Jumat, Maret 27, 2009

Gendeng Dunyo



Satu kisah lagi yang menggambarkan perangai orang yang rakus dunia. Yaitu seoang yahudi yang ikut berkelana dengan nabi Isa a.s, beliau mendidik yahudi itu dengan penuh kesabaran, tetapi kelak tidak berhasil karena orang itu hubbun dunya (senang dunia), ia tidak bisa diarahkan, suatu hari orang itu mendatangi nabi Isa untuk menyampaikan maksudnya, nabi Isa member syarat “jika kamu ingin berkelana bersamaku, bawalah bekal dua potong roti, begitu juga aku, dan jika kita sama-sama sebagai teman makan roti itu kita kumpulkan jadi satu, siyahudi menerima syarat itu, esok harinya siyahudi menemui nabi Isa hanya membawa dua potong roti seperti yang disyaratkan, sedangkan nabi Isa hanya membawa satu potong roti dengan tujuan untuk menguji kejujuran siyahudi. Saat siyahudi melihat sepotong roti ditangan nabi Isa, dalam hatinya bergumam; ini tidak adil, aku membawa dua potong roti sedang dia hanya sepotong, tentu jika dikumpulkan dan dimakan bersama, aku akan rugi separuh dan dia untung separuh dari milikku.

Dengan penuh kecurigaan dihati yahudi, nabi Isa mengajaknya berangkat dengan bekal tiga potong roti mereka. Satu hari berlalu saat pagi tiba, nabi Isa bangkit untuk melakukan sholat, tanpa memberitahu siyahudipun memakan sepotong roti miliknya, dengan harapan agar dua roti itu dibagi adil menjadi satu satu, sehingga jumlah roti sekarang menjadi dua potong. Selesai sholat nabi Isa mengajak yahudi sarapan, “ayo kita sarapan”. Rotipun dihidangkan, nabi Isa melihat hanya ada dua potong roti, maka beliau bertanya “Dimana roti yang satunya, kenapa hanya dua potong?” yahudi beralasan “anu nabi, saya hanya membawa sepotong dan anda membawa sepotong, jadi jumlahnya dua potong, kan pas.” Nabi Isa menjawab, “tidak! Tadi jumlahnya ada tiga potong,” yahudai bersumpah “sungguh tidak nabi, saya hany membawa sepotong”. Nabi tidak melanjutkan pertanyaannya karena sudah tahu yang sebenarnya, beliau memahami, memang begitulah sifat orang yang rakus dunia, tidak ingin dirugikan.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang yang lumpuh. Oleh nabi Isa kaki silumpuh diusap dan doketok kakinya dengan tongkat. Langsung saja silumpuh itu sembuh dan bangkit berjalan. Yahudi terheran menyaksikan peristiwa itu dan menyanjung “nabi, anda hebat sekali, orang lumpuh itu dappat sembuh dan bisa berjalan” lalu nabi Isa menjawab “yang hebat itu Allah!, kamu percaya kepada Allah?yahudi menjawab “ya, aku percaya” kemudian nabi bertanya lagi “baik, jika kamu percaya, katakana dimana sepotong roti itu ?”ternyata yahudi tidak mau jujur.sambil bersumpah ia menjawab “Billahi, saya hanya membawa sepotong” nabi berkata “ya sudah”.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi, dan bertemu dengan seekor kijang, nabi Isa memanggilnya “hai kijang! Kemarilah” kijang itu mendekat dihadapan beliau, nabi Isa bertanya “kijang, apakah kamu bersedia disembelih dan kumakan bersama temanku” kijang itu mengangguk, singkat cerita kijangb itupun disembelih kemudian dimakan, seterusnya sisa-sisa tulang itu diusap oleh nabi dan diketok dengan tongkat, atas izin Allah dari sisa tulang itu tiba-tiba muncul wujud kijang yang utuh seperti sedia kala, akhirnya kijang itu beranjak pergi meninggalkan keduanya. Untuk kesekian kali yahudi menggeleng-gelengkan kepala terperangah penuh keheranan dan memuji seperti semula.nabi Isa member penjelasan pada yahudi yang sama pula dan mendesaknya untuk berkata jujur “Demi Dzat yang menghidupkan kijang yang tinggal tulang-tulangnya. Aku Tanya lagi, dimana sepotong roti itu?”, namun siyahudi tetap saja keras kepala , tidak mau berterus terang, tapi nabi Isa tetap tegar dan sabar.

Kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Sepanjang jalan nabi Isa berkata; sebesar daging kijang itu tidak mampu menyadarkan hati yahudi itu, ia tetap merasa rugi atas sepotong roti dari pada harus berkata jujur. Barangkali kurang besar “pancingnya untuk membuat siyahudi mengaku. Akhirnya mereka bertemu dengan seorang pengembala sapi, lalu nabi Isa memanggilnya, “Hai pengembala sapi kemarilah! Bagaimana kalau sapimu yang paling besar saya minta dan kusembelih serta kumakan bersama temanku ini”, pengembala itu menjawab, “silahkan nabi”. Keduanya pun pergi dan seterusnya memperlakukan sapi itu seperti kijang, mulai dari menyembelih, makan danseterusnya sampai pada pertanyaan nabi Isa seperti sebelumnya, “Demi Allah yang menghidupkan sapi yang tinggal tulangnya, dimana roti itu, tapi tetap saja yahudi tidak mengaku.

Nabi Isa mengajaknya berangkat lagi, hingga mereka tiba ditepi sungai Nil. Kali ini “pertunjukan kehebatan” lebih mengagumkan, Dimana nabi Isa bisa berjalan diatas sungai itu. Pada mulanya yahudi merasa ragu dan takut untuk menirukan nabi Isa, tapi beliau berkata, “jangan takut peganglah ujung sarungku dan angkat (jalankan) kakimu pada bekas langkah kakiku”, “Baiklah” kata yahudi menurut. Akhirnya mereka berdua menyeberang sungai itu dengan selamat dan tiba di pantai seberang. Sebelum melanjutkan perjalanan, seperti biasa, yahudi tergeleng kepalanya penuh keheranan atas peristiwa yang baru saja dialami. Nabi Isa menghibur, “kamu kan juga bisa berjalan diatas air”, “Tapi itu kan karena sampean” kata yahudi. (dan seterusnya)…nabi Isa bertanya Demi Allah, yang member kita berdua dapat berjalan diatas air, dimana roti itu? yahudi tetap bersumpah tidak tau dan tidak mau mengaku. Sungguh perjalanan yang melelahkan dan menguji kesabaran. Akhirnya mereka menemukan sebuah Goa.

Nabi Isa masuk dulu dan meletakkan tongkatnya didekat pint goa. Karena begitu capk dan lelah nabi Isa tertidur pulas, sementara yahudi duduk didekat pintu sambil mengamati tongkat yang diletakkan nabi Isa.ide jahatpun muncul dibenak siyahudi, dia berpikir bahwa, kehebatan nabi Isa terletak pada tongkatnya, pasti jika saja tongkat ini ada di tanganku, maka kesaktiannya akan berpindah kepadaku”. Akhirnya yahudi membawa kabur tongkat tersebut.

Begitulah pengaruh dunia. Karena dunia seseorang berani menghianati teman bahkan nabi, seperti yang seringkali kita jumpai diantara sesame bahkan ahli waris rebutan harta.

Sesampainya yahudi kabur dan tiba di kota, ia lalu berteriak lantang mengumumkan layaknya penjual jamu, “saudara-saudara ini kehebatan, keajaiban-keajaiban. Barang siapa yang memiliki saudara sakit saya bisa menyembuhkannya, yang punya saudara gila saya bisa menyembuhkannya, yang punya saudara mati saya bisa menghidupkannya kembali.” Para penduduk pun sama berdatangan ramai mengelilingi siyahudi, dan secara kebetulan , polisi melewat dijalan itu lalu mendatangi kerumunan massa. Polisi itu kemudian bertanya: “Benarkah apa yang kau katakana itu”. “Betul” jawab yahudi dan melanjutkan: “Kebetulan sekali, saat ini tuan qodli sedang menderita sakit, coba kau obati”. “Ya mari, tunjukkan kepadaku dimana rumahnya” (Tanya yahudi).

Keduanya kemudian menuju kediaman qodli dan mendapatinya sedang terbujur sakit tak berdaya diatas ranjang, yahudi merapat didekat qodli, sejemak ia memandangi tongkat yang ada ditangannya dan mengingat-ingat cara bagaimana nabi Isa saat “memainkan” tongkatnya, lalu dengan yakin ia memukulkannya tepat dibagian kening qodli. Tapi celaka, apa yang terjadi, qodli itu malah mati. Sudah menjadi keputusan yang lazim “Barang siapa yang membunuh seseorang, maka ia akan dihukum sama”, akhirnya karena perbuatan yahudi itu, ia ditangkap dan diajukan didepan hakim. Pagi harinya dia digiring ketengah lapangan, ia disalib pada pohon dan akan dipanah.

Sementara itu (kita beralih ke) nabi Isa terbangun, kaget dan bahaya besar akan terjadi saat mendapati temannya (yahudi) dan tongkatnya yang hilang. Beliau terus mencari kesana kemari hingga tiba dikota, tempat dimana siyahudi dihukum. Prajurit telah siap dengan panah ditangan, nabi Isa segera datang dan berkata:”tahan dulu,tahan dulu sebentar” dan bertanya: “hai saudara ada apa ini? Kemudian polisi menjelaskan duduk masalahnya, lalu nabi Isa bertanya memohon: “sudah begini saja, seandainya saya yang mengobati tuan qodli, bersediakah kalian mengampuni teman itu? mereka usyawarah sebentar kemudian menjawab: “mau, mau saya akan mengampuninya”. Akhirnya mereka membawa bersama nabi Isa menuju rumah qodli, setiba disana beliau mengambil kembali tongkatnya untuk menghidupkan qodli dan berhasil. Sesuai kesepakatan, yahudi kemudian dilepas dan dibebaskan dri hukuman.

Nabi Isa mengajaknya segera pergi dari tempat itu. belum jauh perjalanan, nabi Isa menghentikan langkahnya ditempat yang dirasa sepi, dan kemudian bertanya pada yahudi: “Hai ! rojul, Qodli telah hidup kembali setelah mati kau pukul tadi, dank au terbebas dari hukuman mati, aku ttanya; siapa yang menghidupkannya ?”, “Ya tentu, Allah” (jawab yahudi),jika kau percaya, Demi Allah, yang telah menghidupkan qodli dan menyelamatkanmu, dimana roti itu ? saya tidak tahu nabi, sungguh saya tidak memkannya. Rojul bersumpah dan tetap berkeras kepala tidak mau mengaku. Ya sudah , kata nabi Isa.

Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan, hingga tiba disuatu pegunungan. Dari dekat tampak tiga gundukan tanah yang moncong ke atas seperti pucuk gunung, lalu nabi Isa menyuruh siyahudi ; hai rojul, coba kau carik-carik gundukan tanah itu apa isi di dalamnya. Siyahudi lantas menuju ke gundukan itu dan mencarik-cariknya, ternyata di dalamnya adalah emas yang tertutupi oleh tanah,yahudi itu nterus mencarik dan menggali tanah itu sampai dalam betul, semakin galianya semakin tampak bagian emas itu, dengan penuh kekaguman dia berkata pada nabi Isa: “Emas nabi, ini emas”. Nabi Isa hanya menyahut sambil tersenyum. Belum selesai siyahudi menggali nabi lantas mengajaknya pergi, namun siyahudi bertanya: saya dan anda dua orang sedang emasnya berjumlah tiga, bagaimana membaginya, nabi Isa menjawab: oh itu mudah kaarena saya yang menemukan emasnya maka bagianku satu dank arena kamu yang menggalinya dapat satu juga. Diam sesaat yahudi itu bertanya kembali: terus yang satunya. Nabi menjawab: oh itu mudah, emas yang satu itu akan kuberikan pada orang yang memakan sepotong roti. Berkali-kali siyahudi diterpa kebimbangan memilih mengaku tapi gengsi yang selama ini berhasil ia pertahankan, atau memilih untuk tidak jujur tapi tidak mndapatkan emas yang satunya lagi. Tapi kali terakhir ini tidak, ia telah terjebak untuk berkata jujur, matanya telah tertutupi oleh segunung emas, harga dirinya telah tersingkirkan demi mendapatkan emas, dan ia tidak malu untuk sekedar mengaku saja apa sulitnya! Nabi Isa kemudian bertanya dengan penuh yakin akan berhasil: “jadi siapa yang makan ?”, dan yahudi dengan malu-malu menjawab:”iya nabi, sebenarnya yang makan roti itu adalah saya sendiri”, “oh kamu tho”, sahut nabi Isa “ya sudah! Aku senang kau mengakui perbuatanmu, aku senang punya teman yang jujur. Sekarang, karena kau sudah jujur, emas yang satu itu kuberikan padamu dan sebagai tanda terima kasihku karena kau telah membantu menggali tanah maka bagianku kuberikan juga padamu”. Dengan senang hati yahudi menerimanya. Seorang nabi Isa tidak tidak butuh harta seperti itu, bahkan pernah suatu ketika Allah menegurnya saat beliau tidur berbantal batu: “Hai Isa, orang yang tidur berbantal itu adalah tidurnya orang yang lemah” (hatinya dan termasuk hambanya dunia). Kemudian nabi Isa mengajak yahudi itu berjalan lagi: “Ayo kita berangkat karena tugas kita adalah mengembara”. “Ya” sahut yahudi, namun ia tak segera bangkit dan malah bertanya: “Bagaimana dengan emasnya ?”, nabi Isa menjawab: “Bawa sendiri emas itu kalau kamu kuat”. Lalu yahudipun mencoba mengangkatnya, tapi ia tak kuasa karena betapa besar dan berat emas itu. sekali lagi emas yang tampak itu baru “pucuk gunungnya”. Kemudian nabi Isa mengatakan: “tinggalkan saja emas itu”. wah betapa sayangnya emas ini ditinggalkan (gumam siyahudi), ia bertanya, “tapi nabi kita akan kesini lagi kan?”, “Ya” sela nabi Isa. “Sungguh kah nabi?” Tanya siyahudi kembali. “Oh tentu” nabi Isa menyakinkan. Akhirnya mereka berdua berangkat juga. Ntah dari arah mana, tiba-tiba tiga orang perampok datang ketempat itu, mereka penasaran saat melihat ada tiga gundukan emas tadi.

Kemudian mereka lekas mengahampiri lalu mencongkel satu persatu bagian emas itu sedikit, sekedar memastikan emas itu murni, “ayo kita angkat emas ini” ajak salah satu dai mereka, namun usaha mereka tak satupun yang berhasil, “Barangkali memang kita lelah dan lapar, bagaimana kalau istirahat dulu dan salah satu dari kita pergi ke kota untuk mencari kendaraan dan makanan setelah itu baru masing-masing kita mengangkat emasnya dan mengangkutnya pulang”. Akhirnya mereka sepakat, salah satu berangkat ke kota, sememntara yang dua otang tinggal disitu untuk menngguinya, mereka adalah kakak beradik, mereka merencanakan siasat jahat, siadik bertanya: “Kak, kalau nanti kakak dapat bagian satu emas atau satu setengah, kakak pilih yang mana?”, ya tentu saya pilih satu setengah”, jawab kakaknya, “kalau begitu setibanya teman kita dari kota nanti, kita pukul saja dia, bagaimana?” kata siadik, “Oh bagus itu” sela kakaknya.

Sementara itu tidak ketinggalan pula teman mereka ang pergi ke kotapun juga merencanakan pembunuhan: “enak saja! Mereka duduk santai sedangkan aku, yang mencari kendaraan dan makanan, aku hanya mendapat satu bagian satu sama, lebih baik emas itu aku ambil semua dan kuracuni makanannya ini”angan-angannya dalam hati.

Dengan semangat, akhirnya teman dari kota itu berangkat menuju ketempat emas dengan membawa kendaraan dan makanan yang dicampuri racun. Tapi saying, naas lebih dahulu menjemputnya, setibanya disana, kepalanya dipukul dan mati. Dengan girang kedua kakak beradik yang menunggu itu menyatakan: “kita berhasil, sekarang ayo kita santap makanannya”, belum selesai makan, tiba-tiba dari mulut mereka keluar buih, tubuh mereka mengejang dan mereeka mati keracunan. Sungguh kerakusan berbuntut kehancuran, mereka semua akhirnya mati tergelepar tak berdaya, berserakan disekitar tempat itu. sementara nabi Isa mengajak yahudi menuju tempat emas itu “ayo kita kembali, mengambil emasnya”, keduanya berangkat.

Setiba disana, mereka terkagetkan mendapati ada tiga orang mati mengenaskan. Nabi Isa sudah paham pasti mereka rebutan emas. Beliau bertanya pada yahudi, “kamu tahu sebab kematian mereka?”, “tidak tahu nabi”jawab yahudi, “coba sekarang saya akan menghidupkan mereka lagi!”, kata nabi Isa, dan akhirnya ketiga orang itu hidup kembali. Kemudian beliau bertanya pada mereka: “Ini tadi bagaimana ceritanya? Apa sebabnya kalian mati semua”, lalu mereka menceritakan tentang semua yang telah terjadi. Seterusnya, nabi Isa menasehati yahudi: “Rojul lihat! Demikian itulah orang yang telah tertipu oleh dunia, mereka akan lupa terhadap ttemannya sendiri”. Hal ini erupakan I’tibar (peringatan) bagi siapapun yang telah terbujuk oleh dunia yakni; yang berupa sesuatu yang tidak membawa manfaat untuk akhirat itu pada akhirnya, pemiliknya akan ikut terperosok bersama dunianya.,nabi Isa kemudian mengatakan pada mereka: “Kalian brttiga apakah kalian bertiga bersedia mengikutiku dan bertaubat”, mereka menjawab “kami bersedia wahai nabi”.

Ketiga orang itupun bersyahadat, bertaubat dan setia engikuti nabi Isa. Sebelum itu, nabi Isa berbalik dan bertanya pada yahudi, “Hai Rojul, bagaimana denganmu?”, ia menjawab: “tidak nabi, saya akan tetap disini, sayang kalau emas ini ditinggalkan”, nabi Isa membujuknya: “sekarang begini saja, keputusanku terakhir, kamu pilih ikut aku atau memilih emas, kalau kau memilih saya, maka emas itu harus kau tinggalkan dan jika kau lebih memilih emas itu, maka aku harus meninggalkanmu”, siyahudi tetap dengan kerakusannya menjawab: “sudah saya pilih emasnya saja”. Akhirnya tiga orang bekas perampok itu menikuti nabi Isa, sementara siyahudi seorang diri disitu dan tetap ingin mengambil emasnya. Dengan nafsu yang membara dan penuh dengan kerakusan terhadap dunia, ia terus menggali tanah yang mengitari emas itu. ia mncoba berkali-kali mengangkat emas itu. tanpa terasa tubuhnya terperosok bersama emas itu kebawah tanah sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya ia terkubur bersama dengan nafsu serakahnya, terlahap oleh bumi dan mati bersama dengan yang ia cintai.

Sebagaimana kisah syaikh Hasan Al Bashri dimasa mudanya, beliau adalah seorang pemuda kaya raya yang berwajah tampan, setiap sore ia berkeliling kota dengan mengendarai kuda yang bagus dan gagah untuk menggoda wanita, suatu saat ia bertemu dengan seorang wanita cantik, kemudian ia membuntuti wanita tersebut, karena tahu dibuntuti seseorang wanita itu menoleh kebelakang, sehingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Hasan Al Bashri, memang wanita itu diberi anugerah kecantikan dan mata yang sangat indah, bagaikan mata bidadari, akhirnya membuat Hasan Al Bashri tertarik padanya.

Kemudian wanita itu berkata, “hai pemuda apakah kamu tidak malu kepada Allah, yang mengetahui seluruh dosa yang dilakukan oleh mata?! Sebetulnya, apa yang kamu inginkan driku?” hasan Al Bashri menjawab, “aku tertarik pada mata kecantikanmu” wanita itu membalas, “Tunggulah disini, nanti apa yang kamu inginkan akan aku penuhi”. Kemudian wanita itu beranjak pergi, hati Hasan Al Bashri sangat gembira karena ia merasa telah berhasil memikatnya.

Dalam perjalanan pulang wanita itu menangis, ia telah merasa dirinya melakukan dosa dengan melihat pria tampan. Sesampainya dirumah sambil menangis ia mengambil pisau dan mnusuk matanya untuk mengeluarkan mata dari tempatnya, karena dengan mata itu ia dan laki-laki itu berdosa. Walaupun sebenarnya, dosa yang ia lakukan adalah dosa kecil, akan tetapi seorang sufi tidaklah memandang besar kecilnya dosa menurut syariat fiqh, namun seorang sufi memandang dosa dari segi Siapakah yang aku durhakai.

Menurut pandangan syariat melihat yang bukan mahramnya adalah dosa kecil, dengan cara berwudhlu saja insaya Allah dosa itu dimaafkan. Pemikiran seperti inilah yang menyebabkan ahli-ahli fiqh/syariat teledor terhadap dosa. Setelah mata itu terlepas dari kelopaknya lalu ia menaruhnya diatas bokor (talam:jawa) yang diberi tutup selendang, kemudian ia menyuruh pembantunya untuk mengantarkan pada Hasan Al Bashri, sesampainya pembantu itu didepan Hasan Al Bashri, Hasan Al Bashri dalam hatinya bergumam, “yang kuinginkan bukanlah makanan, melainkan diri wanita tadi”, Hasan Al Bashri menerima bokor itu, kemudian tutupnya dibuka, dan ternyata isinya adalah dua bola mata gadis tadi, melihat mata wanita itu spontan Hasan Al Bashr menangis, sejak saat itulah Hasan Al Bashri merasa bersalah dan selalu koreksi diri serta melakukan munajat kepada Allah dengan puasa dan sholat tahajud, sampai akhirnya, Hasan Al Bashri bermimpi bertemu dengan wanita itu berada di surga yaitu surga yang paling tinggi. Di dalalm mimpinya ia bertanya “apakah sebab engkau berada disurga wanita itu menjawab “karena taubatku,sampai aku melepas mataku karena aku tidak suka punya mata menggoda orang lain”, lalu Hasan Al Bashri berkata “nasehatilah aku!” wanita itu menjawab, “taubatlah, dan taqorrublah kepada Allah”.

Goze Isno


Jangan lupa : Umurmu terus dikurangi oleh nafas yang kau keluarkan setiap saatnya.

Goze Isno



Di setiap Alloh memberikan kenikmatan yang terus bertambah kepada dirimu, maka engkau diwajibkan untuk juga menambah rasa syukurmu kepada Alloh

Dawuhe Ibnu Hazm



Jika cinta itu dikarenakan suatu sebab maka akan sirna dengan sirnanya sebab itu sendiri

Dawuhe Syekh Hasan Syadzili



Janganlah hendaknya engkau condongkan kepada ilmu atau pun menginginkan bantuan ilmu, akan tetapi hendaknya engkau jadikan dirimu bersama Alloh. Dan berhati-hatilah, sehingga jangan sampai engkau menyebarkan ilmu demi mencari kepercayaan orang, tetapi hendaknya enkau menyebarkan ilmu demi menegakkan kebenaran-kebenaran Alloh, agar engkau dibenarkan-Nya.

Dawuhe Syekh Hasan Syadzili




Barang siapa yang bertambah llmu dan amalnya, tidak pula bertambah kefakirannya kepada Alloh dan bertambah ketawadhuannya, maka sesungguhnya dia telah tergolong sebagai orang yang binasa.

Dawuhe Syekh Hasan Syadzili



Wahai anakku, takutlah kepada Alloh dan berhati-hatilah terhadap manusia. Sucikanlah lisanmu daripada menyebut akan keburukan mereka, serta sucikanlah hatimu dari kecondongan terhadap mereka. Peliharalah anggota badanmu dari segala maksiat dan tunaikanlah setiap yang difardhukan dengan sempurna. Dengan begitu maka sempurnalah Alloh mengasihani dirimu

Dawuhe Syekh Ibn Masyisy



Wahai anakku, janganlah engkau melangkahkan kakimu kecuali untuk sesuatu yang mendatangkan keridloan Alloh dan jangan pula engkau duduk di suatu majlis kecuali yang aman dari murka Alloh. Jangan engkau bersahabat kecuali dengan orang yang bisa membantu engkau berlaku taat kepada-Nya. Serta, jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang bisa menambah keyakinanmu kepada Alloh

Dawuhe Syekh Ibn Masyisy



Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat:

  • Kecintaan demi untuk Alloh,
  • ridlo atas ketentuan Alloh,
  • zuhud terhadap dunia,
  • tawakal atas Alloh.

Kemudian disusul empat lagi :

  • Menegakkan fardhu-fardhu Alloh,
  • menjauhi larangan-larangan Alloh,
  • bersabar terhadap apa-apa yang tidak berarti dan
  • waro’ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan.

Dawuhe Syekh Ibn Masyisy



Pertajam penglihatan imanmu, niscaya engkau akan mendapatkan Allah dalam segala sesuatu, pada sisi segala sesuatu, bersama segala sesuatu, atas segala sesuatu, dekat dari segala sesuatu, meliputi segala sesuatu, dengan pendekatan itulah sifat-Nya, dengan meliputi itulah bentuk keadaan-Nya.

Dawuhe Syekh Ibn Masyisy



Wahai anakku, hendaknya engkau semua senantiasa melanggengkan mensucikan diri dari syirik. Maka, setiap engkau berhadats cepat-cepatlah bersuci dari kenajisan cinta dunia


Al-Hadis



Sebaik-baik pejabat adalah pejabat yang sering sowan pada ulama’ dan sejelek-jeleknya ulama’ adalah ulama yang sering datang kepada para pejabat

Dawuhe Ibnu Athoillah


Jika kamu ingin memperoleh kemuliaan yang tidak akan sirna maka janganlah membanggakan kemuliaan yang bersifat semu

Al-Hadis


Seandainya nilai dunia bagi Allah itu sebanding dengan sayap nyamuk, maka orang kafir tidak akan diberi minum seteguk air pun

Dawuhe Ibnu Arabi


Jika ditahan permintaanmu, berarti engkau telah diberi. Jika segera diberi permintaanmu, berarti engkau telah ditolak dari suatu pemberian yang lebih besar. Oleh karena itu senanglah jika tidak diberi daripada diberi. Seorang hamba tidak memilih sendiri, tetapi menyerahkan sepenuhnya kepada Allah yang menjadikan dan yang mencukupi segala kebutuhannya.


Manusia ditarik oleh Allah melalui dua hal



· Diberi nikmat supaya engkau bersyukur kepada Allah

· Diberi cobaan supaya engkau kembali kepada Allah

Ada dua orang yang boleh iri


  • Orang yang kaya dan hartanya digunakan fi sabilillah
  • Orang yang alim yang mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan, amal saleh dan mencari hokum yang benar.

Beberapa hikmah penundaan doa



· Seumpama langsung diberi kemungkinan besar kita akan berhenti berdoa

· Jika tidak diberi di dunia akan diberikan secara utuh di akherat kelak.

· Dilatih untuk sabar, karena sabar adalah pemberian yang sangat besar.

Tata krama terhadap Allah


· Diri kita ini bukan apa-apa

· Diri kita ini tidak memiliki apa-apa

· Diri kita ini tidak bisa apa-apa

Tata krama ketika mendapatkan nikmat


  • Apabila diberi kenikmatan ibadah maka sandarkan bahwa semua itu semata-mata karena karunia Allah
  • Apabila diberi harta dan kehormatan melimpah maka sandarkan bahwa itu karena pemberian Allah
  • Jika disanjung, maka bersyukurlah kepada Allah karena Allah-lah yang menutupi kebobrokan hati kita dihadapan orang.

Syarat taubat


  • Menyesal pada suatu dosa yang baru saja ia lakukan
  • Mempunyai keinginan untuk tidak melakukan dosa yang ia lakukan
  • Berjanji dalam hati untuk meninggalkan dosa yang ia lakukan.

3 Terapi mengatasi kerisauan hati


  • Ketika hati risau sebab melakukan dosa hendaklah secepat mungkin bertaubat mengoreksi diri tentang dosa yang telah dilakukannya, baik dosa kecil maupun dosa besar.
  • Ketika kehilangan dunia maka segera menyerah dan mengikhlaskan bahwa semuanya tidak lepas dari Taqdirnya Allah
  • Apabila dihina orang supaya bersabar. Karena dibalik itu ada sebuah nikmat yang luar biasa. Engkau bersama Allah.

Ada 3 hal yang menyebabkan risau hati


· Karena dosa yang dilakukan

· Karena kehilangan dunia

· Karena dihina orang lain

Manusia jika dikasih nikmat oleh Allah punya kecenderungan





  • Lupa kepada Allah yang telah memberi kenikmatan itu
  • Lupa dengan hak-haknya untuk bersyukur kepada Allah
  • Merasa mengaku-ngaku bahwa kenikmatan yang diperoleh adalah hasil dari usahanya sendiri
  • Mengaku memiliki keistimewaan luar biasa sehingga mampu mendapatkan kenikmatan itu
  • Mengisyaratkan bahwa dirinya diberi kemulyaan
  • Merasa bangga jika dibicarakan tentang dirinya yang hebat sehingga bisa memperoleh kenikmatan itu.

Selasa, Maret 24, 2009

Bersantai ria

Sungkem

Konco Guru SMA 3 berjejer

Anak SMA 3 lagi Upacara

Sabtu, Maret 21, 2009

Dawuhe Mbah Sunan Sendang Duwur

Ojo demen-demen marang dunyo senengo marang sing nggawe donyo. Ojo gething-gething marang donyo sebab nduk jerone dunyo onok sing nggawe donyo.

Jangan terlalu senang terhadap dunia senanglah terhadap yang membuat dunia. Jangan terlalu benci terhadap dunia sebab di dalam dunia ada yang membuat dunia

Men-CTL-kan Pendidikan Agama Islam


Pendidikan pada hakekatnya merupakan unsur vital dalam kehidupan dan merupakan kebutuhan serta tuntutan yang amat penting untuk menjamin perkembangan, kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perkembangan dan kelangsungan suatu bangsa dan negara lebih tergantung pada kualitas sumber daya manusianya bukan sumber daya alamnya. Kualitas yang dikehendaki itu lebih tergantung pula dari keberhasilan penyelenggaraan sistem pendidikannya.

Keberhasilan penyelenggaran pendidikan tidak hanya sekedar transfer of knowledge saja, tetapi lebih pada pembentukan kepribadian seseorang sehingga dapat mengenal potensi diri dan selanjutnya dapat mengembangkan potensinya sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan hidupnya.[1]

Dalam konteks pendidikan agama Islam, mempunyai kualifikasi sendiri dalam memberikan kejelasan konseptual dari makna pendidikan, pembentukan pribadi yang dimaksud adalah kepribadian muslim dan kemajuan masyarakat serta budaya yang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam, pendidikan agama Islam merupakan proses transformasi dan realisasi nilai-nilai ajaran Islam melalui pembelajaran, baik formal maupun non formal kepada masyarakat (peserta didik) untuk dihayati, dipahami serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka menyiapkan dan membimbing serta mengarahkan agar nantinya mampu melaksanakan tugas kekhalifahan di muka bumi dengan sebaik-baiknya.

Untuk membentuk kepribadian muslim atau insan kamil seperti apa yang menjadi tujuan pendidikan agama Islam tentunya membutuhkan figur yang representatif untuk dijadikan acuan dalam mencapai tujuan tersebut. Beliau adalah Rasulullah Saw. hampir setiap perbuatan yang dilakukannya selalu terjaga mutunya, sholat beliau adalah sholat yang khusu’ yang bermutu tinggi dan amal-amal yang ikhlas serta terpelihara kualitasnya. Demikian juga keberaniannya, tafakkurnya dan aneka kiprah hidup sehari-hari beliau yang seluruhnya senantiasa dijaga untuk menghasilkan kualitas tertinggi. Ya! Beliau adalah pribadi sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Alloh SWT. Menegaskan:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Alloh…(Q.S. Al-Ahzab33:21).

Dalam konteks sekolah/madrasah perbuatan itu harus dimulai dan ditunjukkan oleh seluruh komponen sekolah. Salah satunya adalah guru. Guru sebagai personal yang menduduki posisi strategis dalam rangka pengembangan sumber daya manusia dituntut untuk terus mengikuti perkembangan konsep-konsep dan wawasan baru dalam dunia pendidikan tersebut, termasuk tentang strategi pembelajaran di kelas. Selain itu keberhasilan pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar tapi juga dari prosesnya.[2] Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Mastuhu bahwa menurut paradigma baru dalam memandang ilmu yaitu bobot ilmu tidak terletak pada hasil akhir atau final product, tetapi pada proses metodologi atau cara mencarinya. Dengan kata lain inti pembelajaran baru adalah meneliti atau research, bukan lagi menerima barang jadi.[3]

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (dibaca selanjutnya PAI) yang menjadi tujuan utamanya adalah bagaimana nilai-nilai ajaran Islam yang diajarkan akan dapat tertanam dalam diri siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang dilandasi dengan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan sosial yang nantinya dapat berdampak pada terbentuknya “Insan Kamil”, bukan pemahaman bahwa proses pembelajaran PAI hanya sebagai proses “Penyampaian Pengetahuan Tentang Agama Islam” seperti yang terjadi selama ini.

Proses belajar yang terjadi di sekolah selama ini pada kenyataannya menunjukkan bahwa siswa lebih berperan sebagai obyek dan guru berperan sebagai subyek. Pusat informasi atau pusat belajar adalah guru, sehingga sering terjadi siswa akan belajar jika guru mengajar, begitu juga dalam penilaian yang masih menekankan hasil dari pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran PAI di sekolah masih sebatas sebagai proses penyampaian pengetahuan Agama Islam.[4] Ini berarti siswa hanya menerima materi-materi PAI tanpa ada usaha menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itulah sudah saatnya paradigma pendidikan yang selama ini ada untuk diubah, termasuk paradigma pembelajaran PAI, sehingga diperlukan suatu strategi pembelajaran yang dapat dijadikan jalan keluar dalam proses pembelajaran PAI yang lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI yaitu adanya internalisasi pada diri siswa tentang nilai-nilai ajaran Islam yang diajarkan secara mudah serta adanya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran secara fisik maupun mental, sehingga siswa tidak merasa jenuh dan mengembalikan semangat belajar siswa serta menjadikan belajar siswa lebih bermakna dan mampu mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa, pembelajaran yang dimaksud adalah Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL).

Pembelajaran Contextual Teaching and Learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ketika ia belajar.[5] Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut digunakan, serta berhubungan dengan bagaimana seseorang belajar, sehingga pembelajaran selain lebih bermakna juga lebih menyenangkan, siswa akan belajar lebih keras untuk mencapai tujuan pembelajaran, mereka menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru dan selanjutnya siswa akan memanfaatkan kembali pemahaman pengetahuan dan kemampuannya itu dalam berbagai konteks di luar sekolah untuk menyelesaikan permasalahan dunia nyata yang kompleks, baik secara mandiri maupun dengan berbagai kombinasi dan struktur kelompok.

Pengertian-pengertian di atas pada dasarnya sama bahwa pembelajaran kontekstual terjadi jika siswa mampu mengaitkan apa yang sedang diajarkan dengan masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan siswa. Ini berarti pula bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya, pembelajaran kontekstual ini dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna tanpa harus mengubah tatanan kurikulum yang ada, karena Pembelajaran kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran.

Dalam Pembelajaran kontekstual, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberikan informasi, guru mengolah kelas sebagai suatu team yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa sebagai anggota kelas, sesuatu yang baru tersebut adalah pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru, dengan konsep ini hasil pembelajaran dikatakan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Dalam pembelajaran kontekstual, belajar yang efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, dari “Guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”, siswa tidak hanya diberi pengetahuan-pengetahuan tapi siswa dibantu untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru berdasarkan pengalaman siswa.

Dengan pemahaman dan aplikasi demikian, kiranya ke depan pembelajaran agama Islam (PAI) mampu dalam menggapai cita-cita yang diidealkan yakni terbentuknya insan berakhlakul karimah. Namun tentunya diperlukan perjuangan dan kearifan dalam mengambil semua pembelajaran yang terbaik untuk pembelajaran agama Islam sendiri.

Penulis:


Nama : Muhammad Isno S.Pd.I



[1] Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreatifitas Anak Sekolah; Petunjuk Para Calon Guru dan Orang Tua, (Jakarta; Gramedia, 1985), 23.

[2] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989), 65.

[3] Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), 40.

[4] Ibid, 3.

[5] Depdiknas, Pendekatan Kontekstual, hal. 5

Selasa, Maret 17, 2009

Ojo Gampang

  • Ojo gampang Gumun marang makhluk sebab gumun sing bener gumun marang Allah
  • Ojo gampang ngelokno menungso sebab sopo ngerti sing kok elokno luweh mulyo ketimbong peno
  • Ojo gampang kepinginan
  • Ojo kagetan
  • Ojo gampang rumongso iso sebab iso iku cuma milike Gusti Allah
Latihen pangucapmu podo karo lakumu.........sak jerone ucapmu iku tandane perilakumu......sakjerone perilakumu tandane atimu......
ojo sampek keno unen-unen "Suwal bedah ngarep mburi Iso Kutbah gak iso nglakoni"

"Ngono yo ngono nanging ojo ngono"

Pitakon-pitakon

Apa yang membuat engkau berani-beraninya durhaka kepada Tuhan-Mu yang telah memberikan Ke Maha Murahan-Nya kepadamu?

Alasan apa yang membuat engkau berani-beraninya membangkang kepada perintah Tuhan-Mu?

Apa yang menjadi alasanmu untuk tidak sujud kepada-Nya?

Engkau percaya kepada Tuhan namun tidak bersujud kepada-Nya

Engkau percaya kepada Malaikat, namun engkau mengabaikannya kehadirannya yang selalu merekam tindak tandukmu

Engkau mengaku memiliki Rosul, Engkau mengaku mencintau Kanjeng Rosul Muhammad SAW, namun engkau berani-beraninya mengkhianati ajaran-ajarannya.

Engkau mengaku percaya kepada kitab-kitab Allah namun engkau menghujatnya dengan perilakumu

Engkau mengaku percaya hari kiamat, engkau mengaku percaya adanya surga neraka, engkau mengaku percaya adanya siksa kubur namun engkau berani sekali melakukan amaliah yang menjerumuskanmu kepadanya.

Engkau mengaku percaya kepada qodlo dan qodlarnya Allah namun kenapa engkau sangsikan Tuhan mengatur kehidupanmu…..

Ajaran Sunan Derajat

Wenehono pangan marang wong kaluwehan

Wenehono payung marang wong kaudanan

Wenehono sandang marang wong kang kudanan

Wenehono teken marang wong wuto

Tiga Tiket bisa Masuk Surga

  • Memberi kepada orang yang paling membencimu
  • Memaafkan orang yang mendzolimimu
  • Bersilaturahmi kepada orang yang memutuskan tali silaturahmi kepadamu

Sebab Doa Tertolak

  • Kamu mengaku mengenal Allah, tetapi hak – haknya tidak kamu penuhi
  • Kamu mengaku mencintai Rasulullah saw.tetapi sunah-sunahnya tidak kamu jalankan
  • Kamu mebaca Al-Qur’an, tetapi isi yang terkandung di dalamnya tidak kamu amalkan
  • Kamu mengakui bahwa syetan itu adalah musuhmu tetapi kamu telah patuh kepadanya
  • Kamu telah berdoa untuk menghindarkan dirimu dari siksa api neraka, tetapi kamu campakkan dirimu ke dalamnya dengan berbuat dosa dan maksiat
  • Kamu selalu bersoa agar bias masuk surge tetapi kamu tidak beramal untuknya
  • Kamu telah sibuk mencaturkan aib saudaramu tetapi kamu telah melupakan aibmu sendiri
  • Kamu percaya bahwa kematian itu pasti datang tetapi kamu tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
  • Kamu kuburkan orang-orang yang mati tetapi kamu tidak mengambil pelajaran dari peristiwa kematian itu
  • Kamu telah memakan risqi dari Tuhanmu tetapi kamu tidak mau bersyukur atas risqi yang diberikan tuhan kepadamu.

Bersama pemberontak SKI lagi Bertafakur

Sabtu, Maret 14, 2009

Berpose bersama istri dan mertua

Lagi bergandengan biar kelihatan rukun dan diizinkan anaknya untuk ku bawa


Lagi Nyumbang Quran di Begagan limo Mojokerto bersama bocah SKI SMA 3

Makan ala wong kere

Bersama anak SKI melakukan out bound


Pak Isno dan Pak Imam lagi berceloteh

Kamis, Maret 12, 2009

Mengukur mentalitas Dewan sebagai pemimpin



Menyimak pemberitaan berbagai media yang memberitakan tentang perilaku dewan yang menuntut kepada presiden untuk membatalkan Revisi PP 37 tahun 2006, ditambah berita terbaru yakni ramai ramainya para dewan menuntut pembelian lap top, ditambah pula dengan ditangkapnya beberapa anggota Dewan, membuat emosi kita semua meluap-luap seperti rasa jengkel, benci, marah dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat yang seharusnya membela kepentingan rakyat justru telah menginjak injak harga diri rakyat. Hal ini terlihat dari lemahnya sense of care para pemimpin yang duduk sebagai anggota dewan terhadap bencana dan musibah yang bertubi tubi menimpa rakyat. Di saat rakyat Jakarta tertimpa bencana banjir, Yogyakarta tertimpa angin puting beliung, Sidoarjo terkena lumpur lapindo dan masih banyak lagi bencana dan musibah yang menimpa negeri ini, para anggota dewan dengan kebutaan hatinya menuntut kesejahteraan yang dalam ukuran awam sangat luar biasa wah- nya.
Mengkritisi para anggota dewan sebagai pemimpin, patutlah kita mempertanyakan status mereka sebagai pemimpin. Pemimpin seharusnya melindungi, menolong, memperdulikan, terhadap yang dipimpinnya. Dalam Islam, salah satu prinsip kepemimpinan adalah pemimpin hendaknya lebih mengutamakan, membela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksanakan aturan, berjuang menghilangkan segala bentuk kemungkaran, kekufuran, kekacauan dan fitnah sebagaimana diterangkan secara rinci dalam surat Al-Baqarah ayat 193 yang berbunyi “ dan perangi mereka itu (orang kafir membunuh, mengusir umat Islam, memerangi kamu) sehingga tidak ada lagi fitnah dan agar kamu itu semata mata untuk Allah. Jika mereka berhenti memusuhi kamu, tidak ada lagi permusuhan kecuali terhada orang dzolim. Begitupun dengan hadis, menerangkan “ Siapa yang memimpin sedangkan ia tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, tidaklah ia termasuk ke dalam golonganku” (HR.Bukhori Muslim). Pemimpin dalam hal ini anggota dewan, seharusnya mempunyai kepekaan untuk lebih mendahulukan umat daripada kepentingan sendiri. Karena sebagai pemimpin ia memimpin dengan tanggungjawab besar untuk mensejahterakan rakyat. Baik buruknya, maju tidaknya ada ditangan pemimpin-pemimpin yang duduk sebagai pejuang yang memperjuangkan kepentingan rakyat, yang dalam hal demikianlah salah satu fungsi keberadaan dewan.
Mentalitas Kepemimpinan
Dari pembacaan sekilas dapatlah kiranya untuk mengukur mentalitas anggota dewan sebagai pemimpin selama ini. Mentalitas yang terbaca adalah mentalitas yang mementingkan egonya sendiri dengan tedeng aling-alingnya kepentinga rakyat. Bisa jadi benar sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa “ para anggota dewan itu bukannya memperjuangkan aspirasi rakyat tetapi memperjuangkan aspirasi keluarga atas nama rakyat”. Namun pernyataan ini kebenarannya tidak bisa dibuktikan secara otentik, tetapi kebenarannya kita serahkan saja kepada jawaban masing-masing dari hati para anggota dewan.
Keegoisan para pemimpin dengan mementingkan kepentingan sendiri, menjadikan list panjang dari deretan problema krisis bangsa Indonesia yang sampai sekarang belum terentaskan. Keegoisan itu akan memunculkan krisis sense of care. Jika krisis sense of care ini menggejala di lingkungan anggota dewan adalah omong kosong jika mereka akan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Mentalitas demikian, sebagaimana analisa Syafii Maarif, akan menjadikan preseden buruk bagi perkembangan politik ke depan. Politisi selama ini cenderung menjadikan politik sebagai pekerjaan bukannya sebagai pengabdian, apalagi sebagai kendaraan untuk mengembangkan idealisasi atau ideologi mereka. Akibatnya mentalitas yang terbentuk adalah mentalitas pragmatis atau kalau boleh dibilang opurtunis. Siapa yang berani membayar mahal, mereka akan bekerja padanya, jika tidak maka akan ditinggalkan. Jika negara tidak mempedulikan dengan membiayai mahal, maka untuk apa perjuangan, pengabdian. Itu semua adalah omong kosong. Mungkin itu ungkapan terdalam pembacaan nalar mentalitas politisi kita.
Mendiskusikan tentang mentalitas bangsa Indonesia Kontjoroningrat membagi menjadi dua yakni mentalitas yang kurang menghargai mutu dan mentalitas suka menerobos. Kurang menghargai mutu dimaksudkan bahwa banyak para pemimpin bahkan seluruh bangsa lebih menyukai formalitas dari pada esensinya. Mereka terjebak pada bentuk bentuk kulit dan lupa pada isi. Mereka lebih menghargai kuantitas daripada kualitas.Terkait dengan mentalitas pemimpin kita dewasa ini, para pemimpin berpersepsi bahwa dengan dibayar mahal mereka akan menjadi pintar, baik dan profesional. Bukannya pintar dulu atau professional dulu baru dibayar mahal. Hal demikian karena mereka tidak mengutamakan mutu namun hanya yang penting segalanya terpenuhi.
Mentalitas suka menerobos dimaksudkan sebagai sebuah mentalitas yang menyukai budaya instant. Artinya orang lebih menyukai hasil dari pada harus berlama lama dengan proses. Mereka lebih menyukai potong kompas. Dapat dicontohkan, orang ingin cepat kaya, untuk memperolehnya ia tidak perlu bersusah payah bekerja, tetapi dengan jalan korupsi atau minta tunjangan yang sebesar besarnya, sehingga ia akan cepat kaya.
Meneladani kepemimpinan Rasulullah
Jika kita membaca sirah nabawiyah, kita akan menemukan mutiara hikmah tiada terkira dari sejarah rasulullah dalam memimpin umat. Rasulullah hidup dijazirah Arab yang masyarakatnya sangat sulit diatur. Sebagaimana para sejarawan menulis, bangsa Arab lebih suka hidup nomaden. Mereka berpindah pindah dan hidup bersuku-suku. Untuk diakui eksistensi suku mereka, mereka harus berperang. Dengan berperanglah mereka bisa hidup. Sehingga dari sini peperangan sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Siapa yang kuat maka ia akan memperoleh kehidupan.
Namun kondisi ini berubah total ketika Rasulullah hadir ditengah tengah masyarakat Arab. Rasulullah hadir menyatukan suku-suku yang terpecah pecah menjadi satu kesatuan yang disebut umat. Umat yang dibangun oleh Rasulullah merupakan wadah perjuangan dalam mengembangkan ideologi mereka untuk menyebarkan Islam keseluruh dunia. Dan sejarah mencatat, kekuatan umat inilah yang mampu menaklukan dunia sehingga Islam bisa menyebar keseluruh dunia.
Keberhasilan umat tidak bisa lepas dari kepemimpinan rasulullah. Rasulullah merupakan pemimpin yang dicintai dan pemimpin yang mampu memberikan inspirasi dalam seluruh kehidupan. Agus Mustofa dalam bukunya ”Membonsai Islam” menyatakan bahwa keberhasilan Islam dijaman Rasulullah, disebabkan Rasulullah benar benar menjadi pemimpin yang menjadi suri tauladan bagi pengikutnya. Rasulullah mengorbankan seluruh jiwa dan raga kepada umatnya di atas kepentingan pribadinya atau keluarganya. Sehingga tidak heran jika para pengikutnya memiliki kecintaan yang sangat luar biasa kepada Rasulullah. Orang yang awalnya memusuhi beliau kemudian berubah menjadi pengikutnya yang setia, dan berani mengorbankan hidupnya untuk menegakkan Islam adalah salah satu bukti keteladanan Rasulullah sebagai pemimpin meresap dalam hati setiap pengikutnya.
Muhammad adalah pemimpin yang berhasil dalam mengkader generasi berikutnya. Ia mampu mengkader manusia manusia yang berkualitas. Manusia manusia yang bermentalkan tauhid yakni berani mengorbankan kehidupannya untuk pengabdian total kepada Allah. Pengabdian yang tulus dalam memperjuangkan nilai nilai keislaman yang syarat dengan etika membangun masyarakat yang sejahtera.
Membangun mentalitas kepemimpinan
Membangun bangsa Indonesia ditengah krisis multidemensi ini adalah sebuah pekerjaan berat. Oleh karenanya diperlukan usaha maksimal dan penuh perngorbanan untuk mengentaskannya. Salah satu yang perlu dibenahi adalah hal kepemimpinan. Indonesia memerlukan pemimpin-pemimpin kuat yang bermental bagus. Karena krisis yang paling mendasar yang melanda bangsa Indonesia ini adalah krisis mentalitas. Untuk membangun mentalitas ini diperlukan integrasi dan dukungan dari segenap bangsa Indonesia. Khususnya dari para pemimpin. Karena bagaimana ia bisa berharap bangsa Indonesia akan lebih baik jika pemimpinnya sendiri tidak mengawali kebaikan dari dirinya sendiri. Ibda binafsih, dalam bahasa agama ini adalah sangat tepat untuk menggambarkan kesuritauladanan para pemimpin kita. Kebaikan yang diawali dari diri sendiri baru ditularkan kepada sesamanya adalah sangat efekif untuk mengajak kepada sesama. Apalagi jika melihat budaya bangsa Indonesia yang masih sangat kental budaya patriarkinya, sangatlah penting untuk merubah mentalitas pemimpin karena ia akan ditiru oleh rakyat yang masih sangat kental ketergantungannya terhadap pemimpin. Namun itu semuanya dikembalikan kepada masing-masing pihak, beranikah kita semua berkehendak untuk berbenah dan berubah. Mungkin mengucap lebih mudah daripada melakukannya bukan?









Penulis






















Antara Barat dan Timur tentang Islam



Memahami hubungan Islam-Barat untuk tidak menyebut konflik Islam-Barat tidak cukup dengan sekedar konferensi atau seminar-seminar belaka. Namun dibutuhkan dialog intensif dalam upaya mencari kepemahaman diantara dua pihak. Beberapa benturan –benturan budaya kerap menyulutkan konflik yang sudah sekian lama berkutat dalam alam bawah sadar Islam-Barat. Sebut misalnya kemenangann HAMAS dalam pemilu di Palestina, sengketa nuklir di Iran, pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW di Jyllands Posten Denmark dan belum lama ini munculnya film Fitna yang mendiskreditkan Islam, carut-marut pemerintahan Irak pascainvasi AS dan berbagai konflik dalam negara-negara berbasis Islam lainnya yang konon diyakini akibat ulah negara-negara Barat yang dimotori Amerika Serikat yang tidak suka terhadap Islam. Beberapa kasus di atas memunculkan kembali sentimen “anti-Barat” bagi dunia Muslim dan sentimen “anti-Islam” bagi dunia Barat. Seolah-olah, dua peradaban besar itu hendak dibenturkan pasca-berakhirnya perang dingin kedua. Seakan pula, tesis Huntington tentang the clash of civilization selalu mendapat pembenarannya. Jika memang Islam dipersepsi Barat sebagai “ancaman” dan Barat dijadikan “musuh” oleh dunia Islam, maka apa jadinya masa depan peradaban dunia?
Menilik Akar Konflik Barat-Islam
Memang harus diakui hubungan antara Islam dan Nasrani (Barat) seringkali bergesekkan, baik ditingkat aqidah maupun ditingkat politik.[1] Ditingkat aqidah jelas sekali Islam menolak konsep agama yang memiliki keyakinan Polytheis. Penolakan ini bersumber dari ajaran Islam yang meyakini bahwa Allah adalah ahad, sebagaimana tercermin dalam surat al-Ikhlas (1-5). Bahkan Islam mengkategorikan Syirik perilaku manusia yang menyembah atau meyakini ada Tuhan selain Allah. Padahal dalam ajaran Islam perilaku Syirik adalah dosa besar dan merupakan dosa yang dikategorikan dosa yang tidak terampuni oleh Allah. Sedangkan disisi lain Nasrani memiliki konsep Trinitas dalam Aqidahnya. Konsep Trinitas yang merupakan akumulasi dari evolusi aqidah umat Nasrani tersebut jelas-jelas berbeda dengan Islam bahkan kalau boleh dibilang bertentangan. Sampai-sampai Ibnu Umar mengatakan ” Tuhannya adalah Isa, sedang Isa sendiri adalah seorang hamba dari hamba-hamba Allah”.[2] Artinya ditingkat yang merupakan titik krusial ini Islam dan Nasrani tidak bisa diketemukan.
Keduanya memang sama-sama dikategorikan agama samawi - maksud agama samawi adalah agama yang sama-sama bersumber dari wahyu yang langsung diturunkan oleh Allah kepada umat manusia dan keduanya juga sama-sama memiliki kitab - namun ditingkat aqidah berbeda. Bahkan jika kita mau menilik lebih mendalam, ada satu keyakinan terselubung diantara kedua agama ini. Nasrani meyakini bahwa orang yang belum masuk ke gereja adalah domba-domba yang tersesat. Karenanya mereka berusaha untuk meluruskan dan mencari domba-domba yang tersesat untuk dimasukkan ke gereja. Artinya domba tersesat tersebut adalah umat selain mereka. Karenanya mereka berusaha untuk memasukkan sebanyak-banyaknya umat lain termasuk Islam. Di sisi lain Islam juga memiliki doktrin bahwa umat diluar Islam adalah kafir. Karenanya mereka berusaha untuk menyadarkan dengan dakwah kepada mereka agar kembali sadar untuk memeluk Islam. Artinya disini bahwa antara keduanya memiliki karakter dakwah dan ekspansif karenanya mereka akan terus berbenturan karena berbagai kepentingan dan banyak hal lainnya.
Pada tingkat politik, konflik Nasrani (Barat) dan Islam lebih dominan. Maksudnya beberapa konflik yang terjadi antara Nasrani dan Islam seringkali bukan karena faktor aqidah namun lebih banyak alasan-alasan politik yang menyeret agama sebagai pemicunya. Salah satu contoh konflik terbesar antara Islam-Nasrani adalah terjadinya perang salib. Perang salib dilatarbelakangi oleh kecemburuan para pendeta terhadap keberhasilan Islam dalam menaklukan wilayah-wilayah di dunia. Terlebih Islam telah mampu menguasai Yerusalem tempat tersuci bagi umat Nasrani. Karenanya para pendeta bergerilya ke seluruh kerajaan di Eropa Kristen untuk menyerukan Jihad melawan orang Islam yang telah menginjak-injak tanah kelahiran Tuhan mereka. Di sinilah kemudian menyeret pertaruhan kesahidan dimedan laga. Sejarah mencatat perang salib membutuhkan waktu 3 abad lamanya dalam 8 kali pertempuran. Akibatnya tidak hanya berdampak pada kematian nyawa-nyawa tak bersalah, namun lebih dari itu memunculkan dampak dendam membara diantara keduanya, hingga sekarang. Karenanya penjajahan dan pembantaian-pembantaian terhadap umat Islam saat ini ada yang menuduh sebagai perang salib baru atas dendam barat yang dikalahkan dalam perang salib dahulu kala.
Diakui atau tidak penjajahan dunia yang diawali dari pelayaran samudra oleh negara-negara eropa adalah buah dari konflik Islam dan Kristen di Konstatinopel. Eropa melakukan penjajahan hampir diseluruh dunia. Tidak hanya sekedar wilayah yang dijajah, lebih dari itu kultur-kultur lokal, pendidikan, agama dan lini kehidupan lainnya tidak luput dari penjajahan. Di bidang akademik pun, jika mau jujur ada pembantaian terhadap intelektual-intelektual Islam. Islam dipelajari untuk dikerdilkan. Pemikiran tokoh Islam dipelajari tapi untuk diplagiat. Ilmu Islam dipelajari tetapi untuk dihancurkan, dikotak-kotak untuk dilenyapkan sama sekali.
Adalah menarik untuk menyimak uraian-uraian indah dari almarhum Edward W. Said seorang ilmuwan Kristen yang jujur. Ia membongkar kebohongan-kebohongan para orientalis yang mengatasnamakan keilmiahan dalam menerbitkan ribuan buku-buku tentang Islam. Ia mengurai banyak buku-buku Orientalis yang berisi kecaman-kecaman bahkan pemfitnahan terhadap Islam itu sendiri. Banyak karya-karya yang masih melanggengkan pencitraan jelek terhadap Islam. Islam selalu diposisikan the other, musuh yang perlu dipelajari dan perlu selalu dicap jelek. Akibatnya banyak ceramah-ceramah para Orientalis dan tulisan-tulisannya turut mensodaqohkan citra jelek Islam dimata barat. Ini pula yang melanggengkan hubungan Islam dan Barat selalu dilatarbelakangi prasangka negatif.[3]
Konflik Barat-Islam Kini
Di dunia pemikiran Islam kontemporer, setidaknya di Tanah Air ada beragam pandangan terhadap Barat. Di antara pandangan yang memelihara konflik Barat-Islam itu adalah, pertama, hingga kini, Barat, yang “selalu” diasosiasikan dengan Kristen dan Yahudi, masih menyimpan mitos tentang ketakutan (heterofobia) mereka terhadap Islam. Dalam kaitan ini, mereka mengutip setidaknya dua karya penting; (1) Edward Gibbon, The Decline and Fall of The Roman Empire dan (2) Jhon L. Esposito, The Islamic Threat, Myth or Reality; kedua, mengikuti jalan pikiran pertama, masih banyak cendekiawan muslim Indonesia, dalam amatan mereka, yang mengamini dan melestarikan mitos itu dengan memelihara jalan pikiran “belah bambu” terhadap umat Islam; ketiga, wacana pluralisme agama dianggap sebagai ‘teologi baru’ produk Barat yang berpotensi ‘membunuh agama’.
Sebaliknya, pasca-peristiwa 11 September—langsung atau tidak langsung—mencerminkan adanya konflik geopolitik yang terus membara yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai bukti adanya perang dingin antar dua peradaban; Barat versus Islam. Trade mark fundamentalisme yang selalu dikampanyekan Barat terutama Amerika dan sekutunya terhadap Islam garis keras semakin menguatkan persepsi dunia bahwa “peradaban Barat” dalam hal ini Amerika terus-menerus mewaspadai gerakan politik Islam di belahan bumi sebagai kekuatan yang patut untuk dicurigai. Melalui resolusi PBB, Amerika terus mendeteksi organisasi-organisasi Islam yang terlibat dalam jaringan gerakan terorisme internasional. Al-Qaeda sebagai organisasi yang dianggap oleh Amerika Serikat sebagai jaringan terorisme terus diburu. Bahkan tidak Pengklasifikasian Islam fundamentalisme dengan Islam liberal adalah salah satu indikasinya. Di tingkat negara, di Asia Tenggara khususnya Indonesia, dihebohkan dengan ditemukannya jamaah Islam yang berafiliasi dengan Al-Qaeda sebagai musuh bebuyutannya Amerika. Ditambah, dengan perselingkuhan Amerika dan Polri disisi lain yang menghasilkan resolusi dengan penangkapan sejumlah tokoh Islam yang dicurigai sebagai dalang Terorisme Asia Tenggara yang akan merongrong eksistensi Amerika sebagai negara yang memiliki banyak kepentingan di Negara-negara Islam. Begitupun dengan sejumlah perkara yang selalu menghadapkan simbol-simbol Islam dilawankan dengan kebijakan-kebijakan yang dianggap sebagai pesanan dari Amerika. Atau stereotype-stereotype jelek lainnya yang dialamatkan kepada kedua belah pihak. Lengkap sudahlah untuk mendeteksi benturan-benturan antara dua peradaban Islam dan Barat.
Memahami identitas Peradaban
Harus diakui bahwa kini, dunia Islam tengah meniti tangga-tangga sejarah yang kritis. Setelah beberapa tahun terjatuh dalam kemunduran di bawah kolonialisasi asing, kini tengah berupaya untuk menggapai kembali identitasnya, dan turut serta dalam mengambil bagian dalam menciptakan peradaban modern. Modernitas—terlepas dari produk Barat atau bukan—dengan seluruh konstruk filosofis dan dampak yang dikandungnya adalah fakta sejarah yang—disukai atau tidak—akan tetap masuk ke jantung kebudayaan Islam. Tetapi, mengikuti fatwa Hegel, sejarah manusia akan terus berputar silih berganti dari tesis ke anti-tesis ke sintesis hingga akhirnya berubah kembali menjadi tesis baru. Senafas dengan tesis Hegel, adalah Muhammad Iqbal yang mengatakan bahwa sejarah modern yang identik dengan kebangkitan Barat—pada sisi intelektualnya—hanyalah suatu perkembangan lebih lanjut dari beberapa fase terpenting dalam kebudayaan Islam. Bahkan pengandaian tersebut sekaligus memberikan penegasan kembali, bahwa Arab masih memegang dasar dalam wacana agama, sastra, dan etika sosial yang tinggi.[4] Tanpa harus menuduh Barat sebagai “biang kerok” dari terjatuhnya peradaban Islam—meskipun dalam beberapa segi bisa dibenarkan—upaya kritik diri lebih patut untuk dipertimbangkan. Sebagai contoh adalah pernyataan yang dibuat oleh Jamaluddin al-Afgani, “saya melihat Islam di Barat tetapi tidak melihat orang Islam di sana. Sebaliknya, saya melihat orang Islam di sini (dunia Islam), tetapi tidak melihat Islam”. Iqbal, dengan semangat yang sama mengatakan, “Barat telah berhasil membangun ‘dunia’, tetapi gagal membangun ‘akhirat’. Sedangkan Timur (baca dunia Islam), berhasil membangun ‘akhirat’ tetapi gagal membangun ‘dunia’. Diagnosa Iqbal—dengan semangat intelektualisme pada zamannya yang khas—hanyalah contoh kecil dari sekian banyak pemikir dan pembaharu yang mencoba untuk meracik problem peradaban umat Islam.
Dari perjumpaan peradaban antar negara-bangsa, Barat-Timur, Islam-Barat, yang telah menjadi ‘takdir sejarah’, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah, mungkinkah sebuah peradaban dapat mengisolir diri secara ketat dan steril dari perdaban lain guna menjaga identitasnya secara autentik ? Hemat saya, dalam arus komunikasi yang tidak mengenal sekat geografis, persentuhan antar peradaban—untuk tidak mengatakan ‘benturan peradaban’ ala Huntington—merupakan sunnatullah yang patut diarifi. Soal yang muncul kemudian dalam konteks ini adalah, bagaimana umat Islam dalam menyikapi pertemuan antar peradaban itu. Etika Qur’an dalam menghadapi “yang lain” (the others) adalah didasarkan kepada sikap aktif (bukan membeo) untuk belajar dari perbedaan yang ada pada pihak lain, serta mengambil manfaat dari perbedaan itu. Artinya, Islam-Barat—jika harus dikatakan sebagai ‘peradaban yang berbeda’, sikap “saling ingin mengetahui dan mengenal” adalah panduan etis yang diatur Qur’an. Kata-kata Imam Ali RA, “Kebenaran itu adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin, maka ambillah kebenaran itu dengan segera dari manapun sumbernya”.
Memang, etika Qur’an semacam ini, secara praksis tidak mudah diterapkan. Alih-alih menyeleksi platform ‘kebudayaan asing’, yang terjadi adalah sikap taken for granted terhadap kebudayaan itu. Fakta ini bukanlah isapan jempol. Beberapa negara muslim—disadari atau tidak—baik secara politik maupun ekonomi, telah dihinggapi semacam ‘Amerikanisasi’ yang berbau Barat dan dalam beberapa segi menghantam ‘identitas Islam’. Maklum,—mengikuti tesis Michael Foucault (1926-1984)—setiap pengetahuan, termasuk ideologi Barat, selalu menyimpan kekuasaannya sendiri; tidak ada ilmu yang steril dari kekuasaan. Bahkan, Ziaudin Sardar, tanpa ragu mengatakan bahwa keterjajahan dunia Islam atas Barat yang paling mengerikan adalah ‘imperialisme epistemologis’.
Problem pertemuan Islam-Barat, dengan demikian, seperti disarikan oleh Bassam Tibi adalah problem ashalah wa al-hadatsah, otentisitas dan modernitas.[5] Pada satu sisi kita ingin menjadi modern, tetapi pada saat yang sama, kita ketakutan kehilangan ‘identitas Islam’. Pertanyaannya, dengan demikian, mungkinkah kita menjadi modern tanpa Barat, padahal modernitas adalah produk peradaban Barat?
Saya tertarik dengan uraian Gustave E. Von Grunebaunn yang dikutip oleh Kuntowijoyo. Dia mengatakan bahwa Islam pada saat-saat pertemuan dengan kebudayaan besar dunia, Islam tidak pernah terpengaruh dengan kebudayaan itu. Namun ia mengambil bersamaan itu pula ia membangun kebudayaannya dengan ciri khas tersendiri. Islam tidak pernah di Yunanikan, atau di Indiakan, namun punya corak sendiri. Filsafat Islam, arsitektur Islam dan lain sebagainya. Hal ini setidaknya menurut Kuntowijoyo ada dua hal penting dari Islam sendiri dalam menangkap pengaruh dari luar. Pertama, Islam adalah satu sistem yang terbuka. Artinya, bahwa perkembangan budaya Islam tidak hanya tumbuh dari dalam, tetapi Islam pun mengakui bahwa seluruh kemanusiaan mempunyai sumbangan kepada kebudayaan. Seperti dalam kedokteran, administrasi dan lain sebagainya. Selain itu Islam juga adalah kebudayaan yang orisinal, yang otentik, yang mempunyai ciri dan kepribadian tersendiri. Pada waktu Islam menerima logika dan filsafat Helenisme juga lahir logika dan filsafat khusus. Ketika Islam menerima arsitekstur, kendati dari India dan Persia, tetapi ia kemudian melahirkan asitektur tersendiri dengan ciri khas ke-Islamannya. Karenanya disinilah peran dan memposisikan Islam yang sesungguhnya. Pada hakekatnya Islam tidak pernah menolak perubahan. Ia selalu menerima budaya-budaya yang berkembang di lokalitas-lokalitas lain. Ia selalu bisa menempatkan diri sebagaimana jargonya likuli zaman wal makan. Namun ia tetap eksis dengan keotentikan dirinya yang khas. Seharunya ini pulalah yang harus dikembangkan oleh Umat Islam ditengah perubahan. Jangan sampai umat Islam tergilas dengan perubahan itu sendiri. Islam harus memimpin perubahan itu sendiri. Islam harus menjadi yang hebat dengan nilai keuniversalannya. Bukankah ini yang menjadi keyakinan normatif Umat Islam?


Nama Penulis : Muhammad Isno S.Pd.I
Jabatan : Guru Agama Islam SMA Negeri 3 Mojokerto
Alamat : Jl. Pemuda No. 33 Kota Mojokerto
Hp : 085648800578




[1] Penulis sengaja menyamakan Barat dengan Nasrani (kristen), karena bagaimanapun juga dalam sejarahnya untuk tidak menyebut menuduh, Barat memiliki hubungan yang mesra dengan Nasrani. Beberapa abad banyak kebijakan-kebijakan kerajaan-kerajaan besar Barat banyak dipengaruhi oleh para pendeta. Bahkan negara-negara saat ini. Hal ini sebagaimana doktrin ekspansi mereka gold, glory, dan gospel. Gospel disini adalah sebuah komitmen untuk mengajarkan Injil kepada semua umat manusia. Dan barat telah melakukannya bersamaan program penjajahan mereka keseluruh dunia ini.
[2] Yusuf Qardhawi, Tanya Jawab Seputar wanita dan Keluarga Muslim (Risalah Gusti, tt), 64
[3] Silahkan lebih lanjut membaca secara mendalam pada Edward W. Said, Orientalisme (Jakarta: Pustaka, 1994) bisa dibandingkan pul dengan Qasim Assamurai, Bukti-bukti kebohongan Orientalisme (Jakarta: Gema Insani Press, 1996)
[4] (Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (Kashmir-Bazar, Lahore 1965, h.7)

[5] Bassam Tibi (Ancaman Fundamentalisme, Rajutan Islam Politik dan kekacauan Dunia Baru: 2000)

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*