Jumat, Februari 28, 2014

Menakar ayat-ayat melestarikan alam



Pendidikan adalah salah satu cara dalam melakukan perubahan. Karena didalam pendidikan ada sebuah proses pembelajaran. Dan bukankah dalam proses pembelajaran itu ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu?
Karenanya terapi ketidak tahuan untuk tidak mengatakan sebagai kebodohan, adalah dengan proses belajar sebagai piranti pendidikan. Dengan belajar orang menjadi tahu. Dan orang yang tahu pada titik akhirnya akan muncul sebuah kesadaran. Dan apabila kesadaran telah muncul maka akan melahirkan perilaku-perilaku atau perbuatan-perbuatan. Jadi untuk melahirkan sebuah perbuatan atau perilaku, tidak mungkin bila tidak melakukan sebuah proses pembelajaran. Entah itu dengan proses pembelajaran yang paling sederhana sekalipun.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah mungkin orang yang telah melakukan proses pembelajaran tetapi melahirkan perbuatan-perbuatan yang buruk? Hal inilah yang membingungkan berbagai kalangan. Para koruptor misalnya, apakah ia tidak pernah diajar PKN, yang sarat dengan pesan-pesan moral untuk menjaga martabat diri dan bangsa? Apakah orang-orang yang membuang sampah sembarangan tidak pernah mendapatkan pembelajaran Geografi tentang kelestarian alam? Apakah orang-orang yang  menggunduli hutan, membakar hutan, merusak alam tidak pernah diterangkan tentang ayat-ayat kelestarian alam pada pelajaran agama Islam?
Hampir dipastikan bahwa mereka pernah mengikuti pembelajaran seperti itu di SMA. Karena memang kurikulum ada muatan pembelajaran seperti itu. Tetapi kenapa pembelajaran yang seharusnya menjadi pengaruh yang baik, tidak menjadi aksi nyata dalam bentuk perbuatan? Apakah salah guru dalam mengajarnya? Ataukah memang ada sesuatu yang salah dalam pendidikan kita.
Barangkali kita perlu menengok, muatan-muatan pembelajaran yang diajarkan di sekolah. Agar kita bisa melihat, apakah ada yang salah dalam muatan pembelajaran sehingga tidak menghasilkan perbuatan yang baik ditengah masyarakat. 
Adalah menarik materi pembelajaran dikelas XI semester kedua pada pembelajaran PAI. Pada sub bab tentang al-Quran, ayat-ayat yang diajarkan adalah tentang kelestarian alam. Misalnya,
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.  Katakanlah , “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah (Q.S Ar-Rum/30: 41-41). Ayat ini membincangkan tentang kesadaran, bahwa kerusakan alam semesta ini, disebabkan oleh ulah tangan-tangan manusia. Kerusakan di darat yang berupa banjir, misalnya, itu disebabkan karena tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung dengan membuang sampah sembarangan, penebangan hutan, pembangunan vila dipegunungan, tata kelola kota yang kurang memperhatikan daerah serapan, penggalian tanah dan gunung, penggalian pasir, pengeboran sumur untuk perusahaan minum-minuman besar dan lain sebagainya. Turut menjadi sebab banjir yang terus menerus menjadi tamu yang tak diundang setiap tahunnya. Longsor yang menjadi ancaman diberbagai daerah yang bergeografis pegunungan pun, sebenarnya, tidak luput dari ulah tangan manusia. Penebangan hutan dengan tidak memperhatikan reboisasai, adalah salah satu contoh perbuatan manusia itu.
Begitupun dengan kerusakan laut, pengeboran minyak, tumpahnya minyak, rusaknya terumbu karang, rusaknya ekosistem, dan lain sebagainya, itu disebabkan ulah tangan manusia. Bahkan, gunung maupun gempa sekalipun, walau di ilmu geografi dikatakan disebabkan oleh alam, namun bila didasarkan pada Q.S. Ar-Rum ayat 42, itu pun juga masuk ke wilayah perbuatan manusia. Karena moral masyarakat yang mempersekutukan Allah. Dan bukankah diterangkan bahwa orang-orang terdahulu diadzab oleh Allah disebabkan rusaknya moralitas mereka? Seperti halnya Nabi Nuh, manakala ummatnya sudah tidak menggubris ajakan untuk kembali kepada moralitas namun terus diabaikan hingga kurun waktu yang mendeadline batas kesabaran Nabi Nuh. Maka tibalah adzab banjir tersebut. Inilah sebab banjir. Dan barangkali sebab banjir sekarang ini, banyak ummat manusia yang mirip perilakunya seperti ummatnya Nabi Nuh.
Dari ayat ini saja, sebenarnya sudah bisa menjawab permasalahan, kenapa pembelajaran tidak selamanya menghasilkan perilaku baik? Bukankah Nabi Nuh adalah seorang pembelajar. Namun kenapa ummatnya tidak berperilaku baik? Apakah Nabi Nuhnya yang salah? Ataukah ajarannya yang salah? Penulis yakin, bukannya Nabi Nuh atau ajarannya yang salah, namun manusianya saja yang tidak memperhatikan dan mengamalkan ajaran luhur itu.
Karenanya, sangat menarik pada pembelajaran al-Quran kelas XII, juga tentang kelestarian alam, bahwa manusia disuruh untuk memperhatikan langit dan bumi.
“ Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (Q.S. Yunus/11: 101). Kenapa ayat ini meminta ummat untuk memperhatikan? Kenapa tidak melihat saja? Karena memperhatikan memiliki makna melihat secara mendalam disertai dengan penelitian dan perenungan sehingga menghasilkan sebuah kesadaran. Apabila kita tidak memperhatikan, kata ayat tersebut, niscaya tanda-tanda kebesaran Allah alam semesta itu tidak memiliki arti apa-apa. Padahal bila kita menengok pembelajaran geografi, betapa besar dan tidak hingganya jumlah benda-benda angkas dilangit. Belum pula kita mempelajari bumi, yang hanya satu-satunya planet, yang bisa dihuni oleh manusia. Bumi memiliki keunikan bahkan keajabain tersendiri. Ia tidak jatuh disebabkan oleh gaya gravitasi juga ada gerakan rotasi bumi dengan gerak sentrivulgar. Ia juga memiliki perlindungan dari serangan-serangan benda-benda angkasa dengan selimut atmosfer. Ia memiliki berbagai musim yang silih berganti. Dan lain sebagainya. Bumi memiliki keseimbangan tersendiri. Karena keseimbangan inilah, bumi bisa dibaca dengan keteraturannya. Karenanya, orang-orang desa dulu, dengan ilmu titen, mampu menebak musim hujan atau kemarau akan jatuh pada hari apa. Begitupun dengan cuaca, atau bahkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dikesudahan atau yang akan terjadi. Semua ditandai karena keteraturan alam semesta ini.
Karenanya di dalam pembelajaran sebagus apapun, namun apabila siswanya tikak, undzhur, memperhatikan, maka pembelajaran itu tidak akan bernilai apa. Bahkan tidak akan melahirkan kesadaran, apalagi perbuatan.  Jadi yang menjadi persoalan, bagaimanakah menjadikan siswa itu agar undzur, memperhatikan?
Padahal, ayat-ayat kelestarian alam itu begitu dahsyat mengingatkan manusia. Di ayat lain, juga pada pembelajaran semester II dikelas XII,
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan): hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu ke perbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.
Betapa dahsyatnya ayat-ayat ini, untuk menyentil kesadaran kita, menjaga alam ini. Betapa tepatnya ayat-ayat ini sebagai kampanye penyadaran akan pentingnya bersahabat dengan alam. Namun kedahsyatan itu tidak akan terasa dahsyat apabila disampaikan dengan asal-asalan. Tetapi perlu dengan pilihan metode yang menggugah kesadaran.
Tentu guru juga perlu untuk memolesnya dengan pengetahuan tentang alam yang memadai, yang menjelaskan fenomena-fenomena  misalnya, sebagaimana ayat, proses terjadinya hujan, proses terjadinya tumbuh kembang, struktur-struktur tanah, dan lain sebagainya. Dan apabila guru menambah dengan mempertunjukkan kejadian-kejadian nyata dengan video bencana sebagaimana kejadian banjir di Jakarta, lonsor di Jombang, Gunung meletus di Sinabung, gempa di Kebumen dengan disertai analisis kejadian-kejadiannya dan sebab yang ditimbulkannya. Tentu kesadaran akan menjaga alam ini akan muncul.  Semoga. Sehingga ke depan akan lahir, generasi-generasi yang sadar akan lingkungannya. Dan memang, penulis harus mengakui, tidak hanya kesadaran saja, tetapi perlu keteladanan dari guru, orang tua maupun masyarakat.


Isno, S.Pd.I (Guru SMA N 3 Mojokerto. Jl. Pemuda No 33 Kota Mojokerto. Hp : 085648800578)


Men-khusnudzoni Para Korban Bencana Kelud



Tulisan saya sebelumnya tentang catatan perjalan kelud, bahwa masyarakat kita pada dasarnya adalah masyarakat yang suka gotong royong. Meski saat ini banyak terjadi reduksi-reduksi atas nilai itu, namun pada titik-titik tertentu ia akan muncul dalam kesadaran masyarakat. Seperti halnya bantuan ke kelud, dengan melihat sumbangan dari berbagai daerah yang tumpuk undung, menjadi pertanda bahwa rasa kepedulian masyarakat untuk turut menggotong kesedihan masyarakat kelud secara bersama-sama itu menampak. Walaupun ada berita-berita bahwa ada oknum-oknum yang memanfaatkan bantuan-bantuan itu untuk kepentingan pribadi, namun begitu, masyarakat tetap khusnudzon dengan tetap mengirim bantuan kepada berbagai lembaga penerima bantuan walau itu abal-abal sekalipun. Mereka berprinsip, “yang terpenting saya sudah niat baik, persoalan nanti bantuan ditilap, itu urusan lembaga ini dengan Allah. Allah ndak sare. Allah akan nyatet,” demikian kepasrahan yang tulus itu.
Saya sendiri ditengah perjalanan berpikir, “Bagaimanakah mungkin ditengah bencana ada orang yang tega memanfaatkan situasi seperti ini? Apakah mereka tidak punya pikiran? Tidak-tidak. Itu bukan masyarakat Jawa. Itu bukan budaya masyarakat desa”.
Tetapi khusnudzonku sedikit terkikis, saat kawan saya yang menjadi relawan disana, yang bercerita bahwa masyarakat-masyarakat dilereng-lereng gunung Kelud telah berubah menjadi beringas. Ada yang mencegat bantuan-bantuan dan diambili untuk kepentingannya sendiri tanpa memikirkan tetangganya. Ini karena keadaan. Apabila mereka lapar, semua kebaikan akan sirna. Sopan santun akan lenyap.
Saya yang tidak mau khusnudzon saya lenyap, menanyakan setengah tidak percaya, “Apakah yang mencegat bantuan ditengah jalan itu memang penduduk asli situ?” Kawan saya menjawab “Entahlah. Bisa jadi penduduk situ, bisa jadi orang luar yang memanfaatkan situasi itu”. Tetapi kesimpulannya, TIDAK PASTI.
Saat saya dan rombongan diajak masuk ke kampung-kampung, khusnudzonku menguat, bahwa masyarakat desa tidaklah sebringas sebagaimana dikisahkan oleh kawan saya tadi. Malah mereka justru diuji dengan berbagai peristiwa. Misalnya, ada orang dengan membawa mobil hendak menjarah sebuah rumah saat desa mereka tidak ada penduduknya. Beruntung ketahuan. Akhirnya dibakarlah mobil orang tersebut. Penjarah itu bukanlah orang desa. Tetapi orang luar yang tidak memiliki hati nurani. Hendak mengambil keuntungan dibalik musibah yang menimpa orang lain. Aku pun berkaca-kaca mendengar kisah ini. Emosiku tergesek. Andaikata aku menemui penjarah itu, pasti aku ingin meninjunya.
Dengan peristiwa itu, menjadi wajarlah apabila penduduk tersebut antipati kepada orang luar. Mereka seleksi kepada orang luar yang hendak masuk. Namun toh apabila ada orang luar masuk ke kampong mereka dengan maksud menyumbangkan bahan-bahan kebutuhan mereka memang saling berebutan. Hal itu menurutku manusiawi. Mereka kelaparan. Tidak ada listrik. Tidak ada apa apa. Dan apabila bantuan datang, mereka berharap bisa mengganjal perut mereka.
Dan saya setuju dengan kawan saya, bahwa bantuan harus diatur dengan seksama. Biar orang-orang lemah yang malu-malu tidak mau berebutan juga kebagian. Sehingga bantuan menjadi rata. Dan yang mampu melakukan pembagian rata itu, jelasnya adalah penduduk sekitar sana, yang dikenal baik dan mampu berbuat adil. Karenanya kawan saya, merekrut orang-orang didesa yang kena musibah untuk membagi-bagikan secara rata. Ide ini merupakan ide cerdas.
Jangan sampai kita membagi-bagikan harta kemudian kita memfoto-fotoi mereka. Kita bahagia ada orang berebutan mendapatkan makanan. Sungguh ini keterlaluan. Apalagi saat kita menyumbang, kita pamer-pamer, bahwa partai ini partai yang paling peduli, atau organisasi ini organisasi yang hebat dan dekat dengan masyarakat. Sepertinya kita harus belajar ikhlas? Memberi tanpa embel-embel. Gusti Allah ora sare. Ini yang harus dicatat. Padahal, bukankah sumbangan yang disumbangkan itu bukan uang anda sendiri? Tetapi uangnya ummat. Jangan sampai kemudian kita menjadi tukang hobby memanfaatkan ummat. Terlebih menjual ummat. Gusti Allah ora sare.
Sudahlah! Kita memberi ya memberi. Tidak usah dengan embel-embel bendera. Masyarakat lereng Kelud tidak membutuhkan bendera. Mereka hanya membutuhkan bagaimanakah caranya menghadapi keadaan sulit itu bisa segera berlalu. Membetulkan rumah. Menyingkirkan pasir-pasir. Dan kembali ke kehidupan normal lagi. Saya khusnudzon bahwa mereka tetaplah manusia desa yang berperadaban. Yang punya sopan santun. Yang punya martabat. Jangan ditambah-tambahi dengan statemen yang negative, bahwa mereka berangasan. Bagaimanakah jika keadaan mereka itu berada pada keadaan kita? Apakah jiwa berangasan kita tidak akan muncul? Belum tentu. Maka berhati-hatilah dengan alok-alok kalian. Orang Jawa bilang “OJO ALOK-ALOK MUNDAK MUNDAK BAKAL MELOK”


 

ERUPSI GUNUNG KELUD : ANTARA ADZAB DAN SUNATULLAH


Beberapa tahun yang lalu saat terjadi gempa di Padang dan Tasikmalaya beredar sebuah sms yang menerangkan tentang hubungan waktu gempa dengan Al-Quran. Misalnya gempa Tasikmalaya terjadi pukul 15.04, dihubungkan dengan surat yang ke lima belas yakni Q.S Al Hijr ayat 4 yang berbunyi, “Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan”.  Begitupun dengan gempa di Padang yang terjadi pukul 17.16 yang bisa dilihat pada Surat al Isra (17) ayat 16 : “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. Dan yang sangat mengerikan lagi, saat gempa susulan yang terjadi di Padang tepat pukul 17.58, sms tersebut menerangkan, sebagaimana bunyi Surat Al Isra (17) ayat 58:  “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”.
Hal yang sama saat ini terjadi saat Gunung Kelud meletus. Beredar sms dan FB beberapa ayat mendukung pembenar akan kutukan Allah kepada manusia. Bunyi sms tersebut, bahwa Gunung Kelud meletus pada pukul 22: 49, yang dihubungkan dengan surat Al Haj ayat 49 yang berbunyi “Katakanlah: "Hai manusia, Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu".
Menelaah tafsir “Gathuk Mathuk”
Sekilas membaca sms tersebut menimbulkan decak kagum akan adanya pembenar atas suatu kejadian dengan menukil surat dan ayat dalam Al-Quran yang sangat sesuai. Namun seakan pula ada kesan yang memunculkan makna bahwa orang yang ditimpa bencana tersebut banyak melakukan dosa daripada daerah lain yang tidak terkena bencana. Bahkan seringkali penulis menemukan kesan, misalnya pantas saja tsunami melanda Aceh, sebab orangnya banyak makan ganja dan maksiat. Begitupun tatkala Gempa Jogja, ada kesan yang tertangkap bahwa masyarakat Jogja wajar diberi gempa, sebab mereka banyak melakukan hal mistis yang berbau syirik. Karenanya Adzab bencana alam itulah yang menjadi jawabannya.
Hal ini sungguh berhaya dan sangat tidak etis ditengah saudara-saudara kita yang terkena musibah. Sudah tidak membantu, malah menyesatkan dengan opini-opini menuduh dengan tuduhan yang mendiskreditkan sebuah kawasan. Lebih-lebih memakai Al-Quran sebagai justifikasinya. Apabila berbicara dosa dan mau membandingkan antar daerah satu dengan daerah lain, muncul pertanyaan, kenapa Las Vegas sebagai tempatnya maksiat dunia tidak diberi bencana? Kenapa pula Negara-negara penindas seperti  Negara-negara Eropa, Rusia atau Israel tidak mendapatkan bencana? Pun juga tempat-tempat kasino, lokalisasi-lokalisasi yang telah dibangun di kota-kota China atau Jepang bahkan Macau-Thailand, kenapa pula tidak segera dikirimkan adzab? Begitupun dengan daerah-daerah lokalisasi yang menjamur di negeri ini. Pun juga dengan tempat-tempat para Koruptor yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat, kenapa tidak segera digulung dengan bencana?
 Logika kejadian yang disesuaikan dengan Al-Quran sebagaimana kiriman sms-sms tersebut, patut kita bertanya, apakah semua bencana juga telah diramalkan oleh Al-Quran? Bukankah dinegara kita juga beruntun banyak bencana? Apakah bencana seperti Lumpur lapindo, Gempa jogja, Gempa Pangandaran, Situ Gintung, Banjir Jakarta, Banjir di Pekalongan, Banjir di Wonosobo, Longsor di Jombang juga telah terdapat dalam al-Quran? Jangan-jangan kita hanya menggunakan ilmu tafsir “gathuk mathuk” untuk memahami al-Quran saja. Dan lebih berbahaya lagi apabila kita menganggap al-Quran sebagai kitab untuk meramal.
Sepertinya kita perlu belajar lagi Ulumul Quran, agar mampu memahami Al-Quran dari sudut ilmu yang dibenarkan? Sebab di dalam ulumul Quran ada seperangkat disiplin ilmu yang sangat jauh dari ilmu tafir gathuk mathuk tersebut. Ilmu tafsir “gathuk mathuk” tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah apalagi dijadikan sebagai hujjah. Selain mempelajari ulumul Quran, kita juga perlu belajar ilmu Geografi sehingga debu kedunguan akan tersingkap. Bahwa ada ayat-ayat kauniyah yang perlu kita Iqra, agar kita menjadi melek dengan alam ini.


Rusaknya Alam versi Al Quran
Bahwa kejadian-kejadian alam bahkan rusaknya alam yang disebabkan oleh ulah tangan manusia memang dibenarkan di dalam Al-Quran, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran :“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (Ar-Rum : 41-42). Rusaknya kerusakan di darat dan di laut memang disebabkan oleh manusia.  Namun tidak semua kerusakan disebabkan oleh tangan manusia apabila kita menggunakan pendekatan ilmu geografi bahwa ada bencana-bencana yang disebabkan oleh ulah manusia dan ada bencana yang memang itu adalah fenomena alam. Hal ini bukan berarti mengabaikan ayat di atas yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut itu disebabkan oleh ulah tangan manusia. Namun harus ada pengelompokan-pengelompokan. Mengenai pengelompokkan bahwa ada kerusakan akibat ulah manusia dan fenomena alam, bukankah di dalam keterangan ayat lain kita dipersilahkan untuk memahami kejadian alam? "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman" (Q.S. Yunus : 101)
Mengintip Ilmu Geografi
Wilayah Indonesia secara geologis memang merupakan tempat bertemunya 3 Lempeng Litosfer Dunia, yaitu Lempeng Dasar Asia, Lempeng Dasar Pasifik, dan Lempeng Dasar Indo-Australia. Serta sekaligus wilayah geologisnya merupakan tempat bertemunya 2 Sabuk (Sirkum) Pegunungan Dunia, yakni Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania (di mana kedua rangkaian alur pegunungan ini bertemu di Laut Banda).
Akibat benturan ketiga lempeng tersebut, membuat retaknya beberapa bagian pada kerak bumi. Selain menimbulkan panas, juga memproduksi batuan cair (magma). Melalui retakan-retakan tersebut yang bisa dikatakan sebagai bidang lemah, magma cair tersebut terdorong naik ke permukaan bumi dan membentuk kerucut-kerucut gunung api. Gunung meletus itu terjadi akibat endapan atau cairan magma di dalam perut bumi terdorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi. Jadi apabila memaknakan gunung berapi sebagai sebuah adzab, disandingkan dengan pengetahuan ini adalah sebuah persepsi yang perlu diberi ilmu. Sebab erupsi adalah kepastian disebabkan karena memang begitulah aktivitas dari gunung berapi. Entah kurun berapa tahun.
Dan adapun gempa, ia juga merupakan kerusakan yang memang disebabkan oleh alam itu sendiri. Gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi.
Dengan penjelasan tersebut, menjadi teranglah bahwa erupsi gunung kelud adalah gejala alam yang memang demikianlah aktivitas dari sunnatullah yang diberikan pada wilayah di Negara kita yang kaya dengan gunung berapi. Menyatakan itu adzab adalah sebuah kesalahan berpikir. Apalagi mengesankan bahwa masyarakat Kediri atau Blitar penuh dengan dosa sehingga di adzab oleh Allah. Bukankah kita juga banyak dosa?
Mensikapi kehendak
Tetapi sebagai Muslim, harus diyakinkan bahwa segala gerak apapun di dunia ini tidak lepas dari kehendak Allah. Allah memiliki qadha dan qadharnya. Allah yang menentukan segala apapun dan gerak apapun. Karena Allah-lah sumber dari segala sebab dan sumber dari segala gerak.
Adapun dengan bencana yang beruntun ini harusnya membuat kita semua tersadar, bahwa kita perlu menjalin persahabatan yang lebih mesra lagi kepada alam yang senantiasa bertasbih kepada Allah. Kita selama ini telah memperkosa bahkan menganiaya alam ini dengan semena-mena. Alam memberontak. Ia men-tune up dirinya agar terjadinya keseimbangan, manakala ketidakseimbangan oleh ulah kita ini. Alam dituntun oleh Allah untuk bergerak. Termasuk gerak erupsi. Pesan dalam Al-Quran :
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S Al A’raf : 56)

Mojokerto. Jumat, 14 Februari 2014  Pukul 17.15
Isno Woeng Sayun
Gmail : Isnobisa@gmail.com



Menanggulangi Free Sex dikalangan Remaja



Baru-baru ini penulis dikejutkan dengan beredarnya foto-foto syur yang dilakukan oleh seorang siswa dan siswi kelas X sekolah swasta yang juga masih tetangga dengan penulis. Dalam adegan foto itu betapa ringannya anak itu melakukan perbuatan yang dilarang agama tersebut. Mereka berdua tersenyum. Seakan-akan tiada beban dosa mereka berbuat demikian. Bahkan, manakala disidang oleh Kepala Desa, sang laki-laki hanya tersenyum-senyum tanpa merasa bersalah. Hanya kata “khilaf”. Dan sang perempuan, ketika ditanya, beralibi, “saya tidak sadar”.
Sungguh, peristiwa ini membuat hati penulis teriris, sama halnya manakala mendengar anak didik penulis mengalami hal demikian. Atau pelajar-pelajar lain yang juga pernah heboh menggemparkan dunia maya. Sebut misalnya, berita terbaru, beberapa siswi di Mojokerto, menggugurkan janinnya. Berita yang sempat menghebohkan tersebut, dimuat di internet dengan alamat http://www.suara-islam.com/read/index/9437/Astaghfirullah--Belasan-Pelajar-di-Mojokerto-Nekat-Aborsi. Sungguh keberanian yang sangat “luar biasa”.
Masih terngiang pula, berita beberapa bulan yang lalu, seorang pelajar SMP di Jakarta, melakukan adegan syur di ruang kelas. Dan sekali lagi, mereka melakukan tanpa rasa bersalah. Lalu dimanakah pendidikan moral hadir? Dimana nilai agama yang setiap minggu diberikan pada pelajaran agamanya? Dimana nilai budaya yang masyarakat merembeskan menjadi kebudayaan perilaku?
Perubahan Nilai
Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan itu adalah hal yang pasti. Tidak ada yang stagnan di dunia ini sehingga semuanya terkena hokum perubahan, baik yang bergerak linier maupun sirkular. Perubahan tersebut memasuki hampir semua ruang kehidupan manusia di dalam segala sisinya, baik yang menyangkut persoalan politik, social, budaya, maupun ekonomi.
Perubahan di bidang agama dan budaya cenderung tidak linier, tetapi lebih cenderung bersifat sirkular. Ia dipengaruhi atas realitas-realitas yang mempengaruhi disekitarnya sehingga menimbulkan interpretasi-interpretasi yang berbeda. Termasuk dalam memandang sebuah nilai. Perubahan interpretasi atau cara pandang terhadap nilai dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satunya adalah pengaruh media. Media memberi pelajaran yang berharga untuk mempengaruhi cara pandang dalam mempersepsi tentang sesuatu, termasuk dalam hal ini adalah cara memandang pergaulan laki-laki dan perempuan. Terlebih dengan mudahnya akses media internet, menjadikan semakin banyaknya nilai-nilai yang sulit terfilterkan.
Hal inilah yang menjadikan para remaja, semakin “negativ” dalam cara memandang pergaulan laki-laki dan perempuan. Mereka merasa bahwa pergaulan laki-laki dan perempuan itu bebas nilai. Sehingga kita bisa melihat video syur disana-sini yang dilakukan oleh para remaja, seakan menjadi hal yang lumrah dilakukan. Atas nama cinta.
Merubah cara pandang
Masalah cara pandang terhadap pergaulan bebas dapat diselesaikan dengan meluruskan cara pandang mereka terhadap sex atau naluri sex yang membangkitkan syahwat para remaja.
Kebutuhan naluri berbeda dengan kebutuhan jasmani.  Kebutuhan jasmani (makan, minum, istirahat, buang hajat) timbul dari faktor internal tubuh, dan jika tidak dipenuhi akan menyebabkan kematian.  Kebutuhan naluri muncul akibat faktor eksternal, dan jika tidak dipenuhi hanya menyebabkan kegelisahan. Faktor-faktor yang dapat membangkitkan naluri adalah fakta yang dapat diindera dan pikiran-pikiran yang sengaja dihadirkan untuk menggugah munculnya gejolak naluri. Dan inilah yang penulis sebutkan, media seringkali memicu menggugah gejolak naluri dengan berbagai info adegan-adegan syur yang dipertontonkan kepada khalayak yang dalam hal ini adalah para remaja sebagai objek, atau sebagai korbannya.
Konsep Islam tentang hubungan pria dan wanita dipusatkan pada tujuan penciptaan naluri ini, yaitu melestarikan keturunan manusia, bukan semata-mata bersifat seksual.  Interaksi pria dan wanita dipenuhi dengan pandangan kesucian, kemuliaan dan kehormatan diri, serta mewujudkan ketenangan hidup dan kelestarian keturunan manusia.
Karenanya meluruskan cara pandang pada hubungan laki-laki dan perempuan pada kalangan remaja, harus melibatkan Pendidikan, khususnya pendidikan Agama. Karena, salah satu fungsi pendidikan adalah mengubah cara pandang dari tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan agama memiliki fungsi dari ketidaktahuan akan nilai agama menjadi berkesadaran akan adanya nilai-nilai ke-Tuhanan.
Tugas Pendidikan Agama
Mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa inilah yang menjadi tugas berat pendidikan agama Islam di Sekolah umum. Pendidikan Agama Islam tidak hanya sekedar menuntaskan materi, tetapi lebih jauh lagi, yakni terjadinya perubahan sikap pada peserta didik menjadi bertakwa. Karenanya tujuan diadakannya pendidikan agama di lembaga pendidikan umum adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dengan tugas inilah pendidikan agama seharusnya menjadi pioner dalam penerapan pendidikan karakter. Karena tanpa pendidikan agama, karakter anak tidak akan mampu terbentuk dengan baik. Karakter yang baik itu ditopang oleh sebuah nilai yang dianutnya. Apabila nilai yang dianutnya rusak, maka rusak pulalah perilakunya. Agama senantiasa menuntun ke arah perilaku yang baik. Karenanya inilah yang menjadi penting.
Dengan tujuan yang mulia itu, sepantasnya, sekolah menempatkan pendidikan agama itu menjadi perhatian yang lebih. Namun kenyataannya sebaliknya. Banyak sekolah yang, walaupun dengan visi misi mengutamakan agama, kenyataannya dalam kebijakan kurang dalam menyokong aplikasi nilai agama. Pelajaran yang masuk UNAS, masih merupakan hal yang paling diperhatikan di setiap sekolah. Artinya bahwa kecerdesan intelektual sajalah yang memiliki ruang khusus dan perhatian lebih dibanding dengan kecerdasan emosional dan spiritual dimana hal itu terdapat dalam pelajaran agama.
Walhasil, produk yang diperoleh, adalah siswa menjadi kurang peka dengan nilai-nilai spiritual. Mereka mudah melakukan dosa dan maksiat, tanpa takut dengan siksaaan-siksaan dunia dan akherat yang dikabarkan oleh agama.
Mengharap Keseriusan Semua Pihak
Mengingat tugas berat Pendidikan Agama tersebut, seharusnya semua pihak untuk serius menangani persoalan penerapan nilai agama. Ia tidak hanya cukup dengan seperangkat mengajar, atau bercuap-cuap berceramah di depan kelas, tetapi perlu memikirkan langkah strategis penerapan nilai agama dalam kebiasaan siswa setiap hari.
Ada dua hal yang bisa ditempuh, yakni melalui pembelajaran dan pengembangan karakter siswa diluar pembelajaran. Dalam pembelajaran, guru agama perlu memaksimalkan pembelajaran agama. Metode dan strategi harus benar-benar diterapkan. Guru agama tidak hanya menggunakan kemampuan berceramah tetapi harus mampu memainkan berbagai metode dan strategi agar pendidikan agama Islam itu diminati oleh siswa. Dengan diminatinya oleh siswa, maka dengan mudah nilai-nilai agama itu akan diterima dan menjadi acuan dalam kehidupan sehari-hari mereka
Kedua, dengan pembiasaan-pembiasaan yang diatur oleh system dalam sebuah lembaga. Pembiasaan keagamaan tidak hanya ijtihad dari guru agama saja, tetapi harus ijtihad bersama-sama yang mengatasnamakan lembaga. Bila guru agama saja yang mengawal pembiasaan, maka dikhawatirkan, ia akan memiliki kedudukan yang lemah. Guru agama melarang, tetapi guru lainnya tidak. Sehingga siswa memiliki pilihan. Siswa cenderung kepada pilihan-pilihan yang tidak dilarang.
Pembiasaan ritual ini juga penting. Khususnya ritual ibadah. Semacam pembiasaan sholat dhuha berjamaah, atau sholat dzuhur berjamaah serta pembiasaan keagamaan lainnya. Guru lain, perlu juga terlibat, misalnya menjadi imam dalam sholat dzuhur berjamaah. Sehingga dengan demikian, semua pihak bersama-sama bertanggungjawab terhadap transfer nilai agama.
Guru-guru lainnya, juga perlu memberikan petuah-petuah luhur disela-sela pelajarannya. Agar siswa senantiasa mendengarkan kata-kata yang baik dan berusaha untuk mengikutinya. Sudah menjadi mafhum, bahwa kata-kata yang jamak dikalangan remaja, apabila ia bernuansa negative, dengan kata-kata vulgar dalam hubungan sex, maka ia akan menjadi pedoman dalam kehidupannya.
Maka, bagaimana pun, semua harus cancut tali wondo, bersama-sama dalam mendidikkan nilai-nilai luhur, baik agama maupun budaya yang telah lama menjadi pendidik dan penjaga moral ditengah masyarakat.

Isno, M.Pd.I
Guru SMA N 3 Kota Mojokerto
Jl. Pemuda No 33
Hp. 085648800578
No Rek 5501050698503 (BRI, atas nama Isno)


















































Sengsara membawa nikmat



Menarik sekali judul sebuah novel ini, “sengsara membawa nikmat”, sebuah novel yang kemudian diangkat menjadi sinetron menggantikan sinetron yang sangat terkenal zaman waktu saya SD dulu, “SITI NURBAYA”. Sinetron “Sengsara membawa Nikmat” yang dibintangi oleh Gusti Randa dan Desy Ratnasari itu bercerita tentang kesengsaraan yang membawa nikmat. Apakah mungkin sengsara membawa nikmat? Bukankah selama ini yang dikatakan nikmat adalah kebahagiaan? Harusnya judul novel atau sinetron itu adalah “Kebahagiaanlah yang membawa nikmat”. Hal inilah yang membuat masa kecilku bingung.
Namun setelah dewasa dengan bergelut diberbagai saluran pemikiran, ternyata logika itu bisa dibalik. Bahwa benarlah, sengsara itu membawa nikmat. Kahlil Gibran mengatakan, “Semakin dalam duka menggoreskan luka ke dalam sukma maka semakin mampu Sang Kalbu mewadahi bahagia”. Begitupun dengan apa yang disampaikan oleh Sidharta Gautama “ Di dalam samsara (sengsara) disitu ada nirwana (kebahagiaan).
Contoh sederhanannya, Ibu yang sengsara  selama 9 bulan mengandung janinnya, akan memperoleh nikmat saat sesosok mungil seorang bayi telah lahir dan berada digendongannya. Seseorang yang sengsara bekerja keras akan memperoleh nikmat dengan perolehan kesuksesannya. Seorang pelajar akan mengalami kesengsaraan dengan berbagai pelajaran yang mana ia dituntut untuk hafal dan pandai berhitung serta menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan, akan beroleh kebahagiaan saat kepandaian dan kesuksesan telah didapatnya. 
Jadi sengsara itu adalah sebuah kepastian yang harus dilalui untuk memperolah kenikmatan. Sengsara itu bukanlah suatu yang dipahami sebagai kedukaan yang menyebabkan kita bersedih, namun harusnya ia dipahami sebagai sebuah proses. Karena ia sebagai sebuah proses, maka pada saat berproses itu dibutuhkan kesabaran untuk beroleh hasil.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimanakah kita bisa bersahabat dengan kesengsaraan? Ini bergantung bagaimana mind set anda terhadap nilai kesengsaraan. Di dalam tasawuf, bahwa orang yang memiliki kecerdasan ruhani yang tinggi adalah ketika ia sudah tidak mampu membedakan antara puja dan cela. Ketika ia sudah tidak mampu membedakan emas dan kerikil. Ketika ia sudah tidak mampu membedakan sengsara dan nikmat. Karena kedua-duanya adalah pemberian. Pemberian dari Allah. Karena ia pemberian dari Allah maka menerimanya adalah sebagai sebuah anugerah.
Namun untuk mencapai kesana itu, kita-kita sebagai orang awam, tentu perlu latihan-latihan. Yang terpenting bagaimana kita bersahabat dengan kesengsaraan yang sudah merupakan kepastian tersebut.
Kalau anda sudah menjadi orang sukses, apabila anda ditanya tentang bagaimanakah sejarah anda bisa sukses? Yang anda ceritakan sengsaranya atau bahagiannya? Saya yakin yang anda ceritakan adalah deritanya. Apabila anda diwawancarai oleh anak anda, bagaimanakah ceritanya Ayah Ibunya bisa menjadi suami istri. Tentu yang anda ceritakan adalah lika liku sengsaranya mendapatkan cinta berdua. Apabila anda yang saat ini sudah lulus dari SMA, yang terkenang masa SMA itu apa? Kebanyakan yang diceritakan adalah masa-masa sengsara bagaimana menghadapi UNAS. Harus ikut Full Day, ikut Kursus, Ikut Istighosah, Puasa, Dzikir, dll.
Seorang pesilat tangguh semacam Bruce lee, atau Jet Lie, atau Jacki Chan, ketika ditanya bagaimanakah mereka belajar? Mereka akan menceritakan bagaimana sengsaranya belajar ilmu kungfu. Bukankah di dalam film-film kungfu, murid murid saolin, sebelum diajari ilmu, dibuat sengsara dulu dengan disuruh menimba? Itu metode kesengsaraan.
Seorang tentara atau Polisi, sebelum mereka resmi diterima menjadi tentara atau polisi, diberikan masa pendidikan. Disana mereka dididik dengan keras. Itu sengsara. Tetapi dengan didikan sengsara tersebut akan selalu menjadikannya terkenang masa-masa pendidikan.
So, Jadi, Sengsara adalah membawa nikmat……..

Mojokerto, 23 Feb 2013
Isno El Kayyis


Novel Menari di Atas Mimpi



Novel pertamaku, tentang Pendidikan, Cinta dan Perjuangan. Harga Rp. 30.000.00 Bisa menghubungi saya di FB Isno Woeng Sayun.

SINOPSIS NOVEL "SANG PENGGEMBALA"

SINOPSIS NOVEL “SANG PENGGEMBALA”





“Belajarlah kepada orang desa” demikianlah kata Gus Mus dalam sebuah tulisan di Facebook menyikapi permasalahan bangsa yang a-historis terhadap kearifan-kearifan local. Orang-orang desa dulu telah berbicara tentang hormat-menghormati antar tetangga, mencintai persaudaraan, mencintai alam, mencintai kehidupan dan lain sebagainya. Tidak ada gonjang-ganjing, apabila terdapat perbedaan pandangan bahkan kepentingan. Semuanya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan semangat mencari solusi, bukan meraih kemenangan semata.
Novel ini adalah gambaran tentang kearifan desa. Novel yang mengisahkan tentang pernak pernik anak desa yang telah dididik dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan alam sekitarnya. Ia tumbuh menjadi penggembala bersama dengan kawan-kawan  satu kampungnya. Menjadi pengembala adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi anak desa dizamannya. Ia selain mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan dan solidaritas juga mengajarkan akan rasa tanggungjawab serta kecintaan kepada makhluk Allah. Nilai-nilai kepemimpinan ditunjukkan dengan kelihaian para pengembala yang mengembalakan kambingnya yang begitu sulit untuk dikendalikan. Dibutuhkan jiwa ngemong dan kesabaran atas kambing-kambing yang seringkali mblalo, suka memakan tanaman milik para petani. Solidaritas terbangun saat anak-anak penggembala ini terkena musibah yang menyita solidaritas untuk berbagi suka dan duka. Sedang jiwa tanggungjawab dan kecintaan, terbangun dengan sendirinya atas tanggungjawab setiap hari kepada kambing-kambingnya untuk memberi makan, memandikan, mengawinkan bahkan membantu untuk melahirkan kambing-kambing yang sedang mengandung.
Para penggembala yang terdiri dari Rizal, Sudiono, Suryanto, Supadi, Seniman dan Sukari ini berjibaku dengan alam, merasakan pahit getirnya kehidupan yang harus dilalui oleh anak-anak se-usia mereka.  Mereka harus berhadapan dengan kewajiban untuk membantu orang tua mereka tanpa pernah merasakan dunia permainan sebagaimana dirasakan anak-anak kota. Kebahagiaan mereka adalah saat bermain-main dengan gembala-gembala mereka.
Cerita pertama dalam novel ini mengkisahkan tentang suasana keberagamaan warga Dusun Sayun, yang masih plural dan masih banyak pengaruh dari adat-adat yang ketat. Namun ditengah alam pikir keawaman warga desa, Islam berkembang pelan, memeluk tradisi-tradisi setempat. Sehingga lama kelamaan melelehkan kekakuan tradisi yang memiliki kecenderungan resistensi terhadap agama Islam. Anak-anak se-usia Rizal adalah generasi kesekian, yang telah dididik dalam ajaran agama. Ia tumbuh menjadi remaja Masjid yang dengan penuh dengan nilai-nilai keagamaan. Saat mereka harus mengaji mengkhatamkan al-Quran, mengaji kitab kuning, tidur di Masjid bersama-sama pemuda seluruh kampung, dan menghadiri acara khitanan, yang mana anak yang dikhitan akan ditemani tidur selama tujuh hari, menghadiri yasin dan tahlil dan lain sebagainya.
Para remaja menjadikan Masjid sebagai pusat segala kegiatannya. Termasuk dalam merencanakan hendak mengembalakan kambingnya kemana. Dalam merencanakan mengembalakan kambing, mereka harus bermusyawarah tentang daerah yang layak untuk dijadikan tempat mengembalakan kambing. Setelah disepakati mereka akan bersiap-siap untuk mengantarkan kambing-kambingnya. Ada prasyarat serta rukun-rukun mengembalakan kambing. Di novel ini diterangkan dengan gamblang.
Novel ini membincangkan bagaimana anak anak remaja menggembalakan kambing di sebuah oro-oro. Dimana mereka melakukan segala aktivitas termasuk dalam mandi bersama atau diistilahkan dengan bluron. Novel ini memulai konflik-konflik dengan titik bluron tersebut. Mereka harus dihadapkan kepada kenyataan pahit, salah satu teman mereka, Supadi, hendak dibawa ke dasar sungai oleh makhluk kalap, penghuni sungai, saat mereka bluron, mandi disungai “kali umber”. Mereka berjibaku menolong Supadi. Supadi tertolong. Namun tanpa mereka sadari, kambing-kambing mereka yang dibiarkan di oro-oro, mblalo, memakan tanaman jagung milik Pak Untung. Pak Untung melaporkan kejadian ini ke Pak Lurah. Dan Pak Lurah pun mengadili para pengembala itu. Dengan berbagai tuduhan dan berakhir dengan denda, pengadilan sesat itu pun ditandai oleh Rizal dan kawan-kawannya akan perangai pemimpinnya yang tidak layak menjadi pemimpin.
Rizal semakin memahami realitas sosialnya, manakala mendengar berbagai bisik-bisik seputar geliat-geliat pemberontakan warga desa atas sikap Kepala Desanya yang suka meminta “upeti” kepada para warga. Rizal mengawal pemberontakan itu. Ia ikut menyimak dari rapat ke rapat. Hingga pada akhirnya menggumpal menjadi demonstrasi massal. Warga Dusun Sayun bersatu hendak menggulingkan Kepala Desa yang berada di Desa Jejel. Dalam demosntrasi itu, warga dusun Sayun, terkecoh dengan taktik polisi, yang mengatakan bahwa kepala desa dibawa ke kantor polisi untuk dipenjara. Dari warga yang menyelidiki, diketahui kepala desa ternyata bebas lenggang kangkung diluar penjara. Hal ini menyulut demonstrasi besar-besaran ke kecamatan. Tetapi belum sempat berdemonstrasi, para warga dikejar Polisi dan dipulangkan ke rumah. Kepala Desa, pulang ke desanya, dengan dikawal oleh para pendukungnya, dengan naik trek. Warga dusun sayun pun bersungut-sungut.
Manakala pemilihan umum kepala desa hendak dilaksanakan, para elit tokoh dusun sayun memainkan politik untuk melakukan penggembosan kepada kepala desa lama yang akan mencalonkan lagi. Dalam pemilihan itu mereka harus memiliki calon yang bisa mengalahkan kepala desa lama. Benturan-benturan emosi dan kepentingan politik tidak bisa dihindarkan.
Kepala desa hendak memecah belah solidaritas politik warga dusun Sayun tersebut. Ia taburkan janji-janji bahkan uang. Namun para tokoh dusun Sayun melakukan gerakan perlindungan dari suap. Seluruh pemuda, termasuk Rizal, dikerahkan untuk menjaga para warga dari suapan-suapan baik dari kepala desa, ataupun botoh yang hendak sedang bermain judi.
Namun politik desa, tidaklah selinier yang diduga oleh para tokoh. Para warga ternyata plural. Ada warga yang merupakan family Kepala desa, atau calon lainnya, sehingga tidak mungkin mereka bisa pindah ke orang lain. Pun dengan mentalitas para warga. Ada yang idealisme mengatasnamakan solidaritas, namun tidak sedikit pula yang butuh duit untuk melunasi hutang-hutang mereka yang jatuh tempo.
Dan pada akhirnya, para tokoh dusun Sayun, membuat gerakan kepastian pilihan. Semua terpetakan. Ada masa tetap dan masa mengambang. Sayangnya Ustad Saifuddin Zuhri, sebagai guru ngaji Rizal dan panutan para santri di dusun yang baru berkembang Islamnya ini menjadi sorotan. Ia tidak memiliki kejelasan pilihan politik. Ia mengaku dihadapan Rizal, bahwa ia tidak ingin memihak lantaran ia adalah bapak bagi seluruh calon. Ia tidak ingin para warga terpecah belah gara-gara urusan politik. Ia ingin mengayomi seluruh calon. Bahkan kepada kepala desa lama, orang yang sempat berkonflik dan hendak memidanakan Ustad Saifudin gara-gara menebang pohon beringin yang menjadi punden dan digunakan untuk membangun Masjid.
Namun sikap demikian, membuat kejengkelan para warga. Mereka mengancam akan memboikot tidak mau sholat di Masjid. Namun Ustad Saifudin tidak bergeming. Para warga pun menjadi-jadi dalam memaki-maki Ustad Saifuddin Zuhri.
Hal inilah yang menjadikan Rizal dan kawan-kawan bersedih. Mereka mengkhawatirkan konflik politik ini akan berakhir dengan konflik fisik. Mereka pun bermunajat kepada Allah. Dalam munajatnya, Rizal, dibukakan hijab oleh Allah, mampu berkomunikasi dengan pembabat dusun Sayun yang bernama “Mbah Reseco”. Ia diberi petunjuk untuk menyelamatkan desanya dengan memberi “pagar gaib” sebagai antisipasi atas berbagai serangan gaib yang hendak mempengaruhi alam pikir warga. Rizal pun berjibaku melakukan petunjuk aneh itu. Hal yang sama juga ia lakukan saat pemilihan kepala desa dilaksanakan. Ia mendapat petunjuk aneh dari Mbah Reseco, sang pembabat desa, untuk melakukan pembersihan desa dari anasir-anasir jahat. Ia pun berhasil walaupun dengan terengah-engah. Kekhawatiran adanya konflik fisik bisa dihindarkan.
Pasca pemilihan kepala desa, Rizal dan kawan-kawannya pun, merasakan bagaimana luka-luka akibat politik tersebut. Ia hendak merawat luka konflik yang masih menganga. Yang sewaktu-waktu apabila meletup akan membuncah menjadi ledakan dahsyat berupa konflik horisontal. Karenanya ia bergerak melakukan gerakan “Dondom Kloso Bedah”. Dengan berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh elemen, lambat laun, karena seringnya berbaur, maka luka-luka itu mulai tersembuhkan. Dan Rizal pun bisa bernafas lega, manaka ia harus pamit meneruskan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Ia pun menyerahkan estafet kepemimpinan pemuda ke generasi muda yang menjadi muridnya, Solikin. Banyak konsep telah diberikan untuk memajukan desa dengan segala potensinya. Novel ini diakhiri dengan harapan social yang membumbung untuk memajukan desa. Baik dari konsep pertanian, konsep organisasi, hingga konsep social politik kemasyarakatan. Sehingga membaca novel ini akan menjadi pengetahuan lengkap tentang bagaimana memajukan desa sebagai miniatur Negara bernama Indonesia.


Muhammad Isno El Kayyis










Telah Terbit Buku Kedua Saya "Sang Penggembala"

Menulis novel ini tidaklah selinier apabila membaca hasilnya. Penuh lika-liku dari kurangnya mood, hingga terganggunya berbagai kegiatan sebagai pelayan ummat. Ada beberapa hal yang menyebabkan lamanya proses penulisan novel ini. Salah satunya data-data yang terkumpul seringkali kurang lengkap untuk membumbungkan imajinasi cerita dalam novel ini. Karenanya manakala saya menulis kemudian tidak menemukan kelanjutan ceritanya, maka saya agendakan untuk pulang kampung halaman. Di sana saya banyak menggali berbagai cerita dari mulut ke mulut.
Beberapa bagian dari cerita novel ini adalah kenyataan. Namun untuk menyebut true story, saya kira bukan. Karena disamping cerita nyatanya, banyak dibumbui dengan imajinasi-imajinasi dan harapan-harapan membangun sebuah peradaban Indonesia kecil berupa desa.
Tentang Rizal sebagai tokoh utama, tidaklah selamanya dia itu saya. Dia adalah banyak pribadi. Seringkali orang yang membaca karya saya, khususnya siswa-siswa dan sahabat saya, selalu mengira bahwa tokoh yang saya ceritakan itu adalah saya. Padahal tidak. Ia hanyalah bagian kecil. Selebihnya berbagai unsur kebaikan dari masing-masing orang saya poles dalam kepribadian utuh pada sosok Rizal. Misalnya tentang solidaritas Rizal terhadap kawan-kawannya sesama pengembala itu adalah pengalaman saya masa kecil. Dan nama-nama yang saya nukil adalah nama sebenarnya. Termasuk dalam solidaritas sunat. Dan memang demikianlah dulu tradisi khitan ala desa saya yang sangat mengagumkan. Solidaritas lainnya, yakni solidaritas tidur di Masjid. Ini adalah polesan saya. Sebenarnya, tidur yang saya ceritakan itu tidur di Mushola. Dulu masa kecilku belum ada Masjid. Yang ada hanya Mushola. Dan di Mushola inilah dijadikan sebagai sentral kegiatan seluruh pemuda.
Adapun pengalaman mistis, Supadi yang dipegang oleh kalap, makhluk penghuni sungai, adalah kisah orang lain yang memang demikianlah cerita yang saya suguhkan. Ia yang sekarang menjadi tetangga saya, dan ia juga masih keluarga saya, mengalami hal mistis saat ia tenggelam di tengah sungai dengan adanya penarikan yang kuat di dasar sungai. Ia mampu melepaskan diri dengan merapalkan bacaan-bacaan ayat suci dan terbebaslah ia dari cengkraman makhluk halus bernama kalap.
Dan adanya goro-goro Masjid, memang demikianlah kenyataan di desa saya. Yakni sewaktu proses berdirinya Masjid, terjadi keributan antar tokoh. Pasalnya Ustad Saifuddin membangun Masjidnya bersebelahan dengan dua pohon beringin yang dijadikan sebagai tempat sesaji penduduk desa. Bahkan Ustad Saifuddin, menebang pohon beringin. Dan pohon beringinnya dijadikan bahan untuk membangun Masjid. Sebenarnya tidak hanya pohon beringin yang dijadikan sebagai polemik kepercayaan akan adanya pagebluk setelah itu. Ustad Saifuddin, ini adalah nama dari guru ngaji saya yang merupakan nama pesantren, nama aslinya Sukardi, membuat kebijakan menebang pohon Jati yang ada di kuburan desa untuk dijadikan bahan bangunan Masjid juga. Dan ini ditentang habis-habisan oleh para tokoh kejawen dengan berbagai fitnah. Dan ini realitas. Ini saya ekspose sebagai bagian dari konflik-konflik dalam cerita novel ini.
Tentang perdebatan antara Ustad Saifuddin dengan Mas Wariso itu adalah kenyataan. Namun itu saya tulis berdasar cerita-cerita. Pasalnya saya sendiri sewaktu hal itu terjadi saya masih kecil dan belum memahami duduk permasalahanya. Namun saya tulis dalam novel ini Rizal ikut andil dalam perdebatan perbedaan khilafiah itu.
Begitupun manakala saya menulis tentang Rizal dan kawan-kawannya tentang pengadilan Kepala desa kepadanya akibat kambing-kambingnya yang mblalo. Kambing yang mblalo adalah kenyataan. Namun pengadilannya adalah hasil imajinasi. Saya ingin menggambarkan sisi yudikatif di desa, sebagai bentuk kebobrokan hukum yang menggambarkan kebobrokan hukum di Indonesia. Dan di desa inilah miniaturnya.
Pengadilan yang dilakukan oleh Kepala Desa terhadap Rizal ini yang kemudian menjadikan pembalasan dendam si Rizal dengan memanfaatkan moment pemberontakan warga kampung atas kepemimpinan kepala desa yang otoriter. Ia memanfaatkan situasi itu dengan ikut memobilisasi massa melakukan unjuk rasa menuntut turunnya kepala desa. Ini sebenarnya cerita nyata. Bahwa ada unjuk rasa memang pernah dilakukan warga kampung Sayun. Namun gambaran di novel dan kiprah Rizal, saya imajinasikan berperan dalam konflik yang memanas.
Kenyataan akhirnya membuat kecewa Rizal dan penduduk desa. Polisi ternyata berkongkalikong dengan kepala desa, dengan seakan akan berpura-pura dipenjara, padahala dipelihara. Akhirnya kepala desa melenggang bebas dengan memamerkan kebebasan kepada warga dusun Sayun, yang memberontak.
Satu tahun kemudian, saat terjadi pemilihan kepala desa. Warga Sayun memanfaatkan moment tersebut untuk membalas dendam kepada kepala desa. Mereka bersepakat akan memilih asal bukan kepala desa. Jain-lah yang dipilih oleh warga. Namun karena penduduk desa heterogen, tidak semua sepakat dengan pemilihan mayoritas. Pasalnya ada beberapa keluarga dari kepala desa dan calon lain yang tetap memilih karena hubungan kekerabatan.
Adanya pilihan warga yang berbeda inilah yang kemudian menimbulkan konflik. Warga dusun sayun tidak siap dengan perbedaan. Mereka mencurigai bahkan mengucilkan siapa saja yang berbeda pilihan dengan mereka. Karena sifat fanatik ini menjadikan semua yang berpotensi berbeda akan dimusuhi.
Hal ini melanda Ustad Saifuddin. Ustad Saifuddin yang ingin netral ditengah-tengah hiruk pikuk masyarakat yang berbeda-beda pilihannya, Ustad Saifuddin ingin menjadi pengayom pada seluruh warga. Namun ia kena getahnya. Ia dimusuhi karena tidak jelas pilihannya. Ia difitnah bahkan para warga akan boikot sholat di Masjid.
Hal ini yang menjadikan Rizal gelisah. Ditengah kegelisahannya ia bermujahadah malam. Dan dalam mujahadahnya tersebut ia ditemui secara ghaib Mbah Reseco, sang founding father dusun Sayun. Ia mendapat tugas untuk menyelamatkan warga kampung dari angkara murka akibat kiriman para dukun-dukun dari calon kepala desa lain yang ingin memanfaatkan situasi. Rizal pun menjalankan tugas. Ia berperan dalam hal mistis. Bahkan mendampingin proses transisi kepemimpinan yang ditandai dengan hadirnya pulung, tanda kepemimpinan desa.
Cerita ini, wahai para pembaca, adalah kisah dari teman saya. Tetapi sengaja saya jadikan Rizallah yang mengalami. Dimana ia yang berperan secara ghaib menyingkirkan anasir-anasir jahat yang hendak menyusup dalam alam bawah sadar masyarakat desa yang ditiupkan agar para warga berbuat angkara murka. Termasuk merubah pilihan.
Rizal bertarung secara ghaib dengan para dukun-dukun dari calon kepala desa lain. Dan ia memenangkan pertarungan itu. Dan kemenangan itu semakin gemilang, tatkala Jain sebagai pilihan Rizal menang mutlak.
Pilihan kepala desa ini adalah kenyataan. Dan ini saya peroleh saat saya harus terjun ditengah masyarakat sekaligus mengawal pesta demokrasi di Desa JEJEL. Dan ini yang saya jadikan bahan dalam novel hingga menjadikan kisah yang saya sambung-sambungkan. Namun sebenarnya calon kepala desa hanyalah dua orang. Dalam novel ini saya buat tiga orang. Saya ingin menghadirkan kepala desa dongkol[1], kepala desa yang dimusuhi oleh warga, bertarung dengan dua calon lain dengan strategi politik yang bermutu.
Adapun intrik-intriknya saya buat sendiri, agar perhelatan pemilihan pemimpin desa ini lebih politis. Tetapi tidak semua intrik hanyalah karangan saya sendiri, karena bila ditelusuri jauh akan lebih politis daripada yang saya tulis dalam novel ini. Ada perdukunan, suap, kampanye hitam, perjudian, dan lain sebagainya.
Dan sekali lagi saya mohon maaf, saya tidak berani menuduhkan siapa-siapa kepala desa dongkol itu. Meski cerita ini ada yang benar. Tetapi saya cukup menamakan dengan nama kepala desa saja.
Selanjutnya setelah usai huru-hara, saya ketengahkan tentang konsep “dondom kloso bedhah” dan pemberdayaan para warga oleh Rizal. Rizal melakukan perannya sebagai pemuda di Dusun Sayun ini dengan program-program jelas untuk merawat luka-luka politik.            
Para pembaca sekalian, apabila anda ingin melihat perpolitikan di desa maka membaca novel ini anda akan terpuaskan untuk melihat lebih jauh persepsi masyarakat desa terhadap politik. Ini saya tulis apa adanya sebagaimana saya temui dilapangan (sewaktu saya menulis ini sedang berlangsung pemilihan kepala desa). Meski juga, sekali lagi, ini adalah novel fiksi, jadi unsur fiksi tetaplah lebih kuat.
Selanjutnya, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada semua yang mendukung terselesaikannya novel ini. Tidak bisa satu persatu saya sebutkan. Kepada Allah, para guru, orang tua, istri dan kawan-kawanku sekalian. Terkhusus kepada Nurul Fitria Mutmainnah yang telah membantu memperbaiki tulisan-tulisan dalam novel ini saya haturkan ribuan terima kasih. Juga untuk penerbit yang telah menerbitkan novel ini dihaturkan terima kasih.
Akhirnya saya berharap agar ada kritik dan saran. Kritik bisa berupa cacian, makian atau kritik-kritik yang membangun. Wassalam.




[1] Mantan kepala desa

Jumat, Februari 21, 2014

Peduli Kelud : Sebuah Fenomena gotong royong yang menampak



Setiap kali ada bencana alam, disana sini akan bermunculan ajakan untuk menyumbangkan dana untuk para korban bencana alam. Baik oleh lembaga resmi pemerintah maupun swasta bahkan yayasan-yayasan abal-abal sekalipun. Melalui televise, radio, media cetak, maupun dijalan-jalan. Masyarakat pun berbondong-bondong mendonasikan hartanya. Baik melalui transfer maupun secara langsung kepada yayasan penggerak dana social.
Di sekolah saya sendiri saja, anak-anak OSIS dengan cekatan melakukan kampanye peduli kurban kelud. Mereka masuk ke kelas-kelas sambil membawa kotak amal. Dan dari dana yang terkumpul tercatat jumlahnya lumayan besar.
Terus terang, saya menunggu reaksi anak-anak SKI dimana organisasi exstrakurikuler ini yang saya bimbing. Namun tidak ada reaksi. Padahal mereka-merekalah yang selama ini terlatih untuk melakukan aksi-aksi social. Karena gak srantan, akhirnya saya cetuskan sendiri dengan memerintahkan ketua SKI melakukan gerakan ke kelas-kelas dengan memberikan informasi untuk melakukan sumbangan berupa kain layak pakai, mie instan dll. Bukan uang. Biasanya kalau uang orang akan merasa eman.
Perintah saya ini tidak serta merta berjalan mulus. Masih ada saja kendala. Ketidakberanian atau kalau boleh disebut, ketidakpedean menghadapi massa, inilah yang masih menjadi kendala di tubuh SKI saat ini. Saya sendiri malah diminta untuk memanggil ketua kelas dan segera memerintahkan sebagaimana saya perintah. Padahal yang saya inginkan SKI-lah yang muncul menjadi “artis”.
Namun tetap saja ada solusi. Anak-anak SKI menggandeng OSIS. Terbukti dari donasi masuk ke kelas-kelas, anak-anak SKI terlibat. Bahkan yang akhirnya menerima donasi-donasi itu lebih banyak anak-anak SKI. Untuk belanja dan pengangkutan barang-barang adalah anak-anak SKI, sebagaimana saya bilang, mereka lebih terlatih dalam aksi-aksi social sebagaimana program BAKSOS yang selalu dilakukan tiap tahun.
Saya sendiri pun bergerak dengan menginfokan gerakan peduli kelud kepada para alumni, guru-guru dan jaringan tarekat syadziliyah serta masyarakat umum. Hasilnya lumayan, tetapi kurang “wah”. Kenapa kurah “wah”? Karena untuk ukuran banyak belum bisa dikatakan banyak. Terbukti saat saya belanja di carefour, barang dagangan hanya muat satu becak. Sumbangan yang terkumpul paling banyak adalah kain bekas yang menumpuk. Beruntung dan sangat beruntung, saya dibel oleh Mas Bahrul, Ketua Yayasan al-Kahfi. Beliau juga melakukan donasi. Yayasan al Kahfi menerima banyak sumbangan. Dan mereka bingung menyalurkan. Dengan mantab saya mengatakan siap mengantarkan dan menyalurkan sembako serta sumbangan masyarakat yang ditampung Al Kahfi.  Mobil luxio dipenuhi oleh bantuan dari Yayasan al-Kahfi.

Tidak hanya berhenti disitu saja. Sumbangan menumpuk. Sedang mobilnya hanya luxio saja. Saya prakirakan mobil luxio tidak akan muat. Karena harus muat manusia juga. Harus menyewa. Tetapi kok menyewa? Tidak enak, apabila uang yang telah terkumpul digunakan untuk ongkos transportasi. Dan beruntunglah tiba-tiba, disana-sini banyak tawaran mobil beserta sopirnya. Ada 2 mobil innova dan 1 mobil avanza. 4 mobil siap mengantarkan barang-barang yang menumpuk tersebut.
Hari kamis, pukul 10.30 rombongan yang terdiri dari gabungan antara anak OSIS dan SKI berangkat menuju Kediri. Di Kediri, saya telah berkirim kontak, bahwa kawan-kawan saya yang tergabung dalam SA 78, membuat posko bencana alam. Posko SA 78 yang dibuat untuk tanggap bencana itu adalah bentukan pondok PETA Tulungagung, dimana saya sebagai santrinya. Meski dengan tertatih-tatih dijalan, karena tidak tahu rute, akhirnya sampai juga di Desa Kepung, Kec. Kepung Kab. Kediri. Disana rombongan disambut oleh kawan-kawan saya yang akrab hanya di Facebook tersebut. Mereka bertanya, “Yang mana yang namanya Pak Isno?”, “Saya Pak” saya jawab sambil bersalaman. Ada aura kebahagiaan bertemu dengan saudara-saudara sesama tarekat syadziliyah.

Barang-barang diturunkan semua. Dibantu oleh team para relawan. Berdasarkan info, untuk menuju lokasi langsung sangat rawan. Terlebih apabila tidak tahu lokasi. Bisa-bisa rombongan akan dijarah. Saya sendiri, sebenarnya sudah percaya 100 persen kepada kawan-kawan saya. Namun ada “orang” dalam rombongan tetap minta menuju lokasi, dengan alasan untuk dokumentasi. Akhirnya dikabulkan oleh team relawan. Tetapi dicarikan daerah yang aman. Beberapa dus air, makanan dan masker dijadikan sebagai symbol pemberian. Rombongan menuju desa Kebonrejo. Desa ini adalah desa puncak yang tidak ada lagi desa sesudahnya. Kerusakan akibat erupsi menjadi pemandangan dalam perjalanan. Hanya kata “Ya Allah”. Imajinasi para rombongan, “Ndahneo Pas meletusnya bingungnya masyarakat sini”. Tidak berapa rombongan telah tiba di desa Kebonrejo. Disepanjang jalan desa, kami bagikan makanan dan minuman. Dan disetiap membagikan, masyarakatnya saling berdatangan. Apabila mereka tidak kebagian, ada raup kecewa. “Duh gusti, andai aku kaya akan aku jatah makan setiap hari” gumamku dalam hati. Terakhir, rombongan diajak oleh team relawan, berkunjung ke rumah yang kebakaran akibat letusan gunung berapi. Dugaanku, rumah ini terkena konsleting listrik. Bukan karena batu pijar sebagaimana desas desus. Tampak bagus rumahnya sebelum kebakaran. Dan memang rata-rata didesa ini, meskipun di dekat gunung kelud, tetapi masyarakatnya sejahtera. Kemungkinan hasil pertaniannya yang melimpah. Sebagaimana yang terlihat dikanan kiri jalan, banyak Lombok, tomat, salak, durian menjadi tanaman penghasil pundi pundi amal. Jadi sebenarnya mereka kaya-kaya. Tetapi dengan kondisi seperti ini, apalah arti kekayaannya?

Kekayaan orang desa itu terlihat hanya dari bangunan rumahnya. Mereka, jarang atau kalau boleh dikatakan, tidak memiliki tabungan uang di BANK, sebagaimana orang kota-kota. Biasanya kalau sudah punya uang langsung dibelikan wujud barang. Jadi dengan bangunan rumah yang nampak bagus, tetapi kemudian hancur, sangat mungkin mereka akan kesulitan untuk membenahi segera, sedang hasil panennya hancur akibat letusan kelud pula.
Setelah selesai muter desa, rombongan kembali ke posko SA 78. Disepanjang jalan kembali, saya memperhatikan kanan kiri. Banyak relawan mendirikan posko-posko. Mereka membantu mendirikan tenda untuk pengungsian. Ada juga yang membantu membangun tempat ibadah kembali. Ada FPI, Pesantren, PCNU, Sekolah, geraja dll. Mereka membantu dengan kadar kemampuan masing-masing.

Saya menjadi teringat, bahwa dulu kita ini adalah masyarakat gotong royong. Hanya saja sekarang sedikit demi sedikit, atau kalau boleh dibilang hilang dalam kehidupan sehari-hari. Dulu, bila ada orang mau membetulkan emperan (serambi) maka tetangga kanan kiri akan berbondong bondong membantu. Tanpa upah. Dulu, apabila ada orang sedang mengerjakan sawah, atau memanen, tetangga kanan kiri akan membantu. Dulu, apabila ada orang mendirikan rumah, maka seluruh masyarakat akan membantu. Tanpa upah. Dulu, membangun jalan desa, semua berbondong-bondong. Tanpa upah. Namun sekarang? Semuanya serba uang. Semua diukur dari uang. Tidak ada makan siang gratis, demikian kata-kata orang yang membantu tetapi ada udang dibalik maksud.
Tetapi melihat sumbangan dari berbagai lapisan masyarakat yang berduyun-duyun, mengingatkanku pada teori Psikologi, yakni Gustav Jung, santrinya Pak Dhe Sigmund Freud. Bahwa ada arketipe yang mewaris. Ia mewaris melalui alam bawah sadar masyarakat. Tanpa disadari bahwa jiwa gotong royong itu telah merembes menjadi alam bawah sadar kebudayaan suatu masyarakat. Ia akan muncul terus dalam bentuk yang berbeda. Ia juga akan muncul dengan tampa sempurna bila ada kondisi-kondisi tertentu. Jiwa Gotong Royong adalah kesejatian kebudayaan bangsa Jawa. Ia telah meletus seiring dengan letusan Kelud. Ia mengejawantah dalam gawe besar membantu saudara-saudaranya yang terkena musibah. Berbondong-bondong saling membantu. Tanpa Upah. Sungguh Indah Ketulusan itu. Namun kenapa munculnya harus melalui Letusan Kelud? Mungkinkah ini adalah hikmah dibalik Musibah? Kata orang-orang, mungkin demikian.

Mojokerto, 18.45 19-02-14
Isno El Kayyis
     

        

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*