar ada perasaan ketergantungan hatimu pada Alloh. Agar ada perasaan bahwa kamu itu tidak bisa apa-apa karena semuanya yang nentukan itu Alloh. Taqdirmu ditentukan Alloh. Kita ini tidak bisa apa-apa, bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Yang siapa-siapa itu hanya Alloh. Yang bisa apa-apa itu hanya Alloh. Yang punya apa-apa itu hanya Alloh. Makanya kita ngemis, karena kita semua adalah Fakir. Fakir dihadapan Alloh.
Kedua, Pengemis itu mengajarkan kepada kita semua bahwa ketika kita meminta jangan sampai putus asa. Jika kita meminta kepada Alloh jangan sampai putus asa untuk berdoa dan berharap kepada Alloh. Kenapa? Karena yang memberi adalah Alloh. Yang namanya Pemberi, itu memiliki hak prerogratif, hak untuk memberi dan tidak memberi. Namun karena Alloh sudah janji (ud’uni astajiblakum) bahwa siapa yang mengemis (berdoa) pasti akan diberi, pasti itu akan diberi. Cuma menunggu waktu, sampai kapan kira-kira anda siap untuk diberi. Meskipun menurut anda bahwa anda siap untuk diberi tetapi di mata Alloh anda belum siap untuk diberi. Saya contohkan, ada anak usia 3 tahun meminta sebilah pisau yang sangat tajam, kira-kira ibunya memberi pisau? Tentu tidak, karena bagi anak 3 tahun pisau itu sangat berbahaya. Tetapi jika anak tiga tahun itu sudah menginjak usia 15 tahun pasti akan diberi, karena ibunya mengharap dengan sebilah pisau itu sang anak bisa ngiris bawang, lombok, tomat dll. Tinggal nunggu waktu yang pas. Pas pada masanya dan pas pada tingkat derajat kita menerima anugerah itu. Jangan sampai kita ini putus asa dari mengharap rahmatnya Alloh, karena orang yang berputus asa dari rahmatnya Alloh adalah orang kafir yang akan mendapatkan adzab Alloh yang sangat pedih, sebagaimana surat al-Ankabut ayat 23: “…….mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih”
0
komentar
Label:
Curhat
Kesucian Sex
Diposting oleh Goze Isno
Ketika selesai ijab qabul pernikahanku pada tanggal 7 bulan Juni tahun 2007, aku mengucapkan rasa beribu-ribu syukur karena aku telah diselamatkan oleh Alloh dari godaan syetan selama aku menjadi perjaka. Aku selamat dari penistaan keperjakaanku. Aku utuh tidak ada goresan kehilangan keperjakaanku untuk kuhadiahkan kepada istriku tercinta. Walau buanyak sekali godaan yang menerpa aku. Baik waktu SMA, Perguruan Tinggi, apalagi menjelang pernikahan. Banyak orang yang bercerita kepadaku tentang ketidakberhasilan mereka dalam menjaga “anu”nya. Laki-laki maupun perempuan. Waktu dulu di SMA, teman seangkatanku ada yang hamil gara-gara dihamili dan membiarkan dirinya ikhlas dihamili. Waktu dikampung, ini kebiasaan buruk orang-orang yang bodoh, yakni habis melamar, biasanya mereka sudah menginap dirumah calon istrinya. Seorang teman bilang, padahal dia itu juga sholat, menjelang ke pernikahan, dia menginap di rumah calonnya. Dia tidur dikamar calonnya, tentu bersama calon istrinya. Awal-awal dia tidak merasa apa-apa. Namun tiba-tiba ia sangat bernafsu untuk men duhul istrinya. Namun istrinya tidak mau karena takut dosa. Temanku ini kemudian tersadarkan dari godaan syetan. Namun kemudian, istrinya yang kalap ingin diduhul, tetapi temanku ini menyadarkan akan perbuatan dosa. Akhirnya calon istrinya sadar. Tetapi kemudian kedua-duanya saling kalap bernafsu untuk melakukan hubungan. Maka hancurlah pertahanan keperawanan dan keperjakaannya. Setelah kejadian barulah mereka berdua menangis. Silahkan diteliti, konon perempuan awal-awal kehilangan keperawanannya mesti menangis. Tafsiri sendiri. Waktu di perguruan tinggi, seorang senior di pers, bercerita tentang kejahatan kelamin yang ia lakukan terhadap mahasiswi-mahasiswi. Baik berjilbab maupun tidak berjilbab (makanya dulu saya tidak percaya terhadap keperawanan mahasiswa di Surabaya he….he……..dolek wong ndeso). Rata-rata, mereka melepaskan keperawanan demi……….demikian. Belum lagi di sekolah-sekolah zaman sekarang. Belum kasus-kasus di perumahan. Insya Alloh saya punya referensi banyak tentang kejadian kehilangan keperjakaan dan kehilangan keperawanan. Padahal jika kita berpikir, kalau keperawanan dan keperjakaan sudah hilang, hadiah teristimewa apa yang akan diberikan kepada suami/istri tercinta? Bukankah ketulusan cinta itu yang harus diberikan? Bukankah kesucian cinta itu yang harus diberikan kepada pasangan sebenarnya? Bukannya pasang-pasangan. Bukankah keperawanan/keperjakaan itu adalah bentuk dari kesucian cinta yang akan kita persembahkan teristimewa kepada kekasih hati kita? Jika hilang apanya yang suci? Apanya yang cinta? Apanya istimewa? Apanya yang indah? Kalau anda mengatakan bahwa calonmu tidak tahu bahwa kamu telah hilang keperawanan/keperjakaanmu, engkau tetap meneruskan menuju pernikahanmu, saya katakan, untuk apa sebuah pernikahan jika didasari kebohongan dan kepalsuan????? bukankan nikah itu suci??? Menikah itu disaksikan oleh ribuan malaikat, malaikat tahu kebohongan yang kamu jalankan…he….he….berbicara sex dan menjalankan sex tidak hanya sekedar melakukan (ML). Why????? Karena melakukan hubungan sex itu dekat sekali dengan proses penciptaan manusia yang dilakukan oleh Alloh. Kelamin kita "dipakai" oleh Allah sebagai sarana untuk pembiakan manusia. Bayangkan jika dalam proses itu kita kotori!!!!. Dan alangkah sangat besar siksa Allah kalau "TEMPAT SUCI (rumah Allah)" dimana Allah berkreasi, mencipta, berkendak, dan mengembangbiakkan manusia itu dikotori dengan berbagai tindakan yang negatif (fujur). Tatkala kita mengotori kelamin dengan kehendak percabulan, maka berbagai perbuatan cabul pun akan muncul tak terkendalikan pada diri kita ini. Akibatnya? Anaknya? Ke depan???? Hidupnya??..... Subhanaka????? Subhanaka?????? subhanaka?????
Dsn. Sayun Ds. Jejel Jam 6.52
Goze Isno
1 komentar
Label:
Curhat
Senin, Juni 22, 2009
Wanita Musta'mal
Diposting oleh Goze IsnoSalah satu siswi, pernah menceritakan kepada saya gaya berpacarannya dengan pacarnya. Setiap kali ketemuan dengan pacarnya, pacarnya selalu minta ciuman. Tetapi menurut pengakuannya, dia selalu menolak. Penolakan ini kemudian menghasilkan ledekan kalimat “Engkau tidak sayang sama aku?”. Karena tidak mau dikatakan tidak sayang, maka terjadilah ciuman mesraan itu. Siswi yang lain lagi pernah curhat sama saya bahwa dia punya pacar pendiam. Setiap kali pacaran selalu tidak aktif. Padahal siswi saya ini, ingin romantis seperti di dalam sinetron-sinetron. Karenanya, pada kesempatan yang memungkinkan berduaan, siswi ini minta dicium sama cowoknya. Namun cowoknya tidak mau. Karena tidak mau murid saya ini sewot. Akhirnya demi mengobati kesewotannya, sang cowok akhirnya mau mencium. Beberapa hari pasca penciuman itu, setiap kali ketemuan malam minggu, justru sang cowok selalu menuntut untuk ciuman….he..he.. enak tenan. Pada kesempatan lain, ada satu siswa saya yang berkunjung ke rumah saya. Dia meminta saran saya untuk memutuskan antara meneruskan hubungannya dengan pacarnya ataukah tidak. Karena disatu sisi, dia sayang, tetapi disisi lain dia melihat ceweknya terlalu merdeka. Kemerdekaan pacarnya diceritakan, sering dikunjungi oleh teman laki-lakinya. Padahal dirumah ceweknya itu seringkali sendirian karena orang tuanya sibuk mencari duwit. Ceweknya sendiri terlalu berani dengan laki-laki. Dibuktikannya sendiri, ketika dia pernah berkunjung ke ceweknya itu. Karena tidak ada orang sama sekali di dalam rumahnya, maka siswa saya ini diajak cium-ciuman sama ceweknya tadi……wah…wah. Murid saya ini bertanya “menurut pak Isno, wanita semacam ini kira-kira cocok untuk masa depan saya ataukah tidak?” aku bihun. “menurut kamu bagaimana?” kembali saya tanya sama dia. “Saya kurang sreg, pak” dia menjawab. “Kenapa?” saya bertanya lagi. “dia itu sudah gonta-ganti pacar pak. Saya ini telah sekian kalinya. Kalau dengan saya saja dia minta ciuman, apa dengan pacar-pacar sebelumnya dia juga tidak begituan, pak? Berarti saya dapat sisanya pak.” He…he…..wekekekekek.
Cerita ini sungguh sangat menarik. Kenapa? Karena ceritanya adalah cerita fakta tentang hasil-hasil dari pacaran….he..he…. sayang, cinta, rindu dimaknai hanya dengan ciuman, berpelukan, pegangan tangan de el el. Sungguh kebodohan yang disempurnakan. Ayo kita merenungkan…… waktu SD saja kita akan menemukan ada siswa-siswi yang sudah berani pacaran….nanti putus…..ketika SMP pacaran lagi……putus lagi…….waktu SMA pacaran lagi…..putus lagi……belum di Perguruan tinggi…..dasar cinta monyet makanya orangnya seperti monyet…..suka menyeringai. Anda bayangkan, Ya, kalau selama SMP itu pacarnya satu, kalau berkali-kali putus nyambung?????? Belum di SMA. Belum di Perguruan Tinggi. Ya!!!!kalau hanya sekedar ngomong doank! Kalau setiap kali punya pacar dia selalu dicium, dipegang, diraba, ditrawang. Saya menjadi ingat pelajaran fiqh, tentang macam-macam air yang bisa digunakan untuk bercuci. Pertama, Air itu ada air yang suci dan bisa digunakan untuk bersuci contoh air sumur, air sungai, air laut, air hujan dll. Air-air ini dijamin suci dan bisa digunakan untuk wudlu. Kedua, air itu ada yang suci, tetapi tidak bisa dipakai untuk bersuci (berwudlu) contoh air kopi, air susu, air kelapa…..meskipun suci tetapi tidak bisa dipakai untuk wudlu. Termasuk yang sering dijadikan contoh dalam kitab fiqh pada contoh air suci tetapi tidak mensucikan adalah air musta’mal yaitu ketika anda berwudhu, sisa dari percikan air yang membasuh muka anda itu tidak bisa digunakan untuk berwudhu lagi. Kenapa? Karena airnya telah terpakai untuk bersuci sehingga tidak bisa digunakan untuk bersuci. Kalau tetap digunakan maka wudhunya batal alias tidak sah. Karena menggunakan air sisa. Ketiga, air najis, yang tidak suci dan tidak bisa digunakan untuk mensucikan contoh kencingnya kuda, kencingnya Pak Ngademo, dll. Sama dengan wanita, jika mereka itu termasuk wanita yang menjaga kehormatannya berarti dia adalah wanita suci dan bisa digunakan untuk mensucikan cinta dan pernikahan mereka. Dia (wanita) bisa mensucikan qolbu suaminya. Mensucikan kotoran-kotoran suaminya. Sedangkan kedua, apabila wanita telah terpakai maka dia tidak mampu untuk mensucikan. Dia telah terpakai dengan dicium, dipeluk, dipegang, diraba dan ditrawang…..maka ibarat air tadi tidak bisa mensucikan meskipun dia masih suci. Silahkan anda tafsiri sendiri. Ketiga adalah (maaf) wanita ibarat air tadi “wanita najis”, wanita yang sudah tidak suci lagi. Karena tidak suci maka dia tidak mungkin bisa mensucikan. Mensucikan apa saja? Bagaimana bisa mensucikan wong dirinya saja tidak suci.????
Nah kira-kira anda termasuk golongan wanita bertipe apa????? Maaf kalau tulisan ini berbau ketidakadilan gender. Sampean tinggal ngrubah saja, wanita menjadi laki-laki saja. Soalnya juga banyak laki-laki yang musta’mal dan laki-laki najis. Mungkin termasuk saya.!!!!!!!
3
komentar
Label:
Curhat