Senin, Oktober 19, 2009

The Great Power Of Mother


Dari pengalaman mentraining ISQ (Islamic Spiritual Quetien) di beberapa sekolah SMP/SMA baik di Lamongan maupun di Mojokerto, banyak anak histeris ketika saya sampai pada perenungan tentang Ibu. Yang masih saya ingat, di SMA Negeri 3 ada 15 anak yang histeris, di SMA PGRI 1 ada 19 anak, di SMA Ngimbang ada beberapa anak, dan beberapa tempat lainnya, yang tidak bisa saya sebutkan bagaimana suasana training ISQ tersebut. Sebenarnya saya tidak menetapkan tujuan bahwa keberhasilan training terletak seberapa banyak anak yang menangis. Tetapi dengan perenungan ISQ tentang Ibu tersebut, dapat menjadi ukuran untuk melihat bagaimana tingkat hubungan seorang anak dengan kedua orang tuanya. Banyaknya anak yang histeris dapat saya simpulkan bahwa pertama, anak memiliki hubungan yang buruk dengan orang tuanya, kedua, anak merasakan kerinduan dengan kedua orang tuanya karena ayah atau bundanya telah meninggal atau telah bercerai atau kedua orang tuanya telah meninggalkannya nun jauh disana merantau dinegeri orang, ketiga, anak merasa terharu karena teringat dengan ayah bundanya yang begitu sayang kepada mereka. Pada tingkat pertama yang anak mengalami histeris bahkan pingsan, ketika kita berdialog dengan mereka, rata-rata mengaku bahwa mereka merasa sangat berdosa terhadap orang tuanya, atas perlakuan mereka yang “terlalu” kepada kedua orang tuanya. Mereka merasa dirinya sebagai anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Namun sering saya katakan, everything will change, masih ada waktu untuk memperbaiki dengan sungkem memohon maaf kepada kedua orang tuanya. Tentu, dengan setulus-tulusnya hati. Dan dengan catatan, melakukan perbuatan yang benar-benar mencerminkan perilaku baik kepada orang tua dalam kehidupan nyata.
Pengalaman saya sendiri sebagai trainer, hampir disetiap kali training, saya dijamin pasti meneteskan air mata. Karena di dalam perenungan itu, saya sendiri yang membayangkan sosok ibu saya. Sosok ibu yang benar-benar tulus mendidik saya, merawat, membina dan melakukan segala hal untuk saya. Anda bisa membayangkan, saya ini terlahir di sebuah desa terpencil di Lamongan, yang hampir dalam PETA tidak pernah tergambar. Tidak terbayang, dulu sosok ibu saya mengandung saya bagaimana? Di desa saya, di tahun 80-an keluarga saya masih serba kekurangan. Kekurangan makan dan minuman yang bergizi. Lalu bagaimana Ibu memberi sesuatu kepada buah hatinya yang ada dalam kandungannya? Sosok ibu yang ada di desa jelas berbeda dengan orang kota. Orang desa walau hamil sekalipun, mereka tetap bekerja di sawah. Mereka membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Padahal sosok ibu yang hamil, perutnya semakin lama semakin bertambah besar. Tapi sang ibu terus bergerak bekerja ke sawah walau dengan keadaan payah yang bertambah-tambah, untuk anaknya. Sampai dipenghujung menjelang kelahiranku, menurut ibuku, ibuku dibantu oleh seorang dukun beranak. Anda bisa membayangkan, bagaimana sakitnya seorang ibu yang hendak melahirkan anaknya, dengan dibekali peralatan seadanya. Sakitnya, konon kata banyak wanita, bahwa melahirkan itu 1000 kesakitan menjadi satu. Bahkan yang lebih eskterim, melahirkan itu sama dengan mempertaruhkan hidup dan mati. Saya selalu membayangkan, bagaimana pas seorang wanita mau melahirkan waktu itu, perutnya sudah sakit, dukun beranaknya belum datang-datang. Soalnya, tempat dukun beranak jauh, dan untuk menjemputnya memakai sepeda onthel. Belum lagi, jika ada yang eror dalam kehamilannya, adakah operasi caesar seperti sekarang ini? Jelas tidak ada, makanya taruhannya hidup dan mati. Dan begitulah keadaan ibuku dengan segala pernak perniknya.
Waktu saya dilahirkan, kata ibu saya, ukuran tubuh saya kecil dan saya sering sakit-sakitan. Sering menangis, sering mencret jika ibu memakan hal-hal yang dilarang oleh dukun beranak. Puskesmas, dukun dan beberapa pengobatan sudah pernah dijelajah, tetapi toh tetap saya masih sakit-sakitan. Padahal sudah banyak uang dikeluarkan untuk pengobatanku. Karena keadaan itulah akhirnya ayahku berkonsultasi kepada dukun beranak yang membantu ibuku dalam proses kelahiranku dulu. Konon kata dukun itu, nama saya yang waktu itu bernama SUWONO, terlalu berat, maka harus diganti. Dukun tersebut menyarankan nama saya menjadi ISNO.
Tetapi, toh, meskipun sudah berganti nama saya masih sakit-sakitan. Sampai tubuh saya tidak bisa berkembang cepat. Ada tetangga saya sampai saya sudah dewasa tetap memanggil KUNTHENG (kecil). Begitulah aku, sosok anak kecil yang selalu digendong kemana-mana oleh ibuku. Masih teringat, waktu orang-orang desa melihat ludruk, maupun layar tancap atau apapun, saya selalu digendong oleh ibuku. Ibuku tidak peduli walau saya sudah berumur 6 tahun atau 7 tahun lebih saya masih tetap di gendong. Meskipun saya ini kecil, tetapi saya adalah sosok anak yang sangat berani. Saya masih teringat hampir anak-anak satu dusun di desaku, tidak berani dengan aku. Karena setiap kali bertarung saya selalu menang. Terkadang teman-temanku yang saya jadikan uji coba jurus-jurus yang aku imajinasikan dari sandiwara radio TUTUR TINULAR, Arya Kamandanu. Sehingga orang tua mereka melabrak saya. Saya menangis dan takut. Tetapi saya merasa aman berlindung dibelakang ibuku. Ibuku selalu membelaku entah salah entah benar.
Meskipun saya sudah dewasa, saya masih menyusui ibuku. Dan ibuku tidak keberatan. Namun suatu hari, ketika saya melihat ada anak yang disapih oleh orang tua yang ada di desaku, saya sangat ingin disapih. Karena saya melihat anak yang disapih itu diberi oleh ibunya telur ayam. Dan saya sangat ingin makan telur ayam. Akhirnya aku merengek-rengek kepada ibuku untuk disapih biar bisa makan telur ayam. Karena dalam imajinasiku waktu itu, hanya orang yang sudah disapih sajalah yang sudah boleh makan telur ayam. Dan telur ayam, di zamanku, lauk yang sangat langka dan bahkan tidak mungkin diberikan kepada saya kecuali pas hari raya idul fitri.
Masih teringat, pertama kali aku menjadi anak TK. Waktu itu saya paling kecil. Ibuku merasa bangga, melihat aku memakai baju seragam sekolah itu. Aku dibelikan buku, pensil, tas dan sepatu. Teringat pertama kali sekolah, aku diantar oleh ibuku memakai sepeda onthel. Aku menangis bertemu dengan teman yang tidak aku kenal. Dan ibuku menghiburku. Tiap hari aku diantar oleh ibuku. Terkadang saya dititipkan kepada tetangga, karena ibuku harus ke sawah. Saya merasa bangga, menjadi anak sekolahan. Apapun yang diajarkan oleh ibu guruku aku ceritakan kepada ibuku. Ketika aku diajarkan oleh ibu guruku menyanyi, akupun pas di rumah menyanyi sangat keras seperti yang diajarkan oleh guruku. Ibuku bangga melihat aku bisa menyanyi.
Sampai satu tahun, ternyata pas kenaikan kelas, aku tidak naik kelas. Konon kata guru TK-ku, aku terlalu kecil dibanding dengan teman-teman kelasku lainnya. Namun ibuku tidak menerima alasan apapun yang disampaikan guruku. Ibuku memaki-maki guruku. Karena tega-teganya sang buah hatinya disakiti hatinya dengan tidak menaikkan kelas ke kelas SD. Aku melihat ibuku menangis. Aku tidak paham. Namun toh, akhirnya ibuku menerima keputusan itu walau dengan keberatan hati yang sangat. Keputusan untuk mengulang itu pada akhirnya menjadi keputusan yang begitu gemilang dalam sejarah hidupku. Aku menjadi sosok siswa anak petani yang mampu menjadi juara yang tidak tertandingi walau dengan anak pak lurah maupun anak guru yang menjadi pegawai negeri sekalipun. Kegagalanku, dan ketidakadilan dalam sistem kasta di Sekolah-ku menjadikan dendam arketipe untuk harus mengalahkan anak-anak orang kaya. Aku menjadi sosok yang beroposisi terhadap kemapanan sampai aku menjadi Mahasiswa. Dan begitulah spiritku.
Aku melihat wajah ibuku yang begitu lekat, manakala waktu aku dikhitan. Habis saya dikhitan oleh seorang dokter di kecamatan ploso Jombang, aku pulang diantar memakai sepeda motor tetangga. Tibanya di rumah, aku disuruh minum memakai jebor. Saya disuruh makan. Beberapa waktu, saya merasakan kesakitan di alat vitalku. Dan ibuku merawat aku dengan begitu sayangnya. Tiap pagi saya dimandiin memakai air hangat. Dan ibuku pula yang membersihkannya. Pada malam hari, manakala saya tidak bisa tidur, ibuku memelukku, dan mengibar ibaskan kertas agar ada air semilir yang menjadikan aku tertidur. Dan begitulah hari-hari proses kesembuhanku yang selalu ditemani oleh ibuku tercinta.
Sampai saya lulus SD, saya bersikeras untuk masuk ke SMP negeri. Namun ibuku berharap aku masuk SMP swasta. Karena melihat tekadku, akhirnya hati ibuku luluh. Aku masuk di SMP Negeri 1 Ngimbang Lamongan. Singkat cerita, sampai pada tahap lulus SMP. Ibuku kembali berharap agar aku tidak melanjutkan sekolah dan aku bisa membantu bapak ke sawah saja. Namun jiwa ilmuwan telah mendaging, aku ingin tetap menuntut ilmu setinggi langit. Akhirnya aku disekolahkan juga. Aku mengambil SMA Negeri di Kecamatanku. Waktu itu aku tidak memperdulikan uangnya darimana untuk menyekolahkanku??? dengan penghasilan sebagai petani? Aku tidak tahu. Yang jelas orang tua harus menuruti semua kamauan anak. Dan ibuku ternyata lebih memilih menuruti kemauan anak. Walau entah berapa juta uang yang telah dikeluarkan untuk membelikan seragam yang menuntut berganti-ganti, sepatu, tas, pensil, bulpoin, buku, LKS, uang jajan, de el el???????? Namun toh ibu lebih memilih menuruti kemauan anaknya. Asal anaknya bahagia. Walau ia harus membanting tulang siang dan malam, sebagai petani.
Ketahanan perasaan ibu untuk bertahan demi kebahagiaan anaknya, terkadang juga bisa jebol lantaran beban hidup yang semakin bertambah. Ketika aku menuntut ibuku untuk meng-kuliahkan aku, ternyata benar-benar tidak dituruti. Seluruh keluargaku menghakimi aku untuk tidak menyekolahkan aku. Tetapi aku benar-benar tidak bisa menerima semua alasan mereka. Aku memberontak. Aku lari ke surabaya. Di sana aku daftar di IAIN Sunan Ampel. Aku ingin membuktikan kepada orang tuaku bahwa aku adalah anak yang bisa diandalkan untuk menjadi orang. Aku tidak butuh harta benda. Aku hanya butuh ilmu untuk menjadi warisan dalam menata kehidupanku yang akan datang. Hingga, ada kabar bahwa aku benar-benar diterima di fakultas Tarbiyah PAI, yang konon jurusan itu adalah jurusan terfavorit di IAIN. Ibuku hanya bisa menangis, dia tidak bisa memutuskan. Ia bagaikan makan buah simalakama. Mau mengkuliahkan aku, khawatir jangan-jangan nanti seluruh harta bendanya habis untuk kuliah saja, sedangkan anaknya tidak menjadi apa-apa/pengangguran, kemudian dicemooh masyarakat sebagaimana anak-anak kuliah dibeberapa desaku, yang menghabiskan sapi dan sawah, tetapi pekerjaan mereka hanya mengamen di pos-pos mengiringi orang-orang yang hendak pergi ke sawah, atau tidak mengkuliahkan aku, tetapi akan sungguh menyakiti hati aku yang sudah membaja tekadnya dan membuktikan kecerdasannya. Namun ibuku lebih memilih untuk tidak menyakiti hati aku. Aku dikuliahkan walau dengan kekhawatiran masa depanku nanti bagaimana.
Menjelang wisuda, aku sedikit khawatir bahkan mungkin ibuku lebih khawatir, apakah aku akan menjadi anggota pengangguran Indonesia (API) ataukah tidak? Walau belum ada kejelasan pada masa depanku, tetapi saya bertekad akan mencari apa saja asal saya tidak kembali ke desa dan dikatakan menjadi anak pengangguran. Setelah wisuda, aku memilih tinggal di Mojokerto menemani dosenku Dr. Wahib Wahab. Di sana aku banyak menyelesaikan penelitian-penelitian ilmiah yang bisa aku gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun begitu, ibuku tetap khawatir terhadap aku. Karena ketika di rumah, selalu ditanya apa pekerjaannya Isno??? Akhirnya ibuku menyuruh aku untuk bekerja. Aku stress belum ada pekerjaan yang mapan. Aku mencari-cari akhirnya saya bisa bekerja di KBIH, namun cuma satu bulan aku di sana. Akhirnya aku mencari lagi dan menemukan di SD Wates membutuhkan guru bahasa Inggris. Gajinya sangat kecil. Aku terus berusaha. Aku mendaftar di Jawa Pos untuk menjadi wartawan. Pada titik finalnya aku ditolak. Seorang teman memberitahu aku ada lowongan untuk masuk LSM, namun di luar jawa. Aku tidak peduli, yang penting aku bekerja. Sebelum berangkat ke sana, ada info lowongan PNS di beberapa kabupaten. Aku mendaftar di Lamongan dengan diiringi oleh kedua orang tua. Tetapi dengan berbagai kondisi aku membatalkan mendaftar PNS di sana, aku pindahkan mendaftar di Kota Mojokerto. Tidak ku duga, keputusan itu menjadi keputusan yang sangat bersejarah dalam kehidupanku. Pada pagi hari setelah subuh, aku mencari pengumuman di koran. Ternyata di sana terpampang namaku. Aku bersujud syukur. Aku sms ke ibuku. Konon, ibuku histeris dan menangis sejadi-jadinya. Ia bersyukur. Anaknya menjadi orang. Anaknya akan banyak dibanggakan orang. Perjuangannya tidak sia-sia.
Sambil menunggu SK datang. Aku memilih pulang di kampung halaman. Di sana aku berharap bisa berkumpul bersama keluarga sekalian membantu orang tua bekerja di sawah. Namun SK-nya ndak datang-datang. Hampir enam bulan aku menunggu. Lamanya aku menunggu ternyata, menjadikan guncingan di sana sini. Apa benar Isno menjadi PNS? Atau ceritanya hanya bohongan untuk menutupi ketidakbecusannya mencari pekerjaan? Mana mungkin anak petani menjadi PNS? Menjadi PNS mestinya bayar? Dll. Ibuku tidak tahan. Ia menangis di depanku menyuruh aku kembali ke Mojokerto. Aku menuruti saja. Kebetulan aku punya agenda di Pasuruan. Pada waktu di Pasuruan, aku ditelpon oleh BKD, bahwa SK telah datang, dan aku disuruh siap-siap untuk diklat. Alhamdulillah aku panjatkan. Setelah menempuh 6 hari diklat, aku resmi mendapat SK dan ditempatkan di SMA Negeri 3 Mojokerto. Aku memberitahukan ke ibuku. Kemudian ibuku mengundang seluruh warga kampung untuk melaksanakan tasyakuran. Pasca tasyakuran, aku mengucapkan alhamdulillah ternyata aku dimampukan oleh Alloh untuk membuktikan kebenaran ucapanku. Semua orang kemudian memanggil namaku “Pak Guru”. Aku melihat linangan air mata ibuku.
Setelah satu tahun aku menjadi “Umar Bakrie” aku mempersunting gadis di desaku. Waktu mau berangkat untuk ijab qobul, aku masih teringat, ibuku tidak kuat menahan tangisnya. Ia memelukku. Semua keluarga terharu. Ibuku bilang teringat dengan semua ke-nekadanku. Ia teringat masa kecilku. Ia teringat semua nestapa hidupku. Akhirnya ibuku bisa menghantarkan aku menuju ke pernikahan. Itulah ibuku. Ia adalah orang yang sangat bangga terhadap aku. Ucapan-ucapanku menjadi dalil dalam pembicaraan-pembicaannya dengan tetangga-tetangga. Tangisnya selalu mengiringku, jika aku curhat terhadap problem-problem kehidupanku. Itulah spirit dalam kehidupanku. Aku ingin mempersembahkan yang terbaik untuk ibuku. Aku ingin melihat sesungging senyum pada bibirnya. Aku ingin mempersembahkan seluruh hidupku untuk memberikan yang terbaik dalam kehidupannya.
Kawan, itulah gambaran “the great power of mother”. Bahwa kasih sayang ibu yang merupakan cerminan dari rohman dan rohimnya ALLOH yang ditiupkan ke dalam hati ibu, mampu menjadi sebuah loncatan energi yang sangat luar biasa. Dan saya telah membuktikannya. Jika kamu ingin menjadi sukses maka jangan lupakan ibumu. Karena surga ada di telapak kaki ibu. Artinya kebahagian atau kesuksesan sebenarnya terletak pada restu dan ridlonya ibu kita.
Dulu, saya pernah berjanji, saya tidak akan pacaran sebelum aku menjadi orang sukses. Biar aku bisa menjadi anak yang dibanggakan ibu dulu dengan kesuksesan itu. Ternyata spirit itu begitu kuat, aku benar-benar tidak pacaran selama aku kuliah. Selanjutnya, demi kesuksesan itu pula, aku harus berdarah-darah hidup di Surabaya dan Mojokerto. Aku berpindah dari Masjid ke Masjid lainnya. Dari bekerja satu ke bekerja lainnya. Saya pernah menjadi kuli bangunan, pernah menjadi penjaga wc, tukang ngrental, tukang nggarap skripsi, jualan kambing, kerja di KBIH, tukang bersihin Masjid, ngelesi de el el. Dan ternyata ALLOH menjawab semua itu dengan dihadiahi menjadi PNS. Semua adalah spirit Ibu. Spirit ingin melihat senyum ibu mengembang penuh kebahagiaan.
Perhatikan firman-firman ALLOh di bawah ini.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. ( Lukman : 14)
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al-Ahqaaf: 15)


Silahkan pembaca sekalian untuk menuliskan emosi yang timbul setelah membaca tulisan pada pesan di shout mic ini. Sekalian saya menyarankan anda juga menulis kapan ibu anda tersenyum penuh dengan kebahagiaan dan kapan ibu anda menangis. Trims

Selasa, Oktober 13, 2009

Keuangan Yang Maha Kuasa


Time is money. Demikian sebuah kata mutiara yang selalu didakwahkan oleh setiap orang bila dikaitkan dengan masalah bisnis, atau untuk memarahi orang yang kurang menghargai waktu dengan bermalas-malasan tidak menghasilkan uang sama sekali. Abang punya uang tak sayang, abang tidak punya uang maka tak tendang, demikian juga joke yang sebenarnya mengarah kepada penghargaan terhadap uang. Hal yang sama dengan arti yang mirip dalam sebuah lirik lagu “ Duwit...... duwit, mau makan pakai duwit, mau gaya pakai duwit, mau nikah pakai duwit, mau buat anak pakai duwit, mau mati pake duwit, SEMUANYA PAKE DUWIT, SEMUA ORANG MABUK DUWIT”. Hingga terakhir sebuah seloroh yang sering dipakai oleh orang yang berputus asa dalam mencari rizki halal dan orang yang tidak mampu membedakan uang “apa” mengatakan “Yang Haram saja sulit apalagi yang halal”????????!!!!!!!!
Maka tepatlah bila tulisan ini saya kasih title “ Keuangan Yang Maha Kuasa”. Tetapi jangan ditafsiri macam-macam. Saya hanya berkeinginan untuk mengkritik konsep banyak orang yang tega-teganya menggantikan posisi Alloh Yang Maha Kuasa mengjadi Keuangan Yang Maha Kuasa. Harus kita akui, bahwa dalam kehidupan kita ini sudah banyak mengarah kepada uang yang dituju, bukannya ALLOH ( Buka tulisan saya dulu “La Maksuda Ilalloh”). Tidak ada yang ku tuju kecuali Uang, mungkin gambarannya demikian. Kalau begitu, apa hal ini tidak menjadikan orang terpleset ke wilayah syirik??????? MENDUAKAN TUHAN. Apa hal ini tidak berbahaya bila dibandingkan orang memuja keris, atau kuburan yang sering di sesat-sesatkan?????? Kenapa???? Karena hampir penyakit ini menggerogoti kita semuanya. Kalau keris itu sih!!!!! cuma yang punya keris saja dan itu paling sedikit. Kalau uang????????? Bedakan dengan pertanyaan ini, Anda punya keris?????? Dengan, Anda punya uang???? Anda kepingin keris banyak???????? Anda Kepingin uang yang banyak!!!!!!!????????? Anda ingin menjadi penguasa keris??????? Anda ingin menjadi penguasa uang????? Pertanyaan dan jawabannya dijamin rasanya beda.
Coba anda membayangkan dan kalau bisa mencoba untuk diam sambil memejamkan mata. Melihat kehidupan disekeliling kita. Pada pukul tiga dini hari, lihatlah ada saudara-saudara kita yang terbangun malam dan melaksanakan wudlu kemudian sholat dengan diiringi sujud sambil beruraian air matanya mengadukan keluh kesah kesalahan serta kehidupannya kepada ALLOH. Di sisi lain ada saudara kita yang baru pulang dari diskotik sambil berjalan terhuyung huyung mabuk. Dia masuk kerumahnya, menggedor-gedor pintu agar dibukakan oleh istrinya. Istrinya membukakan dan dipukul karena terlalu lama membuka pintunya. Dia menangis. Dan suaminya langsung tersungkur ke kursi rumah. Sang istri sambil menangis kemudian membukakan pakaian dan membuat minuman kopi. Ada juga saudara kita yang baru pulang dari mencuri, mencopet, merampok, kerja malam dan juga ada yang baru pulang dari hotel karena semalaman baru dapat bokingan dari orang kaya untuk melayani anunya yang sedang berusaha untuk dihibur. Ada juga saudara-saudara kita yang menyiapkan dagangan sambil mengendari sepeda bututnya. Tidak berapa lama kemudian terdengar lantunan TARKIM. Kemudian dilanjutkan dengan Adzan. Kemudian berduyun-duyun orang berdatangan ke Masjid. Yang laki-laki memakai sarung, perempuannya memakai mukena. Sehabis dari Masjid, sang istri menyiapkan masakan. Anak-anak muda masih ada dalam selimut-selimut tebal mereka. Namun ada saudara kita yang bangun kemudian berolah raga. Riuh ramai di lapangan. Beberapa lama, sudah ada hiruk pikuk dalam keluarga. Si kecil bangun merengek-rengek minta diantar kencing. Saudaranya ada yang langsung melihat televisi. Anak-anak sekolahan menyiapkan keperluannya untuk sekolah. Ia mandi dan berganti pakaian. Pemuda-pemuda yang barusan bangun langsung menuju ke warung warung kopi. Tidak berapa lama pada pukuk setengah tujuh, terdengar suara yang hampir bersamaan. Brung brung brung.........det det det......... suara sepeda motor dan mobil bersahutan bergerak ke tempat kerja mereka masing-masing. Nun jauh disana, para petani telah mencangkul di sawahnya tanpa harus membisingkan jalannya. Di jalan-jalan agak sunyi. Karena semua orang bekerja sesuai dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang dikantor, di sekolahan, di pasar-pasar, di sawah, di gedung DPR dan dimanapun. Sampai pukul sekitar dua belas......jalan mulai ramai kembali. Kendaraan mulai bersahutan. Anak-anak SD pulang dan orang tua menjemput anaknya masing-masing. Setelah itu orang tuanya kembali ke kantor mereka masing-masing lagi. Tidak berapa lama, anak SMP dan SMA juga baru pulang dari sekolahnya masing-masing. Sampai jam 4 kendaraan di jalan-jalan mulai ramai kembali. Pekerja-pekerja kantoran mulai pulang. Jalan-jalan mulai ramai kembali. Mereka berebut. Para kondektur bersahutan merayu-rayu penumpang. Peluit ke sana kemari, para pengamen, pedagang asong, sampai pencopet lebur dalam arus manusia yang berseliweran. Sampai menjelang malam, sudara adzan magrib bersahutan antar speaker. Orang berbondong-bondong menuju Masjid. Setelah maghrib, orang-orang disbukkan dengan makan dan aktivitas lainnya lagi. Di Alun-alun akan kita lihat betapa ramainya orang berjual beli. Di pinggir-pinggir sungai, anak-anak muda sudah nongkrong berduaan disana. Pekerja-pekerja malam, Tempat karaoke sudah menyiapkan dengan baik untuk menyambut malam yang meriah. Di Mal mal mulai ramai. Ditengah hiruk pikuk, adzan isya’ berkumandang. Namun toh lebih ramai Mal daripada Masjid Agung sekalipun. Hiruk pikuk itu baru selesai sekitar pukul sembilan-sepuluh. Pedagang-pedagang mulai mengemasi dagangannya. Tetapi pedagang Bakso dan pedagang Tahu tek terus berjalan menyusuri rizki yang belum dia dapat. Tek....tek.....tek......tok....tok.... di club-club justru semakin lama. Masjid-masjid di kunci. Orang tertidur, melanjutkan kehidupan seperti KEMARIN.
Hidup yang mekanik. Mereka bergerak, membanting tulang, menghilangkan kehormatan, merampas hak saudara mereka sendiri, membunuh, semua demi UANG. Dari waktu subuh sampai terpejamnya mata mereka bergerak demi UANG. Tanpa sadar mereka melupakan tugas mereka hidup. Untuk apa aku hidup??????? Yang diketahui adalah dengan UANG aku bisa melakukan segala apapun. Termasuk membeli kehormatan sekalipun. Kalau kita memakai alat yang bernama RONTGEN (baca Rongsen), maka yang terlihat di otak mereka Cuma UANG. Uang yang berwarna merah dan biru. Kalau kita bedah hatinya, ternyata terselip UANG. Pegawai bekerja karena UANG, Pelajar belajar ujung-ujungnya ingin menjadi orang sukses dan mendapatkan uang banyak, DPR berdebat sana sini ujung-ujungnya uang, Kyai berkutbah ujung-ujungnya uang, tender-tender yang diumumkan ternyata ujung-ujungnya uang, semuanya LIL UANG. Tetapi tetap dalam tanda kutip. Kalau kita simpulkan ternyata keuangan benar-benar YANG MAHA KUASA. Uang menguasai seluruh pikiran hati dan kehidupan manusia yang ada di bumi ini. Semuanya LA ILA HA ILA UANG. Kita berdzikir La Ilahaillaloh, itu hanya di bibir, hati dan pikiran tidak. Kita pandai bersilat lidah, bahwa apa yang kita lakukan hanyalah amaliah sosial kita, tetapi kalau kita peres teryata juga UANG. Kita terlalu pandai dengan mengatakan bahwa doa itu baik tetapi ujung-ujungnya REG SPASI. Kita terlalu pandai mengatakan bahwa ayat-ayat suci sangat bagus untuk memecahkan segala persoalan tetapi ujung-ujungnya UANG. De el el.......................APA YANG TIDAK UANG????????? SYETAN MENARI DISANA!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Perhatikan firman ALLOH dalam surat Al’Ala ini, renungkan dan kira-kira kita termasuk di dalamnya ataukah bukan..........
Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. ,Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Kamis, Oktober 08, 2009

TUNE UP Alam Semesta

Beberapa siswa mengirim sms kepada saya terkait dengan gempa di padang. Isi sms itu menerangkan tentang hubungan waktu gempa dengan Al-quran. Coba anda cek, pasti anda akan terkejut. Gempa Tasikmalaya terjadi pukul 15.04, kalau anda buka surat yang ke lima belas ayat 4 anda akan menemukan yang artinya, “Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan”, begitupun sama dengan gempa di Padang yang terjadi pukul 17.16, kita akan menemukan arti pada surat al Isra ayat 16 “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” gempa susulan yang terjadi di Padang tepat pukul 17.58, yang akan kita ketahui berisi “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”. Kalau orang yang tidak memahami ulumul Quran pasti akan terpesona dengan kecocokan ayat al-Quran terkait dengan peristiwa tersebut. Namun kenapa hanya yang dicocokkan gempa Tasikmalaya, Padang dan Jambi?????? Lalu bagaimana dengan tsunami Aceh, lumpur lapindo, gempa jogja, gempa Pangandaran Situ Gintung dan gempa-gempa lainnya, apakah juga ada di dalam ayat Al-Quran?????? atau banjir di Jakarta, atau musibah-musibah lainnya. Kalau Al-Quran sudah menjelaskan ayat-ayat tentang waktu gempa, bisa tidak Al-Quran dijadikan kitab meramal suatu gempa yang akan terjadi?????? Di sini saya tidak menyangsikan kebenaran al-Quran, tetapi jika al-Quran hanya dijadikan sebagai justifikasi tentu sangat berbahaya. Kenapa????? Orang akhirnya suudzon bahwa di Aceh banyak terjadi kemaksiatan, sehingga Alloh mengadzabnya melalui tsunami????? Begitupun dengan Jogja, Padang de el el. Lalu kenapa tidak di Surabaya????? Padahal di Surabaya ada lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Kenapa tidak di Jakarta????? Padahal kemaksiatan banyak terjadi di Jakarta. Koruptor-koruptor berkumpulnya juga di Jakarta. Kenapa juga Alloh tidak membuat tsunami di Los Angles, Holliwood, atau California??????? Padahal pendosa atau orang-orang kafir banyak tinggal disana????
Kalau kita memahami bencana di Indonesia sebagai adzab, kenapa harus orang muslim????? Bukankah Aceh orang Muslim, begitupun dengan Padang???? Begitupun dengan Jogja, de el el. Berarti ada yang error pada orang muslim itu sendiri sehingga di Adzab. Muslimnya ataukah perilakunya????? Kalau kita menjawab perilakunya......nanti dulu.......tidak bisa diukur..... baik mana antara orang Padang dengan orang Surabaya??????? Atau orang yang ada di Gang Dolly, atau Balongcangkring, atau orang-orang yang ada di Tretes????? Kalau kita menjawab Muslimnya, konteksnya sebenarnya bukan adzab, tetapi ujian atau teguran. Kenapa UJIAN?????? Pertama, Untuk mengakui keabsahan seseorang bersabar dalam kemusliman maka bisa jadi ALLOH menguji. Ketika ia bersabar dalam kepasrahan menerima apapun dari ALLOH, maka ia absah untuk dihadiahkan label Muslim. Karena dia Muslim dan terkena bencana Alam kemudian mati, maka connect dengan PBNU yang memfatwakan bahwa orang yang mati dalam bencana Alam di Padang Matinya MATI SYAHID. Tapi MUSLIM. Kedua, memang ALLOH pernah berkata, bahwa orang yang tidak bersyukur itu pasti akan di adzab ALLOH dengan adzab yang sangat pedih. Tetapi, saya yakin, jika orang itu Muslim, pasti bisa bersyukur. Kalau tidak bersyukur berarti bukan MUSLIM. TEGURAN!!!!!! Orang yang di tegur itu biasannya salah. Kalau tidak salah berarti tidak di tegur. Bisa jadi bencana alam itu merupakan teguran kepada kita. Satu, sebagai muslim, kedua, sebagai bangsa Indonesia. Bisa jadi ada yang error pada pola perilaku kita, pikiran kita, hati kita dan semuanya. Kata Cak Nun, masyarakat kita sedang berproses menuju kepada gerakan Majnun Berjamaah. Gerakan gendeng bareng-bareng. Pekok Bareng-bareng. Tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah.....
Namun, secara general, pola-pola pikiran dan hati yang salah kemudian teraplikasi dalam perilaku manusia yang salah pula membawa kepada dampak-dampak yang negatif. Akhirnya tatanan alam semesta yang sudah diatur oleh ALLOH dengan keseimbangan yang sempurna, menjadi tidak seimbang. Penggundulan Hutan, Penyedotan barang tambang tidak terbatas, pengerukan tanah, pemusnahan hewan-hewan, dekadensi moral masyarakat dunia de el el.......menandai ketidakseimbangan alam semesta. Namun Alam ternyata memiliki fitrah untuk menyeimbangkan dirinya sendiri manakala ada ketidakseimbangan yang terjadi. Seperti hidung yang kemasukkan virus dengan sendirinya hidung secara fitrah akan gebres untuk melindungi dari ketidakseimbangan yang akan terjadi pada dirinya. Atau seperti sepeda motor, yang sekian lama dipakai, maka dia membutuhkan sesuatu untuk menyeimbangkan dirinya agar tidak terjadi eror. Bahasa bengkelnya TUNE UP. Ternyata alam semesta juga membutuhkan TUNE UP agar terjadi keseimbangan. Terkadang dengan meletusnya gunung berapi, terkadang dengan Gempa dan terkadang dengan tsunami. Semuanya tetap masih dalam kasih sayangnya ALLOH. Andai alam tidak memuntahkan lahar lewat gunung Berapi, maka bisa jadi bumi ini akan meledak. Semua manusia akan binasa. Tetapi hanya beberapa saja yang menjadi imbasnya jika dibandingkan dengan masyarakat dunia. Maka kita sepatutnya berbagi dengan mereka, mereka menjadi tumbal demi menyelamatkan seluruh umat manusia. Begitupun dengan logika gempa maupun bencana-bencana lainnya. Mereka pantas untuk dijuluki MATI SYAHID, karena merekalah penyelamat seluruh umat manusia. .......Allohumaqfirlahum warhamhum waafihim wa’fu anhum......

Kajian SKI SMAGHA
8 Oktober 2009

Rabu, Oktober 07, 2009

Melampaui Kasih Sayang Biasa

Kasih sayang!!!!!?????? Apakah kasih sayang itu????? Dimanakah kasih sayang itu didapat???? Untuk apa harus berkasih sayang??? Kenapa banyak orang merindukan kasih sayang??? Apa hebatnya?????Sederetan pertanyaan itu terus memusingkan saya beberapa lama setelah memahami konsep kasih sayang yang dipahami oleh istriku. Istriku memahami konsep kasih sayang sebatas pada ketika kita berduaan, makan berdua, jalan-jalan berdua, memadu kasih berdua,....pokoknya berdua, runtang runtung berdua. Kayaknya konsep ini kebanyakan yang dipahami oleh orang. Mereka hanya memahami APA YANG DIBERIKAN KEPADAKU SAAT INI. Titik. Sebaliknya ketika tidak berduaan, tidak jalan-jalan, tidak memadu kasih itu dikatakan tidak kasih sayang. Benarkah????????
Kalau kita memahami lebih jauh, sebenarnya dapat kita lihat dengan gamblang, bagaimana seharusnya menerapkan kasih sayang yang tidak merupakah kasih sayang biasa tetapi lebih luar biasa. Bayangkan, anak kecil yang berlatih berjalan, dia harus tertatih-tatih bahkan terkadang jatuh berdarah-darah. Jika orang tua yang berpikiran kasih sayang sempit, dia tentu akan sangat khawatir dan tidak memperbolehkan anaknya jalan, kemungkinan selalu digendong kemana-mana. Tetapi bayangkan apa yang akan terjadi pada masa depan anaknya, pastinya anaknya justru Tidak Bisa Berjalan. Sebaliknya orang tua yang berpandangan visioner, melihat anaknya jatuh berdarah-darah tetap dibiarkan bahkan di support, untuk terus berjalan. Bukannya tidak sayang, tetapi justru kasih sayangnya itulah kasih sayang melampaui kasih sayang biasa. Akhirnya, anaknya mampu berjalan sendiri dengan bebas dan terbiasa. Bandingkan dengan contoh orang tua pertama tadi.............
Begitupun dengan kasih sayang seorang suami kepada istri. Jika suami hanya memahami konteks kasih sayang yang sempit, maka dia kerjanya hanya berduaan, jalan berdua, tidur berdua, makan berdua, minum berdua, de el el. Tetapi berbeda dengan seorang suami yang memiliki kasih sayang yang tidak biasa, bentuk kasih sayang yang diberikan adalah melakukan untuk masa depan kehidupannya. Dia bekerja, memikirkan nasib istrinya, nasib anaknya kelak, tidak hanya masalah ekonomi, atau keharuman nama, atau status sosial yang tinggi, tetapi lebih jauh dari itu, kemapanan dalam beramal sholeh dunia dan akherat yang bisa di panen oleh anak cucunya bahkan sampai cicit-cicitnya. Walau terkadang ia harus tidak berduaan. Tetapi jauh dari itu justru kasih sayang yang ia tumpahkan adalah kasih sayang yang sebenar-benarnya kasih sayang.
Bahkan, begitupun yang dilakukan Tuhan kepada makhluknya. Seringkali makhluk mengkonsepsi bahwa kasih sayang Tuhan harus dirasakan dan dinikmati langsung saat itu. Biar dia merasakan. Merasakan kehidupan yang hanya enak-enak saja. Padahal ujian dan persoalan-persoalan kehidupan yang menggelayut merupakan kasih sayang yang besar. Lho????? Ujian dan cobaan berbagai masalah adalah merupakan pendidikan langsung yang diberikan oleh ALLOH kepada hambanya agar ia memperoleh mental yang kuat, memiliki jiwa yang tangguh dan menjadi manusia-manusia yang tidak cengeng, manusia yang hebat. Coba jika hidup itu linier, enak saja, maka dijamin dunia itu tidak akan indah, karena monoton. Tetapi justru ada rupa-rupa itulah keindahan itu terwujud. Kasih sayang mendidik dan menempatkan pada maqom tertentu. Itulah kasih sayang ALLOH.
Mungkin, hal yang sama bisa kita analisis pada terjadinya letusan gunung merapi yang melanda umat manusia, tsunami, gempa de el el. Jika kita memahami dari sudut kasih sayang yang sempit, kita akan menyalahkan Tuhan, karena tega membunuh sekian banyak umat manusia. Tetapi jika kita melihat lebih jauh, andai gunung merapi tidak meletus, maka bumi, bahkan umat manusia seluruhnya akan meledak dan mati. Karena di dalam bumi ada magma yang terus aktif bergerak dan membutuhkan saluran untuk memuntahkan maghmanya. Kasih sayang Tuhan melampaui persepsi manusia tentang kasih sayang yang dipahami begitu sempit dan kerdil sehingga hobi menyalah-nyalahkan orang, TIDAK SAYANG???????
Karenanya, kita sebagai umat yang sedang meniti, harusnya menggunakan dan meletakkan kasih sayang tepat pada kasih sayang yang sebenarnya. Kasih sayang yang melampaui ruang dan waktu. Dan itulah RAHMAN DAN RAHIMNYA ALLOH.

Pilihan!!!!!!!!!!

Kehidupan di dunia ini adalah perintah dari Dia Yang Maha mengatur.
Orang yang bijaksana tidak akan memperdebatkan apa yang telah dialami tetapi tetap akan mencari cara untuk memecahkan kesukaran yang dideritanya.
Jangan pernah mencoba untuk merubah keputusan orang lain. Messkipun hanya memperbincangkannya!
Jika seseorang menginginkan sesuatu melalui caranya, kataknlah “baiklah” dan susun kembali caramu sendiri.
Ambillah pelajaran dari air yang mengalir. Manakala air bertemu dengan batu karang, ia mengubah arahnya dan menemukan jalan untuk tetap mengalir!
Masing-masing orang berusaha memenuhi apa yang diperlukan dalam mencapai tujuan pribadinya. Seseotang yang turut ambil bagian akan berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan bagiannya yang dia perlukan dan si pembawa sial juga akan berupaya sekuat mungkin untuk membuang karunia yang telah mendatangi jalannya.
Ikuti caramu sendiri tatkala kamu mengetahui kebenarannya di bawah bimbingan imanmu, sekalipun kamu tinggal sendirian!
Barang siapa berpaling dari kebijaksanaan, berarti dia sudah memilih ketidaksadaran! Dan dia mengobral kehidupannya berdasarkan hasil pilihannya.

Tamak dan Syukur

KETAMAKAN adalah ketidakmampuan seseorang untuk menghargai apa yang telah diterima dan menginginkan sesuatu “SECARA BERLEBIHAN” baginya.
BERSYUKUR adalah mengerti kepada siapa yang telah memberikan berkah sebagai Sang Pemberi. Mencari-cari seorang pemberi di balik Sang Pemberi adalah SYIRIK.
Tidak bersyukur adalah sifat orang yang tidak hidup dengan ilmu pengetahuan.
Penghiburan diri yang terburuk adalah menghibur dirimu sendiri dengan obrolan tentang ilmu pengetahuan tanpa menerapkannya dala kehidupanmu.
Orang yang tidak bisa lepas dari KEPOMPONG yang dipusingkan oleh emosiya, disebut orang yang tidak sadar.
Apakah kamu juga,.....akan menerima resiko terbelenggu di dalam KEPOMPONG-mu?

Mengendalikan diri

Seorang ayah memberi anaknya sebuah kantong berisi paku dan meminta kepadanya untuk menancapkan satu paku pada sebuah peti yang terbuat dari kayu kenari setiap kali ia marah dan kehilangan kesabarannya. Anaknya menancapkan kurang lebih 37 paku pada hari pertama.
Selama seminggu, anak itu belajar tentang bagaimana cara mengendalikan dirinya dan mulai menggunakan lebih sedikit jumlah paku. Dari waktu ke waktu anak itu menyadari bahwa lebih mudah untuk tetap bisa mengendalikan dirinya dari pada menancapkan sebuah paku ke kotak kenari. Anak itu melaporkan kepada ayahnya setiap hari manakala dia tidak menggunakan satu paku pun.
Kali ini sang ayah menyuruh anaknya untuk mencabut satu paku yang menancap pada kotak kenari itu setiap harinya manakala ia bisa mengendalikan dirinya.
Seminggu berlalu dan anak itu akhirnya selesai mencabut semua paku tersebut setelah memahami arti pengendalian diri dan kesabaran, lalu ia memanggil ayahnya. Sambila menggandeng tangan anaknya, sang ayah mengajaknya mendekati peti tersebut sembari berkata:
Wahai anakku, kamu telah berusaha keras dan belajar untuk tidak membuat lubang pada buah kenari itu selama kamu bisa mengendalikan diri.
“Hanya saja lihatlah lubang pada peti kenari itu! Lubang-lubang tidak akan tertutup kembali seperti sedia kala!”

Reaksi emosionalmu dan ketidaksabaranmu akan membuat ssebuah luka yang tak akan disebuhkan di dalam hati orang lain yang halus. Tak peduli seberapa banyak kamu meminta maaf, luka itu akan selalu ada di sana. Sebuah serangan lisan akan menyakiti seseorang seperti serangan fisik.
Sahabat-sahabat kita adalah kebahagiaan kita, mereka membuat kita tertawa, mendorong kita untuk berhasil, siap mendengar keluh kesah kita dan selalu siap untuk embuka hati mereka bagi kita.

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*