Kamis, Maret 05, 2009

Napak Tilas Syekh Jumadil Kubro




Peringatan haul ke 632 Syekh Jumadil Kubro yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Mojokerto beberapa bulan yang lalu menghadirkan banyak acara. Salah satu acara yang menarik untuk menjadi perhatian publik adalah sarasehan sehari dengan tema “ Mengkaji dan Merefleksikan Da’wah Syekh Jumadil Kubro”. Dalam sarasehan tersebut menghadirkan sejumlah pakar, baik dari ahli arkeologi, sejarawan maupun dari kalangan ulama. Dari arkeolog hadir Aris Soviyani M.Hum dan Ni Ketut Wardhani keduanya berasal dari BP 3 Kabupetan Mojokerto sendiri. Sedangkan dari sejarawan Muslim hadir Prof. Badri Yatim dan Agus Sunyoto. Dari beberapa pemaparan narasumber ada benang merah menyatakan bahwa Syekh Jumadil Kubro adalah tokoh nyata dan benar adanya. Namun bagaimana meninggalnya dan dimana syekh Jumadil Kubro dimakamkan, masih diperdebatkan.
Ada anggapan bahwa makam tujuh yang nisannya bertuliskan arab di Tralaya salah satunya adalah Syek Jumadil Kubro. Oleh karenanya banyak masyarakat berziarah ke tralaya sebagai bentuk ritual melengkapi ziarah wali songo. Tidak hanya sekedar masyarakat awam, sejumlah kyai dan birokrat pun banyak yang meyakini kebenaran tersebut. Bahkan sekarang berdiri bangunan megah sebagai tanda peneguhan klaim kebenaran Syekh Jumadil Kubro memang ada disitu.
Namun anggapan tersebut haruslah didukung dengan bukti kongkret dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya baik secara umum maupun secara akademik-ilmiah. Karena bagaimanapun pemerintah atau dalam hal ini ulama harus memiliki dasar yang kuat untuk mengarahkan masyarakat awam akan keberadaan ulama besar Syekh Jumadil Kubro. Jangan sampai hanya demi proyek wisata religi mengorbankan aqidah masyarakat. Jadi diperlukan kebijakan dan kearifan dalam menyikapi tabir keberadaan Syekh Jumadil Kubro. Benarkah Syekh Jumadil Kubro ada di Troloyo?
Jika kita mau menelaah lebih mendalam S.T Damais seorang arkeolog Belanda pernah meneliti situs Tralaya. Dari penelitiannya tersebut, menyimpulkan bahwa tujuh makam di Tralaya yang bertuliskan Arab tersebut adalah seorang muslim. Anehnya kenapa ada orang muslim ditempat pemakaman kerajaan Majapahit. Padahal tralaya, menurut bahasa kawi berasal dari kata Ksetralaya (lapangan mayat), merupakan makam khusus untuk penguburan kerabat raja, atau orang-orang dalam istana. Sedangkan Agus Sunyoto menyatakan makam tralaya merupakan makam khusus penganut aliran Yoga-tantra. Aliran Yoga-tantra merupakan sekte dari Hindu yang banyak diikuti oleh kerabat Istana. Dan inilah anehnya, kenapa terdapat makam muslim disana. Damais dan Sunyoto sepakat menyatakan bahwa ketujuh makam muslim tersebut adalah kerabat raja, atau orang yang sudah mendapat kehormatan dari raja. Namun ketujuh makam tersebut berdasarkan pembacaan Damais, tidak ada satupun yang menunjukkan nama seseorang. Semuanya hanya menunjukkan tulisan Arab seperti La Ila Ha Ilallah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makam Syek Jumadil Kubro yang diyakini oleh masyarakat ada di Tralaya seperti sekarang ini, tidak memiliki dasar otentik. Tidak ada satupun bukti bahwa makam tralaya terdapat nama Syek Jumadil Kubro. Karena jika kita menelaah lagi, makam Syekh Jumadil Kubro terdapat diberbagai tempat. Ada yang meyakini Syekh Jumadil Kubro dimakamkan di Yogyakarta, ada pula yang meyakini ada di Bugis. Bahkan ada yang meyakini di Madinah. Semuanya mengklaim kebenaran masing-masing.
Menempatkan Dakwah Syekh Jumadil Kubro
Jika kita mempertanyakan dimana Syekh Jumadil Kubro, tentu akan menimbulkan problematis yang panjang. Karena akan membutuhkan penelitian dan tenaga besar untuk mengungkapkannya. Tetapi ada satu hal yang menarik untuk kita kaji yakni peran Syekh Jumadil Kubro dalam melakukan transformasi nilai kepada masyarakat jawa khususnya Majapahit.
Di dalam serat Kandha, ada disebutkan keberadaan empat tokoh suci umat Islam di jaman kuno, yaitu Jumadil Kubro di Mantingan, Nyampo di Suku Dhomas, Dada Pethak di Gunung Bromo dan Maulana Ishak di Blambangan. Sementara menurut cerita tutur dikalangan pengikut Syaikh Siti Jenar, Syekh Jumadil Kubro adalah teman baik Syekh Siti Jenar saat membawa tawar tanah-tanah angker bekas pemujaan aliran Yoga-tantra yang terkenal dengan kesaktiannya.
Dari beberapa serat tersebut membuktikan peran besar Syekh Jumadil Kubro dalam menyumbangkan Islamisasi ditanah jawa. Bahkan bisa jadi pula Syekh Jumadil Kubro-lah peletak dasar dakwah kultural yang menyentuh ke kalangan grass root. Agus Sunyoto misalnya menyebut bagaimana kelihaian ulama dahulu yang mampu melakukan strategi dakwah yang begitu canggih. Istilah-istilah agama setempat yang masih menganut agama kapitayan, tidak dibuang begitu saja. Tetapi tetap dipakai untuk menyamakan dengan istilah ajaran Islam. Misalnya dalam melakukan pemujaan kepada Allah tidak menyebutkan sholat tetapi memakai istilah sembahyang. Begitupun dengan istilah tempat pemujaan. Orang jawa menamakan tempat pemujaan kepada dewa disebut sanggar. Namun oleh ulama diganti menjadi langgar. Istilah surga dikenalkan kepada masyarakat menggantikan istilah jannah. Istilah nar digantikan dengan istilah neraka. Dan lain sebagainya. Sehingga, masyarakat awam dapat begitu mudah menerima ajaran Islam yang tidak jauh berbeda dengan istilah-istilah agama yang lama mereka yakini.
Menyelami makna dakwah kekinian
Adalah aneh jika sebagian umat Islam melakukan dakwah dengan memberantas bentuk-bentuk tradisi yang telah mengakar kuat ditengah masyarakat. Mereka mengklaim bahwa tradisi-tradisi yang dijalankan oleh masyarakat sebagai bentuk ajaran bid’ah. Usaha mengawinkan tradisi dengan ajaran Islam pun dianggap sesat. Akhirnya ada gap antara Islam sendiri dengan masyarakat setempat sebagai obyek dakwah mereka. Islamisasi pun tidak berhasil gemilang sebagaimana ulama-ulama terdahulu.
Mungkin mereka lupa dengan sejarah. Pendekatan fiqh dalam memandang hitam-putih suatu masalah akan selalu menimbulkan konflik. Masih terngiang bagaimana perang padri yang mengorbankan banyak nyawa. Lantaran ulama putih memaksakan nilai yang mereka yakini kepada masyarakat setempat.
Berbeda dengan dakwah ala Syekh Jumadil Kubro atau da’i-da’i dalam barisan wali songo. Mendakwahkan Islam dengan melihat local genius masyarakat setempat. Islamisasi pelan tapi pasti mengakar, dan masuk ke dalam jantung ranah sanubari masyarakat. Masyarakat ditanamkan akan ketahuidan yang mendalam dengan laku untuk memperoleh kebenaran. Memperoleh kejayaan sejati. Dan memperoleh hakekat kemana kehidupan itu sendiri.
Dari sini sangatlah urgen untuk menghadirkan semangat dakwah Syekh Jumadil Kubro dalam ranah Islamisasi kembali masyarakat Muslim saat ini dengan menggunakan pendekatan kultual. Karena pendekatan kultural telah teruji ampuh didalam mengemban pesan suci menghantarkan masyarakat untuk mengagumi Islam, memulyakan Allah dan melaksanakan apa saja yang diperitanhakan Yang Maha Tunggal.












0 komentar:

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*