Engkau Patriot Pahlawan Bangsa
Membangun Insan Cendekia
Perubahan pada syair terakhir lagu “ Hymne Guru “, yang semula “ Tanpa Tanda Jasa “ menjadi “ Membangun Insan Cendekia “, ini tidak begitu menarik perhatian saya pada awalnya. Biasa saja. Hanya sekedar perubahan kecil yang dilakukan untuk suatu kebijakan tertentu. Tapi kemudian saya tercenung. Kenapa harus diubah segala? Bukankah ini lagu nasional? Aneh.
Menurut saya pribadi, lagu Hymne Guru yang berbunyi “Engkau Patriot Pahlawan Bangsa, Tanpa Tanda Jasa “ seharusnya memang begitulah seorang guru. Guru yang ikhlas mau mendidik murid-muridnya. Guru yang tidak mengharap imbalan apa-apa untuk melakukan transformasi ilmu kepada siapa saja yang membutuhkan. Guru yang bisa ngemong. Guru yang bisa nggendong. Guru yang bisa dadi bocah angon mengembalakan kebodohan menuju ladang kepandaian. Guru yang bisa menjadi tangga, yang menghantarkan murid-muridnya untuk menuju tangga yang lebih tinggi atau maqom yang lebih tinggi. Maka wajar jika guru dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa, karena apa saja yang digunakan untuk membalas kebaikannya dalam menebarkan benih ilmu tidak bisa dihargai hanya dengan tumpukan uang.
Namun, dalam pandangan saya sebagai seorang siswa, saya banyak menemukan ketidak konsistenan peran guru sekarang ini. Ketidakkonsistenan itu saya lihat dari pengabdian mereka yang tidak memperlihatkan diri mereka sebagai seorang pahlawan tanpa jasa. Mereka mengajar karena memang mereka dibayar. Jika tidak dibayar mereka tidak mau mengajar. Jika gajinya sedikit mereka akan berunjuk rasa, Nah!!!!!!.
Ada saya temui, seorang guru nyambi bisnis. Saking sukses bisnisnya sampai-sampai dia lupa kewajiban dirinya, mengajar siswa-siswinya. Siswa yang ditinggalkan, tentu bosan dengan suasana jam kosong terus menerus. Akhirnya siswanya membuat onar. Namun karena membuat onar akhirnya mereka yang dihukum. Kesalahan-kesalahan ditumpahkan kepada siswanya. Tidak pernah mereka menumpahkan kemarahan kepada dirinya yang tidak mengajar atau menjadikan jam kosong?
Lebih parah, ada guru yang dengan tega memeras para siswanya untuk memuaskan nafsu duniawi mereka. Dengan cara memberlakukan sistem suap-suapan khususnya pada awal tahun ajaran baru. Siswa yang tidak memiliki kualifikasi danem tinggi bisa masuk melalui jalur tikus. Tentunya dengan membayar sejumlah fulus yang sesuai dengan kesepakatan. Dengan kata lain, Asal ada banyak uang, nilai dan otak menjadi pertimbangan ulang. Lalu, bagaimana nasib siswa yang kurang pintar dan kurang beruang? Ada sebuah novel berjudul “ Orang Miskin Dilarang Sekolah” mungkin judul itu menggambarkan kondisi pendidikan itu sekarang. Orang miskin dilarang pintar. Orang miskin dilarang cerdas. Kalau begitu sama saja dengan sistem hukum rimba dong? Memang. Tapi kalimatnya diubah. Bukan lagi yang kuat yang berkuasa, tapi berubah menjadi yang kaya yang berkuasa. Orang-orang yang aneh. Menyamakan diri sendiri dengan binatang.
Terbesit pula sebuah pertanyaan dalam otak saya. Jika proses awal menuntut ilmu sudah nggak bener, bagaimana hasilnya? Apakah ilmu yang mereka peroleh benar-benar murni? Ke realita saja. Dimulai dari guru yang tak lagi menjaga kesucian dalam mengamalkan ilmu, sistem yang tak lagi bersih dalam mencari calon-calon penerima ilmu, dan siswa sendiri yang mau mengotori diri dengan menghitamkan proses pencarian ilmu, apakah ilmunya masih bersih? Hanya hati dan pikiran yang terbuka saja yang dapt menjawabnya.
Sadar atau tidak, dampak dari pengotoran tersebut sangat besar. Ilmu yang mereka dapat tak lagi barokah. Lha, bagaimana mau barokah? Wong prosesnya saja kotor. Akhirnya, siswa-siswa pun belajar dengan cara kotor pula. Nyontek dan ngerpek menjadi jalan pintas untuk mendapat nilai baik. Dan terkadang cara seperti ini dihalalkan oleh sistem sekolah. Karena dari awal sudah diajari korup kecil, begitu ditempatkan dimasyarakat ia akan melebarkan sayapnya menjadi korup besar. Proses kotor, ilmu kotor, dan hasil yang kotor pula.
Dari sini aku menjadi mengerti kenapa lagu itu berubah menjadi guru membangun insan cendekia, tidak menjadi pahlawan tanpa jasa. karena guru memang telah berubah dengan fungsinya. Guru berfungsi membangun. karena membangun maka butuh dana. karena dimanapun sesuatu usaha membangun itu perlu dana. kalau dananya besar maka diperlukan proyek besar. karenanya tidak heran ada proyek buku, proyek bangunan sekolahan, proyek pengadaan barang, proyek Bos, Proyek Bom, dll. Ya begitulah!!!!! aku menjadi berpikir-pikir untuk menjadi guru kelak. Kata gurunya Pak Isno, Janganlah menjadi pegawai negeri jadilah pegawainya Alloh. Mungkin saya akan mengikuti ke sana.
Ya, tetapi kalau memang Alloh menaqdirkan saya menjadi guru. sedikit asa untuk memperbaikinya akan kugunakan seluruh hidupku untuk memperbaikinya. kita harus bangkit dari keterpurukan bangsa ini.Kita jaga diri kita dari kotoran-kotoran yang saya sebutkan tadi. Yang paling utama, kita bersihkan ilmu kita. Kemudian kita amalkan agar nantinya menjadi berkah. Barokallah….
Ditulis oleh :
Rochmatul (Anggota Genk SKI)
Jumat, Juli 31, 2009
Guru Bayaran
Diposting oleh Goze Isno
1 komentar
Label:
pendidikan
Senin, Juli 27, 2009
Tangan Malaikat Mikael
Diposting oleh Goze Isno
Pada hari sabtu kemarin, saya mengadakan tasyakuran masuk rumah. Undangannya guru-guru SMA Negeri 3 Mojoketo dan SMA PGRI 2. Saya menyiapkan 100 mangkok soto Lamongan asli untuk hidangannya (tentu dengan isinya bukan hanya mangkoknya saja). Karena jumlah guru plus karyawan dua sekolahan itu sekitar 100 lebih. Jumlah yang menurut ukuran saya sudah sangat banyak. Sangat banyaknya dihitung dari jumlah pengeluaran yang akan saya gunakan untuk menjamunya. Tetapi beruntung Alloh memberi pertolongan rejeki tanpa diduga kepada saya, sehingga saya memberanikan diri untuk mengundang teman-teman. Mungkin Alloh tahu kalau saya sedang kepepet. Kepepet dalam hal mendanai basa-basi social. Basa-basi social yang saya maksudkan adalah, berbaik-baik dengan masyarakat agar lingkungan disekitar kita tidak ghibah kepada kita. Saya mendengar, dilingkungan kanan kiri pengajar, ada istilah jawanya nyemoni, “Pindah kok ndak bilang-bilang”, “kapan syukurannya”dll. Demi menghentikan perilaku ghibah mereka, aku memberanikan diri untuk tasyakuran, walau sebenarnya pindah rumah itu sudah lama saya lakukan bersama dengan family sendiri dan tetangga sekitar. Hitung-hitung menolong mereka agar tidak melakukan dosa. Tetapi lebih jauh dari itu, sebenarnya acara itu sudah ingin aku lakukan, tetapi menunggu sampai punya uang. Tetapi yang namanya manusia, ya tetap manusia. Mereka punya pikiran, punya hati, punya mulut yang berbeda-beda. Yah! Begitulah kita harus arif menyikapinya.
Lagi-lagi dengan bahasa kearifan, yang namanya manusia, ketika tidak diundang berbicara, ketika diundang tidak mau datang. Ternyata dari jatah 100 orang yang kuundang, hanya 50 orang saja yang datang. Aduh!!!! Jika aku gunakan dengan bahasa emosional ingin sebenarnya marah. Masak acara yang kupaksakan untuk menghormati beliau-beliaunya dengan segala keterbatasan kemampuanku eh!!!!!ternyata tidak datang. Yang 50 mangkok harus kukemanakan. Padahal sudah aku beli semuanya. Apa akan dibuang????? Wah sayang sekali. Lama aku berpikir, akhirnya aku menemukan ide. Yang 10 aku akan berikan kepada santri pondok yang ada didepan rumahku, yang 10 lagi ke anak yatim piatu, yang 10 aku akan mengirimkannya ke PGRI 2, sedangkan sisanya kuberikan kepada murid-muridku yang membantuku dan satpam di SMA 3. Akhirnya aku sebar nasi bungkus itu ke semua tempat yang aku rencanakan itu. Alhamdulillah selesai. Dalam hatiku aku bersyukur sekali, pada hari itu aku benar-benar seakan menjadi orang kaya, yang mampu membagi rejeki kepada sesama. Pada hari itu seakan-akan aku disuruh malaikat mikail untuk membantunya membagikan rejeki kepada 100 orang. Tanganku seakan dipinjam oleh malaikat mikail membagi-bagikan rejekinya. Alhamdulillah luar biasa rasa plong dan tentram telah menyelimuti hatiku. Rasa jengkel bahkan rasa tidak ikhlas kemudian lebur menjadi satu dalam penyatuan spiritual. Mudah-mudahan Alloh ridlo dan menerima pengabdianku. Aku hanya perantara, bukan pemberi rejeki. Karena hanya Alloh sajalah yang sebenarnya pemberi rejeki. Sebagaimana ayat di atas “Katakanlah: "Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah" (As-saba ayat 24). Mungkin Alloh pada hari itu menggerakkan rejekinya kepadaku untuk disalurkan kepada 100 orang. Mungkin Alloh yang menggerakkan orang 50 saja yang hadir agar anak santri dan anak yatim serta orang-orang lainnya yang mendapatkan sapaan rejekinya. Mungkin Alloh menggerakkan aku untuk membeli soto kepada orang lamongan itu agar ia mendapatkan rejeki dari Alloh untuk mencukupi istri dan anak-anaknya. Mungkin Alloh yang menggerakkan hatiku untuk membeli kerupuk, semangka, kacang kepada pedagang karena mereka seharian belum mendapatkan penghasilan yang besar. Dan Alloh memenuhi kebutuhan mereka. Mungkin saja ada makanan yang tersisa dari jamuan itu kemudian terbuang. Tetapi terbuangnya itu karena sudah direncanakan Alloh untuk menghidupi makhluk Alloh lainnya yang belum makan seperti cacing, ayam, bakteri dan lain sebagainya. Subhanalloh. Subhanalloh. Subhanalloh. Alloh yang memerintahkan kepada Malaikat Mikail untuk membagi rejeki kemudian malaikat mikail meminjam tangan manusia dermawan untuk menyebarkan rejekinya kepada manusia lainnya. Jadi jika antum menjadi orang dermawan sebenarnya tangan antum telah berubah menjadi tangannya malaikat Mikail. Indah bukan????? Semakin banyak antum memberi kepada sesama semakin lama antum bersama malaikat Mikail. Hakikinya antum adalah tangan kananya malaikat mikail, sedangkan malaikat mikalil sendiri adalah tangan kanannya Alloh. Indah bukan?????. Banyak orang yang bangga menjadi tangan kanannya bupati, wali kota, gubernur, menteri atau presiden, tetapi apakah antum tidak lebih bangga jika antum adalah tangan kanannya ALLOH????
Dusun sayun, Lamongan, 10.04
Isno Al-Kayyis
0
komentar
Label:
Curhat
