Selasa, April 07, 2009

Kisah Sukses Sochiro Honda


Saat manusia merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus bermimpi dan bermimpi… cobalah amati kendaraan yang melintas jalan raya. Pasti, mata anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil atau motor. Merek kendaraan ini menyesaki padatnya lalu lintas sehingga layak dijuluki “raja jalanan”. Namun pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda-Soichiro Honda-diliputi berbagai macam kegagalan dan kemalangan hidup.

Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi, saya tidak bersedih karena dunia saya di sekitar mesin, motor, dan sepeda”, tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun.

Kecintaannya pada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di bengkel, ayahnya member pengungkit untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain ditempat penggilingan padi melihat esin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 november 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usis 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15b tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja di Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamtsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanyapun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya hingga larut malam, bahkan terkadang sampai subuh.

Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam gonjangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa, ruji-ruji logamya laku keras, dan diekspor keseluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah enciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel. Oleh karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit sangat serius.

Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tetapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah kembali untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelh pulang kuliah, ia langsung ke bengkel mempraktikkan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. “saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak di beri makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hokum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda. Kepada Rektornya ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberinya kontrak sehigga Honda berniat mendirikan pabrik. Malangnya, niatan itu kandas. Jepang tidak memberikan dana karena siap perang.

Ia pun tidak kehabisan akal dengan mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinston-nya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, pada tahun 1947, kondisi ekonomi jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “Sepeda motor”-cikal bakal lahirnya mobil Honda itu, diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan sehingga Honda kehabisan stok. Di sinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industry otomotif. Tapi, lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat kegagalan 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru. Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar disekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.

0 komentar:

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*