Kamis, Maret 05, 2009

Maksiat Islami?



Saya pernah ditanya oleh siswa yang kebetulan mendapat tugas menulis artikel, Pak Isno bagaimana sih batasan-batasan pacaran secara Islam itu? Mendengar pertanyaan itu saya menjadi kaget karena pertanyaan yang diajukan begitu polos tanpa ada dosa, menandakan siswa ini tidak tahu menahu tentang etika hubungan pergaulan dalam Islam. Pertanyaan itu seharusnya juga dapat diteruskan, apakah ada pacaran Islami? Apakah ada maksiat Islami? Apakah ada dosa Islami? Walah-walah semakin pintar orang semakin pintar membungkus baju atas nama Islam...ya!!!!!
Peristiwa ini menandakan masih banyak anak bingung dalam memahami pacaran. Di satu sisi ia terdidik untuk menjadikan pacaran sebagai “kebutuhan” namun disisi lain agamanya (baca: Islam) konon katanya melarang pacaran. Lalu bagaimana mensikapinya?
Sepanjang pengetahuan saya, saya belum pernah menemukan teks dalam ajaran Islam yang membolehkan pacaran. Dalam bahasa lain tidak ada kamus pacaran dalam Islam. Dan tidak ada pula istilah pacaran Islami, apalagi maksiat Islami atau dosa Islami. Namun dalam realitasnya, banyak remaja muslim, bahkan yang berjilbab dan berkopyah putih pun, menjadikan pacaran semacam “agama” baru bagi kawula muda. Mungkin karena pacaran dilakukan oleh “bangsa modern” -menurut Gus Mus pacaran merupakan budaya impor - ada di film, di TV, di Video, di novel, di internet, orang pun menganggapnya paling tidak sebagai ciri kehidupan modern. Anak muda merasa malu dan dianggap kuno jika tidak pernah pacaran (baca sebelumnya tulisan saya tentang life style). Orang tua pun merasa malu dan kuno jika tidak pernah memberi peluang, apalagi jika mencegah anaknya untuk pacaran. Padahal semuanya sudah menyaksikan sendiri dampak negatifnya di dalam kehidupan masyarakat.
Kenapa kok Islam itu melarang orang pacaran? Sebelum saya menjawab, saya ingin bertanya, apakah orang berpacaran itu bertujuan kepada pernikahan? Rata-rata jawabannya bisa jadi Ya bisa jadi Tidak!! Ya iyalah masa Iya dong!!!!
Berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan anak muda bertujuan pada pacaran itu sendiri bukan pada pernikahan. Dalam bahasa Inggris Happy Fun gitu lho!!!! Kok bisa? Banyak anak muda (baca : anak SMA) ketika dimintai untuk menikah, rata-rata menolak. Karena mereka belum siap. Belum punya pekerjaan. Belum punya gaji. De el el. Artinya mereka hanya menjadikan pacaran sebagai pelampiasan “nafsu”. Melampiaskan nafsu adalah perbuatan mungkar dan dosa tanpa ada ikatan yang mempengaruhinya menjadi halal.
Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah dalam usia pernikahan, boleh dong pacaran? Kalau sudah siap menikah, ngapain menunggu terlalu lama? Nanti dibawa kucing lho!!! Kan belum kenal pak, kita kan harus saling mengenal satu dengan yang lain lebih dahulu dan itu butuh waktu? Satu minggu, dua minggu satu bulan, apakah tidak cukup? Belum cukup pak, ini kepribadian lho pak? Siapakah kira-kira yang paling tahu seseorang, baik watak, watuk, maupun wahing-nya seseorang? Bukankah orang tuanya, kenapa kita tidak tanya saja langsung ke ortunya? Ngapain repot-repot, gitu aja kok repot.
Yang kedua, menurut saya, mungkin ini agak puitis, bahwa cinta itu adalah fitrah. Tidak ada yang lebih suci dari pada cinta itu sendiri. Cinta menjadikan orang suci. Dan kesucian itu menjadikan cinta. Cinta merupakan anugerah terbaik yang diberikan Allah kepada kita semua. Sehingga dunia begitu bermakna. Hidup tanpa cinta bagai taman tiada berbunga kata Pujangga. Karenanya jika engkau semua mengaku cinta, jagalah kesucian cinta itu. Jangan direduksi (dikotori) menjadi cinta berselera rendah, yakni cinta bernafas seksualitas an sich.....cie.....romantis (rokok makan gratis). Pegang tangan, bergandengan, ciuman, berpelukan dan aktifitas-aktifitas berbau seksual lainnya adalah salah satu indikasi program-program cinta yang berbau mengotori kesucian cinta. Janganlah kita mengambil hak yang belum menjadi hak kita. Buka kembali dech pelajaran PKN....
Ketiga, saya kira, yang membedakan orang beradab dengan tidak beradap, apalagi anda orang Timur “Islam lagi”, adalah segala sesuatunya ada etikanya lebih tepatnya akhlak. Masuk WC, makan, tidur, berdandan, berpakaian, berhubungan semuanya ada akhlak. Kalau orang jawa ada istilah “gak Ilok”, kalau orang Islam mengatakan “dosa”, ini haram, ini halal, ini boleh dan tidak boleh. Semua muaranya pada akhlak. Akhlak itu berfungsi untuk membatasi agar tingkah polah manusia itu tidak liar. Tidak sak karepe dewe. Termasuk dalam hal ini pacaran tadi. Kita perlu mengindahkan tradisi-tradisi kita agar tidak dicap sebagai generasi yang a historis.
Terlepas dari itu semua, semuanya kembali kepada anda. Artinya kita perlu merenungkan dan mengoreksi diri kita semuanya. Seberapa besar kecintaan anda kepada Tuhan? Seberapa besar takut anda kepada adzabnya Allah? Seberapa tinggi iman anda ? seberapa kuat ketaatan anda kepada keteguhan anda meyakini agama yang kita cintai? Dan berapa prosentase anda menjadi pengikut syetan atau Hizbullah? Renungkan!!!!!!! Syetan itu bermain diwilayah Imajinasi kalian....segala sesuatu perbuatan tanpa melibatkan Allah itulah syetan.....waspadalah!!!!!!!


1 komentar:

Anonim mengatakan...

ASSKUM. wr. wb. setuju, banyak jga org yg pacaran ktanya biar punya tmen curhat, la tmen yg sama gendernya kan bsa kq hrus beda? ya kan beda, curhat sama ortu pun juga beda ktanya, bedanya dimana? klo sama pacar bisa lebih dekat? bsa bermesraan,bsa pegangan tangan dosanya terakumulasi tuh cinta apa nafsu? ada lagi blang pacaran kan jga BELAJAR BERUMAH TANGGA, la kalo jadian 18 kali putus 18 kali (yg ketahuan) bisa diartikan nikah 18 kali dan cerai 18 kali, emang gila ya. ATAU pengen bermesraan gonta ganti pasangan, cinta apa nafsu? ada akibatnya tuh.emangnya mau dapat barang bekas? maksudnya istri bekas? dipegang2 ,iya klo muslim atau muslimah yg taat mw aj, la tapi klo beda 180derajat dari muslim atau muslimah yg taat gmana? sering ajang pacaran dijadikan lahan kepura-puraan,contoh, pura2 didepan pacar sangat baik sifatnya, pura2 didepan pacar menunjukkan banyak kelebihan, pura2 mnunjukkan ga punya kekurangan,pura2 menunjukkan bisa memberikan hidup nyaman tentram damai dan tenang. PADAHAL??? ya bener kaya tulisan yg dikomeni lebih baik tanya ortunya,keluarganya,teman dkatnx, Memang benar televisi menjadi media informasi yang paling efektif,bahkan melebihi media lainnya, SAYANGNYA di TELEVISI, banyak infotainmen yg menampilkan selebritis gonta ganti pasangan,di mana jika selebritis jadi pujaan
jadi kiblat perbuatan, banyak yang dicontoh dari selebritis2 lo, apa lagi klo sinetron??? sinetron bersambung yang bisa mengubah pola pikir manusia, ya sugesti yg berlebihan kayak dihipnotis aj. Qta lihat, Cinta laura umurnya brapa? belum lebih banyak dari 17 tahun, udah peluk2kan,mesrah2an, cenderung ke nafsu, Nikita willy dalam sinetron jga pacaran,peluk2an mesra2an dll,padahal klo ga salah msih setara smp.minimal klo dilihat temannya aj gmana? waduh temenq kq udah gtu ya, ngikut ahh tmenq aj gtu aq kq ga?, bsa ngikut rusak semua kan? trus yg salah sapa??
DARi 01 < \/

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*