Rabu, Desember 26, 2012

Catatan Studi Wali SKI SMA Negeri 3 Mojokerto Tahun 2012



Pagi yang cerah memeluk rasa bahagia pada peserta Studi Wali SKI SMAGHA yang sedang bersiap siap berangkat ke tiga tempat yang akan dijadikan tujuan pada kegiatan ini. Aku melihat sudah banyak yang hadir saat aku baru tiba dihalaman SMA Negeri 3, padahal masih setengah enam. Saya mengucapkan syukur, pasalnya hamper rata rata mereka memiliki disiplin waktu yang tinggi. Hanya beberapa saja yang molor. Dan ini sudah saya antisipasi untuk sedikit toleran 30 menit molornya. Memang ada satu anak yang terlambat, tetapi karena harus memegang prinsip disiplin, maka aku putuskan ditinggal saja. Itu konsekwensi. Dan hamper pula setiap kepemimpinan saya selalu saya tekankan disiplin waktu. Di SD Islam EMHA, hamper wali murid sudah hafal dengan budaya on time kami. Sehingga setiap ada undangan, rata rata mereka datangnya selalu on time. Begitupun di MGMP, yang dulu molor, sekarang saya rubah, sedikit atau banyak, bila waktunya telah terjadwal harus dimulai. Kecuali bila ada pejabatnya. He he he….
Pukul 06.30 rombongan berangkat menuju Pesantren Ringin Agung dengan diiringi lantunan Dzikir dzikir istighosah yang dibawakan langsung oleh Guide kami yakni, Ustad Zainudin, atau biasanya lebih akrab dipanggil Ustad Zen. Setelah istighosah, dilanjutkan dengan cerita tentang Pesantren Ringin Agung dan Kisah Para Pendiri serta pengasuh Pesantren Ringin Agung. Cerita lebih mengasyikkan, dikarenakan Ustad Zen sendiri adalah alumni Pesantren Ringin Agung. Jadi ceritanya lebih meyakinkan, semacam testimoni.
Dari ceritanya, didapat banyak pelajaran bahwa pendiri Pesantren ringin agung adalah keturunan dari Menteri Agama Kerajaan SOLO. Nama aslinya Raden PUPUH. Tetapi di Pesantren lebih dikenal dengan nama SI MBAH IMAM NAWAWI. Si Mbah Nawawi lebih memilih mendirikan pesantren daripada menjadi Qadinya Kerajaan Solo, melanjutkan jabatan ayahnya. Beliau melakukan babat alas disebuah hutan dengan mengerahkan seluruh santrinya. Dari babat alasnya tadi, ada satu peristiwa yang unik, yakni tidak bisa tumbangnya sebuah ringin yang sangat besar. Lalu Mbah Imam Nawawi munajat kepada Alloh untuk menyelesaikan permasalahannya. Lalu Mbah Nawawi mendapat ilham berupa bacaan sholawat “Allohuma Sholi wasalim ala Muhammad wa sallim”. Lalu sholawat itu didzikirkan oleh para santri sambil mengelilingi pohon ringin. Tidak beberapa lama, ringin itu pun tumbang. Untuk menandai peristiwa itu lalu pondok pesantren itu dinamai Pondok Ringin Agung (Ringin yang besar). Dan kata Ustad Zen, tempat pohon ringin itu sekarang di atasnya didirikan Masjid Ringin Agung.


Cerita pun berlanjut dengan cerita para keturunan Si Mbah Nawawi. Namun kata Ustad Zen, kultur di Pesantren Ringin Agung adalah kultur tertutup. Mereka para wali Alloh yang tidak ingin dikenal. Jadi tidak banyak yang bisa diceritakan. Hanya cerita secuil dari kekeramatan para kekasih Alloh melalui orang orang yang kenal dekat dengan beliau. Ustad Zen, yang ia ketahui, tetapi sepertinya pula ia menyembunyikan, tentang kekeramatan gurunya, Mbah Zaid, yang dikenal dikalangan para syadziliyin, adalah santri senior Mbah Jalil, dan kabar lagi, bahwa pernah Mbah Jalil menawarkan kemursyidan Torikot Syadzliyah kepada Mbah Zaid, namun karena ketawadluan, beliau tidak bersedia.

Pukul 08.30 rombongan tiba di Pesantren Ringin Agung. Selain rombongan kami, ternyata ada rombongan Ziaroh, memakai sepur kelinci, lucu, padahal orang orang tua. Dilihat sekilas dari dzikir yang dibacakan, seperti Dzikrulghofilin, dzikirnya Gus Mik.  Sebelum rombongan studi wali masuk ke area makam, kita disuruh oleh Ustad Zen untuk berwudlu. Wudlu di pesantren ini unik sekali, pasalnya harus masuk ke dalam kolam yang dalam. Setelah berwudlu kita masuk area dan khusu’ berdoa yang dipimpin oleh Ustad Zen. Ustad Zen membimbing untuk mendzikirkan sholawat ringin agung. Indah asyik dan nikmat.

Selesai berziarah, kita diajak oleh ustad Zen melihat gubuk gubuk dimana para santri tinggal. Unik namun agak kumuh, itu kesan kami melihatnya. Tetapi itulah ajaran kesederhanaan. Yang barangkali anak anak SMA tidak akan kuat untuk melakukannya.
Kesan ajaran kesederhanaan terlihat lebih kuat ketika kita berkunjung ke tempat mujahadahnya Mbah Imam Nawawi. Sederhana. Zuhud, itulah kalimat yang tepat menggambarkan prilaku dari Mbah Nawawi dengan tempatnya yang kecil dan sangat sederhana. Kezahidan yang sejati. Barangkali inilah yang harus diteladani dari rombongan sekalian.

Setelah dianggap cukup melihat Pesantren Ringin Agung, rombongan segera meluncur ke Pesantren Lirboyo. Ditengah perjalanan, Ustad Zen melanjutkan tentang epistemology atau lebih tepatnya cara berpikir orang pesantren. Bermacam macam. Dan unik. Dan itulah Khazanah Islam. Termasuk mengkomparasikan antara Ringin Agung dan Lirboyo, memiliki kultur yang berbeda. Di Lirboyo terkenal ilmu alat dan imu Fiqhnya yang kuat. Terlihat saat saya tiba di Lirboyo, banyak santri yang menghafal bait bait imrity dan Alfiah sambil berdiri dan duduk. Lucu tetapi menarik. Dilihat dari kulturnya, kalau saya boleh berpendapat, itu semua tidak lepas dari peran sang pendiri. Pendiri Lirboyo adalah Mbah Karim seorang santri Mbah Kholil Bangkalan. Beliau memiliki jiwa yang kuat dan memiliki keilmuan yang kuat pula. Sehingga ditangan beliau dan anak turunnya, Lirboyo terkenal dan dikenal dijagad raya ke pesantrenan. Sudah banyak alumni yang dihasilkan. Gus Mus (KH Mustofa Bisri) dan KH Said Aqil Siroj (Pimpinan Umum NU) adalah alumni pesantren ini. Termasuk guru saya Dr Wahib Wahab. Juga yang pernah mengajari ilmu alat kepada saya, Pak Fathoni.

Dikanan kiri jalan menuju pesarean, terlihat PP Lirboyo, banyak mengembangkan budi daya peternakan. Dari sapi, kambing, ayam sampai ikan. Banyak santri yang dilibatkan dalam peternakan itu. Luar biasa. Dan barangkali pesantren pesantren lain perlu mencontoh jiwa kemandirian pesantren lirboyo ini. Sehingga tidak berebut proposal atau melakukan dukung mendukung calon kepada daerah yang pada ujung ujungnya akan mempermalukan pesantren itu sendiri. Dan khususnya pada Kyainya, akan dikategorikan sebagai Ulama Su’ (ulama jahat) yang suka ngathok kepada ulil amri (pemerintah).
Rombongan tiba dipesarean yang berada di dalam pesantren. Masuk ke area ini, terkesan lebih bersih dari Ringin Agung. Penataan ruang juga lebih baik. Juga rapi. Tetapi entah bagaimana aura pondok ini tetap tidak bisa membohongi hati rombongan, ada selintingan anak mengatakan rasanya masih lebih ngeh di ringin agung. Entahlah.

Selesai Ziarah di Lirboyo, pukul 11.00, rombongan meluncur menuju Pantai Prigi yang jalannya berliku liku. Ditengah perjanalan, acara saya serahkan kepada pengurus SKI 2011/2012 untuk melakukan pemilihan umum ketua SKI periode 2012/2013. Inilah uniknya tradisi SKI, pemilihan umum ketua SKI dilakukan di dalam bus. Termasuk penyampaian visi misi calon ketua SKI. Setiap calon ketua SKI wajib melakukan presentasi harapan harapan SKI ke depan. Acara menjadi ramai karena ada dialog, para senior dedengkot bertanya aneh aneh tetapi gokil menjadikan suasana bis menjadi ramai dan meriah. Dilanjutkan dengan pencontrengan, dan dari pencontrengan itu dihasilkan sebuah keputusan bahwa Ketua SKI peiode 2012/2013 adalah Arindita, seorang perempuan. Bagi teman saya yang lain, mereka ingin SKI dipegang lelaki, namun bagi saya sendiri selaku Pembina SKI, laki laki maupun perempuan sama saja. Saya bukan aktivis gender. Saya hanya berbicara realistis saja. Selama saya menjadi Pembina, banyak ketua SKI yang laki laki, kurang agresif, entah kenapa? Rata rata para perempuan justru lebih menguasai massa. Entah kenapa? Yang dibutuhkan bukan jenis kelamin tetapi komitmen. Itu yang terpenting. Siapapun dia.

Acara mencapai puncaknya saat seluruh ANAK ANAK SKI melakukan BAIAT  SKI diiringi deburan ombak PANTAI PRIGI TRENGGALEK. “SAYA BERJANJI AKAN MENJALANKAN PERINTAH ALLOH DAN MENJAUHI LARANGANNYA. SAYA BERJANJI AKAN MENCINTAI ROSULULLAH DAN MENTAULADANI SUNNAH SUNNAHNYA. SAYA BERJANJI AKAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA. SAYA BERJANJI AKAN MENCITAI SAUDARA SEMUSLIM SEPERTI MENCITAI DIRI SENDIRI. SAYA BERJANJI AKAN MENJAGA KEHORMATAN DIRI DAN KEHORMATAN ORGANISASI SKI SEKUAT HATI”.

Semoga menjadi generasi “SING MELEK LAN TITIS”. Melek ati lan pikirane. Titis Ati lan pikirane. AMIN.





     

Kamis, Juni 21, 2012

Diskusi Tentang Percerain bersama Abah Kaji SHOW di Hotel Inna Tretes


Bersama Anak Anak SD Islam Miftahul Hikmah Ziaroh ke Makam Abah Yat


Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*