Kamis, November 25, 2010

Buah Ibadah (Refleksi Tahun Baru Hijriah)

Anak-anakku sekalian…..jika kita tengok satu tahun yang lalu, 1432 H, telah banyak peristiwa yang dihadapkan kepada kita semua. Untuk dipahami, untuk dimengerti, untuk retrospeksi, dan untuk dijadikan pelajaran. Meletusnya gunung merapi, gempa di Mentawai, banjir di Wasior, kebakaran hutan di Riau, tragedi politik, tragedi peradilan, perceraian, pembunuhan, perselingkuhan, tawuran, penggusuran, intrik, dan sederet kerusakan dan bencana baik itu social maupun alam kita tercinta ini, berurut dan berirama terus terjadi. Kurang apalagi Allah memberikan pelajaran kepada kita semua??? Masihkah perlu didatangkan pelajaran yang lebih hebat lagi untuk membuat kita sadar??? Kenapa ini semua terjadi???
Di usia peradaban kita yang sudah tua ini, seharusnya menjadikan kita semakin dewasa dalam menyikapi segala gerak kehidupan. Fenomena yang ada seharusnya menjadi ajang studi untuk meningkatkan kualitas kita. Manusia yang sebenarnya manusia!!!. Bukannya manusia yang malaikat, atau manusia yang Iblis, atau manusia yang syetan atau manusia yang jin, atau manusia yang genderuwo, atau manusia yang anjing, atau manusia yang babi dan lain sebagainya. Manusia yang sebenarnya manusia itulah hendaknya tujuan dan pribadi kita. Manusia yang memahami sebenarnya kemanusiaannya!!!!!!!!
Manusia yang sebenarnya manusia itu yang saya maksudkan adalah Manusia yang memahami siapa dirinya? Apa kewajibannya? Apa haknya? Apa Tugasnya?Apa manfaatnya? Dan sederetan pertanyaan yang berkutat dalam bingkai ” manusia”.
Tugas manusia dalam kontek Agama kita (Islam) adalah Ibadah (QS: Adzariyat ayat 56). Ya!!!!! sekali lagi, Hanya hanya hanya Ibadah. Lihat ayat dibawah ini.......

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah ayat 5)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Ad zariyat 56)

Mungkin kita semua akan menjawab “Saya Sudah Ibadah”, dan kita telah selesai menjalankan semua kewajiban yang dibebankan Allah kepada kita semua. Bahkan dari sejak kecil kita telah melaksanakan sholat, puasa, zakat. Benar saya katakan, namun sudahkah kita melaksanakan pesan dari ibadah itu sendiri???? Seringkali kita beribadah masih berkutat pada untung dan rugi, takut jika tidak melaksanakan ibadah akan didamprat malaikat di alam kubur, atau takut dimarahi Allah. Karenanya Imam Nawawi membagi kualitas ibadah seseorang dibagi menjadi tiga, Pertama, orang beribadah yang bermentalkan budak, buruh, pembantu, atau pekerja. Dia akan bekerja total kalau ada majikannya. Ia takut kemarahan majikannya kalau melihat dirinya tidak bekerja. Namun jika majikannya tidak mengawasinya, maka dia akan seenaknya saja bekerja. Tipe budak juga, ketika melakukan sesuatu, motivasinya karena diimingi dengan upah. Semakin banyak upahnya maka dia akan semakin bekerja keras. Kalau upahnya sedikit???? Dia akan malas bekerja bahkan cenderung melakukan demonstrasi!!!!!Unjuk rasa!!!!!! Protes!!!!!!! Cloteh sana cloteh sini. Kebijakan Tuhan selalu dianggap tidak adil, kolot, tidak memihak, de el el. Kedua, orang beribadah yang bermentalkan pedagang, atau pebisnis. Dia menjalankan ibadah berdasarkan untung dan rugi, kalau beribadah untungnya apa? Kalau tidak beribadah ruginya apa????? Keinginannya atau motivasinya beribadah adalah hanya untuk menjadikan dirinya untung. Mendapatkan kebahagiaan. Ketika dzikir, untungnya apa? Sholat dhuha untungnya apa? Sholat Malam untungnya apa??? Puasa untungnya apa??? Berbuat baik untungnya apa????? Mencitai Allah untungnya apa????? Menjadi pemimpin adil untungnya apa??? Kalau tidak melakukan, ruginya apa??????. Ketiga, orang beribadah bertipekan orang yang merdeka. Dia menjalankan ibadah tidak bertujuan apa-apa kecuali Allah. Dia tidak diperbudak oleh keuntungan duniawi. Dia tidak diperbudak oleh perasaan ingin bahagia, ingin dihormati, ingin ketenangan, ingin kedamaian, disanjung atau hal-hal yang membuat orang terpuaskan nafsunya. Namun yang ia tuju hanya Allah. Persoalan nanti dia merasa bahagia, itu hanya efek. Yang terpenting baginya Allah. Tipe yang manakah kamu??....................
Bukannya saya ingin merendahkan dalam tipologi tingkatan ibadah. Hanya sekedar membandingkan keafdolan memposisikan ibadah kita dihadapan Alloh. Kita yang sudah berkali-kali mengaku beribadah, sudahkah kita masuk dalam posisi ketiga? Lillah, Billah Fillah. Tidaklah salah, jika kita ingin ibadah yang kita lakukan itu memiliki dampak. Karena memang seharusnya ibadah itu harus berdampak. Kalau saya ibaratkan ibadah itu seperti menanam tanaman, ambil contoh seperti padi. Ketika kita menanam, tentu kita ingin memanen dari hasil apa yang telah kita tanam. Percuma saja kita menanam tetapi kemudian tidak berbiji atau berbuah. Kalau padi yang kita tanam tidak berbiji maka tanaman kita, biasanya kita manamakan GABUK. Alias tanaman yang gagal panen. Kalau sudah begitu, percuma saja dibiarkan hidup, lebih baik kita ganti dengan tanaman lain. Karena, tanaman tersebut pertama, sudah banyak menghabiskan pupuk dan kedua, merugikan petani karena waktu yang digunakan tidak menghasilkan apa-apa, ketiga, kalau tidak segera ditanam dengan tanaman lain maka dijamin sang petani akan tidak punya makanan atau uang untuk meneruskan hidupnya.
Hal yang sama, seperti ibadah kita, sudahkah berbuah? Sudahkan ibadah kita menghasilkan panen yang nyata dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah dia hanya sekedar ibadah seperti tanaman tanpa ada buahnya? Sudahkan sholat kita yang kita laksanakan sejak kecil berbuah? Sudahkah Jilbab atau Baju koko yang kita pakai berbuah??? Sudahkan membaca al-Quran kita berbuah? Sudahkah puasa kita berbuah? Sudahkah amaliah kebaikan kita berbuah? Sudahkah dzikir kita berbuah?
Dalam realitasnya, masih banyak orang yang sholat tetapi masih suka maksiat, masih suka korupsi, suka berbuat dosa, suka berbohong, suka menyakiti temannya, suka menyakiti hati tetangganya, tidak peduli dengan orang lain de el el. Masih banyak orang yang berdzikir tetapi hatinya masih dipenuhi dengan amarah. Masih banyak orang berpuasa tetapi tidak mampu menahan diri dari segala godaan. Padahal ketika kita melaksanakan perintah Allah, ada dampak untuk membina pribadi menjadi pribadi yang baik. Pribadi yang bermanfaat kepada diri dan orang lain. Bukankah begitu???
Menurut Kang Jalal (Red: Prof. Dr Jalaluddin Rahmat) bahwa orang yang sholat tetapi tidak memikirkan tetangga atau menyakiti tetangganya maka sholatnya tidak akan diterima oleh Allah. Orang yang tidak peduli dengan fakir miskin, anak yatim, dikatakan dalam surat al Maun sebagai pendusta agama. Orang shodaqoh tetapi hasil dari korupsi maka shodaqoh dia tidak akan ada gunanya. Artinya bahwa ibadah yang kita jalankan sebenarnya harusnya membawa dampak. Kepada diri sendiri akan menjadi orang yang memiliki pribadi yang tangguh. Kepada orang lain akan menjadi pribadi yang bisa bermanfaat bagi banyak orang lain. Bukankah Nabi mengatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”????
Menurut Kyai Djamal (Pengasuh PP. Al Muhibbin Jombang), Buah dari ketaatan dalam menjalankan Ibadah kepada Allah itu minimal setidaknya ada 3.
Pertama, hati orang yang beribadah itu akan menjadi bersinar, bercahaya, bersih, suci atau selalu dalam kondisi fitrah. Hatinya tidak dipenuhi oleh bibit penyakit hati seperti takabur, ujub, riya’, summah, suudzon, hasad, hubbudunya, de el el. Penyakit ini tersingkirkan karena ibadahnya berbuah. Hatinya diisi dengan sifat-sifat yang Mahmudah. Seperti sabar, syukur, khusnudzon, ikhlas de el el. Hilangnya penyakit hati kemudian tergantikan dengan sifat Mahmudah tersebut menjadikan hati orang tersebut terang benderang. Ia tidak khawatir terhadap hidupnya. Karena ia yakin Allah selalu bersamanya.
Kedua, orang yang beribadah menjadikan pribadinya semakin bagus. Karena orang yang beribadah tertarik oleh sebuah kekuatan untuk mengikuti nilai-nilai Ilahiah. Ia melepas diri dari perbuatan-perbuatan nista yang menjadikan pribadinya semakin terpuruk. Sehingga yang tampak hanyalah pribadi yang berakhlakul karimah. Pribadi yang telah mampu menerjemahkan sifat Allah, sifat Malaikat, sifat Rosul. Sifat itu telah “Nggetih” dalam tulang sumsumnya.
Ketiga, Amal Ibadah yang dilakukan mampu dirasakan dengan rasa yang penuh nikmat. Ketika melaksanakan sholat dia mampu menikmati sholat itu. Begitupun dengan zakat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Ia mampu menikmati ibadahnya. Seperti sayyidna Ali, ketika kakinya terkena panah, beliau ingin mencabutnya. Sebelum dicabut, beliau sholat terlebih dahulu. Ketika sholat, barulah dicabut oleh sahabat lainnya. Sayyidina Ali tidak merasakan kesakitan. Karena dia merasakan kenikmatan sholatnya. Kenikmatan sholat itulah yang mengalahkan kesakitan tercabutnya anak panah dari pahanya. Sayyidina Usman, merasakan nikmat yang sangat luar biasa jika dalam seharinya dia mampu terhindar dari melihat kemaksiatan. Nabi Ibrahim merasakan nikmat jika beliau makan bersama tetangga-tetangganya. Begitulah!
Tiga hal tersebut adalah buah dari ibadah. Jika ibadah belum sampai menghasilkan minimal ketiga hal tersebut, maka ibadahnya belum berbuah. Demikian logikanya.
Salam damai.

Gurumu
Muhammad Isno El Kayyis

0 komentar:

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*