Rabu, Juni 09, 2010

Menyongsong Pendidikan Berbasis Karakter

Kebijakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk menerapkan pendidikan berbasis karakter patut di dukung oleh semua pihak. Karena kebijakan tersebut sangatlah urgen diterapkan dalam mengatasi krisis moral yang melanda bangsa Indonesia. Sudah terlalu banyak kita menyaksikan bagaimana siswa-siswa yang duduk dibangku sekolah, melakukan tindakan-tindakan yang mengarah ke karakter menyimpang. Tawuran antar pelajar, sex bebas, tindak kriminal, penipuan, pencurian, dan lain sebagainya, seakan telah menyatu menjadi karakter yang melekat dalam kepribadian. Lalu siapakah yang perlu dipersalahkan? Apakah memang sekolah mengajarkan tindak kriminal? Jika tidak, kenapa karakter anak didiknya menyimpang?
Kemajuan yang diperoleh oleh bangsa ini, tidak diiringi dengan kemantapan kepribadian. Ukuran-ukuran keberhasilan dan kebahagiaan diukur dari material an sich. Sehingga nilai-nilai spiritual dihiraukan, padahal nilai-nilai spiritual tersebutlah yang berfungsi dalam mengendalikan dan memelihara akhlak manusia. Anehnya pola dan tujuan dalam pendidikan kita mengarah ke sana. Ukuran keberhasilan dalam pendidikan diukur dari nilai-nilai material yang berupa angka-angka. Seakan pendidikan kita ini hanya berfungsi untuk mencetak angka-angka. Sehingga nilai kejujuran, keadilan, kerjasama dan lain sebagainya tidak menjadi budaya atau karakter yang melekat. Siswa-siswa diajarkan dan dirangsang hanya mengejar prestasi dengan mengabaikan nilai-nilai tersebut. Sehingga tidak aneh siswa hanya akan menguasai untuk menjadi ahli MAFIA (Matematika, Fisika dan Kimia) saja.
Menerapkan Pendidikan Berbasis Karakter
Bagaimanakah menerapkan pendidikan berbasis karakter dalam ranah kurikulum pendidikan kita? Pertanyaan inilah yang menjadi PR bagi kita semua untuk menjawabnya. Karena persoalan menerapkan atau menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang sering kita bahasakan karakter bangsa itu sangatlah sulit. Di era Suharto, penerapan nilai-nilai Pancasila dengan menggunakan indoktrinasi ternyata, kalau boleh dibilang, telah gagal dalam membentuk bangsa kita. Tidak tanggung-tanggung pula, tokoh penemu SQ, Daniel Goleman dalam bukunya Working with Emotional Intelegence, mengakui bahwa dalam menerapkan dan menginternalkan nilai-nilai spiritual itu sangat sulit. Terbukti dari pertanyaan besarnya “Lalu bagaimanakah membentuknya?”
Menarik sekali apa yang diungkap oleh Ary Ginanjar dalam bukunya “ESQ Power”, bahwa banyak perusahan-perusahan besar dunia juga berusaha membentuk karakter karyawan-karyawannya dengan mengikutkan pada training-training. Namun terbukti juga gagal membentuk karakter karyawannya. Menurut Ary, itu disebabkan tidak adanya internalisasi yang melekat yang terus menerus dilakukan. Ary mencontohkan, di Jepang ada perusahaan yang dalam membentuk karakter karyawannya, dengan mengulang-ngulang 7 prinsip perusahannya sebelum mereka bekerja. Ke tujuh prinsip tersebut sederhananya, berbakti dan memberi, jujur dan terpercaya, adil, kerjasama atau bersatu, berjuang atau bersikap teguh, ramah atau penyayang, bersyukur dan berterimakasih. Dan terbukti perusahaan tersebut, mampu menginternalisasikan nilai-nilai. Di Jepang, membentuk karakter tidak dengan menuliskan nilai-nilai itu besar-besar pada dinding-dinding sebagaimana lembaga-lembaga kita melakukannya, namun mereka secara konsinten menerapkan Repetitive Magic Power setiap hari.
Lalu bagaimanakah dengan pendidikan kita? Sebenarnya sudah banyak hal yang dilakukan lembaga pendidikan kita untuk usaha membentuk karakter siswa. Muatan-muatan materi dalam PKN yang berlandaskan budi pekerti serta pelajaran Agama yang berbasiskan Akhlak Mulia telah menjadi alternatif dalam mengukur dan meningkatkan karakter siswa. Tetapi dalam realitasnya belum menampakkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan karakter siswa. Begitupun dengan berbagai kebijakan-kebijakan, misalnya menuliskan kalimat-kalimat hikmah di dinding-dinding, melaksanakan istighosah, dan lain sebagainya. Lalu dimanakah pendidikan berbasis karakter ditempatkan?
Adalah menarik apa yang ditulis oleh Kenneth T Henson tentang kurikulum. Dia memahami kurikulum secara holistik. Dia bagi kurikulum menjadi dua, pertama the written curriculum, dan the hidden curriculum. The written curriculum adalah kurikulum sebagaimana yang telah ditulis secara nasional. Sedangkan the hidden curriculum, adalah kurikulum yang tidak tertulis. Glatthorn membagi the hidden curriculum terdiri dari tiga hal : variabel organisasi, variabel sistem sosial dan variabel budaya. Ketiga variabel tersebut adalah kurikulum yang tidak tertulis yang akan menentukan karakter suatu sekolah. Bisa jadi kurikulum sama namun karakter yang dihasilkan suatu sekolah dengan sekolah lain berbeda. Itulah kekuatan the hidden curriculum. Karenanya sekolah harusnya menguatkan the hidden curriculum disamping the written curriculum. Di sinilah sekolah bermain untuk membentuk karakter orang-orang di dalamnya, termasuk siswa diantaranya. Jika lingkungan sekolah mendukung dalam pembentukan karakter tentu dengan sendirinya siswa yang berada di sana akan terbentuk karakternya. Namun jawaban ini hanya penulis batasi di ranah sekolah saja.
Yang menjadi persoalan, pengambil kebijakan dan komponen-komponennya belum istikomah dalam menerapkan kultur di sekolah. Misalnya saja, di suatu sekolah menerapkan kedisiplinan, namun anehnya guru atau pengambil kebijakan seringkali melanggarnya. Sehingga siswa di dalamnya mengalami ke frustasian karena adanya standar ganda. Di sinilah kultur atau kepribadian siswa tidak akan terbentuk. Bukankah sesuatu yang dinamakan karakter itu adalah suatu gerakan yang simultan? Sebagaimana Al-Ghazali menegaskan karakter (baca: Akhlak) adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan degan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Jadi jika karakter atau perbuatan yang berubah-rubah dari suatu kebijakan atau perilaku guru atau komponen dalam suatu sistem, maka tidak akan bisa membentuk karakter anak didik. Guru perlu istikomah dalam menerapkan karakter dalam dirinya dan mencontohkannya dalam kehidupan bersama siswanya. Tentu seluruh komponen di dalamnya. Sehingga siswa atau komponen pendidikan memiliki contoh yang akan membentuk kebiasaan dan kebiasaan yang terus menerus itulah yang dinamakan karakter.
Memelihara Karakter dalam Pendidikan
Menurut J.B Watson bahwa dorongan tercipta dari luar bukannya dari dalam. Artinya karakter itu terbentuk dari stimulus dari lingkungan yang melingkupinya. Jika siswa berada dalam lingkungan yang baik maka dia akan menjadi baik. Jika siswa ada di lingkungan buruk maka dia akan berubah menjadi buruk. Karenanya dalam membentuk siswa diperlukan penyediaan-penyediaan lingkungan yang baik agar stimulus atau pembentukan karakter itu akan bisa dilakukan. Namun teori ini mendapatkan bantahan dari para pakar-pakar psikologi. Karena tidak selamanya karakter itu terbentuk dari lingkungan. Ada orang yang ada dilingkungan miskin belum tentu dia akan menjadi miskin. Terbukti banyak tokoh-tokoh besar lahir dalam lingkungan miskin.
Ary Ginanjar justru mengatakan, bahwa pengaruh yang besar itu bukannya ada di luar namun ada dari dalam. Sebagaimana penemuan V.S Ramachandran, Michael Persinger, dan Wolf Singer yang mengatakan bahwa aktualisasi manusia itu karena ada dorongan yang sudah built in dari dalam manusia. Sesuatu yang built in ini, kalau dalam konsep teologi Islam dinamakan dengan percikan asmaul husna dalam qolbu setiap hamba. Seseorang mendamba kasih sayang, kebijaksanaan, kejujuran, kerjasama, keadilan dan lain sebagainya, hakekatnya adalah bentuk dari kerinduan hamba akan sifat-sifat Allah. Ketika orang berada dalam sifat-sifat tersebut maka dia akan memperoleh kebahagiaan. Karena ia senantiasa berada dekat dengan Allah. Orang yang menjauhi sifat-sifat tersebut maka hidupnya justru akan tidak bahagia. Ukurannya di sini, semakin orang mempraktekkan sifat-sifat luhur yang dalam asmaul husna tersebut dia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Lebih hakiki dari nilai-nilai material.
Dalam ranah pendidikan, perlu adanya bentuk kongkret menerapkan karakter-karakter asmaul husna. Tentu dengan menentukan indikator perilaku-perilaku yang disesuaikan dengan visi misi sekolah. Misalnya saja dari sifat Allah Al Qudus (Maha suci) maka bentuk kongkret dalam perbuatan sekolah adalah menjaga kebersihan kelas, kamar mandi, lapangan dan seluruh lingkungan sekolah dan lain sebagainya. Sehingga disini ada muatan spiritual seseorang dalam berbuat. Tiap komponen akan merasa bahwa perbuatan yang mereka lakukan bernuansa ibadah. Dan ibadah yang dilakukan itu berpahala.
Harapan baru
Sebagai pelaku pendidikan, tentu penulis sangat menunggu kebijakan yang lebih memiliki dampak yang signifikan dalam mendidik siswa. Pendidikan dengan berbasiskan karakter harus dilakukan dengan baik dari dalam maupun dari luar, sebagaimana ungkapan Watson maupun Ary Ginanjar. Tentu perlu adanya keseriusan bersama-sama. Jangan hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah atau guru-guru yang selama ini dianggap sebagai penjaga moral saja, namun perlu dukungan semua pihak. Dan terlebih lagi tujuan yang mulia ini jangan hanya dijadikan sebagai proyek dengan memperbanyak seminar, workshop, diklat, tetapi tanpa aplikasi nyata. Karena ini sebenarnya lebih besar dari proyek-proyek tersebut. Ini adalah proyek dunia dan akherat dan yang akan menentukan arah kepribadian bangsa kita ke depan. Sehingga torehan dan perbuatan yang kita lakukan akan menjadi amal jariyah yang amaliah kita akan dikirimi pahala yang mengalir terus menerus, karena apa yang kita lakukan menjadi pedoman bagi seluruh generasi kita. Sampai kelak mereka meninggalkan dunia ini. Amin. Semoga?



.

0 komentar:

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*