Minggu, April 17, 2011

TUKANG BINATU DAN TUKANG PERIUK

Dahulu kala, ada seorang tukang binatu yang saleh. Ia tinggal di sebuah rumah, dan bertetangga dengan seorang tukang periuk. Walaupun rumah keduanya bersebelahan, namun mereka mempunyai sifat yang jauh berbeda.
Bila si tukang binatu sangat alim, rajin mengerjakan shalat, ramah dang rendah hati, maka si tukang periuk sebaliknya. Tak heran bila si tukang binatu banyak mempunyai langganan dan disukai kawan – kawannya, sedangkan si tukang periuk tidak. Inilah yang menyebabkan timbulnya niat jahat dalam hati si tukang periuk.
Kebetulan, sang raja yang memerintah negeri itu sedang mengadakan sayembara. Barangsiapa yang bias membersihkan ( memandikan ) gajah milik baginda, hingga kulitnya menjadi putih bersih, maka akan dianugerahi emas permata yang banyak.
Segera si tukang periuk menghadap raja, dan memberitakan kabar bohong, bahwa si tukang binatu akan sanggup mencuci ( memandikan ) gajah milik raja, hingga kulitnya menjadi putih bersih. Sang raja begitu tertarik, dan memerintahkan pengawalnya untuk memanggil tukang binatu menghadap kepadanya.
Maka pucatlah wajah tukang binatu setelah mengetahui maksud sang raja. “Ampun baginda, siapa yang sanggup memandikan ( mencuci ) kulit gajah hingga menjadi putih? Hamba cuma tukang binatu saja. Yang hamba cuci setiap hari hanyalah pakaian. Hamba tak mungkin bias memenuhi permintaan baginda.”
Baginda agaknya sudah termakan hasutan si tukang periuk. Beliau marah besar mendengar ucapan si tukang binatu.
“Penjarakan dia!” teriak baginda raja yang marah menyuruh para pengawal untuk menghukum tukang binatu.
“Ia telah melawan kehendakku!”
Dengan menangis, si tukang binatu mohon ampun. Tapi baginda raja tetap pada keputusannya. “Ampun baginda…, ampun baginda. janganlah hamba dimasukkan ke dalam penjara,” pinta tukang binatu memohon.
Di dalam penjara si tukang binatu berpikir, “Ini pasti perbuatan si tukang periuk. Sebab saya lihat waktu aku memohon ampun kepada baginda raja, dia malah tersenyum – tersenyum senang. “ Karena terpaksa dan untuk membela diri, maka timbullah niat jahat si tukang binatu untuk memberi pelajaran kepada tukang periuk.
Esok harinya, tiba – tiba si tukang binatu menyatakan kesanggupanya untuk mencuci (memandikan) gajah milik Baginda raja tersebut hingga putih bersih kulitnya. “Tapi saya mengajukan syarat!” usul si Tukang Binatu.
“Katakan, apa syarat yang ingin engkau ajukan?” desak Sang Raja.
“Saya memerlukan periuk yang besar dan kuat, agar saya mudah mencuci gajah milik Baginda!”begitu syarat yang di ajukan.
Karena kepandaian si Tukang Periuk begitu tersohor di seluruh negeri, maka sangRaja segera memerintahkan kepada si Tukang untuk membuat periuk yang besar dan kuat untuk dimasuki gajah.
Dengan sekuat tenaga, si tukang periuk berusaha memenuhi perintah sang raja. Tapi beberapa kali ia gagal. Periuk yang dibuatnya tak kuat dimasuki gajah milik baginda raja. Maka keringat dingin pun segera membasahi seluruh tubuhnya. “Ampun baginda…, sebenarnya saya…, “ kata tukang periuk merengek – rengek minta ampun.
“Diam, kau!” bentak sang raja.
Menggigil tubuh si tukang periuk dibuatnya. Akhirnya seperti nasib si tukang binatu, maka si tukang periuk pun dimasukkan ke dalam penjara.
Beberapa hari kemudian, sang raja menengok keduanya di dalam penjara. “Ketahuilah oleh kalian berdua,” ucap sang raja kepada tukang binatu dan tukang periuk, “Sesungguhnya kalian berdua tidak bersalah. Coba kalian pikir, mungkinkah kulit seekor gajah bias putih tanpa diberi warna? Begitu juga, mungkinkah ada sebuah periuk yang kuat untuk dimasuki gajah sebesar itu?”
“Oleh karena itu,” kata sang Raja lebih lanjut, “Aku dating ke penjara ini akan membebaskan kalian berdua dan bahkan akan menganugrahi kalian masing-masing sekantong emas. Tapisebelumnya aku ingin tahu. Akan kalian pergunakan untuk apa emas sebanyak itu?”
Keduanya hanya terdiam. Sang Raja pun tahu bahwa keduanya masih binggung untuk dipergunakan apa uang sebanyak itu. Karena itu, langsung saja keduanya dikeluarkan dari penjara dan diberi uang emas sekantung –sekantung.
Seminggu kemudian, sang Raja memerintahkan kedunya menghadap . “Aku tak tahu,” ujar baginda Raja,” siapa sebenarnya di antara kalian yang bersalah?”
“ Demi Allah,” sahut si Tukang Periuk. “Dia yang bersalah,” tunjuknya kea rah Tukang Binatu.
“Allah-lah yang tahu, siapa sebenarnya yang pembohong!” balas si Tukang Binatu.
“Dan kau, wahai Tukang Periuk. Untuk apa uang yang telah aku berikan itu?” Tanya Baganda Raja.
“ Uang itu saya pergunakan untuk mengadakan pesta semalam suntuk sebagai tanda rasa syukurku memperoleh anugerh itu dank arena Baginda juga sudi mengampuni kesalahan yang telah aku lakukan,” jawab si Tukang Periuk.
“Lalu untuk kau sendiri?” Tanya sang Raja kepada Tukang Binatu.
“Ampun Baginda! Hamba tidak ingin bahagia sendirian karena sudah terbebas dari fitnahan dan bahkan memperoleh uang emas dari Baginda. Karena itu, sebagian besar uang itu saya sedekahkan kepada para fakir miskin dan anak-anak yatim maupun para hamba sahaya yang sangat membutuhkan bantuan,” jawab si Tukang Binatu
“Lalu untuk kau sendiri?” Tanya sang Raja lagi.
“ Hamba Cuma membeli peralatan binatu yang lebih baik agar langganan saya puas dengan pekerjaan saya ini,” ucap Tukang Binatu merendah.
“Cukup,” kata Baginda. Lalu Baginda Raja berpaling ke Tukang Periuk. “Wahai Tukang Periuk, dari perkataanmu tadi, aku sekarang sudah bis mengambil keputusan, bahwa sebenarnya yang bersalah selama ini tak lain adalah engkau.Sebab dari perkataanmu tersebut, secara tak langsung engkau juga telah mengakui kesalahan yang telah engkau lakukan. Karena itu, engkau aku beri hadiah lagi.”
“Hadiah apa Baginda?” Tanya si Tukang Periuk dengan gembira.
“Yakni hadiah masuk penjara lagi. Sebab engkau telah menipuku dan memberitakan kabar bohong. Engkau mengatakan bahwa Tukang Binatu ini pernah berkata bahwa dirinya sanggup mencuci (memandikan) gajahku hingga kulitnya berwarna putih. Tapi etelah kutanyai sendiri beberapa waktu lalu, si Tukang Binatu ini katanya tak pernah menyatakan seperti itu!”
“Ampun, Baginda!” sahut si Tukang Periuk. “Memang saya lah yang bersalah!”
“Atas perbuatanmu itu, maka kau pntas masuk penjara lagi!” gertak sang Raja.” Dan kau Tukang Binatu, sungguh mulia hatimu telah membantu para fakir miskin maupun yang lainya. Karena itu , terimalah sekantung emas ini lagi. Aku percaya, bahwa nilai emas ini tak sebesar pahala, yang kelak akan kau terima dari Allah atas perbuatanmu tersebut,” ujar sang Raja tersenyum bijaksana.
Demikianlah, akhirnya si Tukang Periuk dimasukkan penjara lagi, sementara si Tukang Binatu dengan bahagia pulang membawa sekantung emas yang banyak. Itulah balasan bagi yang bersalah maupun yang berbuat kebajikan. Masina- masing akan memperoleh imbalan sesuai dengan apa yang mereka lakukan

0 komentar:

Kethuk Hati © 2008 Por *Templates para Você*