Kamis, November 18, 2010

Anugerah : Antara Nikmat dan Musibah


Di antara petuah-petuah KH. Imron Jamil kepada Jamaah Kliwonan, bahwa manusia itu harus selalu syukur dalam kondisi apapun. Baik suka maupun duka, baik beruntung maupun rugi, baik kaya maupun miskin, baik dikala punya uang maupun tidak, dan lain-lain. Karena, bolak baliknya kehidupan itu bukankah semuanya atas kehendak Allah. Musibah berasal dari Allah. Bahagia pun berasal dari Allah. Kalau kita sudah meyakini kondisi demikian, maka tidak ada kesedihan dan kesusahan dalam menjalani kehidupan. Karena dalam kondisi apapun dirinya, yang terlihat adalah kehendak Allah. Kalau kita sudah menyadari bahwa semua atas kehendak Allah, maka yang muncul dalam hati, pasti Allah punya maksud lain. Pasti ada hikmah dibalik ini semua. Pasti Allah berencana yang terbaik buat saya. Kalau dicontohkan, ketika orang mendapat musibah, misalnya berupa kehilangan benda yang dimilikinya, maka orang ini harus senantiasa khusnudzon dengan Allah, barangkali Allah sedang menyayangi dirinya, karena dalam harta bendanya itu ada racun yang berupa shodaqoh yang tersumbat. Daripada kelak dia lebih berat balaknya atau siksanya, baik didunia maupun diakherat, maka ia mendapatkan musibah tersebut, agar ia tidak tersiksa karena harta bendanya. Begitupun dengan jabatan, ketenaran, nama baik, dan lain sebagainya. Musibah dalam hal ini adalah bentuk kasih sayangnya Allah. Begitupun dengan logika kenikmatan yang didamba oleh kebanyakan manusia. Itu semua diiberikan oleh Allah juga sebagai bentuk dari kasih sayang terhadap hambanya. Namun kalau kita tarik dalam benang merahnya di dalam musibah itu ada nikmat, dan di dalam nikmat itu ada musibah.
Perhatikan ayat ,
Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (Al Araf 168)

Allah membagi kebanyakan manusia ada yang sholeh dan ada yang tidak sholeh. Namun kedua-duanya diuji. Diuji dengan nikmat. Artinya ketika dalam nikmat itu ada ujian yang, bukankah pada hakekatnya juga adalah musibah? Harta benda, kekayaan, ketampanan, anak, istri, ketenaran, kepangkatan semua adalah nikmat tapi juga musibah. Nikmat kalau diukur dari sudut awam kemanusiaan. Bagaimana tidak bahagia kalau kita kaya? Kita memiliki mobil yang mentereng, istri cantik, anak imut-imut, tabungan tidak habis sampai tujuh keturunan, perusahaan dimana-mana, rumah megah, semua orang tunduk terkagum-kagum, nama kita sering disebut diseantero jagad. Tapi itu MUSIBAH. Jika hartanya menjadi hijab. Mengagumi diri, harta bendanya, sehingga lupa kepada Alloh. Lupa bersedekah. Lupa bahwa semuanya akan dihisab. Lupa bahwa semakin dia berharta ada sekian banyak tanggungjawab yang harus diembannya. Ia akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah yang telah memberikan amanah.
Belum merasa mendapatkan anugerah Alloh?
Perhatikan, ketika kita lahir, kita punya apa kala itu? Kita ndak punya apa-apa. Baju pun tidak. Kita telanjang. Kita tak bermodal apapun kecuali seperangkat tubuh saja. Lalu Allah memberikan kita sebuah modal berupa pendengaran, penglihatan dan hati. Dalam tahap selanjutnya kita diberi rizki dan berbagai keperluan dunia. Namun hakekatnya bukankah itu semua milik Alloh?
Kita ini, manusia semuanya, bodoh. Tetapi kemudian Alloh mendidik kita, memberikan ilmu kepada kita sehingga kita menjadi pintar. Tetapi bukankah kepintaran itu pemberian? Kalau pemberian berarti ada pemiliknya? Siapa? Alloh. Artinya kita tidak boleh mengaku pintar karena pintar itu miliknya Alloh.
Kita ini tidak bisa apa-apa. Karena kita bisa apa-apa itu adalah pemberiannya. Termasuk sholat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya. Kita tidak bisa melakukan itu semuanya jika Alloh tidak memberikannya. Karenanya kita tidak boleh membanggakan usaha atau ibadah kita semuanya. Karena itu semua pemberian.
Karenanya kalau dalam dunia sufi dikenal : AKU TIDAK BISA APA-APA, AKU TIDAK PUNYA APA-APA, SEMUANYA HANYA ALLOH PENGGERAKNYA.
Kalau kita sudah sama persepsi bahwa HIDUP ITU ADALAH PEMBERIAN. Maka yang muncul bahwa HIDUP ITU ADALAH ANUGERAH. Karena kita harus senantiasa bersyukur. Apapun dan bagaimanapun itu. Dalam dalam kondisi apapun. BANYAK SEDIKIT. SUKA DUKA. SELAMAT MENEMPUH!!!!!

0 komentar:

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*