Selasa, Maret 03, 2009

Membaca Pesan Bencana Banjir


Tidak bisa dipungkiri, bencana banjir hampir tiap tahun menjadi langganan diseluruh pelosok negeri tercinta kita ini. Banjir tidak peduli untuk pilih-pilih rumah orang kaya atau rumahnya orang miskin, rumah pejabat atau bukan, rumahnya kaum beriman atau rumahnya kaum kafir, semuanya ia lalui, ia bagi secara adil, merata tidak kurang dan tidak lebih. Inilah perilaku banjir yang apa adanya, tidak mau pilih kasih atau kalau meminjam istilah politiknya SBY, tidak tebang pilih.
Banjir seakan tidak bisa kita elakkan dari kehidupan kita khususnya di musim hujan seperti saat ini. Tercatat di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) bengawan solo Jawa Tengah dan Jawa Timur secara mengejutkan tiba-tiba banjir meluas kemana-mana. Luapannya menggenangi beberapa kabupaten mulai dari karanganyar, Solo, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Selain banjir di DAS bengawan Solo, banjir juga terjadi di DAS wulan juwana dan lusi yang meluluh lantahkan sawah dan pemukiman di Pati, Kudus, Demak dan Sragen.
Lalu kenapa ini semua bisa terjadi? hampir bisa dipastikan setiap warga dan pejabatnya ribut saling menuding kesalahan masing-masing. Jika masing-masing menyalahkan siapa yang bertanggungjawab?
Membaca Air
Membicarakan tentang banjir tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan air. Karena air merupakan bagian dari banjir itu sendiri. Membahas tentang air kita akan teringat dari peran vitalnya dalam kehidupan kita. Tubuh kita hampir 70 % terdiri atas air. Otak kita saja yang kita gunakan untuk berfikir 74,5% mengandung air. Bahkan hampir 70% bumi kita terdiri dari air (baca: laut) dan selebihnya adalah daratan.
Begitu hebatnya pengaruh air dalam kehidupan kita sehingga wajar jika Thales tokoh filsafat pertama menyatakan bahwa air adalah sumber segala sesuatu. Atau di dalam al-Quran sendiri menyebut "dan Kami ciptakan dari air segala yang hidup.. (QS Al-Anbiya ayat 30). artinya air memiliki peran dan kedekatan tersendiri bagi kehidupan kita. Pun ia memiliki pengaruh-pengaruh khususnya dalam kehidupan manusia pada umumnya.
Adalah menarik sebuah penelitian yang diungkap oleh Masaru Emoto didalam bukunya the true power of water, ia melakukan sebuah penelitian dengan menyediakan dua buah gelas dengan perlakuan yang berbeda. Gelas yang pertama ia tiupkan kalimat-kalimat doa sedangkan gelas yang kedua ia tiupkan kata-kata jelek- meminjam istilah Suroboyoan, misuh. Setelah itu dua gelar tersebut ia masukkan ke dalam frezer untuk dilakukan pembekuan. Kemudian air di dalam dua gelas yang telah membeku tersebut difoto dengan kecepatan tinggi. Ternyata, air yang ditiupkan kalimat-kalimat toyyibah tersebut membentuk heksagonal dengan berbagai hiasan kristal indah yang membentuknya. Sedangkan gelas kedua justru sebaliknya.
Hal ini menurut Masaru Emoto menandakan bahwa air mampu memberi respon perlakuan yang diberikan kepadanya, baik berupa kata-kata, tulisan atau gambar serta suara. Jika air diberi respon positif maka ia akan mengirim sinyal positif dengan menandai dirinya membentuk kristal di dalamnya. Sedangkan jika manusia mengirim sinyal negative maka air akan memberi respon sebagaimana pesan yang diberikan kepadanya.
Menganalisis bencana yang diakibatkan oleh air. Sangat menarik ketika Masaru Emoto di dalam buku yang lain The secret life of water, menganalisis bencana tsunami yang terjadi di aceh beberapa tahun yang lalu, ia menyatakan bahwa bercana tsunami merupakan respon dari air terhadap pesan yang diberikan oleh masyarakat Aceh akibat akumulasi ketegangan dan ketakutan perang RI-GAM.
Jadi, disini bisa kita membaca bahwa air yang menurut orang bijak bisa menjadi sahabat dan bisa juga menjadi musuh ternyata memiliki perasaan bila kita perlakukan secara tidak adil. Ia memberi pesan sebaliknya. Bencana banjir bisa jadi merupakan pesan yang disampaikan air kepada kita akan perlakuan kita semua kepada alam sekitar saat ini. Ia membawa pesan bahwa perlakuan manusia kepada alam sekitar telah membawa ketidakseimbangan hado alam semesta meminjam istilahnya Masaru Emoto atau aura kalau dalam istilah psikologinya. Ketidakseimbangan alam inilah yang berdampak terhadap semua bencana yang terjadi di Indonesia secara beruntun. Khusus untuk bencana air, banjir seperti saat ini memberi pesan lain perlakuan manusia yang buruk kepada alam akan diperlakukan buruk pula oleh alam.
Membenahi prilaku
Tidak hanya sekedar jebolnya tanggul sebagai analisa jawaban akan benacana banjir dimana-mana. Lebih dari itu jika kita mau keluar dari sudut yang berbeda dan berani untuk retrospeksi diri maka kita akan menemukan bahwa semuanya adalah ulah manusia sendiri. Al-Quran menyebut di dalam surat Ar-Rum ayat 41 ” Telah nampak kerusakan di darat dan dilautan disebabkan karena ulah tangan manusia. Artinya sumber dari bencana bukan disebabkan siapa-siapa namun semuanya bersumber dari ulah manusia itu sendiri. Perlakuan yang tidak adil terhadap alam akan menyebabkan terganggunya equellibirium alam semesta ini. Perlakuan yang buruk pada alam akan direspon dengan respon yang bisa kita lihat seperti Tsunami, gempa, banjir dan lain sebagainya. Sudah selayaknya kita semua memperlakukan alam sekitar ini seperti halnya kita memperlakukan manusia. Karena ia terbukti juga memiliki "perasaan" di dalam merespon perlakuan yang diberikan oleh manusia. Bisa dibayangkan bagaimana respon air terhadap manusia yang sembarangan membuang sampah diperairan. Atau bagaimana respon air terhadap nafsu-nafsu jahat, keserakahan, korup dan lain sebagainya yang merupakan indicator dari perilaku negative yang secara tidak langsung ditangkap oleh air? Bisa dibayangkan bagaimana air akan menyusun respon-respon balasan terhadap isyarat yang diberikan manusia?. Karenanya sangat diperlukan perhatian kita semua untuk berbenah di dalam meninjau kembali perlakuan kita terhadap alam. Perlakuan yang lebih manusiawi. Semoga!

2 komentar:

Anonim mengatakan...

sungguh bodohnya manusia yang tak mau sadar atas apa yang dilakukan saat ini, padahal Allah sudah memberikan segala petunjuk-NYA kepada setiap manusia yang lalai pada-NYA. kenapa kita itu tidak pernah bersyukur atas nikmat yang selalu mengiringi setiap detik perjalanan hidup kita ini??? ya Allah lindungilah aku agar aku bisa menjadi orang-orang yang mudah bersyukur atas apa yang selalu menjadi nikmat hidupku ini, yang tidak lain hanya datang dari-MU!!!

Kang Mon mengatakan...

Ada juga buka The UnTrue Power Of Water, yang mengkritisi hasil penelitian dari Masaru Emoto.Mohon dibandingkan sebagai Khazanah Keilmuan.

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*